Kehidupan rumah tangga Yuda dan Afifah mendapat gangguan dari mantan pacar Yuda, sehingga Yuda terpaksa harus keluar dari pekerjaannya.
Dulu sang mantan meninggalkan Yuda karena harta. Saat mengetahui Yuda sudah mapan, dia kembali dengan segala drama untuk menghancurkan rumah tangga Yuda.
Setelah mendapatkan pekerjaan baru, kesetiaan Yuda kembali di uji, Yuda dihadapkan pada dua pilihan sulit, harus menikah lagi atau menolak menikah dan beresiko kehilangan pekerjaan barunya.
Apakah Nindi berhasil menghancurkan rumah tangga Yuda dan Afifah? Siapa yang akhirnya harus dinikahi Yuda? Apakah Yuda akan menolak atau menerima pernikahan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myatra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
Setelah sarapan, Yuda mengobrol dengan ayahnya, membahas pekerjaan baru Yuda, kegiatan berkebun ayahnya, dan obrolan lain khas ayah dan anak. Tak lupa pak Rahmat selalu menyisipkan nasihat-nasihat di setiap obrolannya.
Sedang Afifah membantu ibu mertuanya membereskan piring kotor bekas mereka sarapan. Ibu Sri sudah melarang, namun tentu saja Afifah menolak dengan halus larangannya.
Sekitar jam delapan, pak Rahmat dan Yuda pergi ke kebun yang tak jauh dari rumah. Pak Rahmat bercerita jika buah mangga di kebunnya berbuah lebat dan sudah hampir matang, beberapa malah mungkin sudah matang di pohon.
Mendengar kata mangga, seketika membuat Yuda membayangkan rasa asam manis yang terasa segar di lidah, karenanya Yuda menawarkan diri memetikan buah mangga. Pak Rahmat yang mengerti kondisi Yuda, mengiyakan keinginan putranya.
Afifah memilih menunggu di rumah bersama ibu mertuanya.
"Neng, jadi ikut Yuda ke rumah majikannya?" Bu Sri bertanya saat keduanya tengah duduk di teras.
"Mas Yuda belum mengatakan apa-apa, bu. Tapi kalau Fifah, insya Alloh ikut kemana mas Yuda ajak."
"Alhamdulillah. Nanti jika ikut, jaga kandungannya baik-baik, makannya juga di jaga.
"Iya, bu. Terima kasih."
"Kemarin, Yuda ada ngasi ibu uang, bilang sama neng?"
"Bilang, ko bu. Itu sudah kewajiban mas Yuda, Afifah senang, mas Yuda bisa menjalankan kewajibannya."
"Terima kasih, ya neng. Semoga neng sama Yuda selalu sehat, di berkahi dan dilancarkan rezekinya."
"Aamiin, terima kasih bu."
Yuda dan pak Rahmat hanya pergi sebentar, memetik mangga setelah itu pulang. Yuda kembali dengan menjinjing sekresek buah mangga harum manis dan mangga cengkir.
Begitu sampai, Yuda langsung meminta Afifah mengambilkan pisau dan piring. Masih di teras, Yuda langsung mengupas mangga yang masih tampak belum matang sempurna, Yuda sangat lahap memakannya, sedang Afifah yang melihat Yuda memakan mangga mengkal, hanya bisa meringis membayangkan rasa mangga yang pasti asem.
Siang hari sebelum dzuhur Yuda dan Afifah sudah kembali ke rumah mamah Ajeng. Mangga yang tadi dipetik, pak Rahmat berikan semuanya pada Yuda. Melihat Yuda yang memakannya dengan lahap, karena ngidam, membuat pak Rahmat terharu.
¤¤FH¤¤
Saat ini, Yuda dan Afifah dalam perjalanan menuju rumah tuan Andi. Semalam Yuda sudah meminta ijin pada mamah Ajeng, untuk membawa Afifah turut serta. Meski merasa sedih ditinggal kembali putri semata wayangnya, tapi mamah Ajeng tak bisa melarang, karena Afifah sudah menjadi tanggung jawab suaminya, dan kewajiban seorang istri mengikuti kemana suaminya membawanya.
Mamah Ajeng hanya berpesan agar Afifah menjaga kandungannya baik-baik, menjaga asupan makanan, dan sering-sering menghubunginya.
Sebelum berangkat Yuda dan Afifah meminum air rebusan jahe yang sudah mamah Ajeng siapkan. Yuda dan Afifah mampir dulu ke rumah orang tua Yuda untuk pamitan, Dari sana Yuda memilih memesan taksi online, karena jika menggunakan motor dengan perjalanan yang lumayan jauh, khawatir membahayakan kehamilan Afifah.
Motornya, Yuda simpan di rumah orang tuanya, agar bisa dimanfaatkan oleh ayahnya.
Tadi malam, bu Lina menelepon Yuda, menyuruh Yuda agar membawa baju kerjanya, sebenarnya Yuda heran, tapi dia tetap membawanya. Tak banyak baju yang Afifah bawa, Yuda memintanya jangan membawa banyak baju, jika nanti Afifah merasa kurang betah, tak repot membawa banyak barang.
Pagi masih cukup gelap, karena Yuda dan Afifah berangkat begitu selesai shalat shubuh. Afifah menyipitkan matanya saat taksi online yang Yuda pesan sudah sampai di jalan depan pekarangan rumah orang tua Yuda. Afifah merasa hafal dengan mobil itu.
Tak lama keluar sosok yang sama dengan yang mengantarnya beberapa hari yang lalu ke kota, Doni. Yuda yang memang menunggu di depan jalan, terlibat obrolan dengan Doni, dan langsung membenarkan jika dirinya pemesan taksi online.
Yuda berjalan menghampiri Afifah dan kedua orang tuanya yang menunggu di teras. Setelah berpamitan dan bersalaman dengan kedua orang tuanya, Yuda langsung menjingjing tas berisi pakaian mereka, dan tangan satunya menggandeng istri tercintanya.
Saat Afifah sampai di samping mobil, rupanya Doni sudah masuk ke dalam mobilnya. Yuda membukakan pintu penumpang jok kedua, memasukan tas dan meminta Afifah supaya masuk.
"Adek duduk sendiri dibelakang, nggak apa-apa ya? Mas duduk di depan." Yuda berkata sesaat sebelum menutup pintu mobil, yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Afifah.
Yuda membuka pintu depan mobil, dan duduk di kursi penumpang, samping kemudi.
"Nggak nyangka kita bisa ketemu lagi, gimana kabarnya, Don?"
Afifah sedikit melongo, melihat Yuda yang langsung akrab dengan Doni.
"Alhamdulillah, aku baik. Jadi Afifah itu istri kamu, Yud?" Doni menjawab, sambil menjalankan kendaraannya.
"Iya, Afifah istri aku. Kamu kenal Afifah?"
"Iya, Afifah murid aku dulu, saat pertama masuk di Aliyah Negeri. Tapi nggak ke ajar juga, waktu aku masuk, Afifah sudah mau lulus."
"Syukur deh kalau udah saling kenal, nggak perlu dikenalin lagi." Yuda dan Doni tertawa.
Sedang Afifah masih diam tak menyangka, suamiya, mengenal Doni.
"Jadi, sayang... Doni ini temen seangkatan, mas saat SMP dan SMA dulu. Rumahnya juga nggak begitu jauh, dari rumah ayah dan ibu." Kali ini Yuda menengok ke belakang menghadap Afifah, menjawab rasa penasaran Afifah yang hanya Afifah tanyakan dalam hati.
Afifah hanya mengangguk dan tersenyum, menanggapi pembicaraan Yuda. Terjawab juga rasa penasaran Afifah kenapa saat pesan taksi online dapatnya Doni lagi, mungkin karena jaraknya yang dekat dari area orderan.
"Sekarang tujuannya bukan ke alamat kemarin?
"Alamat kemarin?" Yuda merasa heran dengan pertanyaan Doni.
"Beberapa hari yang lalu, aku nganter Afifah dan mamahnya ke perum cempaka."
"Ooh.. itu alamat daerah rumah kami," Yuda mulai mengerti arah pembicaraan Doni.
"Kalau tujuan sekarang, ke alamat tempat kerja ku yang baru." Yuda menambahkan.
"Sekarang kerja apa, Yud?"
"Merawat orang sakit."
Tak Afifah dengarkan lagi pembicaraan setelahnya dari dua kawan lama di depannya itu. Afifah memilih memejamkan matanya, menghabiskan sisa waktu perjalanannya dengan tidur. Selain mengurangi rasa mual dan pusing akibat perjalanan, entah kenapa semenjak hamil, Afifah jadi sering merasa ngantuk.
¤¤FH¤¤
Afifah merasa pipinya ditepuk-tepuk pelan oleh seseorang, lalu samar terdengar suara suaminya,
"Sayang, bangun! Sudah sampai."
Afifah membuka kelopak matanya dengan perlahan, mencoba mengingat dimana dirinya berada, Saat sudah sadar, Afifah segera menegakan badannya.
"Adek tidur nyenyak sekali. Turun yuk, kita sudah sampai." Afifah mengangguk, membenarkan dulu kerudungnya yang pasti berantakan dan menerima uluran tangan Yuda yang membantunya turun dari mobil.
"Terima kasih ya, Don sudah mengantarkan kami. Maaf nggak ngajak mampir, bukan rumah kami." Yuda berbicara lewat jendela mobil yang kacanya dibuka setengahnya.
"Iya, sama-sma. Nggak apa-apa, nyantai saja, next time semoga bisa bertemu lagi. Sukses ya! Aku pulang dulu." Keduanya berjabat tangan, lalu saling memberi dan menjawab salam. Mobil Doni berlalu menjauh.
Afifah berdiri terpaku melihat rumah majikan suaminya, yang sangat besar seperti istana.
BERSAMBUNG.
asaran, eeeh kok jd tertarik bc trus💪💪💪 mantul abizzz
apa kamu fikir Luna itu barang yg bs kamu atur kepemilikannya?? stelah kamu sakiti begitu dalam dtg minta rujuk, nunjuk org yg hrus di nikahi walau harus menyakiti hati istri dan anaknya skrg stelah ada laki2 yg jelas2 berstatus bukan suami siapa2 kamu menolak hanya krn kamu tdk suka Mario akrab dgn keluarga Luna.. bener2 sinting kamu sakti, kalau aku Luna walau u/ anak ga bakalan ikhlas aku di gilir jadi istri macam piala.
bagaimanapun kalau sakti mau rujuk tetap dengan syarat yuda menjalankan kewajibannya lahir dan bathin walau akan diceraikan kembali bukan hanya sekedar akad gimana skitnya Afifah kalau tau suaminya mendua. ga ikhlas thor kalau bnr2 yuda nikah ma Luna mending mario setidaknya mario blm berstatus suami wanita lain.