Keheningan malam yang gemuruh memeluk kota Topaz. Sinar gelap menerobos kegelapan dalam penantian panjang. Sunyi riuh memeluk hati yang gaduh merenung diri. Dhona, wanita berusia 22 tahun, dikurung di dalam ruangan sempit di salah satu rumah sakit jiwa.
Apakah dia gila? Tentu saja tidak. Dhona sengaja dibuat gila oleh saudara angkatnya agar dia bisa diusir dari rumah orang tuanya.
Semenjak kehadiran saudara angkatnya, kehidupan Dhona berubah. Dhona yang berhati bak malaikat, dimanfaatkan kebaikannya oleh Alia, anak angkat yang ditemukan ayahnya di sebuah panti asuhan.
Dhona dijadikan pembantu, difitnah, dibully.
Dalam keputusasaan, Dhona lelah menjadi orang baik. Dhona mematahkan julukan malaikat yang selama ini melekat. Dhona dipengaruhi ilmu hitam.
Apakah Dhona benar-benar terjebak dalam lingkaran kebencian?
Terus ikuti jalan ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenny Een, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Alia berhasil melompat dari dahan pohon ke atas tembok vila nomor satu. Tapi sayang Alia terlalu lelah, Alia kehilangan keseimbangan, Alia terjatuh tepat di atas tumpukan batu-batuan. Alia berteriak meminta pertolongan.
Semua orang kecuali Elvano berlari menolong Alia. Tapi, Alia sangat ketakutan saat semua orang menolongnya. Alia menghindari mereka. Alia terus berteriak meminta mereka menjauhinya.
Di mata Alia, semua karyawan Yabangga berwajah seram dan mengerikan. Alia tidak bisa berdiri, tubuhnya membeku. Dalam posisi duduk, Alia mengambil batu yang ada dan melempari semua orang yang mendekat.
"Alia kesurupan," kata Beni.
Alia kembali berteriak minta tolong. Jantungnya berdetak sangat cepat, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Kewaspadaannya semakin meningkat.
"Alia, Alia, kamu kenapa?" Dita perlahan mendekati Alia.
Alia semakin histeris ketakutan. Sosok yang ada di depannya ingin mencekiknya. Tubuh Alia bergetar hebat. Alia memegangi dadanya yang terasa nyeri. Napasnya sudah mulai sesak. Alia jatuh tidak sadarkan diri.
Elvano dari kejauhan melihat tingkah Alia. Elvano teringat akan Dhona. Dulu Dhona sering berteriak minta tolong, suka menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dhona ketakutan. Dhona sering bersembunyi di pojok kelas dekat lemari buku.
Sekarang tingkah Alia sama persis dengan Dhona. Elvano terus memperhatikan Alia. Apakah Alia sekarang bisa dikatakan gila. Elvano meragukannya. Mungkin saja Alia saat ini sedang kesurupan makhluk halus.
Kenapa pada saat Dhona teriak-teriak di dalam kelas, Elvano tidak berpikir seperti sekarang. Elvano terlalu percaya dengan semua apa yang Alia katakan. Elvano juga tidak mencari tahu, penyebab Dhona begitu. Elvano malah memutuskan hubungan dan menjauhi orang gila.
Seandainya saat ini, Elvano mengambil tindakan memasukkan Alia ke rumah sakit jiwa, pasti keluarga Alia tidak terima.
"Dhona, aku salah. Ternyata seperti ini. Kamu tidak gila," ucap Elvano.
Elvano mengizinkan Beni dan Dita membawa Alia ke rumah sakit. Ketua team pengurus vila Anggrek menghampiri Elvano. Dia memberi tahu Elvano, beberapa menit yang lalu, Alia melihat pesta kejutan yang sudah dia dan teamnya siapkan.
Dia dan teamnya memutuskan kembali ke halaman belakang karena diperintahkan Elvano untuk membereskan semuanya. Pesta kejutan khusus untuk Devi dibatalkan.
Setelah dia dan team kembali, mereka mendengar suara teriakan dari Alia. Mereka berusaha mencari Alia. Mereka melihat Alia naik ke atas pohon. Mereka juga berusaha untuk membantunya tapi Alia terlanjur melompat ke tembok.
"Jadi Alia sudah tau. Baguslah," Elvano merasa tidak perlu repot-repot menjelaskan perasaannya kepada Alia.
Acara malam itu berakhir lebih cepat dari waktu yang sudah direncanakan. Elvano akhirnya menyusul Alia ke rumah sakit. Biar bagaimanapun, Elvano dan Alia selama ini selalu bersama.
Elvano tiba di rumah sakit menggunakan taxi online. Beni menunggunya di luar rumah sakit. Beni memberitahu Elvano, saat ini Alia sedang diberikan obat penenang. Alia setelah sadar terus berteriak ketakutan. Alia tantrum. Dokter langsung menyuntik obat penenang.
"Sebelumnya, Alia normal tidak seperti ini. Apakah vila itu ada makhluk halusnya?" Beni bergidik.
"Kamu percaya soal yang begituan?" Elvano mengernyit.
"Ya, siapa tau. Alia mulai berubah sejak kembali dari jalan-jalan tadi siang."
Elvano ingat, saat itu Alia melihat dia dan Devi sedang berciuman. Alia mungkin sakit hati. Ditambah lagi, Alia melihat pesta kejutan khusus yang dibuat untuk Devi. Alia mendapatkan tekanan batin bertubi-tubi.
Elvano memutuskan menemani Alia malam itu di rumah sakit. Elvano tidur di sofa yang ada di dalam ruangan Alia. Bahkan di dalam alam bawah sadarnya pun, Alia terus berteriak ketakutan.
Elvano duduk di samping Alia. Elvano menepuk-nepuk lengan Alia. Elvano juga beberapa kali memanggil nama Alia. Alia perlahan membuka mata. Alia menatap Elvano dan langsung bangun memeluknya.
"El, El, ada setan, banyak setan. Aku takut."
"Iya, besok pagi kita kembali ke vila," Elvano membalas pelukan Alia.
"Gak mau. Aku ingin pulang. Aku ingin pulang! Aku takut!"
"Oke, besok kita langsung pulang ke kota," Elvano mencoba menenangkan Alia.
Dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan memeriksa kondisi Alia. Alia bersikeras untuk keluar dari rumah sakit. Alia takut, di dalam ruangan itu dipenuhi dengan setan.
Elvano kemudian berbicara empat mata dengan Dokter. Elvano menanyakan bagaimana kondisi Alia. Apakah Alia mengalami gangguan mental. Berdasarkan pemeriksaan Dokter, Alia mengalami tekanan batin. Alia stres karena masalahnya.
Elvano takut Alia akan membahayakan dan menyerang orang-orang yang ada di sekelilingnya. Kondisi Alia masih dalam tahap kewajaran. Dokter juga menyarankan Elvano untuk membawa Alia ke pengobatan non medis.
"Maksudnya apa Dok?" tanya Elvano.
"Pasien Alia selalu melihat setan. Di dalam ilmu kedokteran semua itu tidak ada. Pasien Alia juga perlu pengobatan non medis."
Dokter mengizinkan Alia malam itu keluar dari rumah sakit. Elvano dan Alia rencananya langsung pulang ke kota Garnet. Elvano mengirim pesan kepada Beni. Acara outing tetap dilaksanakan sesuai jadwal walaupun tanpa ada dirinya. Elvano juga meminta barang-barang Alia nanti dibawakan ke kota Garnet karena Alia takut kembali ke vila Anggrek.
Elvano dengan berat hati pulang ke kota Garnet bersama Alia. Alia tertidur pulas di kursi depan. Elvano masih memikirkan Devi. Sampai saat ini, Devi belum membalas pesannya.
Sepanjang perjalanan, Elvano terus menghubungi Devi. Dan setelah beberapa kali tidak ada jawaban, akhirnya telepon Devi diangkat.
"Devi, Devi. Akhirnya setelah sekian lama, kamu jawab juga. Aku mengkhawatirkan kamu. Kamu ada di mana? Malam ini aku kembali ke kota Garnet. Besok kita ketemuan ya," Elvano merasa bahagia.
"Maaf, hp Devi ketinggalan di ruang tamu. Devi sudah tidur. Maaf, saya tidak berani mengganggu istirahatnya. Nanti saya sampaikan telepon Anda," Zayyan menjawab panggilan.
Zayyan sebelumnya terbangun dari tidurnya saat mendengar suara ponsel di ruang tamu. Zayyan takut itu panggilan penting. Zayyan melihat nama 'Bos' di ponsel Devi.
Zayyan beberapa kali mengetuk pintu kamar Devi tapi tidak ada jawaban. Dengan terpaksa, Zayyan menjawab teleponnya.
"Siapa Anda? Apakah Devi baik-baik saja?" Elvano merasa khawatir.
"Tenang saja, bersama saya, Devi aman" Zayyan menutup teleponnya.
Elvano bukannya merasa senang karena Devi dalam keadaan aman, Elvano merasa takut karena Devi bersama pria lain. Elvano menghentikan mobilnya di tepi jalan. Elvano yakin Devi masih berada di area puncak.
Elvano berseluncur di internet mencari penginapan terdekat. Elvano memutuskan berisitirahat di area puncak. Elvano memarkirkan mobilnya di halaman sebuah penginapan. Elvano menurunkan sandaran punggung kursi Alia.
Setelah memastikan Alia dalam posisi rebahan di mobil dengan nyaman, Elvano menutup tirai mobil. Elvano juga melihat roti, cemilan dan minuman di kursi tengah mobilnya. Alia bisa dipastikan tertidur sampai besok pagi karena pengaruh obat penenang yang diberikan Dokter.
Elvano mengunci mobil dan memastikan benar-benar aman. Elvano masuk ke dalam penginapan. Elvano memesan kamar untuknya bermalam satu malam. Elvano sengaja memesan kamar yang dekat dengan parkiran mobilnya, jaga-jaga jika Alia mengamuk.
"Sorry, Al. Lu, gue tinggal. Gue gak mau tidur sekamar orang gila," kata Elvano.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...