Anezaki Mamori, seorang gadis yang memiliki nasib buruk dan dianggap sebagai pembawa sial.
Karena dia yang memiliki luka bakar pada bagian wajah dan hampir seluruh tubuhnya, membuatnya selalu dijadikan orang-orang untuk menghinanya.
Dia selalu mendapatkan perlakuan buruk dari semua orang, hingga akhirnya sebuah kecelakaan maut terjadi disaat Tokyo sedang diguyur hujan saat itu.
Namun disaat dia terbangun, sebuah sistem Beauty
And Candy System sudah bersatu dengan tubuhnya.
Kini dia akan berubah dan akan menampar semua yang selama ini selalu menghinanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anezaki Igarashi Ricky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelangi Setelah Hujan
Sepasang mata yang biasanya akan selalu menatapnya dengan tajam dan dingin kini terlihat sayu dan memerah. Perilaku keren dan sempurna yang biasa selalu diperlihatkan di depan semua orang, kini terlihat sangat kacau dan berantakan. Seperti seorang pemabuk yang tak memiliki kharisma sama sekali.
Tawa di tengah tangisnya membuat Mitzuru semakin terlihat rapuh dan terpuruk. Tentu saja! Dia baru saja dikhianati dan dikecewakan oleh seseorang yang selama ini selalu dihormatinya. Sebenarnya pemuda yang berprofesi sebagai idol, model, dan aktor ini sangat tidak menyangka jika papanya akan melakukan hal rendah seperti ini.
Selama ini dia hanya mendengar melalui orang lain dan menganggap semua itu hanyalah hoax yang disebarkan untuk menjatuhkan sang papa. Namun rupanya semua itu adalah benar! Bahkan wanita penggoda itu sudah mengandung anaknya!
Dunia Mitzuru seakan runtuh dan hancur seketika. Sandaran dan panutannya kini sudah menghancurkan hati serta kepercayaannya. Sesak, sakit, kecewa dan sangat marah!! Mungkin seperti itulah yang sedang dirasakan oleh Mitzuru saat ini.
"Pelayan!! Pelayan!!! Cepat berikan aku wine lagi!!" titah Mitzuru sambil menyandarkan kepalanya di atas meja dengan sepasang mata yang sudah setengah terpejam.
Seorang pelayan pria berseragam barista menghampirinya dan memberikan sebotol wine untuknya lagi. Namun disaat dia ingin menikmatinya, Anezaki segera datang dan merebut wine itu.
"Berikan padaku! Aku mau minum!!" tandasnya berusaha untuk merebut sebotol wine itu dari Anezaki, namun Anezaki malah semakin menjauhkannya darinya.
"Sudah cukup! Kamu sudah minum terlalu banyak. Dan itu sangat tidak baik untukmu." sahut Anezaki segera duduk tepat di samping Mitzuru, sementara sebotol wine itu dia letakkan agak jauh dari Mitzuru.
"Aku tidak peduli! Lagipula tidak ada yang benar-benar peduli denganku! Papaku sendiri saja ternyata tidak mempedulikanku!! Sikap baiknya selama ini kepadaku hanyalah sebuah topeng!! Aku benci pembohong itu!! Aku muak dengan si tua bangka cabbul itu yang pernah mengatakan jika mama adalah satu-satunya wanita yang dia cintai!!"
"Aku hanya ingin minum dan melupakan sejenak beban hidupku. Sekarang cepat berikan padaku!" timpal Mitzuru lagi dengan pandangan yang sudah mulai berbayang, wajah putihnya juga sudah memerah karena mabuk dan disertai amarah.
"Melupakan sejenak tidak akan membuatmu merasa tenang di kemudian hari. Tetap saja kamu akan kembali mengingat semuanya! Jika kamu benar-benar ingin meringankan semua itu, berbagilah dengan seseorang! Dengan begitu kamu akan merasa lebih baik dan merasa lebih lega."
Mendengar ucapan Anezaki, spontan Mitzuru tertawa remeh dengan mata yang sudah sesekali terpejam. Namun pada akhirnya dia mulai menangis terisak kembali.
"Pria tua itu sungguh sangat membuatku kesal!! Dia sangat menjijikkan! Aku tidak tau bagaimana mama nanti jika mengetahui semua ini?! Hiks ... padahal selama ini mama selalu baik dan mempercayainya. Tidak disangka dia sangat brengsekk!!" imbuhnya semakin terdengar memilukan.
Sangat tidak dia sangka, jika sosok yang selalu terlihat keren dan sempurna di hadapan media dan publik ini, kini sedang menangis tersedu-sedu seperti seorang anak kecil dan terlihat begitu tidak berdaya.
Belum sempat Anezaki menjawabnya, kini pandangannya mulai fokus menatap jemari kanan Mitzuru dengan buku-buku tangannya yang terluka dan berdarah karena beberapa saat yang lalu dia sempat menghantam sebuah meja kaca.
Anezaki segera berinisiatif untuk mengambil sesuatu dari dalam tasnya, seperti alkohol, obat merah dan plaster yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi. Karena selama ini dia sudah selalu mandiri dan mengobati luka sekecil apapun seorang diri.
Tanpa meminta ijin dan persetujuan dari pemuda itu, Anezaki segera menarik tangan kanan Mitzuru dan segera membersihkan luka itu dengan sebuah casa yang sudah diberi alkohol.
"Apa yang sedang kamu lakukan? Jangan sembarangan menyentuhku!"
Mitzuru berusaha untuk menarik tangannya kembali, namun Anezaki juga tidak mau kalah. Dia menahannya dan kekeh untuk mengobati luka Mitzuru.
"Tanganmu terluka. Kamu diam dan biarkan aku mengobatinya dulu!"
"Hhm? Apa setelah ini kamu akan meminta perpanjangan masa untuk menjadikanku sebagai pesuruhmu lagi? Kamu sungguh tidak berperasaan, memanfaatkan situasi ini untuk menindasku ... aku sedang seperti ini, tapi kamu sangat tidak berbelas kasihan! Sungguh sial sekali hidupku!"
Ucapan Mitzuru semakin lirih dan kali ini dia sudah kembali menyandarkan kepalanya di atas meja.
Anezaki menghela nafas dan mulai memberikan obat merah pada buku-buku jemari Mitzuru yang terluka.
"Jika berbicara tentang penindasan, aku lebih bisa merasakan semua itu. Dan tentu saja penindasan adalah hal yang paling tidak aku sukai. Karena aku tau bagaimana rasanya dikucilkan, dibenci, dan dianggap menjijikkan. Tentu saja aku tidak akan melakukan hal seperti itu terhadap orang lain."
Ucap Anezaki kembali mengingat bagaimana orang-orang pernah memperlakukan dirinya dengan sangat buruk. Namun dia segera menggelengkan kepalanya dan kali ini memasangkan beberapa plaster dengan gambar lucu di beberapa luka pada tangan Mitzuru.
"Ahhh lupakan itu ... yang perlu kamu ingat saat ini adalah ... meskipun dunia ini seakan begitu kejam terhadapmu, tapi percayalah semua yang terjadi ini tidaklah sebuah kebetulan semata. Sikapi dan hadapi apapun masalahmu dengan tenang dan kepala yang dingin. Meskipun semua itu tidaklah mudah, namun kamu juga harus lebih kuat, karena mamamu sangat membutuhkan kamu. Percayalah akan ada pelangi setelah hujan!"
"Kamu juga harus tetap melangkah! Dan buktikan jika kamu bisa menjaga dan membahagiakan mamamu ... meski harus tanpa papamu ..." imbuh Anezaki masih berusaha untuk menghibur Mitzuru.
Tidak ada jawaban, pemuda itu masih saja terdiam dengan kepala di atas meja. Namun sesekali tubuhnya masih bergerak pelan, seakan dia masih saja menahan tangisnya.
"Tidak peduli kamu mau mendengarkan aku atau tidak. Tapi pikirkan mamamu, melangkahlah demi wanita pertama yang sangat menyayangimu dan pernah bertaruh nyawa untukmu! Dia akan semakin sedih jika melihatmu terpuruk seperti ini." imbuhnya memberanikan diri menepuk pelan bahu lebar pemuda itu.
Tidak ada jawaban dan suasana kembali menjadi hening. Dan ternyata Mitzuru sudah semakin memejamkan matanya dan tertidur. Anezaki memutuskan untuk mengantarkan Mitzuru pulang. Belum sampai memikirkan dimana dia tinggal, saat ini dia hanya memikirkan untuk membawanya meninggalkan tempat umum yang sangat membahayakan pamornya ini.
Bisa saja ada seseorang yang berniat jahat untuk menjatuhkan Mitzuru dari dunia hiburan, misal dengan membuat berita buruk atau menjebaknya untuk menghempaskannya ke dasar. Tentu saja Anezaki segera mengantisipasi semua itu.
Gadis itu segera melepaskan pakaian hangat miliknya dan memakaikannya untuk Mitzuru. Dia juga memakaikan kerudung kepala untuk Mitzuru agar tidak mudah untuk dikenali orang-orang. Tidak lupa Anezaki juga memakaikan sebuah masker lucu miliknya yang kebetulan dia bawa untuk berjaga-jaga.
Anezaki meraih tangan kiri Mitzuru dan melingkarkannya pada pundaknya. Dia memapahnya dan segera membawanya untuk meninggalkan rooftop dan tempat karaoke ini.
Tanpa Anezaki sadari ternyata mereka sudah diamati oleh seorang pemuda dari kejauhan. Pemuda itu terus mengamatinya hingga Anezaki dan Mitzuru mulai memasuki sebuah taxi dan meninggalkan tempat ini.
Bersambung ...
padahal orang lain bilangnya cantik tuh kue
SMA malah pada bilang gigi gingsul itu yang mereka pengen 🤣
Bisa bikin dehidrasi padahal kalau pasien yang butuh minum malah dikasih teh, jadi bukannya menghilangkan haus tapi malah menyerap cairan dalam tubuh yang bikin tubuh makin lemes
Dia pelaku tapi merasa menjadi korban dan bertingkah seolah-olah paling tersakiti
Perasaan itu muncul tiba-tiba dan sulit dihilangkan