Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.
Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.
Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15.Kesepakatan Tanpa Nama
Lampu taman Imperion menyala redup, memantulkan bayangan panjang di atas jalan setapak berbatu. Malam belum sepenuhnya gelap, tapi juga tak lagi terang—waktu yang menggantung, seperti keputusan yang belum diucapkan.
Selvina duduk sendirian di bangku besi dekat kolam kecil. Airnya tenang, nyaris tak bergerak, seolah meniru caranya menyembunyikan gejolak. Rambutnya terikat rendah, seragamnya rapi meski ia tidak lagi punya kewajiban mengenakannya. Skorsing memberinya kebebasan yang tidak ia minta.
Langkah sepatu terdengar mendekat.
Selvina tidak menoleh.
Ia sudah tahu siapa yang datang.
“Kalau kau ingin menikmati pemandangan,” katanya datar, “bangku di seberang masih kosong.”
Varrendra berhenti dua langkah di belakangnya. Lampu taman jatuh tepat di sisi wajahnya, menegaskan rahang tegas dan mata yang terlalu terbiasa mengamati kelemahan orang lain.
“Aku tidak datang untuk duduk santai,” jawabnya.
“Sayang,” balas Selvina. “Itu satu-satunya hal yang masih bisa dilakukan tanpa tuduhan.”
Varrendra memilih duduk di bangku seberang. Jarak di antara mereka sengaja dibiarkan—cukup dekat untuk bicara, cukup jauh untuk tidak menyentuh.
“Aku datang untuk bicara soal masa depanmu,” katanya.
Selvina tersenyum tipis. “Lucu. Semua orang selalu merasa berhak membicarakan itu.”
Varrendra menatap lurus ke depan. “Akan ada perjodohan.”
Kalimat itu jatuh tanpa emosi, tanpa penekanan. Seolah hanya data.
Selvina akhirnya menoleh. Tidak terkejut. Tidak juga marah.
“Dengan siapa?” tanyanya.
“Dengan aku.”
Hening merayap pelan, lebih berat dari teriakan.
Selvina tertawa kecil, singkat, tanpa tawa di matanya. “Kau tahu? Aku pernah dituduh banyak hal. Licik. Ambisius. Tidak tahu tempat.”
Ia berdiri, melangkah satu langkah mendekat. “Tapi aku tidak menyangka kau akan menambahkan properti politik ke daftarnya.”
Varrendra ikut berdiri. “Ini bukan tentang memiliki.”
“Semua yang dipaksakan selalu tentang memiliki,” balas Selvina.
“Aku tidak akan menyentuhmu,” kata Varrendra cepat. “Tidak akan mengatur hidup pribadimu. Ini murni status.”
Selvina menatapnya tajam. “Status untuk siapa?”
“Untuk dewan sekolah,” jawab Varrendra. “Untuk publik. Untuk orang-orang yang butuh alasan berhenti menyerangmu.”
Selvina menghela napas perlahan. “Dan kau pikir aku cukup bodoh untuk percaya ini dilakukan demi kebaikanku?”
“Tidak,” jawab Varrendra jujur. “Aku pikir kau cukup cerdas untuk tahu bahwa ini satu-satunya celah.”
Ia melanjutkan, suaranya lebih rendah. “Jika kau berdiri sendiri, kau target. Jika kau berdiri bersamaku, kau aset.”
Kata itu menyakitkan karena benar.
Selvina memalingkan wajah ke kolam. Pantulan lampu bergetar di air.
“Kesepakatan,” katanya akhirnya. “Baik.”
Varrendra menoleh cepat. “Tanpa syarat?”
Selvina menatapnya lagi. “Dengan syarat.”
“Apa?”
“Kau tidak berbohong padaku,” ucapnya tegas. “Tidak setengah kebenaran. Tidak manipulasi.”
Varrendra terdiam. Lalu mengangguk. “Aku akan berusaha.”
Selvina menyeringai kecil. “Jawaban politik.”
“Jawaban realistis,” balasnya.
Hening kembali turun.
“Ada satu hal lagi,” kata Varrendra.
Selvina menegang. “Apa?”
“Untuk membersihkan namamu,” ucapnya pelan, “kita harus menjatuhkan sumber masalahnya.”
Selvina tahu sebelum ia menyebutkan nama itu.
“Ayahku,” katanya lirih.
Varrendra mengangguk. “Bukan sebagai ayah. Tapi sebagai aktor di balik tekanan sekolah, suap, dan permainan reputasi.”
Selvina tertawa kecil—kali ini pahit. “Kau tahu ironinya?”
“Apa?”
“Selama ini aku melawannya sendirian,” katanya. “Dan sekarang… aku harus menjatuhkannya bersama orang yang paling bertolak belakang denganku.”
Varrendra menatapnya. “Aku tidak akan menyentuhnya secara personal.”
“Tidak ada serangan yang tidak personal,” jawab Selvina.
Ia menghela napas panjang. “Bagaimana caranya?”
“Data,” jawab Varrendra. “Rekening bayangan. Dana sponsor fiktif. Aliran uang ke yayasan sekolah.”
Selvina menoleh tajam. “Kau sudah punya itu?”
“Sebagian,” katanya. “Sisanya butuh konfirmasi dari seseorang yang tahu kebiasaan ayahmu.”
“Dan kau pikir itu aku.”
“Kau hidup bersamanya cukup lama,” kata Varrendra. “Kau tahu polanya.”
Selvina menutup mata. Kenangan tentang rumah lama, nada suara ayahnya, dan cara uang selalu muncul tepat waktu—tanpa pernah dibahas.
“Baik,” katanya akhirnya. “Aku bantu.”
Varrendra mengangguk. “Langkah pertama dimulai besok.”
Selvina tersenyum tipis. “Cepat sekali.”
“Permainan ini tidak memberi waktu untuk ragu,” balasnya.
Mereka berdiri berhadapan. Tidak ada sentuhan. Tidak ada janji.
Namun jarak di antara mereka terasa lebih dekat dari sebelumnya.
“Ingat satu hal,” kata Selvina. “Kesepakatan ini dingin.”
“Selalu,” jawab Varrendra.
“Jangan bawa perasaan.”
Varrendra menatap matanya sesaat terlalu lama. “Perasaan tidak termasuk dalam rencana.”
Namun saat mereka berpisah arah—Selvina menuju asrama, Varrendra ke gedung utama—keduanya tahu:
Kesepakatan ini sudah melampaui strategi.
Dan langkah pertama untuk menjatuhkan seorang ayah
baru saja dimulai oleh dua orang
yang perlahan berhenti melihat satu sama lain sebagai musuh.
-bersambung-
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍