NovelToon NovelToon
Pedang Abu Nirwana

Pedang Abu Nirwana

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Setelah akar spiritual emasnya dirampas secara paksa oleh sepupunya sendiri dan tubuhnya dibuang ke Jurang Abu Api, Lin Xuan—seorang pemuda klan cabang yang sekarat—justru menyatu dengan Tungku Abu Takdir peninggalan zaman purba. Dari abu kehancuran, ia menempuh jalur kultivasi terlarang yang mampu melebur kutukan, meracik pil dari racun mematikan, dan menebas tatanan langit yang korup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Janji di Paviliun Bambu

Di dalam kamar sederhana yang hanya berisi dipan kayu dan meja tua, seorang gadis berusia empat belas tahun tampak meringkuk di sudut lantai. Wajah Lin Wan'er sangat pucat, bibirnya membiru, dan lapisan bunga es tipis tampak membeku di ujung bulu mata serta helaian rambut hitamnya.

Namun, kedua tangannya yang gemetar tetap memeluk erat sebuah kantong kain kecil berisi tiga keping tanaman obat kering, sementara seorang pelayan senior bertubuh gempal—Nyonya Liu, pengawas gudang halaman belakang—terus menarik paksa kantong itu sambil menendang bahu sang gadis.

"Lepaskan, dasar anak tak tahu diri!" bentak Nyonya Liu dengan wajah bengis. "Kakakmu yang sombong itu sudah mati akibat penyimpangan Qi di gunung belakang! Mulai malam ini, Paviliun Bambu tidak lagi berhak menerima satu batang pun Rumput Darah Hangat dari klan!"

"Jangan... kumohon jangan ambil obat ini, Bibi Liu..." suara Lin Wan'er bergetar menahan rasa dingin yang menusuk tulang. Air mata yang jatuh di pipinya hampir membeku menjadi butiran kristal es. "Ini jatah bulan lalu yang ditabung Kakak Xuan untukku... Kakak Xuan belum mati... dia sudah berjanji akan kembali..."

"Kembali apanya?! Dia sudah menjadi santapan ular api di dasar jurang!" Nyonya Liu mendengus kasar, lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi, hendak menampar wajah pucat Lin Wan'er agar melepaskan cengkeramannya. "Lepaskan sekarang atau kupatahkan jari-jarimu!"

Tap.

Langkah kaki tenang terdengar di ambang pintu kamar.

Tangan Nyonya Liu yang hendak mengayun tiba-tiba membeku di udara karena sebuah cengkeraman sekuat capit besi telah menahan pergelangan tangannya dari belakang.

"Coba ulangi kalimatmu barusan," bisik suara rendah di belakang telinganya. "Jari siapa yang ingin kaupatahkan?"

Nyonya Liu menjerit kesakitan saat tulang pergelangan tangannya berderak retak. Ketika ia menoleh dan melihat wajah pemuda berjubah hitam yang berdiri di bawah cahaya lampu minyak, wajahnya seketika berubah sepucat kertas mayat.

"Tuan... Tuan Muda Xuan?!" Nyonya Liu menggigil hebat, kakinya lemas hingga jatuh berlutut di lantai kayu. "K-kau masih hidup?!"

"Kakak Xuan!"

Melihat sosok kakaknya yang berdiri tegak di depannya, mata Lin Wan'er yang semula redup langsung dipenuhi cahaya harapan. Ketegangan yang ia tahan selama berhari-hari runtuh seketika, tepat saat hawa dingin dari Meridian Es Beku di tubuhnya meledak akibat gejolak emosi. Tubuh mungil gadis itu bergetar hebat sebelum akhirnya terkulai tak sadarkan diri.

"Wan'er!"

Lin Xuan mengibaskan tangannya, melempar tubuh gempal Nyonya Liu hingga menghantam dinding kamar dan pingsan dengan tulang rusuk patah. Ia segera berlutut dan mengangkat tubuh adiknya yang sedingin bongkahan es abadi ke atas dipan kayu.

Kabut dingin berwarna putih pucat mulai menyelimuti dada Lin Wan'er, mengancam akan membekukan detak jantungnya.

"Jangan panik, bocah!" suara Tetua Gu langsung menginstruksikan di dalam pikiran Lin Xuan. "Adikmu ini bukannya menderita penyakit bawaan biasa, melainkan memiliki Tubuh Roh Es Yin Murni yang belum terbangkitkan! Karena kalian kekurangan sumber daya, energi es murni itu menyumbat meridiannya sendiri. Cepat tempelkan telapak tanganmu ke punggungnya, lalu gunakan Tungku Abu Takdir untuk menarik separuh hawa dingin ekstrem itu dan ganti dengan aliran Qi Abu yang hangat!"

Tanpa ragu sedetik pun, Lin Xuan mendudukkan tubuh Lin Wan'er dan menempelkan kedua telapak tangannya di punggung sang adik.

Wuuuung!

Tungku Abu Takdir di dalam Dantian Lin Xuan berputar kencang. Begitu daya hisap tungku diaktifkan, hawa es mematikan yang selama bertahun-tahun menyiksa pembuluh darah Lin Wan'er tersedot keluar seperti air bah yang menemukan muara!

Rasa dingin yang sanggup membekukan kultivator Pemurnian Tubuh Lapis Delapan itu mengalir masuk ke lengan Lin Xuan, namun begitu menyentuh mulut Tungku Abu Takdir, energi es liar tersebut langsung dilebur menjadi kabut energi perak yang sejuk dan murni. Sebaliknya, Lin Xuan menyalurkan sari hangat dari Abu Asal kembali ke dalam meridian adiknya.

Dalam waktu kurang dari seperempat jam, bunga es di alis dan bibir Lin Wan'er mencair sepenuhnya. Pipi gadis itu kembali merona merah muda yang sehat, dan napasnya terdengar teratur serta tenang—jauh lebih pulih dibandingkan saat mengonsumsi obat warung biasa selama bertahun-tahun!

"Syukurlah..." Lin Xuan mengembuskan napas panjang, menyeka keringat dingin di dahinya sambil menyelimuti adiknya dengan penuh kasih sayang.

"Hawa es yang baru saja kau serap ke dalam tungku itu telah memadat menjadi tiga tetes Embun Es Yin," ujar Tetua Gu terkagum-kagum. "Untuk mencabut akar penyumbatan meridian adikmu secara permanen sebelum usianya lima belas tahun, kau membutuhkan Rumput Jantung Teratai Api berusia seratus tahun untuk diracik menjadi Pil Penyeimbang Yin-Yang. Namun untuk saat ini, ia tidak akan mengalami kambuh lagi selama sebulan penuh."

Lin Xuan bangkit berdiri dan menatap tubuh Nyonya Liu yang tergeletak pingsan di sudut ruangan. Dengan satu ketukan jari, ia menyuntikkan seberkas Qi Abu ke titik akupuntur di pelipis wanita itu—menghancurkan ingatan Nyonya Liu selama satu jam terakhir sekaligus melumpuhkan meridiannya hingga wanita kejam itu akan menderita kelumpuhan seumur hidup.

Setelah membuang tubuh Nyonya Liu jauh ke parit luar halaman klan agar tampak seperti terjatuh sendiri saat mabuk, Lin Xuan kembali ke kamar dan mengeluarkan sepuluh kantong racun serta sisa bahan obat yang ada di kamarnya.

"Tetua Gu," ucap Lin Xuan dengan mata berkilat tajam. "Malam ini juga aku akan meracik pil pertama kita dan pergi ke Pasar Gelap Kota Awan Merah. Kita butuh batu roh dan bahan obat tingkat tinggi."

1
Ozzy aljokery
mantappp ..,lanjutkan
Ozzy aljokery
korban pertama dari pedang Abu Hitam
Ozzy aljokery
semoga tidak Hiatus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!