NovelToon NovelToon
Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:492
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 29 — PILIHAN TANPA NAMA

Mereka kemudian berjalan menjauh, berjalan tanpa arah tujuan.

Hanya menjauh.

Menjauh dari simbol di batang pohon. Menjauh dari jejak-jejak yang dibuat dengan rapi, bahkan terlalu rapi. Jejak yang sengaja mengarahkan perjalanan kelompok Raka. Setiap langkah dari rombongan mereka seolah sudah ditetapkam, sudah dihitung.

Nenek menyadari hal itu, tetapi tidak ada jalan lain selain mengikuti alur yang sudah ditetapkan. Kekuatan. Kekuatan yang tak terlihat, penuh dominasi.

Raka mulai merasakan sakit di betisnya. Luka kecil yang ia abaikan sejak sore kini berdenyut. Setiap pijakan terasa basah. Ia tahu, tanpa melihat—darahnya masih menetes.

Ia mempercepat langkah, menahan napas, berusaha untuk tidak tertinggal.

Nenek berjalan di depan. Tongkatnya menghantam tanah dengan ritme tetap. Terlalu tenang untuk seseorang yang diburu selama berhari-hari. Kelelahan itu nampak, tetapi semangat juang menutupi kelelahan itu.

Bertahan hidup menjadi satu-satunya api semangat untuk terus bergerak dengan harapan bisa lolos dari pengepungan, meski hal tersebut untuk saat ini menjadi mustahil. Pihak-pihak yang tidak diketahui telah mengetahui secara jelas pergerakan dari kelompok Raka.

“Berhenti,” kata nenek tiba-tiba.

Mereka membeku.

Angin lewat membawa bau lumpur dan sesuatu yang lebih dingin. Raka menelan ludah.

Nenek menoleh padanya. Tatapannya tajam, menilai.

“Kamu berdarah,” katanya.

“Aku masih bisa jalan Nek.”

“Bukan itu maksudku Raka.”

Raka terdiam.

Nenek mendekat, berlutut, menyibak kain betisnya. Luka itu kecil, tapi cukup untuk meninggalkan jejak, jejak dari darah yang jatuh.

“Kalau mereka menemukan jejak darahmu,” kata nenek pelan, “mereka tidak akan bertanya siapa kau. Mereka akan langsung tahu.”

“Siapa aku?” Raka bertanya lirih.

Nenek mengikat luka itu erat. Terlalu erat sampai Raka meringis.

“Seseorang yang layak dipertaruhkan,” jawabnya singkat.

Raka ingin bertanya lebih jauh. Tapi suara di kejauhan memotong niatnya.

Bukan langkah.

Siulan pendek. Dua nada. Terputus.

Wajah nenek berubah.

“Dengar baik-baik,” katanya cepat. “Kalau nanti aku bilang lari, larilah dengan cepat—jangan menoleh kebelakang.”

“Kenapa selalu begitu Nek?” Raka membentak pelan. “Kenapa kau tidak pernah bilang apa yang sebenarnya terjadi?”

Nenek menatapnya. Untuk sesaat, topeng keras itu retak. Ada sesuatu seperti lelah… atau penyesalan.

“Karena kalau kau tahu,” katanya pelan, “kau tidak akan punya pilihan.”

“Bukankah sekarang juga tidak?”

Nenek terdiam.

Itu jawaban yang cukup.

Mereka bergerak lagi. Lebih cepat. Lebih senyap.

Hutan berubah. Pohon lebih jarang. Tanah lebih lunak. Rawa kecil membentang di kiri. Airnya hitam, tenang, memantulkan bayangan seperti cermin patah.

Raka terpeleset. Hampir jatuh. Seseorang menarik lengannya—bukan nenek.

“Hati-hati, lihat jalanmu,” bisik orang itu. Nada suaranya datar, tapi matanya gelisah.

Raka mengangguk. Ia bahkan tidak tahu nama orang itu. Atau apakah besok orang itu masih hidup.

Itulah yang paling menakutkan.

Malam semakin gelap, tepat tengah malam ketika mereka berhenti lagi. Kali ini bukan karena bahaya, tapi karena kelelahan.

Nenek memanggil Raka mendekat. Jauh dari yang lain.

“Raka ada dua jalan,” katanya pelan, hampir berbisik. “Kau ikut aku. Atau kau pergi sendiri.”

Raka menatapnya. “Itu pilihan?”

“Dua-duanya memang buruk,” jawab nenek jujur. “Tapi salah satu dari pilihanmu akan dapat memberimu sedikit waktu.”

“Pilhan yang mana Nek?”

“Pilihan yang tetap membuatmu terlihat.”

Raka mengerutkan kening. “Terlihat oleh siapa?”

Nenek tidak menjawab. Ia hanya menatap hutan di depan mereka, seolah jawaban itu sedang berjalan ke arah mereka.

“Kalau aku ikut,” kata Raka perlahan, “apa yang kau harapkan dariku?”

Nenek menoleh. “Bertahan.”

“Dan kalau aku pergi?”

“Jangan mati di tempat yang membuat orang lain mati karena mencarimu.”

Kata-kata itu membuat dada Raka sesak.

“Ini bukan pilihan,” katanya pahit. “Ini jebakan.”

Nenek mengangguk kecil. “Semua pilihan di dunia ini memang begitu Raka, apalagi kau bukan orang yang berkuasa, kau saat ini menjadi orang yang tidak punya pilihan apalagi kekuasaan.”

Raka memejamkan mata. Ia teringat istana. Tembok. Hidup yang diatur. Ia mengira melarikan diri berarti bebas.

Ternyata, hanya berpindah sangkar.

“Baik, aku lebih pilih diam,” katanya akhirnya.

Nenek menatapnya lama. Lalu berdiri. “jangan aneh-anek membuat pilihan sendiri Raka,” katanya. “Justru keinginanmu itu yang paling berbahaya.”

Mereka bersiap bergerak lagi.

Saat itulah Raka mencium bau besi dan logam yang lebih kuat.

Ia menoleh ke belakang.

Di tanah, beberapa langkah dari tempat mereka berhenti, ada tetesan darah. Masih segar.

Nenek menyadarinya bersamaan. Wajahnya menegang.

“Semua diam,” katanya.

Terlambat.

Dari arah kanan, sesuatu bergerak cepat—bukan menyerang, hanya lewat. Terlalu cepat untuk dilihat jelas.

Jeritan pendek terdengar. Lalu sunyi.

Satu orang hilang.

Tidak ada perlawanan. Tidak ada darah tercecer.

Seolah ditelan gelap.

Raka gemetar. “Mereka… pembunuh bayaran?”

Nenek mengangguk pelan. “Salah satunya.”

“Salah satunya?”

Nenek menoleh ke arah lain. Ke tempat yang lebih gelap. “Yang lain sudah lama di sini.”

Raka merasa dunia mengecil.

Mereka berlari.

Sudah tidak terkoordinir. Tidak teratur. Hanya dorongan untuk bertahan hidup.

Cabang-cabang pohon, akar-akar yang menyembul dipermukaan tanah, goresan-goresan dari daun-daun yang tajam yang menjadi penghalang tidak lagi dihiraukan mereka.

Nafas Raka tercekik di tenggorokan.

Ia akhirnya terjatuh.

Tangannya menahan tanah. Rasa perih menjalar. Saat ia bangkit—ia melihatnya.

Jejak darah.

Garis tipis, berkelok, menuju semak-semak.

Darahnya.

Raka membeku.

Nenek berbalik. Matanya mengikuti arah pandang Raka. Wajahnya berubah pucat.

“Cepat bangun dan lari,” katanya keras.

Raka berdiri. Tapi sudah terlambat.

Dari balik gelap, sebuah suara muncul—tenang, dingin.

“Anak itu terluka.”

Raka berputar. Tidak ada siapa-siapa. Hanya suara.

“Jangan panik,” lanjut suara itu. “Kami hanya ingin memastikan obyek kesepakatam masih hidup.”

Nenek maju setengah langkah. Tongkatnya terangkat.

“Pergilah kalian,” katanya dingin.

Tawa kecil terdengar. "Kau bukan target kami Nenek peot… kecuali kalau kau menghalangi kami."

Raka mundur. Jantungnya seperti mau pecah.

Dari sisi lain, suara berbeda menyahut. Lebih berat. Lebih teratur.

"Lokasi sasaran sudah diketahui"

Itu bukan pembunuh bayaran.

Itu suara yang pernah Raka dengar saat prajurit melakukan di latihan ilmu kanuragan dan perang di barak prajurit istana.

Pasukan kerajaan.

Raka terjebak di tengah.

Nenek menoleh padanya. Untuk pertama kalinya, ada ketakutan di matanya-bukan untuk dirinya sendiri.

"Sekarang dengarkan aku," katanya cepat. "Apa pun yang terjadi-kau jangan percaya siapa pun."

"Termasuk kau?" Raka bertanya, suaranya hampir pecah.

Nenek tidak menjawab.

Ia hanya mendorong Raka ke arah gelap.

Dan pada saat itu, Raka tahu-

jejak darahnya bukan kesalahan.

Itu hanya umpan.

Dan Raka tahu dialah umpan itu, hanya tahu, tidak untuk tujuan mengapa dia jadi umpan.

Usianya baru 10 tahun, masih kecil, masih belum banyak tahu apa-apa tengtang intrik kerajaan, sangat mudah bagi seorang prajurit untuk membunuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!