NovelToon NovelToon
Love Stalker Syndrome

Love Stalker Syndrome

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romantis / CEO / One Night Stand / Bad Boy / Office Romance
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tyarss_

Milan selalu punya ide gila untuk selalu menggagalkan pernikahan Arutala. semua itu karena obsesinya terhadap Arutala. bahkan Milan selalu menguntit Arutala. Milan bahkan rela bekerja sebagai personal asisten Arutala demi bisa mengawasi pria itu. Arutala tidak terlalu memperdulikan penguntitnya, sampai video panasnya dengan asisten pribadinya tersebar di pernikahannya, dan membuat pernikahannya batal, Arutala jadi penasaran dengan penguntitnya itu, ia jadi ingin lebih bermain-main dengannya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tyarss_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

H-2

Menjelang hari pernikahan, Milan dan Tjoanda benar-benar di buat sibuk. Mulai dari mengcancel rapat-rapat Arutala serta menghubungi para kolega pria itu. Mengabarkan tentang pernikahannya. Begitu jam istirahat tiba, Tjoanda menghela napas panjang. Lega akhirnya ia bisa mengistirahatkan badannya.

"Haahh.. akhirnya bisa santai. Ternyata pernikahan Pak Aru berdampak juga sama kerjaan kita." Keluhnya.

Milan menyandarkan kepalanya pada meja, menjadikan lengannya sebagai tumpuan. Hatinya terasa resah. Sedaritadi, ada yang membuatnya tidak nyaman. Meski Milan sangat tau apa penyebabnya, tapi Milan enggan untuk terus merasakannya.

Melihat Milan yang terus melamun, Tjoanda mengibaskan tangannya di depan wajah Milan.

"Hello Milan? You're here?"

Barulah Milan tersadar dan menanggapi Tjoanda.

"Kamu bilang apa barusan? Sepertinya aku terlalu lelah."

"Kau mau izin pulang saja? Sepertinya kondisimu masih belum cukup baik." Ujar Tjoanda memberi saran. Lantaran melihat Milan yang begitu murung hari ini.

"Ah tidak aku baik-baik saja. Sepertinya aku butuh secangkir kopi untuk menyegarkan mataku. Kau mau?"

Tjoanda menggeleng. "Tidak. Aku mau memaksimalkan jam istirahatku untuk tidur. Jika kau merasa kondisimu tidak baik-baik saja, jangan sungkan untuk bilang padaku Milan." Setelah mengatakan itu, Tjoanda lalu melipat kedua tangannya di atas, menjadikannya tumpuan untuk menidurkan kepalanya.

Barulah Milan berjalan menuju pantry kantor. Beberapa orang yang dia lalui terlihat begitu sibuk. Hanya beberapa orang saja yang mengobrol santai menikmati jam istirahat. Pernikahan Arutala dan Davina cukup menghebohkan. Bahkan banyak dari karyawan Arutala sendiri menggosipkan atasan mereka itu.

Begitu sampai di pantry kantor, Milan langsung menyeduh coffe menggunakan mesin coffe. Sembari menunggu mugnya terisi, Milan bersandar pada meja dengan kepala menunduk.

"Rupaya kau berada di sini."

Milan memebelalakan mata saat melihat Arutala mendekat ke arahnya. Sejak kapan pria itu berdiri di sini?

"Aku harap aku berada dalam lamunan itu Milan." Arutala mengambil mug milik Milan yang sudah terisi. Meminumnya tanpa permisi. Matanya terus melihat ke arah Milan. Membuat yang di tatap jadi salah tingkah.

Setelah meminum seteguk, Arutala menyodorkan minumannya pada Milan. "Ini, milikmu."

Milan menghela napas sebelum mengambil minumannya. Melihat isi mugnya yang tinggal setengah, Milan lalu meminum tepat di tempat Arutala minum tadi. Membuat Milan bisa merasakan hangat bekas bibir Arutala di mugnya.

"Kau tidak berniat merubah pikiranmu Milan? Sayang sekali. Padahal aku akan langsung membatalkan pernikahan ku jika kau memintanya."

Milan melotot pada Arutala. Bisa-bisanya pria itu berucap dengan santai di kantor.

"Hah, kau suka sekali bercanda rupanya. Menikahlah jika memang kau ingin menikah dengannya." Balasnya.

"Yaa.. mau bagaimana lagi. Padahal aku berharap kau mengandung anakku setelah malam panas kita."

Dengan cepat Milan membekap mulut Arutala. Membuat tubuhnya menempel dengan pria itu tanpa di sengaja. Saking paniknya jika seseorang mungkin saja mendengar omongan Arutala barusan. Menatap nyalang sang atasan.

"Akan ku pastikan itu tidak akan terjadi." Katanya. Melepaskan bekapan di mulut Arutala. Kemudian mundur beberapa langkah untuk membuat jarak di antara mereka.

"Sangat disayangkan. Karena pasti akan sangat menarik jika kau mengandung anakku. Dan kemudian datang di depan altar sambil menangis meminta pertanggung jawaban."

Wajah Milan memerah menahan desakan dalam dirinya untuk tidak memukul wajah Arutala. Namun, dengan cepat Milan mengatur ekspresi wajahnya untuk terlihat tenang dan tidak terusik.

"Teruslah berkhayal seperti itu tuan. Karena jika itu terjadi, aku tidak akan memangis. Melainkan membuat rencana yang lebih kejam untuk membalasmu." Puas membalas ucapan Arutala. Sampai membuat lawan bicaranya terdiam, Milan berjalan meninggalkan tempatnya.

Arutala berbalik melihat punggung Milan yang semakin menjauh dari pandangannya. Memunculkan senyum mengerikan di wajahnya. Tentu saja Arutala akan menantikan itu.

...*\~*...

"Permisi. Apa aku bisa menemui manager cafe?" Lyra bertanya pada salah satu pegawai.

Saat ini Lyra sedang dalam misi. Ia tengah mengunjungi cafe yang dekat dengan kecelakaan yang dialami oleh Milan.

"Bisa. Sebentar akan saya panggilkan." Ujar karyawan itu. Kemudian pergi untuk memanggilkan sang manager.

Lyra duduk dengan santai sambil melihat keluar. Menerka-nerka jarak. Seberapa banyak kemungkinan cctv depan cafe dapat menangkap kejadian itu. Tak butuh waktu lama, seorang wanita dengan tampilan formil menghampirinya.

"Selamat siang. Saya manager café di sini. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.

Lyra berdiri. "Selamat siang. Apa boleh saya melihat cctv depan café ini?"

"Jika boleh tau untuk apa? Karena kami tidak membiarkan cctv kami di akses oleh sembarang orang. Kecuali dengan pihak tertentu yang memang membantu dalam sebuah penyelidikan dengan lembaga terntentu."

"Ini menyangkut kecelakan yang terjadi beberapa hari yang lalu. Dan saya membutuhkan rekaman yang jelas terkait kecelakaan itu."

Wanita di hadapan Lyra saat ini terlihat sedang berpikir.

"Saya akan membayar lebih." Lanjut Lyra.

"Baiklah. Mari ikut ke ruangan saya."

Di belakang, Lyra menarik sudut bibirnya. Suap ternyata masih menjadi solusi paling ampuh untuk mengatasi hal seperti ini. Prinsip lo punya uang lo punya kuasa ternyata masih benar adanya.

Setelah berhasil mendapatkan Salinan cctv pada saat kejadian, Lyra memberikan sebuah amplop yang cukup tebal.

"Apa kecelakaan yang terjadi beberapa hari yang lalu sangatlah penting? Karena anda orang kedua yang meminta hal seperti ini."

Lyra menyipitkan matanya. "Siapa orang pertama? Dia perempuan atau laki-laki? Apa dia salah satu anggota kepolisian? Apa dia juga meminta Salinan?"

"Laki-laki. Sepertinya, dia bukan anggota kepolisian. Jika anda mau, saya bisa memberikan sedikit informasi mengenai kecelakaan itu. Karena kebetulan saya ada di lokasi."

"Apa kau bisa di percaya?" mengingat wanita itu mau menerima suap darinya, bisa saja wanita itu sudah menjalin kerja sama untuk memberikan informasi palsu kepadanya.

"Tentu saja."

Lyra mengangguk dua kali sambil menyecap bibir bawahnya. "Baiklah. Katakan apa yang kau ketahui." Kemudian Lyra duduk di kursi sambil mendengarkan penjelasan.

"Aku sangat suka sekali mengamati sekitar. Dan kecelakan kemarin, aku menemukan beberapa kejanggalan. Pertama, setelah kecelakaan itu terjadi, tidak ada pihak kepolisian yang turun tangan untuk menangani kasus lakalantas itu. Hanya ada beberapa orang berjas hitam yang kemudian membereskan kekacauan. Dan lagi, setelah aku melihat cctv di dalam café, aku melihat seorang pengunjung yang setia duduk di tempatmu duduk tadi, selama hampir setengah hari. Begitu kecelakaan itu terjadi, pengunjung itu pergi. Kau mau melihat pengunjung itu?"

"Boleh?"

"Tentu saja." lalu dengan cepat wanita itu kembali berkutat dengan komputernya. Lalu memperlihatkan pada Lyra apa yang di temukannya. "Ini dia. Tampak mecurigakan. Wajahnya tidak terlihat karena rambut panjangnya serta topi yang di kenakannya."

Lyra megamati layar itu. Kemudian memotret pengunjung wanita yang terlihat mencurigakan itu.

"Pastikan kau tidak memberikan informasi ini pada siapapun."

"Aww.. kurasa kau harus membayarku mahal untuk itu,"

Berdecak, Lyra kemudian membuka aplikasi pada mobile banknya. "Ketik nomer rekeningmu." Menyerahkan ponselnya pada sang manager.

Setelah mengetikkan nomer rekeninggnya, Lyra kemudian mentrasnfer sejumlah uang. "Silahkan cek saldo milikmu. Jika sampai kau melanggar ucapanmu ini, aku bisa berbuat buruk padamu. Ingat itu."

"Baiklah. Jika perlu aku akan menghapus rekaman itu."

"Bagus." Setelahnya, Lyra keluar dari café. Sambil matanya melihat sekeliling.

Lyra berjalan senormal mungkin meski pikirannya penuh dengan tanda tanya. Pantas saja, Lyra tidak menemukan kasus kecelakaan Milan di media. Rupanya memang ada hal tidak beres dalam kecelakaan Milan.

Jika benar ada seseorang yang mengincar nyawa Milan, maka Lyra harus dengan cepat menemukan orang itu.

1
Resti Yuliani
kereen ceritanya
sagitarius: Terimakasih
total 1 replies
Irma Wati Jelita
kpn up kk
sagitarius: nanti malam sekitar jam 11an kemungkinan bakalan up
total 1 replies
Hayya
cerita nya menarik dan bagus
sagitarius: terimakasih😚
total 1 replies
Irma Wati Jelita
kk episode pelit ☺️3 gtu. dong kk
sagitarius: mau gitu, tp nunggu dapet libur kerja dulu yaa😊
total 1 replies
Irma Wati Jelita
kpn up lg kk
sagitarius: besok akan di up yaa
total 1 replies
Risa Koizumi
TERBAIK! Itu aja yang bisa aku bilang, bagus banget storynya! 🙌
sagitarius: Makasih banyakk🫶🏻🫶🏻
total 1 replies
Alphonse Elric
Mantap betul!
Sun Seto
Terselip kebijaksanaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!