Menikah adalah hal sakral yang tidak boleh di permainkan. Namun, pernikahan Elena terjadi karena semata-mata ingin menyelamatkan nyawa papanya yang sedang terancam. Dan tanpa diketahui, ternyata dirinya menjadi istri kedua dan bukanlah istri satu-satunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anasta_syia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"Kau akan kemana?" Jasmine menghadang langkah Rafael yang akan pergi keluar rumah. Langit sudah gelap dan waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. "Aku akan pulang" ucap Rafael membuat Jasmine mencebik kesal.
"Pulang? Ini juga rumahmu bukan? Aku juga istrimu bukan?" protes Jasmine.
"Aku tau tapi Elena... "
"Biarkan dia disana. Bukankah disana ada papa mama kamu? Sedangkan aku disini hanya sendiri Rafael. Aku mau kamu tetap disini bersamaku dan bayi kita" pinta Jasmine.
"Dan kenapa kau mulai peduli pada Elena? Kamu mencintainya?" tanya Jasmine penuh selidik.
"Bagaimana mungkin aku mencintai wanita itu? Aku baru bertemu dengannya kemarin tidak mungkin aku sudah mencintainya" ucap Rafael menolak keras pernyataan Jasmine.
"Tapi kau lebih peduli dengan Elena dibandingkan aku. Aku istri pertamamu dan sedang mengandung sedangkan Elena? Dia baru kemarin menjadi istri kamu. Disana dia mendapatkan perhatian dari papa dan mama kamu sedangkan aku disini? Berjuang sendiri bahkan pernikahan kita tidak direstui. Aku disembunyikan seolah aku gak ada di kehidupan kamu. Semua orang hanya tau Elena yang menjadi istri kamu dan bukan aku" teriak Jasmine. Ia meluapkan apa yang ia rasakan selama ini di hadapan Rafael.
"Tenanglah. Baiklah aku akan tidur disini malam ini" ucap Rafael menuruti permintaan Jasmine. Ia membawa wanita itu masuk ke dalam kamar dan beristirahat.
Sebuah panggilan masuk ke ponsel Rafael ketika pria itu memasangkan selimut di tubuh Jasmine. Wanita itu memasang tatapan penuh tanya dan selidik saat mendengar dering ponsel Rafael.
"Siapa?"
"Entah nomornya belum aku simpan" ucap Rafael. Pria itu melangkah ke arah balkon dan menjawab panggilan tersebut. "Elena?" Jasmine seketika bangkit saat nama itu disebut dari bibir Rafael. Hatinya penuh kecemasan takut jika wanita itu akan meminta Rafael pulang dan memaksanya. Ia takut jika Rafael akan meninggalkannya sendiri di rumah sebesar itu.
"Ada apa?" tanya Rafael
"Mm aku tau kamu akan menginap di rumah Jasmine malam ini. Aku sudah mengizinkannya pada mama dan papa" ucap Elena
"Apa? Lalu mereka mengatakan apa?" tanya Rafael.
"Awalnya mereka menolak tapi setelah itu mereka memberi izin untuk kamu menginap di rumah Jasmine"
"Kau yang membujuk mereka?" tebak Rafael
"Tidak juga. Aku hanya mengatakan fakta yang ada jika kamu adalah suami Jasmine dan bagaimanapun Jasmine juga memiliki hak yang sama denganku" ucap Elena
"Syukurlah.Terima kasih" ucap Rafael dan tanpa sadar ia menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.
"Tapi kembalilah besok pagi dan sarapan bersama di mansion. Jika tidak, mama dan papa mungkin akan marah besar" ucap Elena
"Aku mengerti. Aku akan kembali besok pagi sebelum jam makan" ucap Rafael.
Jasmine merampas ponsel Rafael tiba-tiba membuat pria itu terkejut. "Hentikan omong kosongmu. Rafael akan tidur di rumahku malam ini. Tidurlah disana dengan tenang dan jangan ganggu kami" teriak Jasmine sebelum menutup sambungan telepon.
"Ada apa? Kenapa kamu marah-marah?" tanya Rafael dan mengambil kembali ponselnya.
"Aku tidak tau tapi akhir-akhir ini aku tidak bisa mengontrol emosi ku terlebih lagi setelah kamu menikah dengan Elena itu membuat aku menjadi lebih tertekan" ucap Jasmine.
"Minumlah dulu" Rafael meraih gelas yang berisi air mineral dan memberikannya pada Jasmine. "Ini akan membuatmu lebih tenang" ucap Rafael lembut.
"Ayo tidur" ajak Jasmine dan menutup pintu balkon. Ia menggandeng Rafael dan membawanya ke ranjang. Ia akan memastikan Rafael tidak akan kemana-mana malam ini.
"Ada apa dengan Jasmine? Kenapa dia begitu emosional?" gumam Elena sembari meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia masuk ke dalam selimut dan mematikan lampu kamar. Lebih baik ia masuk ke dalam alam mimpinya daripada memikirkan istri pertama suaminya itu. Ia lelah dengan hari ini yang begitu menguras tenaganya cukup banyak.