Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.
"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"
Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cerita ayu
Rangga melangkah masuk ke ruang rawat inap dengan langkah pelan agar tidak menimbulkan suara. Ia sudah berganti pakaian dengan kaos polos dan celana santai yang ia beli di toko serba ada di depan rumah sakit.
Di dalam ruangan yang tenang itu, Ayu masih terbaring lemah dengan perban di kepala dan selang infus di tangannya. Nenek Tari duduk di samping tempat tidur, terus menggenggam tangan cucunya yang dingin.
Rangga mendekat, berdiri di sisi lain tempat tidur. Ia menatap wajah Ayu yang tampak begitu rapuh saat terlelap. Setelah beberapa saat terdiam, Rangga memberanikan diri bertanya dengan suara rendah.
"Nek... apa Rangga perlu menghubungi keluarga Ayu? Ayah atau ibunya mungkin perlu tahu kondisi Ayu sekarang," tanya Rangga pelan.
Nenek Tari perlahan mendongak, matanya yang sembap menatap Rangga, lalu ia menggelengkan kepala dengan lemah. Sebuah helaan napas berat keluar dari bibirnya yang keriput.
"Tidak usah, Den. Tidak perlu," bisik Nenek Tari. "Keluarga Ayu... sudah tidak seperti dulu lagi. Sudah berantakan."
Nenek Tari menatap cucunya dengan tatapan penuh kepedihan, lalu mulai bercerita. "Den Rangga pasti sudah tahu kalau dulu Ayu dijodohkan demi bisnis keluarganya. Mereka sempat bertunangan, Den. Tapi... tepat sebelum hari pernikahan itu tiba, sebuah rahasia besar terbongkar."
Suara Nenek Tari mulai bergetar. "Mamanya Ayu ketahuan selingkuh, Den. Bahkan sampai hamil anak dari laki-laki itu. Papanya Ayu yang selama ini sangat membanggakan keluarganya begitu syok. Beliau kena serangan jantung saat itu juga, dan... meninggal dunia."
Rangga tertegun. Ia sama sekali tidak menyangka badai yang menimpa Ayu begitu hebat.
"Setelah kejadian itu, bukannya menyesal, Mamanya malah pergi dan menikah dengan selingkuhannya. Ayu merasa dunianya hancur. Dia tidak mau melanjutkan pernikahan yang hanya berdasarkan bisnis itu, apalagi dia tahu laki-laki calon suaminya itu juga bukan orang baik. Ayu memutuskan pertunangan secara sepihak, lalu kabur membawa Nenek ke sini, ke Bandung, tempat tidak ada satu pun orang yang mengenalinya."
"Sedari awal juga ayu menolak perjodohan itu, tapi ayahnya sudah gila karena ambisinya semata"
Nenek Tari mengusap air mata yang jatuh ke pipinya. "Ayu ingin memulai hidup dari nol. Dia melepaskan semua kemewahan, semua nama besar keluarganya, hanya agar bisa hidup tenang tanpa rasa malu. Dia tidak pernah mau berhubungan lagi dengan Mamanya, Den."
Rangga mengepalkan tangannya di balik saku celananya. Hatinya mencelos. Selama ini ia mengira Ayu hidup bahagia dengan pilihan orang tuanya, sementara kenyataannya, Ayu sedang berjuang merangkak dari puing-puing kehancuran hidupnya sendirian.
"Den Rangga, pulanglah dulu. Den sudah banyak membantu sejak sore tadi. Sekarang sudah lewat tengah malam, Den Rangga perlu istirahat. Biar Nenek yang jaga Ayu di sini," ucap Nenek Tari dengan suara parau namun penuh perhatian.
Rangga sempat ingin menolak karena hatinya berat meninggalkan Ayu yang belum sadar, tapi ia melihat Nenek Tari juga butuh ketenangan. "Tapi Nek, apa Nenek nggak apa-apa sendiri di sini?"
"Nggak usah, Den. Den Rangga besok kan harus buka bengkel juga. Pulanglah, bersihkan diri dan tidur sebentar," bujuk Nenek lagi.
Rangga akhirnya mengangguk pelan. Ia melangkah mendekati tempat tidur Ayu, menatap wajah pucat itu sekali lagi, lalu berbisik pelan, "Saya pulang dulu, Yu. Besok pagi saya ke sini lagi."
Sesampainya di rumah, suasana sunyi langsung menyambut Rangga. Ia melangkah gontai menuju kamar mandi, membiarkan kucuran air dingin membasahi tubuhnya yang letih.
Setelah berganti pakaian, Rangga merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia tidak mematikan lampu kamar, hanya berbaring telentang sambil menatap langit-langit kamar yang putih bersih. Dalam keheningan malam itu, setiap kata yang diucapkan Nenek Tari kembali terngiang dengan sangat jelas, seolah diputar ulang di kepalanya.
“Mamanya selingkuh... Papanya serangan jantung sampai meninggal... Ayu kabur"
"Selama ini gue di sini, marah karena merasa dibuang," bisik Rangga pada kesunyian kamar. "Sementara lo di sana, berjuang sendirian buat tetap hidup tanpa punya siapa-siapa lagi selain Nenek."
Rangga merasa sangat egois. Selama bertahun-tahun ia memelihara luka hatinya dengan ambisi untuk menjadi lebih sukses dan lebih kaya, hanya agar suatu saat bisa menunjukkan pada Ayu bahwa wanita itu salah telah melepaskannya. Namun kenyataannya, saat Rangga sibuk membangun kerajaannya, Ayu justru sedang merangkak keluar dari puing-puing kehancuran hidupnya.
Rangga bangkit dari tempat tidurnya, melangkah menuju meja nakas di sudut kamar. Ia berlutut, lalu menarik laci paling bawah yang selama ini jarang sekali ia sentuh. Di tumpukan paling dasar, di balik beberapa dokumen lama, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil kayu yang terkunci rapat.
Dengan tangan sedikit bergetar, ia membukanya dan mengambil selembar foto polaroid yang tepiannya sudah mulai menguning dan usang.
Foto itu diambil tujuh tahun yang lalu. Di sana, Rangga dan Ayu tampak tertawa lebar di sebuah taman. Ayu bersandar di bahunya dengan senyum yang sangat lepas.
Rangga mengusap permukaan foto yang mulai pudar itu dengan ibu jarinya.
"Ternyata, sekeras apa pun saya mencoba membenci kamu, foto ini nggak pernah sanggup saya buang," bisiknya lirih.
Selama bertahun-tahun, foto ini adalah luka sekaligus pengingat baginya untuk terus maju. Ia menyimpannya di laci paling bawah agar tidak perlu melihatnya setiap hari, namun ia tidak pernah benar-benar memusnahkannya.