NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Pelenyap Suami Ku

Terpaksa Menikahi Pelenyap Suami Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / CEO / Hamil di luar nikah / Cintapertama
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: Eka Nawa

Arumi gadis yang sebelumnya sangat bahagia dengan keluarga kecilnya harus menelan pil pahit yang mana ia harus kehilangan suaminya.

Di tambah lagi dia harus menikah dengan pria yang membuat suaminya tiada karena hamil dengan pria itu

Akan kah pernikahan mereka bertahan lama, dan bagaimana kehidupan Arumi setelah menikah dengan kenan Dirgantara

happy reading 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

eps 21

Di sebuah cafe Kenan dan Jimmy sedang meeting dengan pengacara yang biasa di panggil Jen. Kenan meminta bantuan nya karena perusahaannya yang berada di Paris sedang mengalami banyak masalah.

Jena putri ayu ia adalah seorang pengacara terkenal banyak kasus yang sudah ia tangani dan kebanyakan dari kasus itu dia lah yang memenangkannya.

"Begini, pengacara Jen aku mengalami masalah dengan izin pembangunan hotel di Paris. Banyak sekali oknum yang tak jujur orang-orang ku selalu tertipu dengan iming-iming proyek bisa cepat selesai padahal mereka tidak melakukan apa-apa hanya ingin uang nya saja kalau begini terus aku bisa merugi," jelas Kenan merasa pusing.

"Kau datang dengan orang yang tepat tapi untuk itu aku meminta bayaran mahal lebih dari yang kita sepakati sebelumnya," pinta Jeni.

"Berapa?" tanya Kenan.

"Satu miliar," cetus Jen.

"Hei, nona kau gila ya! Apa kau tidak dengar bos ku sudah habis-habisan untuk proyek itu kau malah mau memerasnya!" seru Jimmy.

"Yasudah kalau tidak mau ... Hmm, begini saja aku akan minta setengahnya asal kau ... Mau berkencan dengan ku malam ini," goda Jen.

"Tolong jaga batasan mu aku sudah punya anak dan istri jangan pernah menggoda ku!" seru Kenan.

Jen tertawa lepas ia pun mengambil sebatang rokok lalu asistennya menyalakan api. Begitulah tingkah Jen tidak seperti namanya yang mana mencerminkan seorang wanita Ayu tapi kenyataannya ia seperti preman.

Lihat saja penampilannya yang memakai celana jeans dan kaos putih polos tidak sama sekali terlihat jika ia adalah seorang pengacara.

Uhukkk

Kenan dan Jimmy terkena asap nya mereka berdua seorang pria tapi tidak pernah merokok,"Baiklah, aku hanya bercanda, mana kontraknya aku masih ada urusan lain. Cepatlah!" titah Jen.

Jimmy mengeluarkan kontrak itu dari tas lalu memberikannya pada Jen ia pun membacanya. Akan tetapi, lagi-lagi ia tertawa membaca salah satu perjanjian yang mana membuat dirinya bahagia sekaligus terheran.

"Jadi, Minggu depan aku harus ikut ke Paris dengan mu selama dua Minggu?" tanya Jen.

Kenan mengangguk lalu Jimmy menjelaskan pekerjaannya Jen agar ia tau apa yang harus dilakukannya.

"Aku paham tapi apa istrimu tidak cemburu jika kita berdua saja di sana?" tanya Jen.

"Istriku bukan tipe pencemburu malah sebaliknya aku yang sangat posesif dengannya, kau tidak perlu khawatir," terang Kenan.

"CK, tidak pencemburu atau memang dia tidak mencintai mu?" sindir Jen.

Kenan benar-benar sedang di uji oleh wanita yang ada dihadapannya, sudah menggoda, dan tertawa seperti tidak merasa bersalah dan setiap kata yang keluar seperti menusuk di hatinya karena memang itu kenyataannya.

"Hei, aku hanya bercanda, pak Kenan kenapa wajah mu tegang begitu," lanjut Jen.

"Bercanda terus serius sedikit lah nona," seru Jimmy.

"Hidup ini jika terlalu serius tidak asik dan juga aku bukan tipe orang yang menganggap semua serius khususnya hubungan karena hubungan serius hanya membuat hidup makin tidak berarti, menurutku,"

"Kau sedang curhat ya," tanya Jimmy.

Lagi lagi Jen hanya tertawa lalu ia beranjak dari duduknya berlalu begitu saja. Kenan hanya terdiam ia sedikit tersentil dengan kata-kata Jen yang santai tapi menusuk.

Jen dengan sangat anggun menaiki mobil sport nya menyalakan mesin mobil lalu ia memakai kaca mata hitamnya.

Perlahan ia melajukan mobilnya sembari menyalakan musik favorit nya,"Sungguh dia sangat tampan aku tidak peduli dengan istrinya karena aku yakin dari cerita Kenan jika ia pun sadar kalau istrinya tidak mencintai nya. Saat di Paris nanti aku tidak akan menyiapkan kesempatan emas ini,"

Mobil sport merah melaju dengan kencangnya karena si pengendara sedang merasa bahagia tapi tetap dengan kehati harian karena memang Jen sangat mahir mengendarai mobil karena perilaku tomboy nya itu membuat sang Ayah selalu dibuat jantungan oleh putri tunggal nya itu.

***

Keadaan Danu semakin membaik, kesehatan nya kembali pulih berkat Helen putrinya yang merawatnya dan kini Danu merasa bahagia putrinya bisa ceria kembali.

Sebuah notif pesan masuk langsung membuat Helen senyum sendiri Danu memperhatikannya saat ini mereka berada di halaman belakang menikmati sejuknya angin sore.

"Kapan Narendra akan melamar?" tanya Danu yang tiba-tiba.

"Papa ... nanti lah aku dan Narendra masih ingin mengejar karir. Lagipula Narendra ingin pergi tiga bulan lagi jadi tidak mungkin mempersiapkan pernikahan secepat itu," terang Helen.

"Pergi ke mana?" tanya Danu.

"Ke Amerika untuk pengobatan ibunya. Dia masih fokus mengurus ibunya jadi ia memintaku untuk bersabar sampai ibunya benar-benar pulih baru dia datang melamar ku," ujar Helen.

"Sungguh menantu idaman jika dia sangat sayang dengan ibunya pasti kelak kau akan di ratu kan jika sudah menjadi istrinya," puji Danu.

"Semoga pah," harap Helen.

Hari sudah hampir gelap Helen pun menyuruh sang papa untuk masuk ke dalam sambil berjalan ia mengedarkan pandangannya mencari sang istri.

"Mama ada di kamar pah sedang tidak enak badan," kata Helen.

"Biar papa lihat ga biasanya mama mu di kamar seharian," Helen tidak berpikir apa-apa dia pun kembali ke kamar melanjutkan komunikasinya dengan Narendra.

Ceklek

Pintu kamar terbuka terlihat Jeni yang sedang berdiri menatap jendela dengan tatapan kosong. Danu mendekat membuyarkan lamunannya.

"Papa," lirih Jeni.

"Kata Helen kau sakit? Kita ke dokter saja ya," ajak Dani dengan penuh kelembutan.

Jeni menggelengkan kepalanya,"Pah, boleh aku bertanya?" tanya Jeni balik Danu mengiyakan.

Dengan napas berat Jeni berbalik menghadap ke arah suaminya,"Sudah bertahun-tahun kau berpisah dari ibu Natan apa jika dia kembali padamu kau akan menerima nya?"

Pertanyaan itu membuat Danu terangkat satu alisnya dia bingung mengapa tiba-tiba Jeni membahas tentang mantan istrinya?

"Kembali? Mana mungkin bukan kah dia yang ngotot untuk bercerai karena memang ia tidak pernah sekalipun mencintai ku?" Danu berbicara sambil teringat masa itu kala ia selalu dibuat sakit hati saat masih menjalani pernikahan dengan ibunya Natan.

"Lagi pula dia sudah memilih jalannya sendiri sampai ia menelantarkan Natan hingga putra ku merasa tidak punya keluarga dan aku pikir jika aku menerima mu kau akan menyayangi putra ku tapi kenyataannya kalian selalu saja ribut membuat ku tidak bisa memilih karena saat itu kau sedang hamil," sambung Danu.

"Jika saat itu aku tidak hamil apa kau akan menceraikan ku dan memilih bersama Natan," lirih Jeni.

"Entah lah saat itu aku benar-benar di hadap kan pilihan yang sulit, karena jika aku tidak menikahi mu kau akan mengakhiri hidup mu karena kau hamil di luar nikah dengan pria lain,"

Prank

Sebuah gelas terlepas dari tangan Helen yang mendengar semuanya ia pun melangkah masuk ke dalam memastikan lagi jika yang di dengar nya itu salah.

"Helen ... Sejak kapan kau di situ," keduanya menghampiri Helen yang sudah menangis.

"Jadi, aku bukan anak papa?" lirih Helen menahan sesak di dadanya.

"Dengarkan penjelasan papa kamu tetap anak papa ya sayang, jangan dengarkan perkataan papa tadi papa salah bicara nak," ucap Danu menenangkan putrinya.

"Aku anak haram bukan,hiks," Isak Helen.

Wanita itu memundurkan langkahnya Danu dan Jeni mencoba menjelaskan kembali tapi Helen malah berlalu pergi keluar dari rumah.

"Helen!" teriak Danu.

"Pah cepat hubungi Narendra," Danu mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Narendra.

Di sisi lain Narendra sedang menemani ibunya di rumah mereka mengobrol santai karena Narendra sangat dekat dengan ibunya.

Dreeet

Dreeet

"Ya, halo,"

"Naren, tolong om untuk mencari Helen dia pergi dari rumah,"

"Apa?! Baik om aku akan mencarinya,"

"Ada apa Naren kenapa kau berteriak," tanya Mira.

"Aku pergi dulu ya mah, ada urusan darurat,"

Narendra belum menceritakan apapun tentang Helen karena ia masih fokus dengan keadaan sang ibu dan menurutnya belum tepat waktunya jika ia harus meminta ibunya melamar gadis saat Mira masih dalam tahap pemulihan

Ting

Tong

Bell berbunyi ia langsung berjalan untuk membukakan pintu. Saat membuka pintunya bersamaan dengan itu suara petir menggelegar dan di luar memang sedang hujan.

Narendra terkejut bukan karena suara petir melainkan wanita yang saat ini berdiri dengan keadaan bajunya yang basah berjalan menghampiri Narendra.

"Sayang, kau kenapa? Kau menangis? Ayo kita masuk dulu," ajak Narendra.

"Tidak, di sini saja," tolak Helen.

"Di sini dingin kita ganti baju mu dulu baru kita bicara nanti kau bisa sakit," bujuk Narendra.

Helen menggeleng dan tangisannya pecah,"Naren aku kesini ingin membatalkan pernikahan kita," pekik Helen.

Degh.

Bagaikan tersambar petir dan menusuk hati untuk kesekian kalinya Helen membuat patah hatinya kembali,"Kenapa? Apa yang membuatmu bicara seperti itu, katakan!" sentak Narendra.

Pria itu terpancing emosi karena pastinya ia berpikir jika penolakan Helen itu karena Kenan.

"Apa ini ada hubungannya dengan Kenan?" Helen menggeleng.

"Lalu apa ... APA YANG MEMBUAT MU MEMBATALKAN RENCANA PERNIKAHAN KITA!" sentak Narendra.

"Apa kau masih mau menikah dengan anak haram seperti ku!" Pekik Helen.

"Apa?" lirih Narendra.

*

*

Bersambung.

1
Shōyō
uwwwww calon
Shōyō
hayolohh
Shōyō
njayyy sapa nichh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!