NovelToon NovelToon
Ijinkan Aku Menjauh Sersan!

Ijinkan Aku Menjauh Sersan!

Status: tamat
Genre:Tamat / Kehidupan Tentara
Popularitas:312.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: Hasna_Ramarta

Pernikahannya dengan Serka Dilmar Prasetya baru saja seminggu yang lalu digelar. Namun, sikap suaminya justru terasa dingin.

Vanya menduga, semua hanya karena Satgas. Kali ini suaminya harus menjalankan Satgas ke wilayah perbatasan Papua dan Timor Leste, setelah beberapa bulan yang lalu ia baru saja kembali dari Kongo.

"Van, apakah kamu tidak tahu kalau suami kamu rela menerima Satgas kembali hanya demi seorang mantan kekasih?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Pertemuan Vanya dan Sidik

     Keringat dingin mengucur di sekujur tubuh Vanya, setelah Dilmar menyiksanya. Dilmar malam ini melampiaskan hasratnya yang sudah tertunda sejak lama kepada Vanya. Entah dirasuki apa, Dilmar melakukannya sedikit kasar. Tapi Vanya tidak sadar kalau semua itu Dilmar lakukan karena dirasuki marah akibat pesan dari Vela.

     Namun, Dilmar cukup puas. Dia bisa memetik madu untuk pertama kalinya dari dalam diri Vanya. Dia bahagia. Kemarahannya tadi terbayar dengan sebuah kenikmatan yang tidak terhingga yang diberikan Vanya.

     Vanya bangkit, sesekali wajahnya meringis menahan rasa sakit sisa pertempuran tadi. Jujur saja pengalaman pertama baginya ini, tidak merasakan sebuah rasa yang katanya bisa melayang-layang di udara. Vanya justru kesakitan, malah Vanya sampai menangis.

     Vanya bangkit dari ranjang, sejenak dia melihat ke arah Dilmar yang sudah terbaring dengan tubuh terbalut selimut.

     "Shhhhhh, akhhh," ringisnya berusaha bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Vanya hanya ingin segera membersihkan diri saat itu juga, karena tubuhnya begitu lengket.

     Vanya kini sudah keluar dari kamar mandi dan berpiyama. Saat tubuhnya akan terbaring, ia urungkan karena di atas sprei bekas pergulatan dirinya dan Dilmar tadi, pada bercak darah.

     "Darah," desisnya sembari menutup mulut. Vanya ingat saat benda tumpul milik Dilmar memasukinya dan mulai dimainkan, rasa sakit yang luar biasa itu mulai terasa. Lalu setelah Dilmar menghantamnya tanpa ampun, Vanya merasakan ada sesuatu yang keluar dari inti tubuhnya, sepertinya memang bercak darah itu dihasilkan dari percintaannya tadi.

     "Baringlah, apakah kamu tidak ngantuk?" tegur Dilmar mengejutkan Vanya yang masih tersentak karena darah.

     "Iya, tapi." Vanya terlihat bingung.

     "Kenapa sih, ada apa?" Dilmar bangkit lalu menatap ke arah yang ditatap Vanya. Senyum Dilmar mengembang saat tatapannya mengarah pada bercak darah di atas sprei.

     "Mau diganti sepreinya?" tanya Dilmar seraya bangkit dari ranjang. Memakai kolor sejenak, lalu menuju lemari dan meraih seprei untuk mengganti seprei yang bekas percintaannya tadi.

     "Artinya kamu masih menjaga dengan baik kehormatanmu sampai abang yang pertama kali memetiknya," oceh Dilmar seraya mengangkat seprei yang melekat di atas ranjang, lalu dibuntel-buntel dan ditaruh di lantai.

     Vanya ikut memasang seprei baru yang diganti Dilmar, sebelum ia ikut terbaring.

     Dengan cepat Dilmar menangkap pinggang Vanya lalu memeluknya. "Sakit, ya?" bisik Dilmar didekat telinga Vanya. Vanya tidak menjawab. "Bagaimana kalau satu ronde lagi?" bisik Dilmar lagi dengan pelukan yang semakin erat.

     Vanya meringis sebelum mengatakan tidak. Rasa yang tadi saja masih terbayang sakitnya, apalagi kalau langsung dimainkan kembali, pasti sakitnya semakin bertambah.

     "Tidak untuk malam ini, Vanya takut," tolaknya.

     "Baiklah. Kalau begitu sebaiknya kita tidur. Abang sudah ngantuk," ujarnya sembari menyembunyikan kepalanya di leher Vanya. Deru nafas keduanya saling bersahutan dan teratur menandakan bahwa mereka kini sudah tertidur.

     Beberapa hari kemudian. Ada pesan masuk lagi ke WA Vanya. Dilmar langsung bisa membacanya karena kini ia sudah berhasil menyadap Hp Vanya.

     Nomer baru dan pesannya sudah bisa Dilmar tebak dari siapa. "Sidik Zamzami. Dia lagi? Tidak ada kapoknya bocah ingusan itu. Perlukah aku kasih pelajaran?"

     Otak Dilmar berpikir keras mencari cara supaya dirinya bisa bertemu dengan lelaki yang bernama Sidik itu. Dilmar menemukan ide, lalu dengan cekatan ia mengirimkan sebuah chat balasan untuk Sidik dari nomer SIM 2 miliknya yang jarang dipakai.

     "Ini nomer baru aku, A," pancingnya sembari menunggu balasan dari Sidik.

     "Ini benar kamu, Yang?" tanya Sidik membuat Dilmar pengen muntah.

     "Iya, A, betul. Ini nomer baru Vanya," akunya menahan amarah.

     "Aku ingin bertemu, Yang, apakah boleh? Aku hanya ingin meyakinkan kalau kamu benar-benar sudah menikah seperti apa yang dikatakan keluargamu seminggu yang lalu."

     "Yang, yang, peyang. Sialan anak ingusan ini. Nyari perkara," cibirnya kesal.

     "Boleh, di mana A?" balas Dilmar lagi seraya menggigit bibir bawahnya.

    "Kafe Daun. Tapi sendiri, ya," balasnya memberi syarat.

     "Sialan si ingusan ini, pakai bilang sendiri segala. Padahal dia sudah dikasih tahu, kalau Vanya sudah menikah. Benar-benar nekad," umpat Dilmar lagi.

    "Ok. Kira-kira jam berapa?" Dilmar membalas lagi.

     "Jam dua siang. Aku tunggu, ya, Yang," balasnya masih belum berhenti memanggil yang.

     "Ok." Dilmar membalas untuk yang terakhir.

     Untuk melancarkan aksinya, Dilmar segera bergegas dari ruangannya. Sebentar lagi apel siang, setelahnya ia akan menuju toko untuk menjemput Vanya lalu menemui Sidik di Kafe Daun.

     Apel siang telah berlalu, Dilmar segera menuju mobilnya. Di parkiran ia bertemu Roby dan Dilan yang menyapanya.

     "Wah, sepertinya pot kita yang satu ini sedang terburu-buru," goda Roby diangguki Dilan.

     "Aku tidak ada waktu ngobrol sama kalian, pot. Aku ada hal penting yang harus segera aku selesaikan hari ini," ujar Dilmar seraya memasuki mobilnya dan meninggalkan parkiran.

     Roby dan Dilan menatap kepergian mobil Dilmar dengan heran, tidak biasanya Dilmar tergesa seperti barusan.

     Dilmar melajukan mobilnya menuju toko sang mama. Tiba di toko, Dilmar langsung mencari Vanya dan segera mengajaknya pulang. Untungnya di toko, tidak ada sang mama. Kalau ada, pasti mamanya akan banyak bertanya.

     "Abang, sebentar. Vanya selesaikan ini dulu," tahan Vanya. Dengan terpaksa Dilmar menunggu Vanya sampai pekerjaannya selesai.

     "Ayo, masuklah. Aku akan ajak kamu ke suatu tempat sebagai kejutan," ujar Dilmar seraya menarik lengan Vanya dan mendorongnya masuk ke dalam mobil. Vanya sedikit heran, kenapa suaminya itu seperti sedang tergesa-gesa.

     Mobil Dilmar segera melaju meninggalkan toko kosmetik sang mama. "Abang, kita mau ke mana?" tanya Vanya masih heran.

     "Nanti kamu akan tahu," jawabnya mengundang teka-teki.

     Mobil Dilmar melaju menuju Kafe Daun yang dijanjikan Sidik tadi. Dan sepuluh menit kemudian, mobil Dilmar tiba di depan Kafe Daun.

     Dilmar dan Vanya turun dari mobil, kakinya mulai melangkah menuju ke dalam kafe. Dilmar memutar pandangannya ke seluruh ruangan. Ada sebuah meja yang hanya diduduki seorang pria berbaju kemeja polos berwarna navy.

     "Itu dia rupanya," batinnya seraya berjalan membawa Vanya menuju meja yang sudah ditempati Sidik.

     Beberapa meter lagi tiba, mendadak Vanya menahan langkahnya.

     "Kita duduk di meja kosong sebelah sana saja, Bang."

     "Sebentar, abang mau menemui seseorang dulu di meja ujung itu," tukasnya seraya berjalan mendekati meja yang diduduki Sidik.

     Tiba di meja yang sudah diduduki Sidik yang membelakangi arah kedatangan Dilmar dan Vanya, sehingga Vanya tidak bisa mengenali Sidik. Dilmar mulai berjalan pelan sampai dia dan Vanya sudah berada tepat di belakang Sidik.

     "Maaf, apakah Anda yang bernama Sidk Zamzami?" sapa Dilmar kepada lelaki yang tengah duduk seorang diri di meja itu.

     Sontak Vanya terkejut saat sebuah nama yang memang harus dia hindari, tiba-tiba disebutkan Dilmar. Perlahan Sidik menoleh ke arah Dilmar.

     "Hahhhhh." Tarikan nafas panjang dan tatap mata terkejut tiba-tiba diperlihatkan Vanya. Dilmar dengan leluasa melihat reaksi berbeda dari keduanya. Sidik terkejut, kemudian ia merekahkan senyum saat dia melihat ke arah Vanya.

     Apa yang akan terjadi selanjutnya? Nantikan terus episodenya. Jangan lupa dukungannya ya. Author sedang sedikit oleng nih dengan kelanjutannya.

1
Ayla Anindiyafarisa
aku udah selesai bacanya y thor
Nasir: Alhamdulillah. Terimakasih byk. Lanjut ke karya lain ya bila berkenan.
total 1 replies
Ayla Anindiyafarisa
mantan pacarku tu bang sidik😅😅
Ayla Anindiyafarisa
kalau g sadar juga kasi sianida aja van🤭
Nasir: Waduhhh
total 1 replies
Ayla Anindiyafarisa
bagus kena bogem dari bapaknya biar kapok si dilmar
Ayla Anindiyafarisa
aku mampir thor
Nasir: Makasih byk Kak. Semoga betah n suka.
total 1 replies
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
idih amit amit sebel sama si dilmar😤
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
Luar biasa
Nasir: Terimakasih byk...🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Rosmina Sumang
Kecewa
Rosmina Sumang
Buruk
Dewi Oktavia
sabar,belum di kasih rezeki jika dikasih anak
Dewi Oktavia
wkwkwk,darah muda selalu bergoyang ingat yang halal y bukan haram👍
Nasir: Hehhee.... apanya yg bergoyang nih?
total 1 replies
Dewi Oktavia
nah Lo,,,,suami jarang pulang bisa habis badan istri jika suami suka pulang selalu di goyang bisa lemas😂🤣
retiijmg retiijmg
Luar biasa
Nasir: Makasih Kak...
total 1 replies
Dewi Oktavia
jodoh, rezeki, maut tentukan tuhan,secinta apapun jika tidak akan bersama sangat sulit tapi jika kita berjodoh alangkah senangnya rumah tangga.
Dewi Oktavia
itu lah laki jika jalan sama istri y,tak mau ribut dan berakhir tak dapat jatah di malam hari🤣
Dewi Oktavia
wkwkwkwkw,laki tak bisa tahan jika na minta harus dapat jika di tolak pasti marah🤣😂
Nasir: Betul betul. betul... 😄😄😄
total 1 replies
Dewi Oktavia
menegangkan
Dewi Oktavia
cemburu
Dewi Oktavia
susah juga y suami yang salah tetap juga istri yang salah
Nasir: Iya betul Kak...
total 1 replies
Dewi Oktavia
aneh tapi nyata
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!