Gagal menikah dengan calon tunangannya tidak membuatnya putus asa dan tetap kuat menghadapi kenyataan.
Kegagalan pertunangannya disebabkan karena calon suaminya ternyata hanya memanfaatkan kebaikannya dan menganggap Erina sebagai wanita perawan tua yang tidak mungkin bisa hamil.
Tetapi suatu kejadian tak terduga membuatnya harus menikahi pemuda yang berusia 19 tahun.
Akankah Erina mampu hidup bahagia dengan pria yang lebih muda darinya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 19
Bruk!!
Brak!!
Semua orang yang masih terjaga di dalam rumahnya dan beberapa warga masyarakat yang bertugas meronda malam itu berlarian ke arah sumber suara dentuman yang cukup nyaring itu.
“Apa yang terjadi!?”
“Ada yang kecelakaan!”
“Sebuah mobil merek Avanza berwarna putih menabrak sebuah pohon jati,” ucap seorang pria.
Semua orang berlari ke arah kecelakaan itu termasuk kedua pasangan pengantin baru.
“Ini namanya karma dibalas tunai! Mentang-mentang pake mobil hampir saja menabrak istriku,” gerutu Arshaka.
“Kita lihat yah Mas Shaka, jangan sampai kita mengenali siapa orang yang kecelakaan itu jadi bisa secepatnya ditolongin,” ajaknya Erina.
Semua orang berbondong-bondong berjalan ke arah TKP. Memang mereka hidup dalam kampung pedesaan tapi penerangan di sepanjang jalan cukup terang karena setiap dua puluh meter terdapat lampu penerangan.
Hampir semua warga masyarakat sekitar lokasi tempat kejadian perkara sudah mengelilingi mobil tersebut yang masih berplat merah itu.
“Mereka baik-baik saja kan?” Tanyanya Pak Joko.
Mereka ingin melihat ke arah dalam mobil yang tertutup rapat kaca jendelanya. Mereka kepo akut mengetahui siapa orang tersebut dan apa mereka baik-baik saja.
“Saya gak mau lihat,” Pak Sopo buru-buru mundur beberapa langkah setelah menyadari apa yang terjadi di dalam kabin mobil.
“Ada apa denganmu, Pak Sopo?” Tanyanya Adit.
“Lah kalau enggak dilihat langsung gimana caranya kita ketahui apa yang terjadi kepada pemilik mobil dan juga siapa orangnya,” protesnya Pak Budi yang heran melihat sikap tetangganya itu.
“Jangan ada yang melihat ke dalam! Ada perempuan yang tidak memakai pakaian apapun yang menutupi tubuhnya!” Teriaknya Sopo untuk mencegah mereka tapi sudah terlambat.
“Astaghfirullah aladzim!”
“Astoge!”
“Astaganaga!”
Semua orang menjauh dari mobil yang sebagian besar badan mobilnya terperosok ke dalam parit.
“Ini kan mobil baru yang dibeli Pak Jarwo seminggu yang lalu,” tebaknya seorang ibu-ibu yang kebetulan tetangga dengan Bu Jamila.
Semua pandangan orang-orang tertuju pada perempuan berbaju daster itu.
“Masa sih Ibu? Itu tidak mungkin,” sanggah ibu Nani.
“Kalau tidak ada yang percaya denganku, silahkan cek dan lihat langsung ke dalam siapa yang mengemudikan mobil itu,” perintah Bu Dewi.
Semua orang berusaha untuk membuka pintunya. Berbagai cara mereka lakukan dan dengan kekuatan dari banyak orang yang bahu membahu membuka pintu mobil itu akhirnya terbuka juga.
“Alhamdulillah pintunya sudah terbuka,” ucapnya Pak Joko.
Semua orang kembali mendekat dan seketika semuanya kembali berlari menjauh setelah melihat langsung dengan kedua mata kepala mereka siapa dan bagaimana kondisi penumpang mobil naas yang mengalami kecelakaan tunggal itu.
“Astaghfirullah aladzim ampuni dosa-dosa kami ya Allah,” cicitnya Bu Dwi sambil menutup kedua matanya.
“Dia Romi anaknya pak Jarwo!” Pak Sopo sampai berteriak menyebut namanya Romi.
“Astaghfirullah aladzim perempuan itu tidak memakai pakaian apapun dan kayaknya mereka tidak sadarkan diri!” Bu Ani malah teriak-teriak saking kagetnya sehingga semakin memperkeruh suasana.
Erina dan Arshaka pun sudah melihat siapa pengemudi mobil yang kap mesin mobilnya mengalami ringsek parah itu.
“Ini namanya karma dibayar tunai! Dasar Pak Jarwo sok suci Shaka yang dia tuduh dan hina berbuat tak pantas lah ini apa namanya coba!? Mereka berdua pasti baru saja berbuat maksiat dan dosa besar,” sarkasnya Adit.
“Ini sungguh di luar prediksi BMKG, tadi pak Jarwo yang memfitnah dan menuduh Arshaka berbuat asusila dengan istrinya sendiri lah kalo yang ini apa namanya?” sinis Pak Joko.
“Ini namanya sok suci dan sok alim padahal anak sendiri yang berbuat tak senonoh malah menuduh Arshaka dan Bu polwan cantik yang berbuat zinah,” cerca Pak Sopo.
“Ibu-ibu cepat ambil sarung atau selimut apa saja untuk menutupi aurat mereka! Ini sudah termasuk zina mata dan dosa besar!” Titah seorang pria muda.
Pria muda itu memakai sorban mirip seorang ustadz yang cepat-cepat meninggalkan tempat itu karena tanpa sengaja melihat aurat orang lain.
Segala umpatan, hinaan, cacian dan ucapan kasar serta cibiran sudah mereka ucapkan saking marahnya melihat Romi dengan perempuan yang tidak dikenalnya dalam keadaan yang tidak patut dicontoh dan dilihat.
“Brengsek!!” dengusnya.
“Kurang ajar! Tak berguna!” oloknya.
“Manusia kotor!” kesalnya.
“Anjay! Dasar sampah masyarakat!” hinanya.
“Najis banget perbuatan mereka!” cibirnya sambil meludah ke samping.
Beberapa ibu-ibu gegas berlari ke arah dalam rumah masing-masing untuk mengambil apa saja yang bisa dipakai untuk menutupi tubuh keduanya yang tela***njang.
“Pak RT ini tindakan tidak terpuji dan tidak bermoral! Kami tidak setuju jika kejadian seperti ini terjadi di kampung kita tercinta,” geram seorang perempuan paruh baya.
“Keduanya harus mempertanggung jawabkan perbuatannya!”
“Jangan lemah dan lembek mentang-mentang dia adalah putranya Pak Jarwo sehingga dia terbebas dari hukuman!” sahut lainnya.
Pak Didi selaku Pak RT didesak oleh warga masyarakat untuk segera memberikan hukuman yang sesuai dengan norma-norma masyarakat yang berlaku di desa Mekarjaya.
“Pak Sopo! cepat panggil dan jemput Pak Jarwo dan istrinya Bu Jamila untuk datang ke sini! Jangan ada yang memindahkan keduanya karena mereka hanya pingsan saja jadi tidak perlu dibawah ke puskesmas terdekat!” Titah pak Didi.
Beberapa orang memeriksa kondisi Romi dan perempuan yang tidak membawa identitas apapun setelah mereka periksa kabin mobil dan mengecek tubuh keduanya yang menurut mereka hanya mabuk minuman keras.
“Maafkan saya Pak Didi, saya seharusnya tidak ikut campur dengan masalah ini! Tapi, sebagai masyarakat yang baik kita tetap harus menjalankan aturan dan hukuman-hukum yang berlaku di desa Mekarjaya jika terjadi hal seperti ini!,” cerca Adit.
Sopo pun kembali ikut berbicara,”jangan biarkan dikemudian hari terulang kembali dan generasi muda kita mencontoh perbuatan yang tak senonoh ini,” jelasnya panjang lebar.
Semua orang terdiam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Erina ibu polwan cantik itu.
“Kalau menurut ibu Erina hukuman apa yang tepat untuk pezinah seperti mereka ini?” Tanyanya pak Didi.
Iia juga kebingungan untuk memutuskan perihal hukum apa yang cocok dan adil untuk mereka berdua.
“Kalau secara hukum mereka berdua akan di penjara minimal lima tahun penjara, tapi kalau menurut saya itu terlalu ringan untuk mereka!” Ujarnya Erina.
“Kalau seperti aturan norma-norma hukum yang berlaku sebaiknya kita mengarak tubuh mereka diarak keliling kampung sambil kedua tangannya dipasung!” Jawabnya pak Joko.
“Sanksi sosial itu lebih dahsyat efeknya dibandingkan dengan hukum negara Pak Didi karena efek jeranya berbeda-beda pula,” Erina tersenyum tipis melihat kedatangan Pak Jarwo.
Semua orang menatap ke arah kedatangan pak Jarwo dan rombongannya.
“Hukum negara bisa diringankan apalagi tersangka memiliki bekingan dan uang pasti hukumannya akan lebih ringan dan kemungkinannya akan cepat terbebas dari penjara Pak,” ujarnya Arshaka.
“Ya Tuhan ini kan mobil baru kita, Mas. Kenapa bisa rusak seperti ini?” Tanyanya Bu Jamila sambil menangis histeris.
“Apa yang terjadi bapak-bapak ibu-ibu?” Tanyanya Pak Jarwo.
“Silahkan bapak Jarwo yang terhormat mengecek langsung ke dalam mobil agar bapak mempercayai apa yang bapak lihat dengan matanya bapak sendiri, nanti dikira kami-kami lagi yang sengaja merekayasa insiden kecelakaannya,” pinta Adit yang bernada menyindir.
Pak Jarwo dan ibu Jamila segera melihat ke arah dalam dan betapa terkejutnya kedua pasangan suami istri lansia itu setelah melihat langsung kalau yang di dalam adalah putra satu-satunya.
Kedua bola matanya Pak Jarwo terbelalak seolah bola matanya itu akan melompat keluar saking marahnya.
“Siapa yang tega melakukan ini pada anakku!? Katakan!” bentak pak Jarwo
Pak Jarwo malah menuduh mereka yang bukan-bukan dengan suara yang cukup melengking tinggi di tengah malam itu.
Semua orang keheranan melihat sikap Pak Jarwo karena si luar dugaan dan prediksi BMKG ternyata Pak Jarwo marah-marah dan menuduh orang-orang adalah pelakunya.
“Pak Jarwo! Tidak ada seorang pun yang melakukan tindakan tidak terpuji kepada mereka berdua! Kami menemukan mereka dalam keadaan tidak memakai pakaian apapun ketika mobilnya mengalami kecelakaan!” Ucap Pak Didi yang tidak terima dituduh yang tidak-tidak.
“Kenapa bapak malah menyalahkan orang-orang yang ada di sini! Padahal putranya Bapak sendirilah yang mengendarai mobil dengan ugal-ugalan dan menabrak pohon itu!?” Arshaka ikut menjelaskan kronologis kejadian tersebut.
Semua orang manggut-manggut membenarkan semua ucapan pak Didi dan Arshaka.
“Untungnya istriku tidak keserempet ulah anaknya bapak!” kesal Arshaka.
“Lah heran deh! Anaknya bapak yang kurang ajar malah menuduh kami yang tidak-tidak! Coba bangunkan anak Bapak Si Romi pasti dia akan menjawab keraguan bapak jadi jangan asal memfitnah kami!” Ketusnya Pak Joko.
Kondisi semakin caos dan ribut karena semua orang berbicara saling bersahutan tidak terima dengan ucapan dari Pak Jarwo.
“Pak Jarwo paham kan kalau fitnah dan pembunuhan sama-sama kejam! Jadi cek ricek dulu apa yang sesungguhnya terjadi sebelum menuduh masyarakat yang melakukan tindakan tak senonoh itu,” sarkasnya Pak Sopo.
Galih berjalan tergesa-gesa sampai berdiri di belakang mobilnya, “Ya ampun ibu, Bapak ini kan mobilku kenapa bisa mengalami kecelakaan. Aku kan baru sebulan bayar cicilannya sudah rusak seperti ini,” ratapnya Galih yang menangisi kondisi mobil barunya.
“Kasihan-kasihan baru nyicil toh padahal ngomongnya Bu Jamila katanya mobil cas!” Nyinyir Bu Tati.
Pak Jarwo tidak bisa berbicara lagi untuk melempar kesalahan kepada orang lain karena banyak orang yang menjadi saksi kecelakaan itu.
“Sial! Kenapa hal ini malah terjadi padaku!” rutuknya dalam hati.
Pak Jarwo kembali berkelik dengan seribu macam alasan pembelaan terhadap anak sulungnya.
“Tidak mungkin anakku yang berbuat tidak baik! Putraku adalah anak muda yang baik dan sopan jadi tidak mungkin dia sengaja melakukannya, pasti anakku hanya korban saja,” Pak Jarwo berkelit.
“Sudahlah! Jangan banyak bicara pak Jarwo. Apa Bapak lupa dengan kejadian yang terjadi di balai pos ronda. Bapak hanya melihat dua pasangan suami istri yang berciuman bapak sudah ingin mengarak mengelilingi kampung! Terus ini yang jadi pelakunya anaknya bapak jadi apa hukum itu masih berlaku!?” cibirnya Adit.
Bi Jamila terus menangis meratapi nasib mobil barunya dan Romi. Dia sudah seperti mirip orang yang tidak waras berteriak-teriak sambil mondar-mandir kesana kemari.
“Tidak! Ibu bagaimana caranya aku bayar cicilan mobilnya kalau seperti ini jadinya!?” Galih teriak-teriak.
Galih tidak terima mobilnya yang dicicilnya di salah satu dealer mobil di kabupaten harus mengalami kerusakan yang sangat parah.
Pak Desa GGGGG berjalan tergopoh-gopoh setelah memarkirkan motornya karena mendapat kabar dari salah satu warga masyarakat.
“Pak Desa sudah datang, sebaiknya putuskan cepat hukum apa yang paling cocok dan adil untuk dua orang pezinah itu,” ucap Adit.
Arshaka dan Erina terus memperhatikan apa yang terjadi pada Pak Jarwo yang menahan amarahnya dan rasa malunya.
“Kenapa anak itu tidak bisa bersabar sedikit saja. Ia sudah buat saya malu! Kalau begini saya sulit untuk maju menjadi calon kepala desa bulan depan,” batinnya Pak Jarwo.
Pak Desa melihat kondisi Romi dan perempuan tak dikenalnya sudah siuman. Keduanya yang baru saja mengkonsumsi s4bu-s4bu dan minuman beralkohol berbicara ngelantur dan tidak jelas.
Romi degera dilarikan ke RS untuk mendapatkan penanganan medis karena tiba-tiba muntah-muntah dan mulutnya berbusa-busa.
“Cepat bawa ke rumah sakit! Putraku bisa meninggal,” teriak ibu Jamila.
“Perbuatan Romi tidak patut dicontoh semoga saja hanya dia warga kampung kita ini yang menjadi pecandu narkoboy,” celetuk ibu Reni.
“Kampung kita tercinta ini sudah tercemar oleh Romi sungguh ini diluar nurul. Orang yang selalu menganggap dirinya paling hebat dan paling sempurna ternyata yang paling mengecewakan dan merusak citra baik kampung kita tercinta,” imbuhnya pak Budi.
“Bubar barisan! Bersiap-siap istrahat karena besok kita akan merayakan pesta resepsi pernikahan Arshaka dan Bu Erina jadi pulanglah kalian beristirahat dengan tenang dan berharap saja semoga ini adalah yang pertama dan terakhir kalinya terjadi di Desa Mekarjaya,” ujarnya Pak RT.
“Siap Pak Erte,” jawab semua orang secara serentak.