Kisah cinta antara dua anak manusia yang di pisahkan jarak dan waktu, kehidupan yang keras dan penuh dengan manipulasi membuat mereka saling terpisah satu sama lain.
Akankah Samudra dan langit akan bersatu…? Jika penasaran dengan ceritanya, baca novel ini ya…?
Jangan lupa tinggalkan komentar dan like nya, karena dengan like dan komentar kalian bisa menambah semangatku untuk melanjutkan cerita selanjutnya, salam hangat…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari kebenaran 1
Samudar berjalan dengan sedikit tergesa, dia sangat ingin mengetahui kondisi baron saat ini. Operasi besar yang di lakukan baron sehabis kecelakaan, bisa menyebabkan baron hilang ingatannya jika saja operasi yang di lakukan gagal.
Padahal samudra sangat membutuhkan informasi yang akurat sebelum kejadian kecelakaan itu terjadi, sesampainya samudra di depan pintu kamar inap baron, dia segera mengetuk pintu tersebut dengan pelan.
Tok.. Tok.. Tok..
Terlihat handel pintu bergerak dan pintu tersebut terbuka dari dalam, wajah Pram yang begitu manis terlihat pertama kali saat samudra menatap ke dalam ruangan inap baron.
“Kamu sudah datang sam, masuklah.” Ucap Bram mempersilahkan samudra masuk.
“Bagaimana keadaan pak baron, Bram…?”
“Dia tampak sedikit bingung waktu sadar, tapi kamu jangan kawatir sepertinya pak baron tidak hilang ingatan. Buktinya saat pertama kalo sadar dia langsung menanyakan keberadaan kamu.” Bisik Bram di samping telinga samudra.
“Syukurlah…” samudra mendekati baron yang masih tertidur, dengan perlahan samudra menarik kursi di samping brangkar.
Baron perlahan membuka mata perlahan, dia menoleh menatap samudra yang juga menatapnya.
“Kamu sudah datang sam.” Tampak senyum yang di paksakan terlihat di bibir pucat baron.
“Bagaimana keadaan anda pak….?”
“Masih sedikit pusing dan sakit, tapi kamu jangan kawatir. Aku masih ingat, dan aku tidak kehilangan ingatan.” Suara berat baron terdengar sedikit di paksakan untuk berbicara.
“Ah… syukurlah, karena saya butuh informasi tentang kecelakaan yang anda dan nona angel alami.”
“Oh iya, bagaimana keadaan nona angel. Apa dia baik baik saja….?” Baron tampak sangat kawatir dengan keadaan putri kesayangan alex.
“Dia baik baik saja pak, hanya sedikit lecet. Beruntung perlindungan di dalam mobil yang nona angel dan anda kendarai sangat mendukung, tapi fatal bagi anda waktu kecelakaan anda lupa tidak memasang sabuk pengaman.” Samudra mengingatkan baron yang ternyata lupa memakai sabuk pengaman saat akan mengantarkan angel.
“Iya sam, aku lupa. Kebiasaan yang jelek ya…”
“Anda memang selalu begitu pak, melupakan sesuatu yang di anggap remeh tapi sebenarnya sangat penting.” Celetuk Bram yang tengah duduk di sofa.
“Aku akan lebih berhati hati ke depannya saat berkendara, terima kasih karena kamu telah mengingatkan ku sam.”
“Pak Bram, boleh saya bertanya.” Ucap samudra dengan tatapan serius.
“Hmm… apa yang ingin kamu tanya kan.”
“Apa yang sebenarnya terjadi sebelum kecelakaan yang anda alami bersama nona angel.”
Baron terlihat diam sesaat, sepertinya dia sedang memutar ingatan tentang ke jadian sebelum kecelakaan terjadi. Baron berusaha duduk dengan di bantu samudra yang berada di sampingnya, dia menghela nafasnya dengan berat.
“Kamu tahu sam, setelah aku keluar bersama dengan nona angel. Aku merasakan mesin mobil yang aku kendarai sepertinya ada masalah, perlahan aku menjalankan mobil sampai pada perempatan lampu merah aku sengaja berjalan ke arah jalan tembus. Saat aku menginjak rem, ternyata remnya blong sam. Tapi tidak sampai di situ saja, sebuah mobil sengaja mengejar kami agar aku menambah kecepatan mobil. Dan kamu tahu, saat aku tidak bisa mengendalikan laju mobil aku memilih mengambil jalur yang terdapat banyak pasirnya. Kebetulan di sana juga sedang ada perbaikan pinggir jalan, jadi aku manfaatkan kesempatan untuk bisa mengurangi kecepatan mobil.” Baron menjelaskan panjang lebar tanpa berhenti.
“Dan sampai pada akhirnya, anda memilih menghentikan mobil tersebut dengan menabrak tiang pak barin setelah mobilnya berkurang kecupannya.”
Baron menganguk membenarkan ucapan samudra, baron sangat penasaran siapa yang berani main main dengan dirinya, baron yang di kenal kejam ketika berhadapan dengan lawan, sampai dia berani membunuh lawannya jika di perintahkan.
Terlihat tangan baron mencengkram erat, sampai urat urat di pergelangan tangannya terlihat. Bram yang melihatnya sampai bergidik ngeri, sedangkan samudra hanya diam.
“Setelah aku keluar dari rumah sakit, aku akan mencari siapa pelaku yang berani beraninya bermain di belakangku.”
Sam melihat baron terlihat sangat kesal, begitu juga dengan Bram yang hanya diam tanpa berkata apapun melihat baron yang tampak kesal. Bram sangat hapal dan tahu jika apa yang baron ucapkan tidak pernah main main, dia akan mencari dan kadang bisa membunuh lawannya.
“Menurut saya ada musuh di dalam selimut di dalam kediaman tuan alex.” Celetuk samudra, pandangan mata baron dan Bram seketika beralih menatap samudra.
“Apa maksud kamu sam…?” Tanya Bram serius.
“Kamu pikir saja sendiri Bram, peristiwa yang terjadi saat ini dengan pak baron. Rem blong, dan mobil yang berusaha mengejar mobil yang di kendarai pak baron dan nona angel. Apa kamu belum menyadarinya, menurutku pasti ada musuh di dalam kediaman tuan alex tanpa kita sadari.”
Baron menganggukkan kepala, menyetujui ucapan samudra.
“Aku setuju dengan ucapan kamu sam, mungkin bisa jadi ada mata mata juga di kediaman tuan alex.”
Mereka terdiam dalam pikiran masing masing, baron yang mendengar ucapan samudara menjadi bertanya tanya. Siapa sebenarnya musuh yang berada di dalam kediaman tuan alex, Bram yang punya pemikiran yang sama dengan apa yang dipikirkan baron.
“Bram, kamu bisa pulang. Biar aku yang bergantian menjaga pak baron.”
Samudra bangkit dari tempat duduk dan beralih mendekati Bram yang melihatnya, dengan segera bra pun menggambil jaketnya yang berada di sampingnya.
“Besuk biar leo yang aku suruh ke sini, bergantian denganmu.”
Bram menepuk pundak samudra, dia kemudian berpamitan dengan baron.
“Pak baron, saya permisi dulu.”
“Terima kasih Bram, kamu menemaniku.”
“Sudah jadi kewajiban saya pak, mungkin jika saya sakit di rumah sakit bapak juga harus menjaga saya. Hehehe…” goda Bram yang kemudian berlalu pergi sebelum baron mengeluarkan tanduk rasanya.
Samudra tersenyum melihat baron yang berpura pura kesal, melihat Bram sudha pergi dengan segera samudra mendekati baron kembali.
“Pak boleh saya bertanya mengenai apa yang terjadi dengan keluarga tuan alex dulu.”
“Untuk apa kamu menanyakan itu sam, apa untungnya kamu mengetahui masa lalu keluarga tuan alex.”
“Maaf pak sebelumnya, saya hanya ingin menjaga adik saya langit dari tangan orang orang jahat.” Baron mengeryit heran menatap samudra.
“Langit, siapa itu langit…”
Seketika samudra teringat jika tuan alex pernah berpesan jika hanya tuan alex dan pak arnold lah yang tahu keberadaan langit yang sebenarnya adalah putri. Tapi samudra berfikir sekali lagi, mungkin keberadaan langit sudah di ketahui juga oleh pak baron. Dilihat dari dia peristiwa yang terjadi selama ini di kediaman tuan alex akhir akhir ini.
“Sebentar sam, tolong jelaskan lebih terperinci dna jangan membuat saya bingung.”
“Langit itu sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri pak, dan ternyata dia adalah putri yang selama ini tuan alex cari yang mengilang.”
“Maksud kamu putri Anastasia, aku dengar dari tuan arnold dia ada di kediaman nyonya eli.”
Ternyata dugaan samudra benar, keberadaan langit sudah di ketahui oleh banyak orang. Samudra mengangukan anggukan kepalanya, sedang baron melihat samudra dengan seksama.
“Jadi selama ini putri ada di panti bersama kamu sam, dunia ternyata sangat sempit ya sam. Dan kamu tahu sam, wajah kamu itu sangat mirip dengan sahabat tuan alex yang bernama bumi.”