Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 - Topeng yang Dipakai dengan Sempurna
Pengumuman itu ditempel di papan yang sama tempat kertas apresiasinya dulu bertengger. Tapi kali ini bentuknya jauh lebih mewah. Kertas krem tebal dengan tulisan emas timbul, mengundang seluruh tim inti bedah jantung untuk hadir dalam Malam Amal Yayasan Prawira Sejahtera. Acara tahunan yang menurut bisik-bisik di ruang perawat selalu dihadiri separuh pengusaha kota dan sepertiga pejabat provinsi. Diselenggarakan oleh yayasan yang, seperti baru saja Alya pelajari pagi itu, hanyalah satu dari sepuluh cabang bisnis yang menaungi nama besar di baliknya.
Rumah sakit ini, bar-bar elit di pusat kota, dua tambang di luar pulau, sebuah pabrik pengolahan pangan, deretan properti komersial. Semuanya tercatat rapi di bawah satu payung bernama Aldevar Group, dan malam nanti, untuk pertama kalinya, Alya akan melihat sisi dari dunia itu yang selama ini hanya jadi bahan gosip di sela jam makan siang.
"Wajib hadir," kata memo itu, dengan huruf tebal di baris terakhir, dan di bawahnya, tanda tangan yang sudah dia kenali betul bentuk lekuknya.
Yang membuatnya sedikit gelisah bukan acara itu sendiri, melainkan satu baris kecil di bagian bawah undangan, dicetak lebih kecil dari yang lain. Seolah sengaja tidak ingin terlalu mencolok. Susunan tempat duduk sudah ditentukan panitia, dan nama Suster Alya Nireva tertulis di meja nomor satu. Meja yang menurut Tia biasanya hanya diisi oleh keluarga besar Aldevar dan tamu kehormatan yang benar-benar penting.
"Kamu belum punya gaun?" Tia menjerit pelan di ruang ganti sore itu, matanya membelalak seolah Alya baru saja mengaku belum pernah makan nasi seumur hidup. "Malam ini, Kak! Acara sekelas itu!"
"Aku kerja di rumah sakit, Tia, bukan di butik," Alya membalas sambil tertawa, meski di dalam hatinya mulai muncul kepanikan kecil yang berusaha dia sembunyikan. Uang tabungannya bulan ini sudah habis untuk cicilan mahar pernikahan yang mereka rencanakan diam-diam, dan membeli gaun pesta bukan sesuatu yang masuk dalam anggaran mana pun yang pernah dia susun.
Wulan, yang biasanya lebih memilih diam daripada ikut campur urusan orang lain, muncul dari balik pintu lokernya sendiri sambil membawa sebuah gaun hijau tua yang masih terbungkus plastik dry cleaning, terlihat sudah lama tidak disentuh. "Ini bekas kondangan sepupuku dua tahun lalu," katanya, menyodorkannya tanpa banyak basa-basi, seperti orang yang tidak terbiasa memberi hadiah dan berusaha menyembunyikan kecanggungan itu di balik nada datar. "Ukurannya kurang lebih sama kayak kamu. Daripada nganggur di lemari."
"Kamu nggak perlu—"
"Aku nggak pernah suka warna hijau tua ini," Wulan memotong cepat, memalingkan wajah sedikit. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Alya melihat sesuatu yang lebih lunak di balik ekspresi datarnya yang biasa. "Anggap aja titipan. Jangan bikin aku menyesal udah baik sama anak baru."
Tia langsung menawarkan diri membantu tata rias, mengeluarkan kotak kosmetik kecil dari tasnya seolah sudah menunggu kesempatan itu sejak lama. Selama setengah jam berikutnya, ruang ganti yang biasanya hanya berisi suara loker berderit itu berubah jadi riuh oleh tawa mereka bertiga.
Tia yang cerewet memberi instruksi tentang cara memoles pipi yang benar, Wulan yang sesekali menyela dengan komentar tajam tapi jujur soal warna lipstik yang tidak cocok, dan Alya yang lebih banyak tertawa daripada benar-benar mendengarkan saran mereka. untuk sesaat, suasana di rumah sakit yang biasanya penuh ketegangan bisa juga menyisakan ruang untuk momen sesederhana ini.
Alya menerimanya dengan senyum yang lebih lebar dari yang bisa dia sembunyikan. Malam itu, ketika dia berdiri di depan cermin kos sambil merapikan lipatan terakhir gaun itu di pinggangnya, dia merasa seperti sedang memakai potongan kecil dari persahabatan yang baru saja mulai tumbuh di tempat yang paling tidak dia duga.
Ponselnya berdering sesaat sebelum dia berangkat, dan suara Bayu di ujung telepon terdengar lelah, disertai bunyi klakson kendaraan yang menandakan dia masih di jalan pulang dari kota sebelah.
"Aku nggak bisa nemenin kamu malam ini," katanya, nada menyesal yang tulus, jauh dari nada bercanda yang biasa dia pakai. "Proyeknya molor, baru kelar besok pagi. Kamu pergi sama siapa?"
"Sama Wulan dan Tia, tenang aja," Alya menjawab, menahan kekecewaan kecil yang tidak ingin dia perlihatkan lewat suaranya sendiri. "Kamu istirahat aja dulu. Nanti aku cerita kalau udah pulang."
"Janji telepon aku, ya, sepulangnya. Selarut apapun." Suaranya melembut di ujung kalimat, dan Alya mengiyakan sebelum menutup telepon. Menyimpan rasa hangat sekaligus sepi kecil itu berdampingan di dadanya sepanjang perjalanan menuju gedung yang berkilau di ujung kota.
Aula tempat acara berlangsung adalah lantai dasar gedung baru milik Aldevar Group. Ruangan berlangit tinggi dengan lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya ke setiap sudut, meja-meja bundar berhiaskan bunga segar, dan alunan orkestra kecil yang mengalun di udara dengan melodi yang cukup lembut untuk tetap memungkinkan percakapan berlangsung tanpa perlu berteriak.
Aroma lilin vanila bercampur parfum mahal mengambang di udara, gelas-gelas kristal berdenting pelan setiap kali diangkat, dan di setiap sudut ruangan berdiri pelayan dengan nampan penuh kanape yang tertata seperti karya seni kecil. Sesuatu yang terasa begitu jauh dari dunia troli obat dan bau antiseptik yang biasa mengisi hari-hari Alya.
Alya berdiri canggung di dekat pintu masuk bersama Wulan dan Tia, merasa seperti tiga ekor burung pipit yang tersesat di antara para elang. Hingga akhirnya seorang pramutamu mengarahkan mereka ke meja yang sudah ditentukan. Alya baru sadar, meja itu berada tepat di sebelah panggung utama, jauh lebih dekat dari yang seharusnya ditempati seorang perawat baru dalam susunan protokol mana pun.
Beberapa tamu di meja sebelah melirik sekilas, bisik-bisik pelan yang tidak sepenuhnya bisa dia dengar tapi cukup jelas maknanya dari arah mata mereka yang berpindah dari kartu nama di meja ke wajah Alya sendiri. Seolah bertanya-tanya jenis koneksi apa yang bisa membuat seorang perawat duduk sedekat itu dengan meja utama.
Setengah jam kemudian,Dr. Raze mulai menampakkan batang hidungnya. Perubahan pada dirinya membuat Alya nyaris tidak mengenalinya untuk sepersekian detik. Jas hitam yang dipotong sempurna mengikuti bentuk bahunya, rambut disisir rapi ke belakang, dan senyum yang, meski masih terkendali, jauh lebih sering muncul di wajahnya malam itu dibanding sepanjang waktu yang pernah Alya habiskan bersamanya di rumah sakit.
Dia berjalan dari satu kelompok tamu ke kelompok lain dengan keanggunan seorang tuan rumah yang sudah lama terbiasa memegang kendali penuh atas ruangan, menjabat tangan, tertawa pada waktu yang tepat, mengucapkan terima kasih kepada para donatur dengan kalimat yang terdengar tulus meski Alya curiga sudah dia latih ribuan kali di depan cermin.
Topeng itu, pikirnya, terpasang begitu sempurna hingga hampir mustahil menemukan celahnya.
Tapi begitu matanya bertemu mata Alya dari seberang ruangan, sesuatu di balik topeng itu retak. Cukup singkat untuk tidak disadari siapa pun kecuali orang yang berdiri tepat di jalur pandangnya, dan cukup jelas untuk membuat napas Alya sendiri tertahan tanpa alasan yang bisa dia jelaskan.
"Suster Nireva." Dia muncul di sisi meja mereka tak lama kemudian, membungkuk sedikit untuk menyapa Wulan dan Tia lebih dulu dengan formalitas yang sama seperti biasa, sebelum akhirnya menoleh kepada Alya dengan sesuatu yang, bagi siapa pun yang tidak mengenalnya, mungkin terlihat seperti senyum tipis biasa. "Anda tampak nyaman dengan gaun itu."
"Pinjaman dari Wulan, Dokter," Alya menjawab, sedikit gugup, dan Wulan di sampingnya berdeham pelan seolah ingin menghilang dari situasi itu secepat mungkin.
"Ikut saya sebentar," katanya, sudah mengulurkan lengannya dengan sikap yang begitu wajar hingga menolak akan terlihat lebih janggal daripada menerima. "Ada beberapa donatur yang ingin bertemu dengan perawat yang menangani kasus minggu lalu. Media meliput cerita itu cukup luas."
Alya meletakkan tangannya di lengan itu, merasakan otot yang tegang di bawah kain jas yang halus. Mereka berjalan melintasi ruangan sambil menyapa satu per satu wajah-wajah yang hanya pernah dia lihat di sampul majalah bisnis. Sampai akhirnya alunan musik berganti menjadi tempo yang lebih lambat, dan tanpa banyak kata, tangan itu berpindah dari lengannya ke pinggangnya. Menariknya perlahan ke lantai dansa seolah itu bagian dari rencana yang sudah disusun sejak awal malam.
"Saya tidak bisa berdansa, Dokter," Alya berbisik panik, tapi tangannya sudah dituntun ke posisi yang benar. Telapak tangan besar itu menempel hangat di punggungnya, jari-jarinya menyebar cukup lebar hingga Alya bisa merasakan setiap gerakan halus yang mengarahkan langkahnya tanpa perlu dia berpikir sendiri.
"Ikuti saja," katanya, rendah, tepat di dekat telinganya, dan untuk beberapa menit berikutnya, dunia menyusut menjadi sesederhana irama musik, jarak yang semakin menipis di antara mereka. Detak jantung Alya yang dia yakin, pasti bisa dirasakan oleh tangan yang menempel erat di punggungnya.
"Kenapa kamu memanggilku Alya, malam kemarin?" dia akhirnya memberanikan diri bertanya, suaranya nyaris tenggelam di antara alunan biola.
Langkah kakinya sempat terhenti setengah ketukan, cukup untuk memberitahu Alya bahwa pertanyaan itu mengenai sesuatu yang tidak dia siapkan jawabannya. "Karena aku lelah memanggil orang yang paling sering aku pikirkan dengan gelar formal," jawabnya. Kalimat yang keluar begitu jujur hingga terasa hampir seperti pengakuan yang tidak seharusnya diucapkan di tengah ruangan penuh orang.
Tangannya di punggung Alya menegang sedikit, seolah menyadari dia baru saja membuka pintu yang selama ini dia jaga rapat-rapat. Sebelum Alya sempat merespons, dia sudah melanjutkan, nadanya kembali datar seperti mencoba menutup pintu itu lagi secepat mungkin. "Soal foto yang kamu lihat kemarin, itu bukan urusan yang perlu kamu khawatirkan sekarang."
"Tapi itu foto saya, Dokter. Waktu kecil. Saya bahkan tidak ingat pernah difoto seperti itu."
"Ada banyak hal tentang masa kecil yang tidak selalu kita ingat sendiri," katanya, memutar tubuhnya perlahan mengikuti irama musik.Matanya menatap lurus ke matanya dengan intensitas yang membuat Alya lupa sejenak bagaimana caranya bernapas dengan normal.
"Terkadang orang lain menyimpan kenangan itu untuk kita, sampai kita cukup siap untuk mengambilnya kembali."
Jawaban itu tidak menjelaskan apa pun, dan justru menambah lapisan baru pada teka-teki yang sudah terlalu penuh untuk dia tampung sendirian. Dia ingin bertanya lebih jauh, tapi tangan di punggungnya bergerak sedikit menariknya lebih dekat lagi dengan alasan yang tidak pernah diucapkan. Cukup dekat hingga dagunya nyaris menyentuh bahunya sendiri. Untuk beberapa detik yang terasa terlalu panjang untuk sebuah lagu yang sudah hampir usai, Alya membiarkan dirinya berhenti bertanya, membiarkan dirinya sekadar merasakan detak jantung yang bukan miliknya sendiri berdegup di balik dada bidang yang begitu dekat dengan pipinya.
Musik berhenti, tapi tangannya belum sepenuhnya lepas dari pinggang Alya ketika seorang wanita paruh baya berjalan mendekat. Gaun merah tua yang dikenakannya berkilau di bawah lampu kristal, senyumnya sempurna dengan cara yang membuat Alya tanpa sadar merasa harus waspada.
"Raze," sapanya, suaranya lembut tapi tajam di ujungnya, seperti sutra yang menyembunyikan silet di lipatannya. "Sudah lama sekali kau tidak membawa seseorang ke lantai dansa. Aku sampai lupa kau bisa berdansa selain di atas panggung negosiasi."
"Bu Cendana," dia menyapa balik, singkat, dan Alya bisa merasakan tubuhnya menegang samar di sampingnya. Seperti seseorang yang baru saja harus mengganti satu topeng dengan topeng lain dalam waktu kurang dari satu detik.
Wanita itu berpaling kepada Alya, matanya menyusuri dari ujung kepala sampai ujung sepatu dengan penilaian yang tidak repot-repot dia sembunyikan. "Jadi kamu yang bernama Alya," katanya. Cara dia mengucapkan nama itu, seolah sudah lama akrab di lidahnya, membuat dada Alya berdenyut aneh untuk kesekian kalinya malam itu. "Raze cerita banyak soal kamu. Lebih banyak dari yang pernah dia ceritakan tentang siapa pun, sejauh yang aku ingat."
"Kami baru bekerja bersama beberapa minggu, Bu," Alya berkata, mencoba terdengar biasa, meski kalimat itu terasa semakin rapuh setiap kali dia harus mengucapkannya malam ini.
"Beberapa minggu," wanita itu mengulang, tersenyum tipis, matanya berpindah sekilas ke arah Raze dengan sesuatu yang menyerupai geli sekaligus peringatan yang tidak terucap. "Menarik sekali, kalau begitu, betapa cepatnya beberapa minggu bisa terasa seperti bertahun-tahun bagi sebagian orang."
Dia menyesap sedikit dari gelasnya, jeda yang sengaja dia perpanjang seolah menikmati ketidaknyamanan yang baru saja dia ciptakan. "Aku kenal Raze sejak dia baru merintis perusahaan pertamanya, jauh sebelum semua gedung kaca ini berdiri. Dia bukan tipe orang yang mudah terkesan, apalagi sampai repot-repot bercerita tentang seseorang di sela rapat dewan direksi. Jadi kamu bisa bayangkan betapa terkejutnya aku, ketika mendengar namamu disebut tiga kali dalam satu pertemuan minggu lalu."
Dia mengangkat gelasnya sedikit, seolah bersulang untuk lelucon yang hanya dia sendiri yang memahami maknanya sepenuhnya, lalu berlalu menuju kerumunan lain. Meninggalkan jejak parfum berat dan satu kalimat yang menggantung di udara tanpa penjelasan.
"Siapa beliau, Dokter?" Alya bertanya begitu wanita itu cukup jauh.
"Rekan bisnis lama," jawabnya singkat, terlalu singkat. Hingga akhirnya tangannya benar-benar lepas dari pinggang Alya untuk pertama kalinya sejak lagu dimulai. Dan untuk pertama kalinya malam itu, Alya melihat rahangnya mengeras dengan cara yang tidak bisa lagi disembunyikan di balik topeng mana pun.
Di perjalanan pulang, duduk sendirian di dalam taksi yang dia pesan karena menolak tawaran diantar pulang oleh mobil pribadi dr. Raze, Alya menyandarkan kepalanya ke jendela, memandangi lampu kota yang berkelebat cepat. Mengulang setiap kalimat yang diucapkan wanita bergaun merah itu di kepalanya berkali-kali tanpa pernah benar-benar menemukan makna yang memuaskan. Ponselnya bergetar sekali. Pesan dari Bayu, terlambat sampai karena perbedaan sinyal di kota sebelah, hanya bertuliskan bahwa dia baru selesai kerja dan menanyakan bagaimana malamnya berjalan.
Dia mengetik balasan singkat, bahwa malamnya baik-baik saja. Acara formal biasa dari kantor, tanpa menyebutkan lantai dansa, tanpa menyebutkan tangan yang masih terasa hangat membekas di punggungnya, tanpa menyebutkan seorang wanita bergaun merah yang berbicara tentang dirinya seolah sudah lama mengenalnya padahal mereka baru bertemu malam itu untuk pertama dan, semoga, untuk yang terakhir kalinya.
Untuk pertama kalinya sejak bertunangan dengan Bayu, Alya menyadari ada bagian dari malamnya yang entah kenapa, terasa lebih aman untuk disimpan sendiri.
Dia menutup ponselnya, menyandarkan kepala kembali ke jendela, dan membiarkan lampu kota yang berkelebat itu menemani pikirannya yang masih berputar antara telapak tangan hangat di punggungnya. Kalimat yang menggantung dari wanita bergaun merah, dan satu pertanyaan kecil yang baru saja lahir malam itu, yang bahkan tidak berani dia ucapkan keras-keras kepada dirinya sendiri.
Jika seorang pria yang begitu jarang bicara tentang siapa pun, tiba-tiba menyebut namanya tiga kali dalam satu rapat penting yang bahkan tidak dia hadiri, sejak kapan sebenarnya dia sudah menjadi bagian dari percakapan-percakapan yang tidak pernah dia ketahui keberadaannya sendiri.
•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈
Ada topeng yang dipakai untuk menyembunyikan wajah, dan ada topeng yang dipakai justru untuk menyembunyikan betapa jujur wajah itu, saat lupa sedang diperhatikan dan yang paling berbahaya bukanlah yang pertama, melainkan saat kita mulai bisa membedakan keduanya tanpa pernah diajari caranya.