Namanya Ainun, seorang gadis berwajah elok. Ia seorang mahasiswi di perguruan tinggi terfavorit dikotanya. Hidupnya yang terlampau monoton, menjadikannya sosok yang cuek dan cenderung galak, terutama pada lawan jenis.
Siapa sangka, pertemuannya dengan Reza yang berawal dari pertengkaran dan permusuhan, malah membuat hari-harinya berwarna. Di selingi dengan permasalahan keluarga di masa lalu yang selalu menghantuinya.
Cinta keduanya tumbuh membuat lengah Sang Ayah dalam penjagaanya. Ada banyak pelajaran yang Ainun dapatkan saat-saat Tuhan menguji cintanya. Terlebih bayang- bayang masa lalu yang terus saja menguntitnya.
Ini adalah Novel perdana Author, semoga readers suka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olive Sparkly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Menjadi pemberani
Happy reading...
Ridho termenung mendengarkan cerita versi Burhan. Memindai kecemasan dengan segala bentuk sesal dan kecewa. Sungguh garis takdir yang seakan lebur dengan harapan kosong.
Sebegitu berat pengorbanan menghimpit perjalanan hidup seseorang. Hingga hanya berdalih pada kuasa dan adidaya derajat semata yang menjadi tumpuan. Merelakan cinta dan miliknya hanya untuk sebuah toreh kekuasaan.
Ridho sungguh tak menyangka apapun setelah kepergiannya. Hanya acuh dengan tanpa menoleh ke arahnya mengantar kepergiannya silam. Membiarkannya membawa serta putri kecilnya yang masih merah.
"Apakah semua ucapanmu bisa kau pertanggung jawabkan kebenarannya, burhan?" Tanya Ridho masih gamang dengan seluruh isi cerita Burhan.
"Saya berkata jujur, tuan." yakin Burhan mencubit leher depannya tanda ia benar jujur.
"Lantas, kenapa kau masih disana?"
"Semenjak tuan pergi, saya tetap menjadi sopir di sana, tuan."
"Nyonya selalu bilang, tuan akan kembali, dan saya akan tetap menjadi sopir tuan." Burhan menundukkan kepalanya, mengingat begitu Rekha sangat mengharapkan Ridho kembali.
"Apakah dia masih disibukkan dengan kegiatan lamanya?"
"Sudah empat tahun ini, nyonya hanya bekerja dari rumah, semenjak kesehatannya memburuk. Tuan Bara yang mengambil alih semua tugas dan pekerjaan Nyonya." Terangnya kemudian.
"Bara... Ambara??" Ridho memastikan.
"Iya tuan, tuan Ambara adik nyonya Rekha." Jelas Burhan.
Angan Ridho menerawang jauh, fikirannya dipenuhi dengan istilah seandainya jika mungkin dan apabila. Semua seakan berkutat menguasai kepalanya, meminta penjelasan terhadap hatinya yang semakin di penuhi kegamangan.
"Sekarang sudah sore, aku akan mengantarmu kembali pulang." Putus Ridho pada obrolannya kali ini.
"Besok pagi, antarkan aku dimana Rekha berada. Aku ingin bertemu putriku." Lanjutnya seraya berjalan ke arah kasir membayar semua tagihan makanan yang di pesannya tadi.
"Baik tuan,"
Ridho mengantarkan Burhan kembali ke kediaman Rekha, dan melanjutkan pergi ke penginapan. Ia ingin segera terbebas dari rasa penat yang menyelimuti, dan letih yang menguras.
.
Dikediaman keluarga Gunawan, Reza sudah mulai bisa bergerak seperti biasa, meski baru dua hari yang lalu ia terkena luka, tapi kebugaran tubuhnya mampu memulihkan nya dengan cepat.
Reza tengah mengganti perbannya dibantu oleh Sintia, Sang mami. Dengan telaten Sintia merawat Reza, mengantarkan makanan dan membantu hal hal kecil lainnya.
"Mami, bagaimana perkembangan pencarian Ainun?" Tanpa malu dan canggung lagi Reza bertanya perihal Ainun.
Ya, Reza sudah menceritakan semuanya perihal Ainun, gadis cantik yang sekarang menyandang status sebagai kekasih seorang Reza.
"Jangan khawatir, Kakakmu sedang berusaha mencari informasi lebih dalam." Jelas Sintia.
"Aku tidak bisa berhenti memikirkannya mam, apakah dia baik baik saja? apakah sekarang dia sudah makan? apakah dia selamat?" gundah Reza.
Sintia segera memeluk putra bungsunya, menenangkannya, "Dia akan baik baik saja, percaya sama mami ya?"
Reza mengangguk, ingin rasanya ia berlari dan mencari Ainun. Tapi keadaan sangat berbanding terbalik, kesehatannya memang sudah pulih, tapi luka nya masih basah. Tidak mungkin untuk melakukan hal berat dan bepergian jauh.
tok tok tok
Daun pintu kamar Reza diketuk dari luar, Sintia beranjak kemudian membuka pintu. Vino dan Rezi menyembul bergantian masuk kedalam kamar Reza.
"Gimana kabarmu, bro?" Tanya Vino duduk di samping ranjang Reza.
"Sudah baikan," Jawab Reza.
"Lo udah nemuin Ainun, Zi?" Kini giliran Reza bertanya pada kembarannya.
"Temen gue udah lacak, Ainun dibawa ke sebuah Villa." Ucap Rezi.
"Sudah ada team yang berjaga di setiap blok, dan besok sebelum pagi mereka akan memulai misi penyelamatan Ainun." Jelas Rezi.
Reza memposisikan duduk menyender pada bahu ranjang. Mendengarkan setiap trik dan misi penyelamatan. Mereka diminta untuk tetap disini, karena yang dihadapi adalah seorang mafia, yang memang sudah menjadi incaran para intel.
Reza terkejut, untuk apa mereka menculik Ainun? Apakah mereka juga melakukan perdagangan manusia? Reza mengernyitkan dahinya kesal pada keadaan dan situasi yang sangat tidak menguntungkan.
Ia berencana untuk segera sampai kesana dan ikut serta dalam misi ini, namun Rezi dan Vino melarang keras.
"Mafia seperti mereka berdarah dingin, Za!" Tegas Rezi. "Lagian lo masih belum pulih."
"Tapi bagaimana gue bisa membiarkan Ainun didalam lingkaran manusia manusia bejad disana? mereka bisa saja menyiksa dan bahkan melecehkan Ainun!!" Pekik Reza dengan nada meninggi, emosinya memuncak terlihat dari wajahnya yang sudah merah padam.
"Kau tenanglah Za, kita percayakan pada meraka yang sudah terlatih." Vino menenangkan Reza.
"Kita akan langsung jemput Ainun begitu sudah ada titik terang, lo jangan gegabah!" Rezi menegaskan kembali.
Reza terdiam, otaknya membenarkan semua pernyataan Rezi. Tapi hatinya bertolak belakang. Ia memikirkan sesuatu hal. Entah apa itu.
.
Malam ini, Ainun tidak bisa tertidur. Matanya membengkak akibat menangis berjam jam. Dika yang sudah kelelahan menjaga dan menenangkan Ainun pun terlelap tertidur di sofa kamar Ainun.
Ainun tidak merasa takut maupun risih, rasanya ia sedang bersama seorang kakak yang sedang mencoba menghibur adiknya dari lekacauan hati.
Ainun beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi, ia ingin menyegarkan kepalanya yang sedikit pusing dan wajahnya yang sembab sembilu.
Berwudhu kemudian menunaikan shalat Isya nya yang sudah tertinggal jauh. Memanjatkan doa agar terlepas dari semua belenggu yang tidak bisa difahaminya.
Ainun membuka buka lemari, ia mencari pakaian ganti, kemudian pergi kembali ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Kembali hadir sebuah ide untuk melarikan diri, rasanya tidak mungkin meminta bantuan Dika, maka ia akan melakukannya sendiri.
Kemudian ia mencari sesuatu yang panjang, dan bisa dikaitkan. Ia merakit beberapa helai seprei dan kain yang terselip didalam lemari. Mengaitkannya dengan menali patri satu dan yang lain hingga menjadi juntaian yang panjang.
Ainun membuka pintu balkon perlahan, meminimalisir suara agar Dika tidak terbangun. Ia melangkah perlahan menali kuat salah satu ujung rajutannya dengan tiang balkon.
Maniknya melirik ke arah jam, waktu menunjukkan pukul satu malam. Ainun menarik nafasnya dalam. Ia sudah tidak perduli lagi dengan semua ini. Ia hanya ingin pulang, bagaimanapun caranya.
Ainun melirik ke area ia akan mendarat. Tidak mendapati sosok penjaga satu pun. Ia menjulurkan ujung pengait dengan perlahan. Memastikan tidak ada suara pergerakan.
Dengan takut takut, Ainun perlahan menuruni untaian tali yang terpatri satu dengan yang lainnya. Mencoba turun tanpa melihat kebawah, dan...
Bughh,
Ainun terjatuh hanya satu meter sebelum sampai ketanah. Namun naas, jempol kakinya terkantuk batu sehingga terkoyak dan mengeluarkan darah.
Sssshhhh Aaahhh..
Rintih Ainun mendapati luka memar dan menganga yang membuatnya sulit berjalan. Ia berjalan tertatih dan mengendap endap ke arah belakang Vila.
Sudah tidak ada lagi rasa takut, entah itu wewe gombel atau pun sejenisnya Ainun sudah pasrah jika harus bertemu.
"Tunggu!! Berhenti disitu!!" Bariton suara membuyarkannya dari lamunan sesaat.
Ainun tidak menoleh apalagi berhenti. Rasa sakit dikakinya sudah tidak ia perdulikan lagi. Kini Ainun sudah berlari menjauh kearah pintu belakang yang mengarah ke perkebunan teh.
Terdengar hentakan kaki yang mengejarnya semakin dekat. Ainun semakin melajukan langkah lebarnya dengan lebih cepat. Ia menabrak dan menyenggol apapun yang menjadi halangannya saat berlari.
Nafasnya tercengat saat sampai di pintu belakang dan pintu terkunci. Ia melihat sekeliling mencari tempat untuk bersembunyi.
Bukan nya menemukan tempat berlindung Ainun malah mendapati Pohon yang sedikit menyender pada pagar.
Ide gila nya muncul untuk segera naik dan meloncat melewati pagar beton setinggi dua meter. Aksi nekatnya sudah tidak ia perhitungkan lagi, tujuannya hanya satu. Ia harus pergi dari tempat terkutuk ini.
Tidak ada lagi gadis yang selalu dikawal oleh ayahnya, gadis yang tidak pernah pergi kemanapun sendirian. Sekarang hanya ada gadis pemberani dan nekat, keberaniannya tumbuh dengan cepat, adrenalin nya hadir melebihi apapun. Ia bahkan bisa memanjat pohon disaat genting seperti ini. Jangankan memanjat pohon naik ke tempat tinggi saja ia belum pernah sebelumnya.
Bugggh,
Aaawwwww sshhhhh
Ainun merintih kesakitan, ia memegang pergelangan kakinya, sepertinya ia terkilir. Ainun tetap berdiri tegap, memapah kakinya menyeretnya pergi menjauh.
Sekarang ia berada di perkebunan teh yang sepertinya masih milik keluarga Anders. Ia berjalan menyeret kakinya ke arah cahaya lampu di ujung sana.
Tiba tiba
Bugggghhh
Suara sesuatu terjatuh dari tempatnya terjatuh, Ainun menoleh sejenak mendapati seseorang yang mengejarnya tadi.
Entah kekuatan dari mana, Ainun berlari kencang dengan nafas yang tersengal. menghindar menjauh dari kejaran pria dibelakangnya.
"Berhenti!!" Bariton suara itu terdengar lagi dan semakin dekat.
Ainun berlari sambil terisak dan menahan sakit dibagian kakinya yang sepertinya sudah remuk redam.
Ainun mendadak berhenti mendapati medan tempatnya berlari kini menurun. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari jalan lain, tapi sialnya tangan kokoh pria itu sudah mendarat di lengannya dengan cekalan yang sangat kuat.
"Lepaskan aku!! Lepaskan!!"
Ainun memberontak, memukul dan menendang sekuat tenaga sampai sandalnya terlepas entah kemana. Sampai pada akhirnya Ainun terperosok jatuh menggelinding ke tanah yang lebih miring dan dalam. Tangannya yang masih terkunci oleh cekalan pria itu pun terseret terjatuh sampai akhirnya mereka menggelinding bersama.
Ainun merasakan gelindingan yang lumayan lama, itu artinya mereka terperosok sangat dalam. Sampai pada akhirnya Ainun merasakan kepalanya mengantuk sesuatu yang keras. Pusing dan sakit sudah tidak ia hiraukan lagi. Jika matipun ia sudah rela.
To be continue....
Hai haiii.... Terima kasih sudah bersedia membaca turisan receh author, dan memberi like vote dan rate 5 nya, author terharu....
Tetap stay tune yaa... di bab selanjutnya akan penuh kejutan.
love all.....
ada kalimat hamil dan kehilangan anaknya . yg di suruh ambil ngerawat si bibi sebelumnya itu yg mengenali dika. tp dia taruh di panti.
g mungkin dika muncul segini banyak partnya kalau bukan penting. entah saingannya si reza atau malah jd benar kakaknya
Ainun punya hape nih skg. tapi jika dia sangat terluka oleh apa yg diprbuat Bara pada Ridho. kenapa Ainun pas ngelihat nggak ada papinya malah menghubungi Reza?
bukannya dia mengkhawatirkan papinya? tp kok malah minta tolong sama Reza yg notabene jauh (5 jam perjalanan) dalam kondsi sakit, dan bukan bagian dr carut marut keluarganya.
pdhl papinya paling dkt jaraknya. misalpun di usir masih ada di sekitar situ. dan dia papinya bukan orang lain.
biar bagaimanapun yg bisa menyelesaikan masalahnya kan ttp aiunan dan keluarganya.
dia hnya menarik reza dlm bahaya.
papinya masih dibelain sma rekha
ainun sndr jls g bkl diapa2in
tp reza??
mlh jd ngeri.
hangat hangat, makan kolak
selalu semangat, kakak...
pantunku gak nyambung🙈tapi semoga itu bisa menambah semangat kakak dalam berkarya❤
tapi bahagia aku bacanya, ikut prok prok aja deh👏👏❤
kakak memang the best merangkai kata..😍🍃
aq smpe bingung cari 🥴🥴
terus paragraf terakhir coba d baca lagi, ad yang janggal g???
sorry sedikit bawel, soalnya aq baca isi ceritamu, bukan baca komen mu😎😎😎
kurang enk d baca
aku nyacroll kok teman kondangan nggak update tapi malah ilang.
aku smp buka profilmu buat nyariin judul.
CMIIW ya readers semua.
sebenarnya semua orang yg punya luka benturan di kepala, (entah apapun penyebabnya) tidak disarankan untuk diguncang2kan, digoyangkan, dipindahkan posisinya. efeknya fatal. dari memperparah keadaan sampai dengan meninggal. karena kepala itu identik dengan saraf dan pembuluh darah.
tapi kita bicara di Indonesia. cederung semua kecelakaan yg terjadi akan dipindahkan dl. entah karena ditengah jalan, panik, atau dianggap harus segra sadar. tanpa tahu proses yg kita berikan justru memperbesar resikonya..
saya pernah lihat kecelakaan dan menyarankan untuk menunggu petugas medis datang sebelum dipindahkan. tp malah saya yg kena omelan. buru2 mereka ingin bawa kr rs.
namun keadaan yang enggan Qt bertemu
seoalah tk ingin Qt bersatu
memecahkan rindu yg membatu