NovelToon NovelToon
Balas Dendam Suamiku!

Balas Dendam Suamiku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Pelakor / Keluarga / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dya Veel

Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
​Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.

Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kantor pengadilan

Jakarta pagi ini tidak menunjukkan belas kasihan. Terik matahari mulai menyengat, bersaing dengan deru mesin kendaraan yang merayap pelan di sepanjang jalanan pusat kota. Arini berdiri di depan gerbang besi tinggi itu, menatap papan nama yang terpampang kaku dihadapannya. Pengadilan Agama Jakarta Pusat.

Langkahnya terasa berat, seolah setiap senti aspal yang ia injak mencoba menahan kakinya untuk berbalik arah. Di dalam tas kulitnya, sebuah map cokelat berisi salinan buku nikah, KTP, dan draf gugatan terasa seperti beban berton-ton.

​"Nyonya Arini?" suara satpam di pintu masuk membuyarkan lamunannya.

Arini hanya mengangguk kecil, memaksakan senyum tipis yang tak sampai ke mata. Setelah melewati pemeriksaan tas, ia melangkah masuk ke lobi utama. Bau pengharum ruangan jeruk yang tajam bercampur dengan aroma kertas tua menyambutnya.

​Suasana di dalam jauh lebih ramai dari yang ia bayangkan.

Ada pasang mata yang sembab, ada pria-pria dengan kemeja rapi yang sibuk dengan ponselnya, dan ada deretan kursi panjang kayu yang kosong.

"Selamat pagi, mau pendaftaran baru atau sidang?" tanya petugas di pintu depan.

​"Pendaftaran gugatan," jawab Arini lugas. Suaranya terdengar mantap.

Arini duduk di kursi tunggu kayu yang keras setelah mengambil nomor antrean. Ia mengeluarkan map merah dari tasnya. Di dalamnya, nama Adrian Rejaka Wibowo tertulis jelas sebagai pihak Tergugat.

Mengingat nama itu dulu rasanya seolah memicu sesuatu didadanya, tapi sekarang? Kosong. Adrian adalah sisa masa lalu yang harus segera ia bereskan agar tidak mengganggu masa depannya.

"Nomor empat puluh dua, Loket Satu."

​Arini berdiri dengan langkah tegap.

Sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer di tengah keheningan ruangan itu.

​Di depan petugas loket, ia menyerahkan berkas-berkasnya.

​"Ibu Arini? Ini gugatan cerai atas nama Bapak Adrian, ya? Sudah yakin? Tidak mau mencoba mediasi mandiri dulu sebelum masuk persidangan?" petugas itu bertanya, rutinitas standar yang harus mereka tanyakan.

Arini menatap petugas itu dengan tatapan yang tajam namun sopan. "Tidak perlu. Tolong diproses secepatnya. Semua poin keberatan, alasan perceraian, dan bukti-bukti sudah saya lampirkan secara lengkap."

Petugas itu tertegun mendengar ucapan Arini. Biasanya orang yang datang ke meja ini akan menunjukkan keraguan pada keputusannya atau tidak menumpahkan amarahnya dengan meledak-ledak namun wanita ini berbeda.

Petugas itu pun mengangguk, "Baik, berkas saya terima. Silakan menuju kasir untuk membayar panjar biaya perkara."

​Saat Arini membalikkan badan menuju kasir, ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor pria itu. Ya siapa lagi jika bukan Adrian!

^^^Arini^^^

^^^Boleh kita bertemu?^^^

^^^Saya ingin bicara sama kamu^^^

^^^Please...^^^

Alih-alih membalas pesan itu, Arini memilih untuk menghiraukannya. Ia menaruh ponsel itu kembali ke dalam tas nya dan berjalan mantap menuju loket pembayaran. Kini hanya satu hal yang menjadi tujuannya, ia bisa terlepas dari pernikahan ini.

Ia tak ingin memiliki hubungan dengan Adrian ataupun dengan keluarganya. Ia hanya ingin hidup tenang tanpa kehadiran pria itu kembali.

Setelah selesai dari loket pembayaran, ia lantas keluar dari kantor pengadilan itu. Namun tak disangkanya bahwa beberapa wartawan sudah menunggu dirinya di luar sana.

Arini berhenti. Begitu ia baru saja menapakan kakinya keluar menuju gerbang, kilatan kamera langsung menyambut dirinya.

Suara rana-rana bersahutan, disusul pertanyaan yang dilontarkan bersamaan, seolah para wartawan itu tak memberi waktu untuk Arini bernapas.

"Ibu Arini, apakah anda datang kemari untuk melakukan gugatan cerai terhadap Bapak Adrian?"

"Ibu Arini apakah benar ada orang ketiga diantara Ibu dan Bapak Adrian?"

Arini refleks berhenti. Tangannya mencengkeram tali tas lebih erat. Ia tidak pernah membayangkan urusannya masih menjadi konsumsi publik saat ini. Rupanya, nama Adrian Rejaka Wibowo masih cukup menjual.

Wajahnya tetap datar. Ia menarik napas pelan, lalu menoleh ke arah kerumunan wartawan itu.

“Saya tidak punya komentar apa pun,” ucapnya singkat namun jelas. “Ini urusan pribadi dan sedang dalam proses hukum. Mohon dihormati.”

Beberapa wartawan masih mencoba mengejar dengan pertanyaan lanjutan, namun Arini melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Seorang satpam mendekat, membantu membuka jalan agar ia bisa keluar dari kerumunan.

Arini melangkah cepat tanpa mempedulikan kejaran dari para wartawan itu serta pertanyaan-pertanyaan mereka yang menyebalkan.

Ia segera menarik pintu dan masuk ke dalam mobilnya. Tanpa menunggu lama kakinya langsung menancap gas dan mobil itu melaju cepat meninggalkan kantor pengadilan.

Ia memijit pelipisnya pelan di dalam mobil sambil memandang jalanan dihadapannya. Ia lalu mulai memutar playlist miliknya, setidaknya dengan mendengar lagu-lagu favorit dari playlist itu bisa sedikit menenangkan dirinya.

Lagu I Will Fly dari ten2five mengalun pelan di sepanjang perjalanan Arini kembali ke kediaman Tante Grace. Lagu itu selalu menjadi lagu favoritnya selama bertahun-tahun, saat ia senang, saat dirinya kecewa, bahkan saat lelah seperti kondisinya saat ini lagu ini tetap menjadi pilihan yang akan selalu ia setel dimanapun dirinya berada.

Di tengah alunan lagu itu, suara dering telepon dari ponselnya sesekali terdengar. Namun ia tak menghiraukan, ia malas untuk melihat ponselnya.

Namun lama-lama suara itu tak berhenti, seolah meneror dirinya agar ia segera mengangkat panggilan itu. Arini yang jengkel akhirnya meraih ponselnya dan mengecek nomor telepon itu.

Nomor Adrian terpampang jelas disana. Pria itu sidan mengirimi puluhan pesan ke nomor dan menelpon dirinya berulang kali. Bahkan meski Arini tak menggubrisnya, pria itu masih tetap kekeh dan tak berhenti menghubungi nomornya.

"Dasar aneh!"

"Ganggu saja!"

Arini melempar ponselnya di kursi disampingnya. Ia tak memperdulikan segala pesan dan panggilan telepon dari pria itu. Kini hanya satu tujuannya, ia ingin segera pulang dan beristirahat dengan tenang.

Beberapa menit berlalu, mobil Arini akhirnya tina di kediaman Tante Grace. Setelah memarkirkan mobil, wanita langsung keluar dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah besar itu.

Tante Grace rupanya sudah menunggu dirinya di ruang tamu, wanita setengah parubaya itu sedang menyeduh tehnya sambil membaca koran terbaru.

Ia lantas menoleh begitu mendengar suara hak sepatu milik Arini yang mendekat kearahnya. Raut wajah keponakannya itu tampak kusut dan kesal, tak seperti sebelumnya saat ia berangkat ke kantor pengadilan.

"Sudah selesai, Arini?" tanya Grace.

Arini mengangguk pelan, "Sudah, tante."

"Kalau sudah kenapa raut mukamu seperti itu? Ada apa, Arini?"

"Ngga pa pa tante, cuma aku lagi kesal aja karena tadi banyak wartawan yang ngikutin aku sampai ke kantor pengadilan," ucap Arini, mendengus kesal.

"Mau bagaimana lagi Arini. Kamu itu artis papan atas, wajar jika kamu dikejar oleh wartawan,"

"Apalagi sebelumnya karir kamu dan Adrian lagi sedang naik daunnya, dan tiba-tiba publik di kejutkan dengan masalah perselingkuhan antara kalian,"

"Ngga usah terlalu dipikirkan ya, Arini? Ingat, kamu harus tetap pada tujuan kamu, okey?" ucap Grace, memberi semangat.

Grace lalu mengelus pelan pucuk kepala keponakannya itu. Ia menatapnya dengan lembur, namun perlahan tatapan itu berubah menjadi sendu.

"Arini, apa kamu yakin dengan keputusan kamu?"

"Kamu beneran akan pergi ke Amsterdam besok?" tanya Grace, memastikan.

Arini menoleh cepat. Ia tersenyum lirih sambil menganggukan kepalanya, "Aku sudah yakin tante."

1
gina altira
bangkitlah Arini
Zia Zee
justru yg ngga marah itu yg bahaya
Zia Zee
muak banget, soalnya pasang watados
Lili Inggrid
lanjut
Zia Zee
Author, ttp semangat yaa nulisnya! ini novel bagus bangett!!
Zia Zee
Mulut Gio emang minta dicabein,, hahaha
Zia Zee
🤣🤣
Zia Zee
bacaa sinopsisnya menarik. makin masuk kesini alurnya rapi, diksinya bagus, tokoh utama ngga menye², cusss lanjut bacaaa
gina altira
Ooh ternyata Adrian itu aslinya Kere,, yg kaya itu Arini.
gina altira
Hadeuh bentar lg didepak tuh sama Arini.
gina altira
Sabar, jgn grasak grusuk
gina altira
Nah gini wanita berkelas, ga usah viral " an gitu
Mike_Shrye ❀∂я⒋ⷨ͢⚤
Arini kuat banget yaa😭jarang ada wanita yang bertahan dengan kepura puraan di saat suaminya telah melakukan perselingkuhan
Mike_Shrye ❀∂я⒋ⷨ͢⚤
keren kaka🔥🔥🔥
Iva Ranetta: thank youu 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!