Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Lagu untukmu
Acara utama akhirnya dimulai.
Lampu ruangan sedikit diredupkan, membuat perhatian semua tamu otomatis tertuju ke arah panggung. Orang-orang perlahan berkumpul, membentuk setengah lingkaran di depan meja kue.
Azmi berdiri di sana.
Di depannya, kue ulang tahun bertingkat dihiasi lilin-lilin kecil yang menyala pelan. Cahaya api itu memantul di wajahnya—hangat, tenang, sekaligus membuatnya tampak lebih menonjol di tengah keramaian.
Tepuk tangan mulai terdengar, disusul alunan lagu ulang tahun yang dinyanyikan bersama. Suara tamu, tawa kecil, dan denting gelas bercampur jadi satu, memenuhi ruangan dengan suasana meriah yang terasa hidup.
Di antara keramaian itu, Gina ikut bertepuk tangan.
Tangannya bergerak mengikuti irama, senyumnya terpasang rapi seperti biasa. Dari luar, ia tampak larut bersama yang lain—tertawa kecil, ikut bernyanyi, berdiri di tengah suasana yang hangat.
Namun matanya… tetap tertuju ke satu arah.
Ke arah Azmi yang berdiri di depan kue, diterangi cahaya lilin.
Di dalam hati, ada satu keinginan kecil yang tidak bisa ia sembunyikan—
andai ia yang berdiri di samping Azmi malam ini. Ikut merayakan. Ikut jadi bagian dari momen itu.
Namun yang ia lihat… bukan dirinya.
Tatapan Azmi kembali jatuh ke arah Rahmalia.
Lagi.
Seolah di tengah keramaian itu, yang lain hanya latar.
Dada Gina terasa mengencang.
Yang membuatnya semakin tidak nyaman… bukan hanya Azmi.
Tapi Rahmalia.
Cara Rahmalia menunduk saat ditatap. Cara tangannya terlihat gelisah. Cara ia salah tingkah… seolah tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Gina mengernyit pelan.
Ada rasa kesal yang muncul—halus, tapi nyata.
Padahal Rahmalia sahabatnya sendiri.
Selama ini Rahmalia selalu bilang ia tidak tertarik pada hal seperti itu. Tidak ingin pacaran. Tidak ingin terlalu dekat dengan siapa pun.
Tapi sekarang…
kenapa reaksinya berbeda?
Kenapa terlihat goyah hanya karena satu orang?
Gina menunduk.
Pikirannya sendiri membuatnya tidak nyaman.
Ia tidak tahu harus marah, kecewa… atau justru merasa bersalah karena mulai berpikir seperti itu tentang sahabatnya sendiri.
Yang jelas, satu hal mulai terasa—
perasaan yang ia simpan pada Azmi… perlahan mulai mengubah caranya melihat Rahmalia.
Dan itu… menakutkan.
Tak lama, MC berdiri di sisi panggung, ikut bertepuk tangan sambil tersenyum lebar.
“Selamat ulang tahun, Tuan Azmi!” ucapnya penuh semangat.
“Di hari spesial ini, mungkin ada satu dua kata yang ingin disampaikan?”
Azmi mengangguk pelan. Ia maju setengah langkah, memegang mikrofon dengan tenang.
“Pertama-tama… terima kasih untuk teman-teman sekolah yang sudah datang malam ini,” ucapnya.
“Saya sangat menghargai kehadiran kalian semua.”
Ia berhenti sebentar.
Tatapannya bergerak menyapu para tamu… lalu berhenti pada satu arah.
“Terutama keluarga Wijaya,” lanjutnya.
“Kita semua tahu jadwal mereka sangat padat, tapi tetap berkenan meluangkan waktu untuk hadir.”
Matanya sempat tertahan di sana—ke arah Gina.
Hanya beberapa detik.
Tapi cukup membuat Gina terdiam.
Dada Gina menghangat.
Ia tahu hubungan keluarga mereka dengan keluarga Azmi memang dekat. Urusan bisnis, kerja sama, acara formal—semuanya sudah biasa.
Namun entah kenapa… cara Azmi menyebutnya malam ini terasa berbeda.
Lebih personal.
Lebih terasa… ditujukan.
Untuk sesaat, Gina merasa dirinya berdiri sedikit lebih dekat dari yang lain.
Bukan secara jarak—tapi perasaan.
Seolah ucapan Azmi barusan hanya sampai ke telinganya lebih dulu, lebih dalam.
Lebih dekat dari tamu lain.
Lebih dekat… bahkan dari Rahmalia.
Pikiran itu datang begitu saja, tanpa ia undang.
Dan tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat pelan—senyum kecil yang bahkan ia sendiri tak menyadarinya.
Di atas panggung, Azmi masih berbicara seperti biasa, suaranya tenang, sikapnya tetap sama di depan semua orang.
Tak ada yang berubah.
Tapi bagi Gina… sesuatu sudah terasa berbeda.
Lalu tiba-tiba MC kembali angkat suara, nadanya lebih semangat dari sebelumnya.
“Supaya acaranya makin meriah… bagaimana kalau kita undang tiga siswi berbakat yang pasti sudah tidak asing lagi buat kalian—yang sering dijuluki Three Golden Voice—untuk tampil bernyanyi di depan?”
Beberapa tamu langsung bersorak.
Tepuk tangan pecah. Siulan terdengar dari berbagai arah.
“Setuju!”
Sorotan lampu mulai bergerak mencari ke arah kerumunan murid.
Gina refleks melirik ke kanan dan kiri, pandangannya menyapu para tamu yang mulai menoleh ke arah mereka.
Di sampingnya, Rahmalia langsung menunduk. Bahunya sedikit menegang, jelas tidak menyangka akan disebut tiba-tiba seperti itu.
Sementara Siva justru mengangkat satu alisnya, wajahnya penuh tanya.
“Kita… nyanyi di depan?” gumam Siva pelan, setengah heran, setengah tidak percaya.
Gina dan Rahmalia sama-sama mengangguk kecil.
Siva masih terlihat tidak rela.
“Kok tiba-tiba disuruh nyanyi di depan sih…” gumamnya kesal, menatap ke arah panggung.
Di sebelahnya, Diana justru tertawa pelan. Ia terlihat santai—jelas merasa tidak ikut terseret ke situasi itu.
Sementara Dio, seperti biasa, tidak mau melewatkan kesempatan menggoda.
“Three Golden Voice… ayo naik panggung! Ditunggu fans!” ejeknya sambil tertawa.
Siva langsung menoleh tajam.
“Apaan sih… norak banget namanya. Siapa juga yang ngasih julukan begitu,” balasnya kesal, sambil mendorong wajah Dio menjauh dengan telapak tangan.
Dio kaget.
“Eh, apaan—”
Belum sempat membalas, Gina sudah melangkah maju lebih dulu.
“Udah, ayo ke depan aja,” ucapnya, mencoba menenangkan.
“Daripada makin disorakin.”
Rahmalia mengangguk pelan, menyetujui.
Siva menghela napas, lalu akhirnya ikut berjalan bersama mereka.
Tiga orang itu melangkah menuju panggung—diiringi tepuk tangan yang kembali terdengar dari para tamu.
Lampu yang tadi tertuju pada Azmi perlahan berpindah.
Kini mengarah pada mereka.
Gina berjalan paling Depan.
Tidak ada yang benar-benar mendorongnya maju.
Tidak ada alasan yang ia ucapkan keras-keras.
Tapi di dalam dirinya… ada sesuatu yang bergerak.
Selama ini, Azmi yang selalu bernyanyi.
Untuknya.
Di dekatnya.
Seolah lagu-lagu itu hanya ditujukan padanya seorang.
Dan malam ini—untuk pertama kalinya—Gina ingin melakukan hal yang sama.
Ia ingin Azmi mendengarnya.
Bukan sebagai teman.
Bukan sebagai penonton.
Tapi sebagai seseorang… yang sedang ia tuju.
Langkahnya berhenti tepat di depan tangga panggung.
Gina menoleh sekilas.
Ke arah Azmi.
Tatapan mereka bertemu.
Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
Tangannya sedikit gemetar… tapi ia tetap melangkah naik.
Dan di kepalanya hanya ada satu kalimat yang terus berputar—
"Kalau aku bernyanyi sekarang…
apa kamu akan melihatku… seperti aku melihatmu selama ini?"
kek nyaman bener
ga mau kasih dia temen Deket cowok atau dia harusnya ada geng cowok
aneh aja kalau dari perspektif cowok 😏
ada sih yang nempel sama geng cewek cuma ehem biasanya rada gemulai (maaaap)
main sama anak cewek itu ga bebas ga bisa gaplok2an yang biasa jadi 'bahasa' persahabatan antar cowok..
ini Dio beda sendiri dan baru kuliat di cerita
penasaran aja apa dia itu punya temen lain selain ngekorin cewek cewek???
kadang anak pertama itu memang didik lebih keras dari kecil, karena tanggung jawab anak pertama itu besar .
tapi kalo liat nya sih dio mank ada something deh sama rahmalia 🤭
wlw masih tipis tipis sih ku baca nya thor masih melirik lirik, tp dia act of service ya gercep bet🤣
ceritanya mank masa-masa anak sekolah dengan kehidupannya yang beraneka ragam, kalo menurutku yang ku baca dr bab awal sampe bab ini ceritanya tuh gak berat lebih ke ringan slice of life banget nget.. konflik nya masih di gina dan ayahnya sejauh ini ku baca..
karakter tokohnya menurutku bagus bagus cuma kek nya belom ada yang greget lagi ya masih sebagian belom ada konflik selain gina..
tapi jujur aku suka banget sama alur ceritanya thor kek inget jaman sekolah juga jadinya 🥰🥰