Bacin Haris seseorang mencari ibunya yang hilang di dunia lain yang disebut sebagai Black World. Dunia itu penuh dengan kengerian entitas yang sangat jahat dan berbahaya. Disana Bacin mengetahui bahwa dia adalah seorang Disgrace, orang hina yang memiliki kekuatan keabadian. Bagaimana Perjalanan Bacin didunia mengerikan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GrayDarkness, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Help... Cewek Gila part 2
"Ini luar biasa! Kau sangat pandai memasak," kata Bacin dengan kagum.
Suzie tersenyum malu-malu, senang mendengar pujian itu.
Namun, Bacin tidak berhenti di situ.
Dengan nada sedikit menggoda, ia berkata, "Orang yang mendapatkanmu pasti sangat beruntung."
Suzie terkejut sesaat, lalu wajahnya perlahan merona merah.
Ia tersenyum malu, menghindari tatapan Bacin sebelum akhirnya berkata, "Aku masih single."
Bacin mengangkat alisnya, sedikit terkejut.
"Oh? Aku juga masih single," katanya, tersenyum santai.
Namun, sebelum ia bisa melanjutkan perkataannya, sesuatu yang aneh mulai terjadi.
Matanya terasa berat.
Rasa kantuk luar biasa menyerangnya tiba-tiba.
Jantungnya mulai berdebar.
"Ada yang tidak beres," pikirnya.
Ia berusaha berdiri, mencoba berjalan menuju pintu keluar, tetapi tubuhnya terasa lemas.
Kakinya gemetar.
Saat ia hampir mencapai pintu, tubuhnya kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai.
Suzie berdiri di belakangnya, menatapnya dengan tatapan yang berbeda.
Tatapan gila.
Senyuman lebarnya semakin menyeramkan.
Tawa pelan mulai terdengar, lalu berubah menjadi tawa yang semakin keras dan mengerikan.
"Kau benar-benar mengatakan itu, ya?" katanya dengan nada manis namun mengerikan.
"Aku sangat senang mendengar itu... Kita akan menjadi pasangan yang mesra dan romantis."
Bacin berusaha melawan kantuknya, tetapi kesadarannya mulai memudar.
"Sial... Apa yang terjadi...?" pikirnya sebelum segalanya menjadi gelap.
......................
Bacin perlahan membuka matanya.
Kepalanya masih terasa berat, dan tubuhnya terasa kaku.
Saat kesadarannya kembali, ia langsung menyadari sesuatu yang mengerikan.
Ia terikat di sebuah kursi.
Ruangan di sekelilingnya gelap tanpa jendela, tanpa cahaya.
Hanya ada suara napasnya sendiri dan… suara napas orang lain di dekatnya.
Sebuah sosok berdiri tepat di depannya.
Suzie.
Ia menatap Bacin dengan mata berbinar penuh kegilaan, senyumnya begitu lembut, tetapi ada sesuatu yang salah dalam ekspresinya.
"Kau sudah bangun, sayangku."
Dengan penuh kasih, Suzie mengulurkan tangannya, menyentuh kepala Bacin, lalu memeluknya erat.
Bacin ingin marah.
Ia ingin berontak, berteriak, atau menghancurkan kursi ini.
Namun, kata-kata Zein kembali terngiang di pikirannya.
"Jangan menolaknya, Bacin. Jangan pernah menolaknya…"
Peringatan itu terasa seperti alarm bahaya di benaknya.
Jadi, alih-alih melawan, Bacin menarik napas dalam-dalam dan mengubah ekspresinya.
Ia memasang senyum setenang mungkin dan berkata dengan suara yang dibuat selembut mungkin,
"Um… Suzie, sayang?"
Suzie mengangkat wajahnya, matanya bersinar senang.
"Ya, sayangku? Ada apa?"
Bacin menelan ludahnya, mencoba memilih kata-kata dengan hati-hati.
"Bisakah kau melepaskanku?"
Namun, jawaban Suzie langsung mematahkan harapannya.
"Tidak boleh."
Ia menarik tubuhnya semakin dekat, kembali memeluknya erat seperti tak ingin melepasnya seumur hidup.
"Kau harus tetap seperti ini."
Napasnya menghangatkan leher Bacin, membuat bulu kuduknya berdiri.
"Aku tidak mau kau jauh dariku, sayang…"
"Aku sangat mencintaimu."
"Kau harus membiasakan dirimu dalam keadaan seperti ini."
"Kau harus senang dan menerimanya dengan senang hati."
"Karena aku melakukan ini karena aku sangat mencintaimu…"
"Ini adalah bentuk cintaku padamu…"
Bacin hampir saja menggertakkan giginya, tetapi ia menahannya.
Ia harus memikirkan cara untuk keluar dari sini tanpa memancing amarah Suzie.
Jadi, dengan suara selembut mungkin, ia berkata,
"Tapi… besok pagi aku harus pergi bekerja. Aku harus istirahat."
Suzie menatapnya, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
Lalu, ia tersenyum dan berkata,
"Kalau begitu tidurlah dalam pelukanku."
"Kau tidak akan bermimpi buruk, sayang…"
"Kita akan selalu bersama."
Bacin terdiam.
Di dalam kepalanya, ia tertawa pahit.
"Aku tidak akan bermimpi buruk… Karena kenyataan ini lebih buruk daripada mimpi buruk."
Namun, ia tahu bahwa berdebat atau bernegosiasi hanya akan sia-sia.
Jadi, ia menutup matanya perlahan.
Berusaha menenangkan pikirannya, mencari cara untuk kabur di lain waktu.
Untuk sekarang…
Ia tidur dalam pelukan seorang wanita yang mencintainya dengan cara yang paling menyeramkan.
Bacin terbangun dengan kepala yang terasa berat.
Tubuhnya masih terikat erat di kursi.
Lampu temaram di ruangan itu membuat suasana terasa mencekik.
Saat ia mengangkat wajah, sosok Suzie sudah berdiri di depannya dengan senyuman lembut.
Di atas meja kecil di sebelahnya, ada semangkuk bubur yang masih mengepul.
"Selamat pagi, sayangku," kata Suzie dengan suara lembut, terlalu lembut untuk situasi ini.
"Aku telah membuatkan sarapan untukmu sebelum kau berangkat kerja."
"Sekarang, buka mulutmu."
Bacin menelan ludah.
Bukan karena lapar, melainkan karena ketakutan yang perlahan merayapi tubuhnya.
Ia berusaha tetap tenang dan berkata dengan suara yang dibuat senormal mungkin,
"Bisakah aku makan sendiri?"
Suzie menggeleng sambil tersenyum.
"Tidak boleh."
"Aku sebagai pasanganmu yang baik akan menyuapimu untuk makan."
Mata Suzie penuh kasih sayang, tetapi ada sesuatu di dalamnya—sesuatu yang sangat salah.
Bacin tidak punya pilihan lain.
Dengan terpaksa, ia membiarkan Suzie menyuapinya.
Bubur itu terasa hangat dan lembut, tetapi Bacin tahu lebih baik daripada hanya menilai makanan dari rasanya.
Ada sesuatu dalam bubur itu.
Dan kecurigaannya terbukti dalam hitungan menit.
Begitu ia menelan suapan terakhir, tubuhnya mulai kehilangan tenaga.
Tangannya terasa berat.
Kakinya mati rasa.
Ia bahkan tidak bisa menggerakkan satu jarinya pun.
"Sial…" pikirnya.
Suzie tersenyum senang.
Dengan mudahnya, ia mengangkat tubuh Bacin yang lemas, seperti menggendong boneka.
Tanpa banyak bicara, ia membawa Bacin ke kamar mandi.
Air mulai mengalir.
Suzie mulai memandikannya.
Bacin tidak bisa melawan.
Ia hanya bisa pasrah, menahan rasa malu dan takutnya.
Setelah selesai, Suzie mengenakan pakaian untuknya.
Bacin terkejut saat melihat pakaian yang dikenakan padanya.
Seragam polisinya.
"Tunggu… Dari mana dia mendapatkannya?"
Suzie tersenyum sambil membetulkan kerah bajunya.
"Bagus sekali. Kau terlihat sangat tampan, sayang."
Bacin mulai merasa dingin.
"Apartemenku seharusnya terkunci… Bagaimana dia bisa mengambil pakaianku?"
Jawabannya jelas.
Suzie bukanlah orang biasa.
Dia bukan hanya seorang wanita obsesif.
Dia adalah DISGRACE.
Bacin merinding.
Semua ini… Sudah direncanakan sejak awal.
Suzie memegang kedua pipi Bacin, menatapnya penuh kasih.
"Sudah selesai, sayangku."
"Sekarang, kau boleh berangkat kerja."
"Dan aku… akan selalu menemanimu."
Bacin merasa tubuhnya perlahan bisa digerakkan lagi.
Efek obatnya mulai menghilang.
Dengan suara serendah mungkin, ia berkata,
"Kau tidak bisa menemaniku…"
"Ini adalah divisi rahasia di kepolisian."
Suzie tersenyum.
"Jangan khawatir, sayang."
"Tidak akan ada yang mengetahuinya."
Tiba-tiba, tubuh Suzie mulai berubah.
Seluruh tubuhnya larut menjadi bayangan hitam pekat.
Bayangan itu bergerak, merayap, meresap masuk ke dalam bayangan Bacin.
Mata Bacin membelalak.
"Apa… yang baru saja kau lakukan?!"
Suzie tertawa lembut dari dalam bayangannya.
"Aku hanya memastikan bahwa kita tidak akan terpisahkan lagi."
"Selamanya."
Di lantai, bayangan Bacin mulai bergerak sendiri.
Sosok Suzie perlahan muncul dari dalamnya, tersenyum dengan senyuman mengerikan.
"Aku seorang disgrace, sayang."
"Sama sepertimu."
"Sekarang, kita akan selalu bersama… dan tidak ada yang bisa memisahkan kita."
Bacin tidak pernah merasa setakut ini dalam hidupnya.