melanjutkan perjalanan Lucyfer setelah kekalahan nya dengan Toma.
kini Lucyfer bergabung dengan kelompok Toma dan akan masuk ke ujian high magnus tapi memerlukan 2 orang tambahan.
setelah 2 slot itu di isi mereka kini menghadapi satu masalah akademi odler adalah musuh yang sulit dan tidak mudah di lawan.
arc ini juga memperkuat beberapa character
dan pertarungan masa lalu sang penyihir kegelapan yang bebas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakuho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mempertahankan lentera jiwa
Di arena pertandingan High Magnus, aura sihir berdesakan di udara.
Puluhan tim berdiri bersiap, masing-masing dengan ekspresi tegang dan ambisi yang tak disembunyikan.
Seseorang melangkah mendekat ke arah Lucyfer dan kawan-kawannya.
Rambutnya ungu gelap, satu matanya tertutup oleh helaian rambut panjang, sementara mata yang terlihat berwarna merah menyala dengan tatapan tajam seperti ular yang siap menerkam.
Ia berhenti tepat di depan mereka.
Namanya adalah Seim Vaida—penyihir manipulasi ular.
Tanpa peringatan, Seim langsung membungkuk dalam, punggungnya melengkung hingga kepalanya nyaris menyentuh tanah.
“Aku, Seim Vaida dari Akademi Sihir Odler,” ucapnya lantang dan tegas.
“Datang untuk meminta maaf atas kelakuan tidak pantas rekan setimku, Raviel Kronyx. Ia memang memiliki kebiasaan memprovokasi orang lain.”
Keheningan sejenak menyelimuti mereka.
Varen menatap pemandangan itu dengan mata membelalak.
“Buset…” gumamnya.
“Itu punggung lu nggak patah apa? Nunduk segitunya…”
Tanpa mengubah posisinya, Seim menjawab tenang,
“Tidak sama sekali. Di Akademi Odler, kami dilatih untuk membungkuk seperti ini. Bahkan, jika perlu, hingga kepala benar-benar menyentuh tanah.”
Lucyfer refleks menggaruk pipinya.
“Oke, oke… cukup, cukup. Aku malah jadi ngeri sendiri. Aku maafkan.”
Seim akhirnya berdiri tegak.
“Terima kasih. Semoga kita semua bisa bertanding secara sportif dan menang dengan cara yang sehat.”
Ia pun berbalik dan pergi, meninggalkan kesan disiplin yang hampir menekan.
Tak lama kemudian, suara juri menggema ke seluruh arena.
“Baiklah, para kandidat!”
“Aku akan menjelaskan peraturan baru ujian High Magnus!”
Riuh rendah suara penonton perlahan mereda.
“Bersyukurlah,” lanjut sang juri,
“karena kalian tidak akan langsung bertarung melawan High Magnus Divisi 1 duluan. Karena Aturan telah diubah.”
Ia mengangkat tangannya, dan sebuah ilusi besar muncul di udara.
“Aturannya sederhana,” katanya tegas.
“Setiap tim akan menjaga sebuah Lentera Jiwa.”
“Di tangan kalian terdapat kalung berwarna. Jika warna kalian merah, maka kalian harus mencari lentera dengan api merah.”
“Kalian akan dilempar ke sebuah wilayah alam liar. Bertahan hiduplah selama beberapa hari, lindungi lentera kalian, dan manfaatkan alam sekitar.”
“Satu tim terdiri dari delapan orang. Semua paham?”
Seim melangkah maju dan kembali menunduk sopan.
“Juri, izinkan aku bertanya.”
“Pertama, berapa tim yang akan lolos?”
“Kedua, apakah kami harus menghancurkan lentera lawan?”
Juri menatapnya lurus.
“Dua tim akan lolos. Artinya, hanya 16 orang yang bertahan.”
“Dan jawaban kedua—ya.
Hancurkan lentera lawan.”
Suasana mendadak menegang.
“Sekarang,” ujar juri sambil mengayunkan tangan,
“silakan masuk ke portal.
Kalahkan semua lawan.”
Puluhan portal terbuka serentak.
Para murid berbondong-bondong masuk tanpa ragu.
Cahaya berubah menjadi gelap.
Lucyfer dan timnya mendarat di sebuah hutan sihir.
Pohon-pohon menjulang tinggi, dedaunan berkilau samar, dan langit malam menggantung tenang di atas mereka.
“Ke kanan!” teriak Toma sambil berlari.
“Aku bisa merasakan lentera kita—terus lurus!”
Alven mulai marah marah dan mengangkat tangan nya.
“Cepetan!” sahut Alven.
“Kalau diduluin orang lain, tamat!”
Mereka akhirnya tiba di sebuah lapangan kecil.
Di tengahnya berdiri sebuah lentera dengan api merah menyala—Lentera Jiwa milik mereka.
Lucyfer menatap lentera itu serius.
“Kalau lentera ini hancur… kita gugur.”
Ia menoleh ke teman-temannya.
“Kita perlu trik. Cara apa pun supaya lentera ini tetap aman.”
Elviera mendekat, lalu berbisik pelan di telinga Lucyfer.
Mata Lucyfer sedikit melebar.
“…itu ide bagus,” gumamnya.
Sementara mereka berdiskusi, jauh di balik bayangan pepohonan—
Seekor ular kecil berwarna ungu, bermata merah menyala, melingkar di dahan tinggi.
Diam-diam…
ia mengamati Lucyfer dan kawan-kawannya tanpa berkedip.