NovelToon NovelToon
Galaxio

Galaxio

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Itachi Wife

Ganteng ✔️
Kaya Raya ✔️
Pintar ✔️
Jago Olahraga ✔️
Jago Bela Diri ✔️
Orangtua Cakep ✔️
Kesayangan Semua Orang ✔️

Fajarendra Galaxio Nayanka, putra sulung dari pengusaha kaya raya, Aksara Langit Nalendra, dan mantan model terkenal, Wulandari Camelia Yovanka. Lahir & tumbuh dikeluarga konglomerat dengan segala kelimpahan harta & kasih sayang dari semua orang, membuat lelaki yg akrab disapa Galaxio itu merasa kehidupannya sudah sangat sempurna.

Namun siapa yg mengira bahwa semua sketsa-sketsa indah yg sudah ia rancang untuk masa depannya, harus hancur dalam sekejap. Dan yg lebih parahnya lagi, yang menjadi penyebab dari kehancuran itu adalah satu-satunya wanita yg berhasil menarik perhatiannya, bahkan menumbuhkan cinta dalam hatinya. Wanita yg ia kira akan menemaninya membangun kisah cinta romantis, justru memberinya luka yg amat tragis. Akankah kisah Galaxio berakhir bahagia seperti kisah orangtuanya dulu? Atau justru berujung pilu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itachi Wife, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Saat Luna kembali ke kamar Gala, tampak lelaki itu masih terlelap. "Gimana badannya? Masih panas?" tanya Luna yang diangguki oleh Skylar. "Tadi Dokter bilang, boleh dikompres pake air hangat kok" ujar Skylar. "Yaudah, kalo gitu aku ambil air ha..." "Gak usah, biar gua aja yang ambil kompresannya. Lo suapin Gala aja" ujar Skylar segera beranjak keluar kamar. Luna mendekat dan meletakkan nampan itu di nakas lalu duduk di tepi kasur. "Gala... Bangun dulu yuk, makan dulu, abis itu minum obat" ujar Luna. Ia menggenggam tangan Gala yang panas, tampak lelaki itu membuka mata secara perlahan. "Kepala aku pusing banget sayang" ujar Gala lirih.

"Iya aku tau. Tapi makan dulu ya, abis itu minum obat baru istirahat lagi" ujar Luna mengusap tangan Gala. "Aku gak selera makan sayang. Lidah aku pahit" ujar Gala merengek. "Dipaksain dong, pelan-pelan aja makannya. Aku suapin" ujar Luna mengambil bubur tersebut dan mulai menyuapi Gala dengan hati-hati. Baru beberapa sendok, Gala tiba-tiba bangkit. "Kenapa? Gak enak ya?" tanya Luna. "Bukan itu, aku,,, aku pengen muntah" ujar Gala. "Gua lupa bawa ember lagi, kalo ambil ke bawah dulu bakal lama" gumam Luna dalam hati. "Aku bantu ke kamar mandi yuk" ujar Luna membantu Gala bangkit. "Pelan-pelan" ujar Luna memapah Gala. Sesampainya di wastafel Gala benar-benar memuntahkan kembali apa yang ia makan tadi.

"Kalo gini terus, Gala bisa dehidrasi" gumam Luna dalam hati. "Udah?" tanya Luna yang diangguki pelan oleh Gala. "Tiduran lagi ya" ujar Luna kembali memapah Gala ke kasurnya. "Lun, ini kompresannya" ujar Skylar. "Tolong kompresin bentar ya Sky. Aku mau ketemu Mami dulu" ujar Luna yang diangguki oleh Skylar. Luna pun segera menuju ke kamar Wulan. Tok... Tok... Tok... "Permisi Pi Mi" ujar Luna. "Iya sayang. Sini masuk" ujar Wulan. "Ada apa Luna?" tanya Langit. "Hmm itu Pi Mi... Gala daritadi muntah-muntah terus. Apapun yang dimakan, pasti dimuntahin lagi. Luna takutnya Gala dehidrasi" ujar Luna. "Kita bawa ke rumah sakit aja sayang" ujar Langit. "Tapi Gala gak mau ke rumah sakit katanya Pi" ujar Luna.

"Luna, bisa tolong kamu bujukin Gala gak, supaya dia mau ke rumah sakit?" tanya Wulan. "Hmm,,, Luna coba dulu ya Mi" ujar Luna. Setelahnya, Luna bersama Langit dan Wulan pun kembali ke kamar Gala. "Gala,,, kita ke rumah sakit aja yuk" ujar Luna yang langsung digelengi oleh Gala. "Gala gapapa kok, cuma lemes sama ngantuk aja" ujar Gala pelan. "Sayang,,, kita ke rumah sakit ya Nak" ujar Wulan. Gala hanya tersenyum dan kembali menggeleng. "Gak Mi. Gala,,, udah gak mau ke rumah sakit lagi" ujar Gala pelan. "Gala di sini aja ya, besok juga udah mendingan kok" lanjut Gala. "Tapi Nak..." "Udah sayang. Kalo Gala gak mau jangan dipaksa" ujar Langit. "Gak bisa gitu dong Mas. Anak aku sakit gitu, dan kamu nyuruh aku diam aja ha?" tanya Wulan.

"Aku gak nyuruh kamu diam, aku cuman bilang kalo Gala gak mau gak usah dipaksa" ujar Langit. "Kamu tuh emang gak peduli ya sama Gala!" ketus Wulan. "Astaga sayang. Gala anak aku juga,,, gimana mungkin aku gak peduli sama dia" ujar Langit. "Haha,,, peduli? Peduli kamu bilang? Waktu Gala kecelakaan dulu, kamu dimana ha? Aku telfonin kamu berkali-kali tapi gak diangkat. Aku tanya ke sekretaris kamu,,, dia bilang kamu udah pulang! Sekarang aku tanya, pulang kemana kamu malam itu ha?!" ujar Wulan. "Aku,,, aku ada urusan mendadak sayang. Aku juga udah minta maaf kan waktu itu" ujar Langit. "Urusan apa Pi? Urusan jagain Aruna yang masuk rumah sakit juga?" tanya Gala membuat semuanya menoleh.

"Aruna? Maksud Gala apa sayang?" tanya Wulan. "Malam saat Gala kecelakaan itu, Aruna juga masuk rumah sakit Mi. Di rumah sakit yang sama dengan Gala, dan dengan ruangan VVIP di koridor yang sama kayak Gala" ujar Gala membuat Wulan terdiam. "Say..." "Bener?" potong Wulan menatap Langit. "Sayang aku bis..." "Aku tanya sekali lagi,,, itu bener? Apa yang Gala bilang itu bener?" tanya Wulan lagi. Langit terdiam cukup lama, lalu menghembuskan nafas dan mengangguk pelan. Plak... "Bajingan!" bentak Wulan. "Sayang aku punya alasan" ujar Langit. "Persetan! Apa alasan itu lebih penting dari anak kamu sendiri? Dari darah daging kamu sendiri?" cecar Wulan. "Say..." "Cukup Mas. Ternyata selama ini gak cuma satu kebohongan yang kamu kasih ke aku" ujar Wulan mulai berkaca-kaca.

"Sayang dengerin aku dulu" ujar Langit berusaha menggapai tangan Wulan namun ditepis oleh wanita itu. "Gak ada yang perlu kamu jelasin lagi. Besok kalo keadaan Gala udah membaik,,, aku akan bawa dia" ujar Wulan membuat Langit membelalak. "Gak! Kamu gak bisa bawa anak aku gitu aja" ujar Langit, namun Wulan justru tertawa sinis. "Gak usah pura-pura lagi kamu! Aku udah tau ya, kamu dari dulu tuh pengen banget punya anak cewek kan? Makanya kamu lebih ngutamain Aruna dibanding Gala kan?" tanya Wulan membuat Gala tertegun. "Kamu salah paham sayang. Aku pengen anak cewek, tapi bukan berarti aku gak sayang sama Gala. Dia anakku, gak mungkin aku gak sayang sama dia" ujar Langit. "Oh,,, jadi itu alasannya" ujar Gala bangkit dan duduk bersandar pada headboard.

"Gak Gala. Itu gak bener, Mami kamu cuma salah paham. Papi,,, Papi emang pengen anak cewek, karena Papi mau pengganti Aunty Senja aja kok bukan karena yang lain" ujar Langit. "Dahlah Pi. Gak usah banyak alasan lagi okay" ujar Gala bangkit dari kasurnya. Luna dengan sigap merangkul Gala yang masih sempoyongan. "Sky,,, tolong anter gua" ujar Gala. "Sayang kamu mau ke mana Nak?" tanya Wulan. "Gala mau nenangin diri dulu ya Mi. Nanti kalo Gala udah mendingan, Gala pulang buat jemput Mami. Abis itu kita pergi dari sini" ujar Gala. "Kamu pikir Papi akan biarin kalian pergi gitu aja hm?" tanya Langit. "Dan apa Papi pikir aku gak bisa bawa Mami pergi? Jangan panggil aku Galaxio, kalo aku gak bisa lakuin apapun yang aku mau" ujar Gala menatap tajam Langit.

"Aku mungkin anak Papi, tapi jiwa dalam diri ini adalah jiwa seorang Ganendra, yang gak akan pernah tinggal diam saat melihat Princess-nya tersakiti!" lanjut Gala. "Bisa kita lihat nanti, siapa yang akan menang" ujar Gala kembali. "Silahkan Papi kerahkan beribu-ribu bodyguard sekalipun, gak akan bisa bikin aku gentar untuk bawa Mami" lanjut Gala. "Baik, silahkan lakukan jika kamu mampu. Kamu tanpa Papi gak akan bisa apa-apa" ujar Langit membuat seringai di wajah Gala semakin melebar. "Okay,,, kita lihat power siapa yang lebih besar. Oh iya jangan lupa satu hal, gak cuman darah Nalendra yang mengalir di tubuh ini, tapi ada darah Yovanka juga. Dan seorang Yovanka, bisa melakukan apa pun demi orang yang mereka sayangi" ujar Gala.

"Mi,,, tunggu Gala ya. Gala akan secepatnya jemput Mami. Mami sama adek bayi baik-baik dulu ya disini" ujar Gala memeluk Wulan. "Gala yakin mau pergi sendiri? Kalo mau, Mami bisa ikut sekarang juga kok" ujar Wulan yang digelengi oleh Gala. "Gala harus siapin semuanya dulu sebelum bawa Mami" ujar Gala. "Gala janji gak akan lama kok" lanjut Gala tersenyum kecil. "Ayo Sky. Sayang,,, kamu ikut aku ya" ujar Gala yang diangguki oleh Skylar dan Luna. "Kita pake taksi aja" ujar Gala saat mereka sudah di depan pintu utama. "Kenapa gak pake mobil lo aja?" tanya Skylar. "Papi pasti udah pasang GPS di mobil itu, kalo gak,,, dia gak akan mungkin segampang itu ngelepasin gua" ujar Gala. "Yaudah,,, biar aku pesan taksinya ya. Kamu duduk dulu gih" ujar Luna segera memesan taksi.

Sementara itu di kamar Gala... "Puas kamu?" tanya Wulan menatap Langit tajam. "Kamu kan yang gak mau dengerin penjelasan aku dulu" ujar Langit. "Penjelasan apa lagi ha? Kamu biayain mereka, aku masih bisa tolerir itu" ujar Wulan menatapnya tajam. "Tapi tadi? What the fuck! Kamu sampe bela-belain nemenin anak itu di rumah sakit, sedangkan anak kamu sendiri juga lagi dirawat saat itu" lanjut Wulan sinis. "Aku punya alasan sayang" ujar Langit memegang bahu Wulan, namun ditepis. "Jangan pernah sentuh aku lagi Mas. Aku udah gak bisa maafin kamu, kepercayaan aku benar-benar kamu rusak habis-habisan. Aku udah putusin, aku akan pergi sama Gala" ujar Wulan. "Aku gak akan biarin semua itu! Bang Fajar nitipin kamu sama aku" ujar Lanjut.

"KAK GANEN NITIPIN AKU KE KAMU UNTUK KAMU JAGA MAS! BUKAN UNTUK KAMU SAKITIN APALAGI UNTUK KAMU SELINGKUHIN!" teriak Wulan. Gala yang mendengar teriakan Maminya langsung bangkit dan berlari kembali ke kamarnya, mengabaikan kepalanya yang terasa begitu menyakitkan. "Mi? Mami kenapa?" tanya Gala langsung mendekati Maminya yang menangis sembari memegangi perutnya. "Papi apain Mami ha?" bentak Gala. "Papi gak ngapa-ngapain. Mami kamu tadi teriak-teriak, makanya perutnya kram lagi" ujar Langit yang duduk di sebelah Wulan. "Mami ikut Gala aja yuk. Kita pergi sekarang" ujar Gala memapah Wulan untuk bangkit. "Papi gak akan biarin kamu bawa Mami kamu gitu aja ya Gal" ujar Langit dingin.

Gala menyeringai lalu beranjak menuju nakas dan meraih sebuah pisau. "Kamu mau ngapain ha?" tanya Langit panik saat Gala mengarahkan pisau itu ke lehernya. "Gala kamu ngapain Nak?" ujar Wulan turut panik. "Biarin Mami ikut Gala, atau Papi akan kehilangan anak Papi untuk selamanya di depan mata kepala Papi sendiri" ujar Gala. "Kamu ngancem Papi ha?" tanya Langit, namun Gala hanya terkekeh dan menekan pisau itu, hingga membuat sebuah goresan kecil. "Gala cukup" teriak Wulan panik saat goresan itu mulai mengeluarkan darah. "Gala berhenti! Oke, Papi akan izinin kamu bawa Mami kamu" ujar Langit mengalah. "Gua bisa suruh anak buah gua untuk ngikutin mereka" gumam Langit dalam hati.

"Good" ujar Gala meraih tangan Wulan lalu berlalu pergi. "Sayang,,, kita obatin leher kamu dulu yuk" ujar Wulan. "Nanti aja Mi" ujar Gala. "Sky, tolong anterin Luna pulang ya. Biar gua pergi sama Mami aja" ujar Gala. "Tapi Gal... Kami antar aja ya, keadaan lo masih belum stabil gitu soalnya" ujar Skylar. "Gak,,, gua gapapa kok. Please Sky. Tolong anter Luna pulang ya, pastiin dia sampe dengan selamat" ujar Gala. "Mi,,, tunggu di mobil aja ya. Gala mau bicara sama Luna bentar" ujar Gala. Skylar membawa Wulan menuju ke mobil Gala, sedangkan lelaki itu mendekati Luna dan langsung memeluknya. "Maafin aku ya, aku,,, aku belum bisa bahagiain kamu" bisik Gala. "Gala gak boleh ngomong gitu, kehadiran Gala aja udah bikin Luna bahagia kok" ujar Luna.

"Kamu mau nungguin aku kan?" tanya Gala melerai pelukannya. Luna tersenyum dan mengangguk. "Luna pasti nungguin Gala kok" ujar Luna. "Makasih ya sayang. Aku janji,,, aku janji akan balik secepatnya. I love you" ujar Gala. Ia mengecup kening Luna dan memeluk gadis itu untuk beberapa saat. Sebelum akhirnya menyusul sang Mami yang sudah masuk ke mobil. Gala sempat melirik Luna melalui spion mobilnya dan tersenyum kecil. "I love you" ujar Gala tanpa suara. "I love you too" balas Luna tersenyum kecil. Gala pun segera melajukan mobilnya meninggalkan mansion tempat ia tumbuh selama ini. "Gala, kita mau kemana?" tanya Wulan. "Ke tempat yang aman, dan pastinya damai Mi" ujar Gala tersenyum kecil.

Malam harinya...

Langit mengernyit saat melihat banyak panggilan masuk di ponselnya. Begitu pun saat ini, ada panggilan masuk dari Gray. "Hallo, Gray. Ada ap..." "Cek berita sekarang" potong Gray membuat Langit mengernyit namun tetap melaksanakan perkataan temannya itu. Ia beranjak dari duduknya dan meraih remote TV, lalu segera menghidupkan TV di kamarnya tersebut.

Breaking News: Telah terjadi kecelakaan di kawasan Royaley yang melibatkan mobil sport dan sebuah truk. Sebuah truk dan mobil sport Lamborghini Veneno Roadster berwarna hitam dengan plat F 94 LA (anggap aja platnya bebas ya), ditemukan terjun ke jurang di kawasan Royaley. Kecelakaan tersebut terjadi akibat sebuah truk yang mengalami rem blong saat di penurunan dan tak dapat mengendalikan laju kendaraannya. Di saat bersamaan, dari arah berlawanan muncul mobil sport tersebut, sehingga kecelakaan pun tak dapat terelakkan.

Polisi dan tim penyelamat sudah berada di TKP dan langsung menyisir lokasi guna mencari korban. Sampai saat ini korban yang berhasil diidentifikasi adalah sang sopir truk yang ditemukan dalam keadaan tak bernyawa, sedangkan untuk pengemudi dan penumpang mobil sport masih dalam tahap pencarian. Di dalam mobil sport hanya ditemukan kartu identitas dengan nama Wulandari Camelia Yovanka dan Fajarendra Galaxio Nayanka, serta 2 buah ponsel.

Langit terduduk seketika saat melihat berita tersebut, terlebih saat reporter tersebut menyebutkan nama istri dan anaknya. "Gak,,, ini gak mungkin..." ujar Langit menggeleng. "Gray, berita itu gak bener kan?" tanya Langit. Pandangannya buram karena airmata yang menumpuk di pelupuk matanya. "Lo pasti hafal plat mobil anak lo sendiri kan" ujar Gray di seberang sana. "Gak! Itu gak bener! Anak sama istri gua pasti baik-baik aja" ujar Langit memutus panggilan dan langsung berlari keluar, menuju mobilnya. Ia bergegas menuju ke lokasi kecelakaan dengan kecepatan penuh. Sesampainya di sana, lokasi itu tampak masih ramai oleh media dan beberapa polisi.

"Pak... Pak... Pak... Bapak mau ke mana?" ujar seorang polisi yang menahan Langit saat ia hendak mendekati mobil Gala yang sudah dalam posisi terbalik di jurang itu. "Saya mau cek mobil itu, itu gak mungkin mobil anak saya kan" ujar Langit. "Bahaya Pak. Jurangnya curam dan juga licin. Anggota kami bahkan memerlukan beberapa alat untuk bisa turun" ujar polisi itu. "Itu gak mungkin mobil anak saya" ujar Langit lirih. "Kalo bapak mau,,, saya bisa perlihatkan beberapa barang-barang yang kami temukan di dalam mobil sport tersebut" ujar polisi itu membawa Langit menuju posko. "Ini beberapa barang-barang yang kami temukan di dalam mobil tersebut Pak. Bapak bisa cek sendiri, apa ini benar milik anak bapak atau tidak" ujar polisi itu.

Tangis Langit pecah saat matanya menangkap aksesoris gantungan dengan foto keluarga mereka. Tangannya bergetar meraih foto itu. "Gak,,, gak ini gak mungkin. Gala... Gala pasti gapapa kan Nak" ujar Langit menangis terduduk. Polisi itu mengambil sebuah kursi dan membantu Langit untuk duduk di sana. "Pak,,, tolong saya... Tolong cari anak dan istri saya sampai ketemu. Saya akan bayar berapapun yang kalian mau,,, tapi saya mohon,,, tolong temukan anak dan istri saya" ujar Langit. "Kami akan berusaha sebaik mungkin Pak. Kemungkinan pencarian akan dilanjutkan besok, mengingat keadaan jurang yang curam dan licin, akan sangat berbahaya jika dipaksakan untuk tetap mencari saat ini" ujar polisi tersebut.

"Kamu dan Gala pasti baik-baik aja kan sayang. Kalian gak mungkin ninggalin aku kan" gumam Langit dalam hati seraya memeluk foto itu. Tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Rahang Langit mengeras saat melihat nama yang terpampang di layar ponselnya. Ia pun bangkit dan berlalu keluar posko. "Langit, berita itu gak benar kan? Itu bukan Wulan dan Gala kan?" tanya Vanya di seberang sana. "Puas lo?! Puas lo ha?! Puas lo hancurin keluarga gua?!" teriak Langit dengan airmata yang mengalir. "Gua udah kasih semua yang lo mau, tapi kenapa,,, kenapa keluarga gua bayarannya?! Cuman Wulan sama Gala yang gua punya sekarang! Tapi lo renggut semua itu dari gua Vanya!" teriak Langit. "Langit,,, aku,,, aku minta maaf" ujar Vanya.

"Apa maaf lo bisa bikin istri dan anak gua balik lagi? Gak kan? Kalo tau endingnya bakal gini,,, gua gak akan pernah mau terlibat sama kalian! Gara-gara lo,,, gara-gara lo gua kehilangan istri gua, anak gua, dan juga anak kedua gua yang bahkan belum lahir! Semua gara-gara lo dan anak sialan lo itu!" teriak Langit. Ia langsung memutus panggilan dan meluruh ke tanah. "Sayang, maafin aku... Harusnya aku jelasin semuanya ke kamu dari awal. Aku gak selingkuh sayang... Aku gak pernah duain kamu, aku,,, aku gak pernah nodain pernikahan kita" isak Langit. "Sayang ayo pulang,,, Gala,,, pulang Nak. Papi,,, Papi gak pernah ngelakuin itu. Semuanya gak seperti yang kalian bayangin" isak Langit menatap jurang yang tampak gelap itu.

1
Maya Sari
gala slalu bilang maaf n takut kehilangan Luna tp gk peka masih aja pacaran sama Aruna Maruk gala ini ya.
pihak sekolah nya gmna ada tauran di sekolah kok gk panggil polisi sampai ada kasus penusukan bgtu kok anteng aja 🤦
Shadow Girl: pukul aja Gala-nya pukul 😌😌
total 1 replies
Max >w<
Characternya bikin terikat! 😊
paulina
Wajib dibaca!
Mưa buồn
Gila PPnya cakep bangeeet, cepetan thor update lagi please!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!