NovelToon NovelToon
Mempelai Pengganti

Mempelai Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Romansa
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sablah

aku berdiri kaku di atas pelaminan, masih mengenakan jas pengantin yang kini terasa lebih berat dari sebelumnya. tamu-tamu mulai berbisik, musik pernikahan yang semula mengiringi momen bahagia kini terdengar hampa bahkan justru menyakitkan. semua mata tertuju padaku, seolah menegaskan 'pengantin pria yang ditinggalkan di hari paling sakral dalam hidupnya'

'calon istriku,,,,, kabur' batinku seraya menelan kenyataan pahit ini dalam-dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sablah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

proyek cucu

mobil yang dikendarai Rama melaju di jalan desa yang sedikit berkelok. di sampingnya, Alda duduk diam, sesekali melirik ke arah Rama, seakan ingin mengatakan sesuatu, tetapi ragu. setelah beberapa saat, ia akhirnya membuka suara.

"kamu gugup, Ram?" tanyanya pelan.

Rama yang fokus mengemudi menoleh sekilas, lalu tersenyum kecil. "harusnya aku yang menanyakan itu ke kamu, Da"

Alda menghela napas. "aku memang gugup, tapi kamu lebih banyak diam sejak tadi. apa ini tentang kakek?"

Rama tertawa kecil, tapi tidak membantah. "jujur saja, mungkin sedikit. aku tahu beliau tidak suka padaku sejak awal."

Alda kembali menatap Rama, kali ini dengan senyuman yang menghangatkan. "tidak apa-apa. aku di sini, kita hadapi bersama."

Rama tersenyum tipis, meski hatinya masih diliputi kecemasan.

beberapa menit kemudian, mereka akhirnya tiba di halaman rumah keluarga Alda. di teras, Ayah dan Ibu Alda tampak sedang duduk bersama beberapa kerabat yang tengah mengobrol santai. namun, begitu mendengar suara mobil, mereka langsung mengalihkan pandangan.

Rama menghentikan mobil dan segera turun, diikuti oleh Alda.

"akhirnya datang juga," ujar sang Ibu dengan senyum hangat, langsung menghampiri dan merangkul putrinya.

Alda membalas pelukan itu erat. "maaf baru sempat ke sini, Bu."

Ayah alda hanya mengangguk kecil ke arah Rama, "kamu baik-baik saja, nak?"

rama tersenyum sopan. "alhamdulillah, Yah. kami baik-baik saja."

namun, sebelum percakapan berlanjut, terdengar suara langkah pelan dari dalam rumah.

seorang pria tua dengan rambut memutih dan tatapan tajam keluar dari pintu. kakek Alda.

ia tidak langsung bicara. pandangannya menyapu ke arah Alda, lalu beralih ke Rama. wajahnya tetap datar, nyaris tanpa ekspresi, namun sorot matanya menunjukkan ketidaksenangan yang tak ia sembunyikan.

"jadi kau masih berani datang ke sini," suaranya berat, penuh penekanan.

Rama menatapnya dengan hormat. "saya datang untuk bersilaturahmi, kek. saya juga ingin meminta restu kakek sebagai keluarga Alda."

kakek alda mendengus. "restu? kau pikir restu bisa diminta setelah kau nekat menikahi cucuku tanpa mengindahkan perkataan orang tua?"

Alda menelan ludah. "kakek..." seketika langsung maju, berdiri di samping Rama. "jangan seperti itu. kami sudah menikah, dan Rama sudah berusaha menjadi suami yang baik."

"tidak ada lelaki baik yang merebut cucuku tanpa restu keluarga," balas sang kakek, matanya masih menatap tajam ke arah Rama.

Rama tetap tenang. "saya tidak berniat merebut Alda, kek. saya sudah memilihnya menjadi istri saya, dan saya ingin menjaganya. saya tahu saya bukan menantu pilihan kakek, tapi saya akan berusaha membuktikan bahwa saya layak."

kakek Alda menyipitkan mata. "buktikan? kau pikir itu semudah bicara?"

Alda meremas jemarinya sendiri, merasa sesak mendengar ucapan itu. "Alda tidak meminta kakek menerima Rama sekarang juga," Alda kembali bersuara. "Alda hanya ingin kakek melihat sendiri bahwa Rama tidak seperti yang kakek pikirkan."

suasana terasa tegang, sampai akhirnya ayah alda angkat bicara.

"kek, ini bukan waktunya untuk perdebatan. Rama dan Alda sudah sah menjadi suami istri. setidaknya beri mereka kesempatan."

kakek Alda diam sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. "hm,. lakukan sesukamu. tapi aku tidak akan mengubah pendapatku begitu saja."

setelah mengatakan itu, ia berbalik masuk ke dalam rumah.

Alda menghela napas berat. sang Ibu mengusap pundaknya pelan. "jangan dipikirkan, nak. kakekmu memang keras kepala, tapi hatinya tidak sekeras itu."

Alda mengangguk, meskipun rasa sesak masih menyelimuti dadanya.

Rama menatap Alda, mencoba memberikan senyum menenangkan. "tidak apa-apa, Da. aku tidak akan menyerah mengambil restu kakek mu."

Alda mengangguk pelan, berusaha menguatkan diri. "terima kasih, Ram."

Ibu Alda tersenyum lembut. "ayo masuk dulu, nak. kalian pasti lelah."

namun, sebelum melangkah, Alda menyadari sesuatu. ia menoleh ke kanan dan kiri, seolah mencari seseorang. dahinya berkerut. "Ibu, di mana nenek?"

Ibu dan Ayahnya saling berpandangan sejenak, ragu untuk menjawab. Rama yang berada di samping Alda juga menangkap ada sesuatu yang tidak beres.

setelah beberapa detik hening, Ayah Alda akhirnya bersuara. "nenekmu sedang sakit. dia ada di kamarnya."

mata Alda membesar. "apa?" tanpa berpikir panjang, ia langsung melangkah cepat menuju dalam rumah, meninggalkan suaminya yang segera menyusul di belakang. Ayah dan Ibunya juga ikut berjalan dengan tatapan khawatir.

begitu sampai di kamar neneknya, Alda mendorong pintu perlahan. pandangannya langsung tertuju pada sosok wanita tua yang tengah duduk di tempat tidur, mengenakan selendang tipis, sementara di sampingnya, kakek dengan sabar menyuapkan bubur kepadanya.

"nenek…" Alda langsung bergegas menghampiri dan memeluk neneknya erat. ada rasa haru sekaligus khawatir di hatinya.

neneknya tersenyum tipis, tangannya mengusap punggung alda dengan lembut. "alda, nak… akhirnya kamu pulang."

mata Alda sedikit memanas. ia jarang sekali melihat neneknya sakit. selama ini, meski sudah tua, fisik neneknya selalu tampak bugar.

"nenek kenapa? sejak kapan sakit?" tanya Alda, suaranya bergetar.

kakek menghela napas pelan sebelum menyuapkan sendok terakhir kepada istrinya. "sejak beberapa minggu lalu. tidak parah, hanya sering lemas dan tidak bersemangat."

Alda menatap neneknya dengan cemas. "kenapa bisa begitu, nek?"

nenek tersenyum samar. "nenek kesepian, nak…"

Alda terdiam.

nenek melanjutkan dengan nada lembut, namun terasa menusuk di hati. "dulu, rumah ini selalu hangat. ada kamu yang selalu menemani nenek di dapur, di teras depan, berjalan sore ke sana kemari, suaramu masih terdengar memenuhi rumah. sekarang… hanya ada nenek dan kakek. Ayah dan Ibumu sibuk bekerja, dan rumah ini jadi terlalu sepi.”

suasana kamar mendadak hening. Alda menunduk, merasa bersalah. sementara Rama yang berdiri di dekat pintu juga ikut terdiam, mencerna kata-kata itu.

Rama akhirnya melangkah maju. "kalau begitu… bagaimana kalau saya dan Alda tinggal di sini, nek? tidak ada salah nya Alda kembali ke rumah ini"

Alda langsung menoleh kaget. "Ram, itu...."

Ibu alda juga langsung menggeleng pelan. "itu tidak mungkin, Rama. sekolah Alda jauh, tempat kerjamu juga. setiap hari bolak-balik dari sini akan sangat melelahkan."

nenek mengangguk paham. "benar, nak. nenek juga tidak ingin membebani kalian. mungkin nenek hanya perlu membiasakan saja"

suasana kembali hening. tidak ada yang bisa menemukan solusi untuk mengatasi kesepian sang nenek.

namun, tiba-tiba kakek yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. suaranya berat dan penuh penekanan. "kalau begitu, buatkan Alda dalam bentuk kecilnya"

"maksud mu apa, Kek?" sang nenek masih terlihat kebingungan

"segera buatkan aku cicit"

Degg!

Alda dan Rama langsung membelalak.

"apa?" suara Alda hampir melengking.

tapi sang kakek justru menatap Rama tajam. "kalau kau benar-benar mencintai cucuku, maka buatkan anak untuknya. nenekmu tidak akan merasa kesepian kalau ada bayi yang bisa dia rawat di rumah ini.”

Alda merona hebat, sementara Rama langsung serba salah.

"Kakek, jangan sembarangan bicara," nenek Alda berusaha mengendalikan situasi. nalurinya jelas lebih peka terhadap perasaan sang cucu.

namun, kakek tetap santai. "kenapa? itu hal yang wajar. merika sudah menikah, tinggal menambah anggota keluarga apa susah nya?"

Rama masih terkejut, tetapi setelah beberapa detik berpikir, ia tiba-tiba menghela napas dan berkata dengan suara mantap, "secepatnya Rama akan turuti, kek. memang sepatutnya kami segera memikirkan perihal anak."

Alda langsung menoleh cepat ke arah suaminya, wajahnya semakin panas. "Ram!"

nenek tertawa kecil melihat reaksi mereka, sementara kakek hanya mengangguk puas. "bagus. itu baru laki-laki."

sementara itu, Alda hanya bisa memalingkan wajahnya, tidak percaya dengan arah pembicaraan ini.

nenek menatap Rama dengan mata berbinar, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "benarkah, Rama? kamu serius ingin memberikan seorang cicit untuk nenek?"

wajahnya yang tadi tampak sedikit lelah kini berubah cerah penuh harapan. bahkan, ada senyum lebar yang jarang Alda lihat sebelumnya.

Rama menoleh ke arah nenek dan mengangguk mantap. "iya, nek. saya dan Alda memang harus mulai memikirkan tentang anak. Rama akan berusaha sebaik mungkin agar nenek bisa segera menggendong cicit."

Alda membelalak, masih tidak percaya bagaimana Rama bisa setenang itu menanggapi permintaan absurd kakeknya. wajahnya langsung memerah hebat. "Ram, kamu tidak harus menjawabnya dengan begitu serius…" bisiknya, mencubit lengan Rama pelan.

namun, nenek justru tertawa bahagia, "akhirnya ada yang mengerti maksudku," gumamnya dengan nada penuh kemenangan.

nenek menggenggam tangan Alda dengan erat, wajahnya penuh haru. "nak, kalau itu benar terjadi, nenek akan sangat senang. rumah ini tidak akan sepi lagi. akan ada bayi kecil yang bisa nenek rawat dan temani."

mendengar itu, Alda tidak tahu harus merasa bagaimana. ia tentu menyayangi neneknya dan ingin membahagiakannya, tetapi permintaan ini terlalu tiba-tiba. ia menatap Rama dengan pandangan penuh arti, berharap Rama akan menarik ucapannya. namun, Rama malah menatapnya balik dengan tatapan penuh keyakinan.

"tidak apa-apa, Da" ujar Rama lembut, tangannya menggenggam jemari Alda secara spontan. "aku sudah memikirkan ini dengan matang. kita memang harus mulai merencanakan masa depan kita."

Alda menelan ludah. wajahnya masih memanas, tetapi melihat ekspresi bahagia neneknya, ia hanya bisa menghela napas panjang.

"baiklah, nek," katanya akhirnya. "tapi jangan terlalu berharap dalam waktu dekat. semua ada prosesnya."

nenek tersenyum penuh kasih. "tentu, nak. yang penting kalian sudah punya niat."

kakek mendengus. "jangan hanya niat. wujudkan."

Rama akhirnya tertawa kecil, sementara Alda hanya bisa menyembunyikan wajahnya dengan hanya menunduk saja, ia merasa wajahnya masih panas setelah percakapan barusan. ia butuh waktu untuk berbicara dengan Rama secara pribadi.

"kakek, nenek, Ayah, Ibu, Alda mau ke kamar dulu. Alda ingin istirahat sebentar" katanya, berusaha terdengar santai.

Rama meliriknya sekilas, menyadari ada sesuatu di balik permintaan Alda. namun, sebelum ada yang bereaksi, nenek tiba-tiba bertanya dengan polosnya.

"oh? kalian mau buat bakal cicit ku sekarang juga?"

hening.

seisi kamar mendadak sunyi selama beberapa detik sebelum Ayah dan Ibu Alda langsung menahan tawa mereka, sementara kakek hanya melirik tajam dengan ekspresi datarnya seperti biasa.

wajah Alda dan Rama langsung memerah seketika.

"nek!!" Alda hampir memekik, buru-buru melambaikan tangan di depan wajahnya. "bukan! bukan begitu maksudnya! aku benar-benar cuma mau istirahat!"

Rama, yang awalnya masih bisa bertahan dengan wajah tenang, akhirnya juga ikut salah tingkah. "iya, nek, kami… uh… tidak secepat itu," katanya, menggaruk tengkuknya canggung.

Ibu alda menutup mulutnya, berusaha keras menyembunyikan tawa, sementara Ayah alda hanya menggeleng pelan, ikut menahan senyum.

"apa?" nenek malah terlihat bingung. "kalian kan sudah suami istri, wajar kalau....."

"nenek!!" Alda semakin panik, menarik tangan rama dengan cepat. "kami ke kamar dulu! istirahat! dan ini benar akan istirahat!!"

dengan langkah cepat, ia menyeret Rama keluar dari kamar sebelum ada pertanyaan lain yang lebih memalukan.

begitu Alda berhasil membawa Rama berpindah ke sisi kamar pribadinya, setelah pintu tertutup, Alda langsung memijat pelipisnya, sementara Rama hanya bisa tersenyum kecil. "itu tadi… sangat mengejutkan."

Alda menatapnya tajam. "jangan tertawa, Ram! ini serius,. aku mau bicara soal ucapan mu tadi!"

Rama akhirnya menghela napas dan mengangguk, kembali ke topik utama. "baiklah, aku akan mendengarkan"

Alda menarik napas dalam, bersiap untuk percakapan serius mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!