Hai Teman-teman" Perkenalkan ini Novel baru Mala. Sebenarnya ini Novel pindahan dari akun lama Mala, Semoga suka.
"Halo namaku NAIRI, dan aku adalah gadis kampung biasa.
"hem...." Tidak terlalu cantik dan hidup sederhana.
Aku memiliki sahabat yang bernama Lina. Dia gadis yang baik, pengertian dan yang pastinya selalu ada disaat aku butuh dukungan.
Yuk langsung intip kisahku. 🤭🤭🤭🤭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah mala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Extra part
🌻 Happy Reading 🌻
Kepergian Kayla membawa duka yang sangat dalam bagi keluarga besar Adhitama dan keluarga Nairi. Terutama Nenek Kayla yaitu ibu Nairi. Cucu yang di nanti-nantikan akan tinggal bersamanya menemani hari tuanya, namun kini harus terbujur kaku di atas meja panjang.
Aska hanya diam tak bergeming memandangi jasad putri tercintanya itu. Ya, memang Kayla akan di makam kan berdekatan dengan Makam Ibunya yaitu Makam Nairi.
Setelah pemakaman Kayla selesai semua telah kembali ke rumah masing-masing. Aska masih setia duduk di antara makam Istri dan Putrinya. Tidak menangis, tidak pula berbicara. Ia hanya memandangi kedua batu nisan itu dengan hati yang hancur.
''Nak, kau harus kuat! lihatlah! Kayla pasti akan sedih bila melihatmu seperti ini. Kau harus pulang dan beristirahat! jangan seperti ini.'' Ucap Ibu Nairi.
Sudah dari tadi semenjak proses pemakaman selesai, banyak orang yang membujuk Aska untuk segera pulang namun ia tak bergeming. Bahkan Orang tuanya sendiri saja tak di gubris.
''Bu,'' biarkan aku di sini sendiri dulu. Aku masih ingin melihat Istri dan putriku bu.'' Ucap Aska.
''Nak,'' hari sudah semakin larut. Lebih baik sekarang pulang dulu! besok kau bisa ke sini lagi.'' Ucap Ibu Nairi seraya memapah Aska untuk berdiri, di bantu juga Ayah Nairi.
Setelah berdiri Aska,,,
''Tuhan,'' Kenapa Engkau mengambil kebahagian ku! bukankah Engkau sudah mengambil istriku! tapi mengapa Engkau ambil pula Putriku, Putriku satu-satunya.'' Aska berteriak meraung dan benar saja kini air matanya benar-benar mengalir bak Air yang sudah tak bisa di bendung lagi.
1 Minggu kemudian***
1 Minggu sudah semenjak kepergian Kayla. Namun Aska masih tetap tinggal di desa di rumah orang tua Nairi. Setiap hari Aska selalu datang mengunjungi makam istri dan putrinya. Bahkan ia tak peduli lagi pekerjaannya di kantor.
Hingga Tuan Adhitama datang ''Pah,'' untuk apa aku bekerja! orang-orang yang ingin kubahagiakan sudah tiada lagi di dunia ini. Untuk apa harta dan uang yang sudah aku kumpulkan dengan susah payah! namun akhirnya tak ada yang menikmatinya.''Ucap Aska dengan wajah yang penuh dengan keputus asaan.
''Nak'' bukan masalah untuk apa kamu bekerja, Namun masalahlahnya itu bukan cuma kantor kamu sendiri, bukan cuma tentang pekerjaan kamu sendiri. Di sana ada ratusan bahkan ribuan orang menggantungkan nasib mereka dalam pekerjaannya. Kau harus memikirkan nasib karyawanmu juga.
''Mereka bekerja juga untuk menafkahi keluarga, membahagiakan Anak, istri atau pun suami mereka. Kau tidak bisa seperti ini terus! Kayla dan Nairi bukan hanya istri dan anakmu, tapi juga anak dan cucuku. Bukan cuma kamu yang merasa kehilangan Nak! tapi lihatlah orang di sekitarmu. Lihatlah Mama Papa, Ayah dan Ibu mertuamu. Kami juga kehilangan Anak dan cucu Kami.'' Ucap Tuan Adhitama.
Tuan Adhitama pun kini terduduk diam sambil memegangi dadanya yang mulai terasa sesak.
''Suamiku,'' jangan terlalu berpikir keras duduk dan minumlah dulu jangan sampai kamu ikutan kenapa-kenapa.'' Ucap Nyonya Renata sambil memberikan minuman kepada suaminya.
Aska pun terdiam mencerna semua kata-kata yang telah diucapkan oleh Papanya. Benar juga jika anak dan istrinya melihatnya seperti ini, Bukankah malah membuat mereka sedih. Aska ingin bangkit, namun hatinya benar-benar hancur saat ini. Ia belum ingin meninggalkan makam anak dan istrinya. Ia masih ingin tinggal di sini.
Namun Ia juga memiliki tanggung jawab yang besar. Ia tidak boleh egois, kemudian dengan terpaksa Aska pun menuruti perintah Papanya untuk kembali ke kota. Mama dan papa dan juga ayah dan ibu Nairi sangat senang, melihat Aska bisa dibujuk untuk kembali ke kota. Paling tidak, dengan menyibukan dirinya bekerja, itu bisa membantu Aska untuk bangkit dari keterpurukannya.
Setelah kepergian keluarga Aditama, Ayah dan ibu Nairi pun masuk kedalam kamar. Di sana ternyata ada seorang gadis yang sudah menunggu. Di depannya penuh dengan makanan. Mungkin makanan itu sudah tersedia dari pagi, atau mungkin dari kemarin.
Namun sepertinya makanan itu tidak tersentuh sedikitpun. Gadis itu menangis tersedu-sedu sambil membawa sebuah bingkai foto yang berisi foto Nairi dan Kayla.
''Nak,'' Kenapa kamu belum makan?. Dari kemarin kamu belum makan loh. Nanti kalau sakit bagaimana hum.'' Ucap Ibu Nairi.
''Nek,'' Aku tidak ingin makan. Aku ingin bertemu dengan ibu dan juga kakakku. Kenapa mereka pergi meninggalkanku? Apakah aku sangat nakal Nek?'' Ucap gadis itu.
''Tidak Nak,'' Kau sama sekali tidak nakal. Kau anak yang baik, kau adalah Putri terbaik yang pernah di miliki oleh ibumu dan juga ayahmu.'' Ucap Ibu Nairi Seraya memeluk cucunya itu.
''Nenek,'' Apakah ayahku sudah pergi?'' Tanya gadis itu.
Jeng jeng jeng,,,, Siapakah gadis itu? Kenapa ia memanggil Nairi dan Aska sebagai Ayah dan Ibunya? dan Kayla sebagai kakaknya?.....
Nantikan kisahnya di Novel terbaru Mala nanti🤭🤭🤭
Like, Vote, Rate☆5 ya teman-teman I miss you pembaca karya Mala
ngiler nih
Ya Allah baik banget mama nya Aska, apa begitu nanti sampai jadi menantu benar-benar?
walaupun sebuah kesepakatan
semoga indah pada waktu nya
Aska
semoga kau serius
semoga bisa membuka hati Nairi
kali ini Nai, semoga kamu tidaklah bernasib buruk lagi
Aska pasti baik
Ceritamu sangat sayang dilewatkan
Semoga kunjunganku tidak membuatmu bosan
Salam dari yuppy
"Diikuti makhluk ghaib"