Di pesantren Queen Al-Falah, Abigail, seorang Ning yang dingin dan penuh talenta, lebih memilih kopi dan kesibukan pondok daripada cinta. Ia adalah permata yang tersembunyi di balik sikap judes dan penampilannya yang sederhana. Namun, takdir berkata lain ketika sang kakek menjodohkannya dengan seorang Gus Abdi Ndalem, partnernya dalam tim multimedia dan hadroh. Di antara jadwal padat, sholawat, dan misteri masa lalu, Abigail harus membuka hatinya untuk cinta yang tak pernah ia duga. Mampukah ia menemukan kehangatan di balik dinginnya ndalem dan kerasnya hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang Mencurigakan dan Pertemuan Rahasia
[Malam telah tiba. Setelah shalat Maghrib, sebuah mobil memasuki area pesantren dan parkir di ndalem tengah. Para santri putra yang sedang beraktivitas di sekitar ndalem tengah merasa heran. Siapa yang datang malam-malam begini? Betapa terkejutnya mereka ketika mengetahui bahwa orang yang keluar dari mobil itu adalah Ning Abigail.]
[Ning Abigail turun dari mobil dan menyerahkan kunci kepada kang keamanan ndalem.]
Ning Abigail: (singkat) "Ini kuncinya."
Kang Resya: "Nggih, Ning. Tadi dicariin Gus Arka sama Gus Ivan."
Ning Abigail: (hanya membalas dengan deheman tanpa ekspresi) "Hm."
[Ning Abigail bergegas menuju ndalem barat. Sesampainya di ndalem, ia merebahkan diri di ranjang. Ia membuka ponselnya dan membalas pesan WhatsApp dari cowok yang pernah datang ke pesantren beberapa waktu lalu.]
[Tiba-tiba, setelah shalat Isya, sekitar pukul 9 malam, cowok itu datang lagi. Ia langsung menuju ke ndalem barat sesuai dengan petunjuk jalan yang diberikan oleh Ning Abigail melalui pesan WhatsApp.]
[Sesampainya di depan ndalem barat, cowok itu menunggu Ning Abigail keluar. Para kang keamanan yang berjaga di ndalem barat merasa curiga. Sudah satu jam lebih cowok itu berdiri di depan ndalem barat, tapi tidak ada tanda-tanda Ning Abigail akan keluar.]
[Kang Salim, salah satu kang keamanan ndalem barat, menghampiri cowok itu.]
Kang Salim: "Maaf, Mas, ada perlu apa ya?"
Cowok: (diam, tidak menjawab pertanyaan Kang Salim)
[Tidak lama kemudian, Ning Abigail keluar dari ndalem. Ia menghampiri cowok itu dengan aroma parfum yang tidak biasa. Ia mendekat dan mengajak cowok itu untuk duduk di dekat gazebo yang terletak di dekat ndalem barat.]
Ning Abigail: (dingin) "Ngapain ke sini?"
Cowok: (tersenyum) "Kangen."
Ning Abigail: (tatapannya datar) "Nggak usah basa-basi."
Cowok: (mendekat) "Aku serius sama kamu, Bijel."
Ning Abigail: (menjauh) "Nggak tertarik."
[Mereka berdua duduk di gazebo. Kang Salim dan beberapa kang keamanan lainnya mengikuti mereka dari kejauhan untuk mencegah terjadinya fitnah.]
[Di gazebo, Ning Abigail dan cowok itu terlibat dalam perbincangan yang cukup panjang. Mereka berbicara tentang banyak hal, mulai dari hal-hal yang ringan hingga hal-hal yang serius.]
Cowok: "Kamu kenapa sih dingin banget sama aku? Apa aku punya salah sama kamu?"
Ning Abigail: (mengangkat bahu) "Nggak tahu."
Cowok: "Aku pengen tahu apa yang ada di pikiran kamu. Aku pengen ngerti kamu lebih dalam lagi."
Ning Abigail: (tatapannya kosong) "Nggak ada yang perlu kamu tahu."
Cowok: "Tapi aku sayang sama kamu, Bijel. Aku nggak mau kehilangan kamu."
Ning Abigail: (terdiam sejenak) "Sayang?"
Cowok: "Iya, aku sayang sama kamu. Aku pengen kita bisa bersama selamanya."
Ning Abigail: (tertawa sinis) "Selamanya? Itu cuma omong kosong."
Cowok: "Kenapa kamu bilang gitu?"
Ning Abigail: "Karena nggak ada yang abadi di dunia ini. Semuanya pasti akan berubah, termasuk perasaan."
Cowok: "Tapi aku janji, perasaanku nggak akan pernah berubah sama kamu."
Ning Abigail: (menatap cowok itu dengan tatapan yang sulit diartikan) "Janji?"
Cowok: "Iya, aku janji."
[Waktu menunjukkan pukul 23.00 malam. Kang Salim menghampiri Ning Abigail dan cowok itu.]
Kang Salim: "Maaf, Ning, Mas, sudah larut malam. Sudah melebihi jam berkunjung di pesantren. Sebaiknya Masnya pulang sekarang."
Ning Abigail: (mengangguk singkat) "Hm."
Cowok: (menghela napas) "Ya sudah, aku pulang dulu ya, Bijel. Sampai ketemu lagi."
Ning Abigail: "Hm."
[Cowok itu pulang. Ning Abigail juga masuk ke ndalem dan beristirahat.]
[Keesokan harinya, pukul 13.20, ada rapat pengurus di ndalem tengah. Ning Abigail masih membereskan ndalem barat. Setelah selesai, ia bersiap-siap untuk pergi ke ndalem tengah.]
[Ia mengenakan outfit khas santri Queen Al Falah: sarung batik bertuliskan "Mbak Santri", kaos panjang berwarna biru kesukaannya bertuliskan "Mbak Santri QUEEN AL FALAH", dan hijab segitiga berwarna biru yang agak transparan. Ia juga membawa tas yang berisi laptop, iPad, dan ponsel yang digantung di lehernya menggunakan gantungan khusus.]
[Sesampainya di ndalem tengah, ia mengucapkan salam dan bergabung dengan keempat kakaknya: Gus Arka, Gus Arzan, Gus Ivan, dan Gus Atha. Ning Abigail mewakili pengurus asrama putri, sementara para pengurus asrama putra hadir semua. Ning Abigail menjadi satu-satunya perempuan di rapat tersebut.]
Ning Abigail: (mengucapkan salam dengan sopan namun tetap dingin) "Assalamualaikum."
Gus Arka: (menjawab salam) "Waalaikumsalam. Sini, Dek, duduk."
[Rapat dimulai. Gus Arka memimpin rapat dari awal hingga selesai. Suasana rapat berlangsung dengan serius dan khidmat.]
[Setelah rapat selesai, mereka semua berbincang-bincang satu sama lain. Abi Rasya tiba-tiba bertanya kepada Ning Abigail.]
Abi Rasya: "Dek, kemarin kamu kemana? Abi dapat info kamu ada di Pasuruan, itu benar?"
Ning Abigail: (menjawab dengan dingin) "Nggih, Bi."
Abi Rasya: "Terus sudah ketemu Gus Devan?"
Ning Abigail: (singkat) "Dereng."
Abi Rasya: "Terus yang kemarin malam ada di ndalem barat siapa, Dek? Kang Resya bilang ada cowok yang datang."
Ning Abigail: (singkat dan dingin) "Gus Faiq."
Abi Rasya: "Gus Faiq? Ada apa?"
[Belum sempat Ning Abigail menjawab, ponselnya berdering. Ia berdiri dan masuk ke dalam ruang keluarga di ndalem tengah. Ia mengangkat telepon itu. Penelepon itu adalah Gus Faiq.]
Ning Abigail: (di telepon, dengan nada dingin dan ketus) "Halo?"
Gus Faiq: (di telepon) "Aku sudah sampai di ndalem barat."
Ning Abigail: (dingin) "Langsung ke ndalem tengah, Gus." (mematikan telepon)
[Setelah selesai menerima telepon, Ning Abigail kembali ke ruang tamu ndalem tengah. Tidak lama kemudian, Gus Faiq datang dan mengucapkan salam.]
Gus Faiq: (mengucapkan salam dengan sopan) "Assalamualaikum."
Abi Rasya: (kaget) "Waalaikumsalam. Faiq? Silakan masuk, Nak."
[Abi Rasya kaget karena ternyata Gus Faiq datang ke ndalem. Abi Rasya mempersilakan Gus Faiq untuk masuk dan duduk bersama mereka.]