'Betapa kejamnya dunia pada seorang wanita yang belum bergelar ibu.'
Zahra sudah menikah dengan Aditya selama tiga tahun. Namun masih belum dipercaya memiliki seorang anak.
Meskipun belum juga hamil, tapi Zahra bersyukur Aditya dan keluarganya tidak mempermasalahkan hal itu. Zahra merasa hidupnya sempurna dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Tapi takdir berkata lain, suatu hari ia mengetahui bahwa Aditya akan menikah dengan Nadia, teman masa kecil Aditya karena Nadia hamil.
Rasa marah dan kecewa melebur jadi satu dalam hati Zahra. Ia mulai mempertanyakan keadilan dunia.
Mampukah Zahra mengobati hatinya dan menata lagi hidupnya atau ia tetap menggenggam cinta yang menyakitkan tersebut ?
..
Hay readers kesayangan Author, Author kembali lagi nih dengan tema berbeda dari novel sebelumnya. Terus kasih dukungan buat Author ya. Silahkan dikoreksi jika ada salah.
Mohon bacanya tidak di skip-skip ya. Makasih 🙏🫶🤩
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu lagi di gunung
Zafirah sudah setengah jalan menaiki gunung Slamet. Meskipun ia melakukan solo hiking namun di beberapa waktu ia kerap bertemu dengan pendaki lain dan mereka saling menyapa.
Tidak ada ketakutan dalam dirinya. Ia berjalan dibantu tongkat hiking di jalur resmi. Kepalanya menoleh kesana-kemari melihat sekitar serta bibirnya tidak berhenti mengucapkan doa.
Keringat membasahi keningnya, semakin lama ia merasakan kelelahan bersama dengan air matanya yang jatuh.
"Ya Allah, aku ingin sembuh. Aku ingin melupakan rasa sakit ku. Maka berilah aku obat yang menyembuhkan hatiku sebagaimana kau memberi obat untuk menyembuhkan tubuh ku," pinta Zafirah.
Zafirah sudah sampai di puncak dengan dengan waktu tempuh lima jam dua puluh lima menit. Tidak ada orang di sekitarnya. Ia melihat pemandangan di bawahnya, nampak beberapa gunung di kejauhan yang tertutup kabut.
Zafirah tidak lagi mencari sunrise maupun sunset. Ia hanya ingin mengeluarkan sesuatu yang menyesakkan dalam hatinya.
Ia duduk memakan roti sembari melihat pemandangan. Tiba-tiba ia mendengar suara seperti kamera yang memotret.
Tatapan tajamnya tertuju pada sosok pria yang berdiri agak jauh darinya sedang memegang kamera dan seperti melihat hasilnya.
"Apa dia memotret ku ?" gumam Zafirah saat melihat pria itu berdiri menghadap kearahnya.
Karena tidak mau terlalu percaya diri, akhirnya Zafirah tidak terlalu mempedulikannya. Ia melanjutkan memakan makanannya dan tidak lama kemudian ada beberapa tim yang sampai ke puncak hingga membuat suasananya semakin ramai.
Tidak tau saja Zafirah, jika sosok yang membawa kamera itu adalah Rayan. Pria yang pernah bertemu dengannya di belakang hotel kala itu sekaligus bos di tempatnya bekerja.
Rayan memang memotret Zafirah. Ia kagum pada perempuan yang mendaki gunung sendirian. Hingga ia memutuskan memotretnya secara diam-diam dan berencana akan menyapanya nanti.
"Aku seperti pernah melihatnya," kata Rayan memperhatikan wajah Zafirah dari samping di dalam layar kameranya.
"Tapi dimana ya ?" pikir Rayan. Ia jadi bingung sendiri.
Rayan masih memperhatikan Zafirah yang mulai mengobrol dengan beberapa orang. Ia memakan roti yang dibawanya sembari menunggu Zafirah sendirian.
Tiga puluh menit kemudian Zafirah memutuskan untuk turun. Langit juga mulai mendung meskipun baru pukul sebelas siang.
Beberapa orang masih duduk dan semakin banyak yang datang. Setelah berpamitan pada beberapa orang, Zafirah mulai melanjutkan perjalanan.
Rayan yang melihat itu juga ikut bersiap turun. Ia berpikir, apa Zafirah tidak memiliki rasa lelah.
Zafirah berjalan perlahan karena angin kencang dan gerimis yang mulai turun. Jalanan mulai licin apalagi medannya mulai menurun.
Zafirah berhenti sejenak untuk mengeluarkan jas hujan yang ada di dalam tasnya. Jangan sampai ia kedinginan dan mengalami hipotermia sebab tidak ada orang yang bisa menolongnya nanti.
Saat akan memakai jas hujannya, tiba-tiba ada ular melintas di kaki Zafirah hingga membuatnya terkejut dan reflek menghentakkan kakinya dan berakhir ia jatuh tergelincir.
Karena jalannya yang menurun, membuat Zafirah berguling-guling ke bawah. Ia merasakan tubuhnya sangat sakit akibat terkena bebatuan dan semak berduri.
"Aduh..." rintih Zafirah menahan sakit. Ia duduk sebentar memandang sekelilingnya. Rupanya ia jatuh ke lubang yang berada di sisi jalur pendakian.
Zafirah melihat jas hujan di tangannya sudah sobek di tengahnya. Mungkin tergores batu. Sedangkan tas dan tongkat nya masih berada diatas. Ia merasa kakinya sakit dan sulit berdiri.
"Hei, kamu tidak apa-apa ?" suara seseorang terdengar di telinga Zafirah.
Lalu nampak lah seorang pria yang mengenakan headlamp. Dan lampu nya menyinari Zafirah hingga membuat Zafirah menutup wajahnya dengan sebelah tangannya.
"Oh maaf, maku terganggu dengan cahayanya ya ?" katanya. Rupanya dia adalah Rayan yang sejak tadi ada di belakang Zafirah dengan jarak aman yang membuat Zafirah tidak curiga.
Lalu Rayan memutar headlamp nya mengarah ke samping. Ia berniat menolong Zafirah dengan mengulurkan tangannya namun tidak sampai.
"Wah tidak sampai," gumam Rayan.
"Aku tidak bisa berdiri. Kaki ku sangat sakit," teriak Zafirah agar Rayan mendengar suaranya sebab hujan sudah mulai turun disertai angin.
"Apa ?" teriak Rayan yang tidak mendengar suara Zafirah dengan jelas.
"Kaki ku sakit. Aku tidak bisa berdiri," teriak Zafirah lebih keras lagi. Ia mencoba berdiri namun kemudian jatuh lagi dan saat itulah Rayan mengerti kalau mungkin saja Zafirah sedang kesakitan.
Jadi Rayan memutuskan melepaskan tas di punggungnya kemudian turun ke tempat Zafirah.
"Apa yang kamu lakukan ? tidak ada yang akan menolong kita berdua kalau kamu ikut kesini," kata Zafirah sebal. Ia sedikit memukul lengan Rayan dengan wajah yang di tekuk.
"Ah itu bukan masalah untuk ku. Sekarang ayo aku bantu kamu naik," Kata Rayan mencoba menggapai tangan Zafirah.
Zafirah ragu menerima uluran tangan Rayan. Tapi ia sadar, hanya pria inilah yang bisa membantunya.
"Jangan takut, aku bukan orang jahat. Namaku Rayan. Kalau kamu masih ingat, kita pernah bertemu di belakang hotel seruni," kata Rayan dengan senyum manisnya.
Zafirah mengangguk-anggukkan kepalanya. Itu dia, rupanya pria ini adalah pria waktu itu. Makanya Zafirah merasa pernah bertemu.
"Yasudah aku percaya kamu. Jangan macem-macem ya," kata Zafirah.
"Tidak, cantik. Aku memang berniat menolong mu," kata Rayan lagi.
Setelah Zafirah bisa berdiri, Rayan kemudian menyuruh Zafirah untuk naik ke punggung atau bahunya agar Rayan bisa mengangkatnya.
"Tapi aku berat," kata Zafirah tidak yakin. Apa tidak apa-apa ia menginjak punggung seseorang yang bahkan baru dikenalnya. Itukan tidak sopan, pikir Zafirah.
"Aku sangat kuat. Aku tidak akan kesakitan. Ayo cepat. Udara semakin dingin," ujar Rayan.
Dengan tidak yakin, akhirnya Zafirah naik ke pundak Rayan dengan menahan kakinya yang masih terasa sakit.
Setelah melihat Zafirah bisa berdiri dengan baik akhirnya Rayan yang mulai berdiri perlahan.
"Pegang semak-semak itu. Jangan sampai kamu jatuh lagi," teriak Rayan.
"Iya," jawab Zafirah. Kedua tangannya berpegangan erat pada semak-semak lebat di sisi lubang.
Zafirah mulai merasa terbang saat Rayan berdiri. Lalu ia mulai menggapai semak yang lainnya. Ia menggunakan itu sebagai pegangan untuk keluar dari lubang.
"Aku akan mendorong kamu dari sini. Maaf ya.." teriak Rayan. Lalu ia mendorong bagian belakang Zafirah agar memudahkan Zafirah untuk keluar.
Zafirah memelototkan matanya ketika merasa Rayan dengan berani menyentuh aset belakang nya. Tapi kemudian ia menyadari, jika Rayan hanya berniat membantu nya. Dan bukan waktunya memarahi orang yang membantunya meskipun ia merasa tidak nyaman.
Zafirah bisa bernafas lega saat ia sudah keluar dari lubang itu. Ia melihat Rayan yang sudah basah kuyup sama seperti dirinya. Pria itu sudah bersiap akan naik.
Dan tidak berapa lama, Rayan sudah berhasil naik dan duduk di sebelah Zafirah.
"Terima kasih, ya kamu sudah menolongku " kata Zafirah agak keras sebab hujan sudah mulai turun dengan derasnya.
Rayan mengangguk. Kemudian ia meraih tasnya dan mengambil jas hujan lalu menyerahkannya pada Zafirah.
"Pakailah ini. Nanti kamu kedinginan," kata Rayan.
"Tidak usah tidak apa-apa. Itu milikmu," tolak Zafirah.
"Sudah pakai saja. Kamu perempuan butuh perlindungan. Aku kan laki-laki, setidaknya aku lebih kuat darimu" kata Rayan. Lalu ia memasangkan jas hujan tersebut dengan paksa pada Zafirah. Zafirah hanya menurut saja.
"Kamu butuh minum," Ucap Rayan lagi sembari mendekatkan tas Zafirah.
Zafirah mengangguk dan mengambil sebotol air dari tasnya kemudian meminumnya dan bercampur dengan air hujan.
...
karma tak Semanis kurma rasakno.
naudzubillah min dalik. mau seneng diatas derita wanita lain oh tidak bisa.
kalian mulai dng zina kn ya rasakno.
gk kasian juga kesel
harus gmna akuuuuuu😌🤣🤣🤣🤣