Terlahir dengan kutukan yang memakan usia, Boqin Tianzun terpaksa menempuh jalan berdarah demi melawan waktu yang kian menipis. Di tengah pengkhianatan keluarga dan dunia yang memuja kekuatan, ia merajut rencana keji untuk merangkak ke puncak tertinggi.
Bagi sang iblis berbakat, nyawa hanyalah pion catur dan cinta hanyalah teknik manipulasi, kecuali untuk satu jiwa yang tersisa. Di ambang batas kematian, ia bersumpah akan menaklukkan takdir dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Detik yang Tercuri
Taman Terlarang adalah tempat yang sangat sunyi, sebuah kantong dimensi di dalam sekte yang dipenuhi oleh vegetasi spiritual yang hanya tumbuh di atas tanah penuh darah. Boqin Tianzun melangkah dengan cepat, mengabaikan segala keindahan di sekitarnya. Matanya hanya tertuju pada satu tanaman: Rumput Roh Sembilan Jiwa.
Tanaman itu berpendar dengan cahaya biru redup, akarnya menghujam ke dalam tanah yang memancarkan aura murni. Tanpa membuang waktu, Boqin mencabutnya dengan teknik khusus agar khasiatnya tidak pudar.
"Akhirnya..." bisiknya. Jantungnya berdegup kencang. Bukan karena energi tanaman itu, melainkan karena harapan bahwa Sua Mei akan segera pulih. Ia tidak memedulikan penjaga taman yang pingsan di belakangnya; ia hanya ingin segera kembali.
Namun, saat ia melangkah keluar dari area terlarang, sebuah firasat buruk menghujam dadanya. Instingnya yang sudah terasah oleh ribuan penderitaan berteriak bahwa ada sesuatu yang salah.
Boqin Tianzun berlari, kecepatannya melampaui batas fisiknya. Ia tidak peduli jika meridiannya terasa panas membara karena dipaksa bergerak terlalu cepat. Ia melesat menuju paviliun pelayan tempat Sua Mei dirawat.
Saat ia mendekati pintu kamar, telinganya menangkap suara isakan kecil dan tawa yang menjijikkan.
"Kau pikir dengan dilindungi oleh anak pesakitan itu kau akan aman?" suara itu milik seorang pelayan wanita senior yang dulu sering memukul Sua Mei yang selamat dari pembantaian Boqin Tianzun. Di tangannya, ia memegang sebilah pisau dapur yang berkarat. "Gara-gara kau, teman-temanku dibantai! Jika aku harus mati karena dendam Boqin Tianzun, maka aku akan membawamu ke neraka bersamaku!"
Di atas tempat tidur, Sua Mei yang lemah hanya bisa menatap dengan mata berkaca-kaca, tubuhnya terlalu rapuh bahkan untuk sekadar berteriak.
Pisau itu diangkat tinggi-tinggi. Pelayan itu, yang sudah gila karena ketakutan dan dendam setelah melihat Boqin membantai rekan-rekannya di Bab 5, mengayunkan pisaunya ke arah leher Sua Mei.
SRET!
Waktu seolah melambat. Pintu paviliun hancur berkeping-keping karena ledakan Qi yang luar biasa besar.
Sebelum pisau itu menyentuh kulit Sua Mei, sebuah tangan yang dingin dan kuat mencengkeram pergelangan tangan pelayan itu. Suara tulang yang hancur berkeping-keping terdengar memenuhi ruangan yang sempit itu.
"AAAGHHH!" pelayan itu menjerit, namun suaranya langsung tercekik saat tangan Boqin yang lain mencengkeram tenggorokannya dan mengangkatnya ke udara.
Wajah Boqin Tianzun saat ini tidak lagi dingin—wajahnya adalah gambaran murni dari kengerian. Aura merah gelap meledak dari tubuhnya, menghancurkan perabotan di sekitarnya. Matanya menyala dengan kebencian yang mampu membuat jiwa siapa pun bergetar.
"Kau..." suara Boqin sangat rendah, seperti guntur yang tertahan. "Kau berani menyentuh cahaya hidupku dengan tangan kotor ini?"
"M-maaf... ampun... Tuan Muda..." pelayan itu meronta, matanya melotot ketakutan saat melihat kematian di depan matanya sendiri.
"Maaf?" Boqin tersenyum kejam. "Neraka bahkan tidak akan cukup luas untuk menampung rasa sakit yang akan kuberikan padamu."
Boqin tidak membunuhnya dengan cepat. Ia melepaskan tekanan Qi-nya tepat ke dalam tubuh pelayan itu, menghancurkan setiap saraf dan meridian wanita itu secara perlahan. Jeritan pelayan itu tertahan di tenggorokan karena cengkeraman Boqin yang semakin kuat.
Dengan satu sentakan terakhir, Boqin melemparkan tubuh pelayan itu keluar jendela dengan kekuatan yang cukup untuk memastikan ia tidak akan pernah bisa bergerak lagi sebelum ajalnya tiba.
Boqin segera berbalik, aura membunuhnya menghilang seketika saat ia menatap Sua Mei. Ia berlutut di samping tempat tidur, tangannya yang masih bersimbah darah pelayan tadi gemetar saat mencoba menyentuh pipi Sua Mei dengan lembut.
"Maafkan aku," bisik Boqin, suaranya pecah oleh emosi yang tulus. "Aku terlambat."
Sua Mei tersenyum lemah, air mata menetes di pipinya. "K-kau kembali... Boqin..."
"Aku kembali, dan aku membawa obatnya." Boqin mengeluarkan Rumput Roh Sembilan Jiwa. Ia mulai menyalurkan energinya untuk memurnikan tanaman itu menjadi sari pati cair yang bisa ditelan Sua Mei.
Di luar, para penjaga sekte mulai berdatangan karena ledakan energi tadi, namun Boqin tidak peduli. Siapa pun yang berani masuk sekarang akan menghadapi murka yang tidak akan pernah mereka lupakan. Baginya, melawan dunia, melawan waktu, atau melawan surga sekalipun tidak ada artinya asalkan Sua Mei tetap bernapas.