NovelToon NovelToon
Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:353
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siska dan kerandomannya

Pagi itu, Kirana sedang sibuk menata bumbu di rak stainless—bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas—semuanya sudah dikupas dan disusun rapi dalam wadah-wadah transparan. Gio asyik menggambar “menu rahasia” di buku catatan bekas: (“Ayam Misterius yang Bikin Ketawa Terbahak-bahak”) (isinya cuma ayam goreng biasa, tapi disajikan dengan stiker lucu).

Tiba-tiba, suara derit pintu ruko terdengar.

“Assalamualaikum! Ada yang kangen nggak sama aku?”

Kirana langsung menoleh. Di ambang pintu berdiri Siska—rambutnya sekarang diwarnai coklat susu, pakai kaos oversized bertuliskan (“I Survived My Mother-in-Law’s Kitchen”), dan senyum lebar yang bikin suasana langsung cerah kayak lampu neon 40 watt.

“Siska!!” Kirana langsung lari peluk. “Kamu balik? Kok nggak kabarin dulu?”

Siska tertawa, memeluk balik erat-erat. “Mau kasih kejutan! Lagian, aku kangen bau dapur kamu yang selalu bikin perut protes kalau lewat.”

Gio langsung nyelonong masuk di antara mereka. “Tante Siska! Aku udah jadi asisten potong bawang level master!” katanya sambil tunjukin pisau plastik kesayangannya.

“Wah, Chef Gio naik pangkat ya?” Siska pura-pura hormat. “Kalau gitu, aku minta satu porsi Ayam Galak Rica-Rica, level pedas ‘bisa bikin setan nangis’!”

Kirana geleng-geleng sambil ketawa. “Jangan ngajarin anak kecil jadi galak, ah. Nanti dia minta cabe rawit sebagai camilan.”

“Lho, kan biar jago nego harga pas jualan nanti,” jawab Siska santai, lalu langsung nyemplung ke dapur seperti ikan balik ke laut. “Aku boleh bantu hari ini? Aku bawa tenaga ekstra—dan mulut yang siap ngegosip ringan biar kerja nggak bosen.”

Sejak tiga bulan lalu, Siska sempat izin karena harus urus orang tuanya yang sakit di kampung. Kirana sangat mengerti, bahkan sempat kirim uang bantuan diam-diam. Tapi sekarang, kehadiran Siska bikin dapur yang tadinya rapi dan tenang jadi langsung riuh kayak pasar malam.

Belum lima menit, Siska sudah ganti celemek—celemek bekas Kirana yang tulisannya “Jangan Ganggu, Lagi Masak Cinta”—lalu langsung ambil alih penggorengan. “Aku lihat kamu masih pakai minyak kelapa campur sawit. Nah, ini rahasia aku: tambah dikit minyak wijen, aroma ayamnya langsung naik kelas kayak di restoran Korea!”

Kirana melongo. “Minyak wijen? Buat ayam rica-rica?”

“Bukan banyak-banyak, cuma dua tetes! Percayalah, ini trik dari nenekku yang dulu jualan di Pasar Senen tahun 90-an. Katanya, ‘rahasia enak itu bukan di resep, tapi di keberanian nyoba sesuatu yang beda’.”

Mbak Sari yang datang tak lama setelah itu langsung nyengir. “Wah, balik lagi nih juru racik rasa nomor satu komplek!”

“Eh, Mbak Sari! Jangan bilang aku juru racik, nanti Kirana cemburu,” goda Siska sambil angkat wajan. “Dia kan bos resmi Dapur Kirana sekarang—punya NPWP, rekening bisnis, bahkan punya (brand ambassador) cilik!” katanya sambil nunjuk Gio yang sedang serius menempel stiker ayam marah di kotak nasi.

Gio langsung jawab, “Aku bukan brand ambassador, Tante. Aku (Chief Happiness Officer). Tugas aku bikin pelanggan senyum pas makan.”

Semua pada ketawa. Bahkan Mbak Yuni yang baru datang sambil bawa daun salam segar ikut nyeletuk, “Wah, jabatan Gio makin tinggi. Nanti kalau besar, jadi CEO atau jadi influencer kuliner?”

“Dua-duanya!” sahut Gio mantap. “CEO yang review makanan pakai boneka ayam.”

Siska langsung tepuk tangan. “Ini anak harus jadi maskot kita! Kita bikin logo: Ayam Gio yang galak tapi imut!”

Kirana cuma bisa geleng-geleng sambil senyum. Tapi dalam hati, dia lega banget. Sejak Siska pergi, meski dapur tetap jalan, ada sesuatu yang kurang—semacam bumbu rahasia bernama tawa. Sekarang, semua kembali utuh.

***

Siang itu, pesanan datang lebih cepat: 70 porsi untuk acara arisan ibu-ibu di komplek sebelah. Biasanya Kirana agak deg-degan kalau pesanan banyak, tapi hari ini beda. Dengan Siska di dapur, semuanya jadi lancar kayak air pancuran.

Siska bagi tugas dengan gaya dramatis:

“Mbak Sari, kamu jadi ratu bumbu dasar! Mbak Yuni, kamu jadi dewi gorengan! Kirana, kamu jadi sutradara rasa! Dan Gio… kamu jadi DJ suasana—kalau sepi, nyanyi!”

Gio langsung ambil sendok dan panci, jadi drum dadakan.( “Dapur Kirana—masaknya happy, makannya ngiler!”)

Siska nyanyi sambil tumis bumbu, (“Ayamku pedas, hatiku hangat, siapa makan pasti bilang ‘wah!’”)

Mbak Yuni ikut nimbrung, (“Telur balado, jangan marah-marah, nanti meledak kayak bom waktu!”)

Kirana sampai hampir tumpahkan kuah opor karena ketawa. “Kalian ini kayak grup dangdut dadakan!”

“Betul! Namanya (Dapur Kirana & The Spicy Crew!” seru Siska. “Album pertama: (Pedas Tapi Sayang.”)

Di tengah keriuhan itu, proses masak justru makin efisien. Siska ternyata punya trik-trik jitu: cara iris bawang tanpa nangis (potong sambil dengar lagu dangdut), cara goreng ayam biar nggak lengket (panaskan wajan sambil bilang “kamu cantik hari ini”), dan cara packing biar nggak tumpah (lipat kardus sambil doa cepat kaya).

“Ini bukan cuma masak, Kir,” kata Siska sambil aduk sambal. “Ini terapi jiwa. Orang-orang stres di kantor, pulang makan nasi box kita, langsung senyum kayak ketemu mantan yang baik hati.”

Kirana tersenyum. “Dulu aku masak karena takut dimarahin. Sekarang aku masak karena ingin orang lain bahagia.”

“Nah, itu dia! Itu filosofi Dapur Kirana versi kamu. Kalau versi aku: (Masak pakai hati, jual pakai canda, untungnya buat bayar sekolah Gio.*”

***

Sore harinya, saat semua pesanan sudah dikirim, Siska ajak Kirana duduk sebentar di depan ruko. Udara Jakarta panas, tapi angin sore bikin cukup nyaman.

“Aku mau balik bantu kamu full time, Kir,” kata Siska pelan. “Aku udah ngomong sama orang tua. Mereka sekarang udah sehat, dan malah dorong aku cari kerja yang bikin seneng. Katanya, ‘Kamu kan jago masak, kenapa nggak bantu teman yang lagi bangun usaha?’”

Kirana terharu. “Tapi kamu nggak mau buka usaha sendiri?”

Siska geleng. “Aku nggak suka kerja sendirian. Aku butuh tim, butuh tawa, butuh Gio yang kasih nama menu aneh-aneh. Lagian…” dia senyum nakal, “aku tahu rahasia bumbu mentega kamu. Kalau aku pergi lagi, kamu bakal sembunyiin resepnya.”

Kirana tertawa. “Resepnya cuma mentega, kecap manis, dan sedikit… cinta yang pernah patah.”

Siska pegang tangan Kirana. “Nah, itu yang bikin rasanya beda. Kamu masak dari luka, tapi jadi berkah buat orang lain.”

***

Malam itu, sebelum pulang, Siska nempelin kertas di papan pengumuman dapur:

#owongan Resmi Dapur Kirana

# Posisi: Asisten Potong Bawang (Level Master)

# Syarat: Punya hati hangat, suka ketawa, dan rela jadi model stiker ayam galak

# Benefit: Makan gratis tiap hari, plus pelukan gratis dari Chef Gio

Gio langsung tandatangan pakai cap jempol. “Aku rekrut diri sendiri!”

Kirana memandang dapurnya—yang dulu cuma kompor gas mini dan talenan retak, sekarang jadi tempat berkumpulnya tawa, persahabatan, dan cita-cita kecil yang tumbuh perlahan. Dan kini, dengan kembalinya Siska, rasanya seperti puzzle terakhir akhirnya ketemu tempatnya.

Besok pagi, jam tiga, mereka akan bangun lagi. Bukan karena terpaksa, tapi karena tahu: di balik setiap nasi box, ada cerita, ada harapan, dan ada cinta yang dimasak perlahan—satu irisan bawang, satu sendok kecap, satu tawa Siska, pada satu waktu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!