NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali : Era Baru Kehidupan

Terlahir Kembali : Era Baru Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...

​Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.

Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.

​Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.

​Bagaimana kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Jumat, 28 Oktober 2016.

Arthur Sterling terbangun sebelum alarm ponselnya berbunyi.

Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah tirai apartemennya di Queens. Ruangan itu masih sama seperti kemarin: sempit, sederhana, dengan meja belajar yang dipenuhi buku kuliah, beberapa lembar catatan investasi, dan laptop tua yang sesekali mengeluarkan suara kipas terlalu keras.

Namun, ada satu hal yang berbeda.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, Arthur tidak merasa harus segera memeriksa harga saham begitu membuka mata.

Ia mengambil ponselnya, membuka aplikasi pasar saham, lalu memeriksa Aurelia Therapeutics.

Harga saham perusahaan itu masih bergerak liar. Setelah pengumuman hasil uji klinis yang positif pada Rabu sore, sebagian investor tampaknya mulai mengamankan keuntungan. Volume perdagangan tetap tinggi, sementara pergerakan harga menunjukkan bahwa pasar masih berusaha menentukan nilai baru perusahaan tersebut.

Arthur memperhatikan grafik selama beberapa menit.

Dahulu, ketika masih berusia dua puluh tahun dalam kehidupan pertamanya, ia mungkin akan menghabiskan seluruh pagi untuk memikirkan bagaimana memperoleh keuntungan tambahan. Ia akan terus menghitung kemungkinan, mencari alasan untuk mempertahankan posisi, lalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia telah memahami pasar lebih baik daripada orang lain.

Pada akhirnya, ia mungkin tetap benar tentang arah perusahaan, tetapi salah dalam mengelola uangnya sendiri.

Pengalaman selama enam puluh tahun mengajarinya bahwa kecerdasan tanpa pengendalian diri hanyalah cara yang lebih rumit untuk melakukan kesalahan.

Arthur menutup aplikasi tersebut.

Sebagian besar opsinya sudah dijual kemarin. Keuntungan yang berhasil diamankannya cukup berarti untuk mengubah kondisi keuangannya, tetapi belum cukup untuk menghilangkan seluruh masalah hidupnya. Ia masih harus membayar biaya kuliah, makan, transportasi, dan sewa tempat tinggal. Ia juga belum memiliki bisnis yang menghasilkan pendapatan secara konsisten.

Namun, sekarang ia memiliki sesuatu yang sebelumnya tidak dimilikinya.

Ruang untuk bernapas.

Arthur membuka buku catatannya dan menuliskan tiga baris.

Pertama, jangan pertaruhkan uang yang dibutuhkan untuk hidup.

Kedua, keuntungan yang sudah direalisasikan lebih berguna daripada keuntungan besar yang hanya terlihat di layar.

Ketiga, jangan biarkan satu keberhasilan membuatku merasa tidak mungkin salah.

Ia menutup buku tersebut, memasukkannya ke dalam tas, lalu bersiap berangkat ke kampus.

Hari ini, ia memiliki dua hal yang perlu diselesaikan: perkuliahan dan tindak lanjut pembicaraan dengan Richard Coleman.

Ia belum tahu bahwa keduanya akan mengarah pada pertanyaan yang sama.

Seberapa jauh seseorang bisa mempercayai penilaiannya sendiri sebelum kepercayaan itu berubah menjadi kesombongan?

Di kampus, Arthur menemukan Daniel Brooks sedang duduk di bangku dekat gedung fakultas, menatap layar laptop dengan ekspresi seperti seseorang yang baru saja kehilangan perdebatan dengan mesin.

Arthur duduk di sampingnya.

"Kalau kau terus menatap layar seperti itu, mungkin situsnya akan merasa bersalah dan memperbaiki dirinya sendiri."

Daniel mengangkat kepala.

"Lucu sekali. Aku sedang mencoba memahami kenapa halaman promosi Lawson Market terlihat bagus di laptopku, tetapi berantakan ketika dibuka melalui ponsel."

"Sudah mencoba menghubungi Peter?"

"Belum. Aku ingin memperbaikinya sebelum dia melihatnya."

Arthur melirik layar. Halaman tersebut menampilkan foto bagian depan toko Peter Lawson, alamat, jam operasional, dan beberapa informasi mengenai produk yang tersedia. Ada pula bagian promosi yang masih belum diaktifkan.

"Jangan menghabiskan dua jam untuk memperbaiki sesuatu yang belum tentu memengaruhi hasil proyek," kata Arthur.

Daniel mengerutkan kening.

"Kau menyarankan kita membiarkan situsnya berantakan?"

"Aku menyarankan kita menentukan masalahnya terlebih dahulu. Apakah pelanggan kesulitan menemukan alamat? Apakah tombol telepon tidak berfungsi? Apakah informasi toko sulit dibaca di ponsel? Kalau masalahnya hanya jarak antarparagraf yang sedikit berbeda, kita tidak perlu memperlakukannya seperti bencana."

Daniel memeriksa kembali halaman tersebut.

Beberapa detik kemudian, ia menghela napas.

"Baiklah. Tombol telepon memang tidak berfungsi di ponsel."

"Itu yang harus diperbaiki lebih dahulu."

"Dan aku hampir menghabiskan satu jam untuk mengubah ukuran huruf."

Arthur tersenyum tipis. "Setidaknya sekarang kita tahu satu jam itu tidak sepenuhnya sia-sia. Kita belajar bahwa kau bisa menghabiskan satu jam untuk mengubah ukuran huruf."

Daniel menutup laptopnya setengah.

"Aku mulai memahami kenapa kau terlihat jauh lebih menyebalkan ketika sedang benar."

"Aku tidak selalu benar."

"Bagus. Berarti masih ada harapan untukku."

Mereka tertawa.

Percakapan ringan itu membuat Arthur menyadari sesuatu yang sederhana. Dalam kehidupan pertamanya, ia memiliki banyak orang yang bekerja untuknya, tetapi semakin sedikit orang yang benar-benar bisa berbicara kepadanya tanpa memikirkan jabatan, uang, atau konsekuensi dari setiap perkataan.

Daniel tidak mengetahui siapa Arthur kelak.

Bagi Daniel, Arthur hanyalah teman kuliah yang terlalu serius memikirkan bisnis kecil dan terkadang mengeluarkan komentar menyebalkan.

Anehnya, justru itulah salah satu hubungan yang paling ingin dipertahankan Arthur.

"Bagaimana perkembangan data toko?" tanyanya setelah mereka kembali serius.

Daniel membuka catatan proyek.

"Kita sudah memiliki beberapa catatan transaksi berdasarkan waktu. Tapi datanya belum cukup untuk menyimpulkan penyebab penurunan penjualan. Peter juga belum mencatat semua barang yang tidak tersedia."

"Kalau begitu, jangan membuat kesimpulan dulu."

"Aku tahu. Kau sudah mengatakannya tiga kali."

"Karena aku ingin memastikan kau tidak menuliskan kesimpulan setelah melihat dua angka."

Daniel menatapnya tajam.

"Empat kali. Sekarang kau sudah mengatakannya empat kali."

Arthur mengangkat kedua tangan, menyerah.

Mereka sepakat menemui Peter pada sore hari untuk memeriksa catatan terbaru. Sebelum itu, Daniel akan menyelesaikan perbaikan halaman ponsel, sementara Arthur menyusun format sederhana untuk membandingkan jumlah transaksi, nilai rata-rata pembelian, dan barang yang tidak tersedia.

Tidak ada rencana memberikan diskon besar-besaran.

Tidak ada janji bahwa penjualan akan langsung meningkat.

Mereka masih berada pada tahap memahami masalah.

Bagi Arthur, itu bukan langkah yang lambat. Itu adalah cara menghindari keputusan mahal yang dibuat berdasarkan dugaan.

Menjelang siang, setelah kelas selesai, Arthur menerima sebuah surel dari Richard Coleman.

Pesannya singkat.

Richard meminta Arthur datang ke kantornya pada Senin sore untuk membahas laporan terbaru Aurelia Therapeutics. Michael Reed juga akan hadir.

Arthur membaca pesan itu dua kali sebelum membalas bahwa ia bersedia.

Tidak ada tawaran pekerjaan.

Tidak ada janji investasi.

Hanya undangan untuk berdiskusi.

Namun, ia memahami bahwa kesempatan semacam itu tetap memiliki nilai.

Di Wall Street, seseorang tidak selalu mendapatkan pintu terbuka hanya karena memiliki gelar atau berasal dari keluarga yang tepat. Terkadang, pintu terbuka karena orang lain melihat sesuatu yang menarik dalam cara seseorang berpikir.

Tantangannya adalah memastikan bahwa kesan pertama itu bukan sekadar hasil dari keberuntungan.

Beberapa menit kemudian, balasan Richard masuk.

Arthur, sebelum pertemuan Senin, saya ingin Anda mempertimbangkan satu pertanyaan. Jika Anda tidak memiliki ingatan mengenai hasil pengumuman perusahaan tersebut, apakah Anda akan mengambil keputusan yang sama?

Arthur terdiam.

Ia membaca pertanyaan itu perlahan.

Richard tidak mungkin mengetahui rahasianya. Bagi pria itu, pertanyaan tersebut mungkin hanya bagian dari evaluasi terhadap kemampuan Arthur memisahkan analisis dari hasil.

Namun, bagi Arthur, pertanyaan itu menyentuh sesuatu yang jauh lebih mendasar.

Jika ia tidak memiliki ingatan tentang masa depan, apakah ia akan berani mengambil posisi pada Aurelia?

Mungkin.

Tetapi mungkin juga tidak.

Dalam kehidupan pertamanya, ia mengenal Aurelia sebagai salah satu perusahaan yang berhasil melewati fase penting pengembangan obatnya. Ia mengingat bagaimana perusahaan itu menjadi bahan pembicaraan di kalangan investor setelah hasil uji klinisnya diumumkan.

Namun, ingatan tersebut tidak memberinya harga yang tepat untuk membeli atau menjual opsi pada setiap menit perdagangan. Ia juga tidak mengingat seluruh pergerakan harga secara terperinci.

Ia telah mengambil keputusan berdasarkan kombinasi analisis dan pengetahuan masa depan yang tidak bisa ia jelaskan kepada siapa pun.

Itulah masalahnya.

Jika ia ingin membangun perusahaan besar melalui keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan, ia tidak boleh terus-menerus mengandalkan sesuatu yang tidak dapat diuji orang lain.

Arthur mulai mengetik.

Itu pertanyaan yang adil. Saya perlu memisahkan keyakinan saya mengenai perkembangan perusahaan dari keputusan mengenai harga dan risiko instrumen yang saya miliki. Saya akan mencoba menjelaskan dasar keputusan tersebut pada pertemuan Senin, termasuk bagian yang tidak dapat saya pastikan.

Ia berhenti sejenak, lalu mengirimkannya.

Jawaban itu tidak sepenuhnya mengungkapkan kebenaran. Namun, setidaknya ia tidak berpura-pura bahwa setiap keputusan yang diambilnya memiliki dasar yang sempurna.

Arthur menyimpan ponselnya.

Ia tidak ingin menjadi investor yang selalu merasa benar hanya karena beberapa prediksinya terbukti.

Ia ingin menjadi seseorang yang tetap bisa bertahan ketika prediksinya salah.

Sore harinya, Arthur dan Daniel tiba di Lawson Market.

Peter Lawson berdiri di dekat meja kasir sambil memeriksa beberapa lembar catatan. Wajahnya terlihat lebih lelah daripada saat mereka terakhir bertemu.

"Bagaimana perkembangan situsnya?" tanyanya.

Daniel menjelaskan bahwa halaman tersebut hampir selesai dan masalah pada tampilan ponsel sedang diperbaiki. Mereka juga menjelaskan bahwa halaman promosi belum diaktifkan karena mereka ingin memastikan informasi produk dan ketentuan promosi tidak membingungkan pelanggan.

Peter mengangguk.

"Bagus. Aku tidak ingin pelanggan datang lalu marah karena informasi yang mereka lihat ternyata salah."

Arthur mengeluarkan lembar pencatatan.

"Kami ingin memeriksa data transaksi beberapa hari terakhir. Kami belum bisa menyimpulkan penyebab penurunan penjualan, tetapi ada beberapa hal yang perlu kita bedakan."

Ia menunjukkan tiga kolom utama.

Jumlah transaksi.

Nilai rata-rata pembelian.

Barang yang diminta pelanggan tetapi tidak tersedia.

"Kalau jumlah transaksi turun, masalahnya mungkin berkaitan dengan jumlah pelanggan yang datang," jelas Arthur. "Kalau jumlah transaksi relatif stabil tetapi nilai rata-rata pembelian menurun, kita perlu melihat jenis barang yang dibeli. Kalau pelanggan datang tetapi tidak mendapatkan barang yang dicari, itu juga bisa menjadi penyebab sebagian penjualan hilang."

Peter memperhatikan catatan itu dengan saksama.

"Jadi, kalian belum tahu apa masalahnya?"

"Belum," jawab Arthur terus terang. "Kami tahu penjualan turun, tetapi belum tahu bagian mana yang paling berpengaruh. Kalau kami langsung menyarankan diskon, kita mungkin mengurangi keuntungan tanpa menyelesaikan penyebabnya."

Peter mengangguk pelan.

"Setidaknya kalian tidak mencoba menjual jawaban yang belum kalian miliki."

Daniel menyeringai.

"Kami sedang berusaha agar tidak terlihat lebih pintar daripada kenyataannya."

Peter tertawa pendek.

"Kalau begitu, kalian sudah lebih baik daripada beberapa konsultan yang pernah kutemui."

Mereka memeriksa catatan transaksi bersama-sama. Peter menjelaskan bahwa beberapa pelanggan datang menjelang sore untuk membeli kebutuhan rumah tangga setelah pulang kerja. Namun, ia belum yakin apakah jumlah pelanggan benar-benar berkurang atau mereka hanya membeli lebih sedikit barang.

Ada pula beberapa barang yang sering tidak tersedia ketika pemasok terlambat mengirimkan stok.

Arthur mencatat semuanya.

Ia tidak langsung mengatakan bahwa masalah persediaan adalah penyebab utama penurunan penjualan. Data yang ada belum cukup untuk mendukung kesimpulan itu.

Sebaliknya, ia meminta Peter mencatat barang yang tidak tersedia selama beberapa hari berikutnya, termasuk berapa kali pelanggan menanyakannya.

"Kalau ternyata barang yang hilang itu tidak banyak dicari, kita tidak perlu menambah stok secara berlebihan," kata Arthur. "Tetapi kalau permintaannya sering muncul, kita bisa membicarakan cara mengatur pemesanan."

Peter menyetujui usulan tersebut.

Ketika mereka selesai, Daniel mengajak Arthur berbicara di luar toko.

"Aku mulai menyukai proyek ini," katanya.

"Karena pemiliknya tidak memaksa kita memberikan hasil dalam dua hari?"

"Sebagian. Tapi juga karena kita benar-benar mempelajari sesuatu. Kalau berhasil, kita punya cara kerja yang bisa digunakan untuk pelanggan lain."

Arthur mengangguk.

"Itulah yang kita cari. Bukan sekadar mendapatkan uang dari satu proyek, tetapi memahami bagaimana menghasilkan nilai yang bisa diulang."

Daniel memasukkan laptop ke dalam tas.

"Namun, aku punya satu pertanyaan."

"Apa?"

"Kalau nanti ada sepuluh pelanggan, apakah kita akan membuat sepuluh metode berbeda?"

"Kita membuat kerangka kerja yang sama, lalu menyesuaikannya berdasarkan masalah masing-masing pelanggan."

Daniel tampak berpikir.

"Jadi, sistem yang bisa digunakan berulang kali, tetapi tidak kaku."

"Tepat."

"Baiklah. Aku akan menuliskannya sebelum kau mengulanginya lagi besok."

Arthur tertawa.

Untuk sesaat, ia membiarkan dirinya menikmati keberhasilan kecil itu.

Mereka belum membangun perusahaan besar. Mereka bahkan belum memiliki cukup banyak pelanggan untuk membayar seluruh kebutuhan hidup mereka.

Namun, mereka mulai memahami cara bekerja bersama.

Dan itu jauh lebih berharga daripada sekadar terlihat sibuk.

Malam mulai turun ketika Arthur kembali menuju kampus untuk mengambil beberapa buku yang tertinggal di perpustakaan.

Di lorong dekat pintu keluar, ia melihat Clara Vance berdiri sendirian sambil berbicara melalui telepon.

Ekspresinya serius.

"Aku sudah mengatakan bahwa aku belum memutuskan," terdengar suara Clara, pelan tetapi tegas.

Arthur memperlambat langkahnya, kemudian berhenti cukup jauh agar tidak mengganggu percakapan itu.

"Aku mengerti apa yang Ayah inginkan," lanjut Clara. "Tapi memahami keinginan seseorang tidak berarti aku harus langsung menyetujuinya."

Ia terdiam mendengarkan jawaban dari seberang.

Wajahnya berubah semakin tegang.

"Kalau keputusan itu akan memengaruhi hidupku selama bertahun-tahun, aku berhak meminta waktu untuk memikirkannya."

Percakapan berlangsung beberapa detik lagi sebelum Clara berkata bahwa ia akan menghubungi mereka kembali. Setelah menutup telepon, ia memejamkan mata sebentar, seolah mencoba mengumpulkan kembali ketenangannya.

Arthur tidak langsung menghampirinya.

Ia tahu bahwa rasa ingin tahu bukanlah alasan yang cukup untuk memasuki persoalan pribadi seseorang.

Namun, ketika Clara berbalik dan melihatnya, ia tidak bisa berpura-pura bahwa mereka belum saling melihat.

"Arthur?"

"Hai."

Clara memasukkan ponselnya ke dalam tas.

"Kau baru selesai kelas?"

"Aku baru mengambil beberapa buku. Kau sendiri?"

"Ada urusan keluarga."

Jawaban itu sama seperti kemarin: singkat dan tertutup.

Arthur mengangguk tanpa mengajukan pertanyaan tambahan.

"Aku berharap urusannya bisa diselesaikan dengan baik."

Clara menatapnya sejenak. Sepertinya ia mengharapkan pertanyaan lain, tetapi ketika Arthur tidak mendesaknya, bahunya sedikit mengendur.

"Terima kasih."

Mereka berjalan bersama menuju pintu keluar gedung.

Setelah beberapa langkah, Clara berkata, "Apa kau pernah merasa bahwa orang-orang di sekitarmu menganggap mereka berhak menentukan apa yang terbaik untukmu?"

Arthur menoleh kepadanya.

"Sering kali orang memberikan saran karena mereka benar-benar peduli. Masalahnya muncul ketika mereka menganggap kepedulian memberi mereka hak untuk mengambil keputusan."

Clara tersenyum tipis, meskipun kelelahan masih terlihat di wajahnya.

"Dan bagaimana kalau mereka memang tahu lebih banyak daripada kita?"

"Mendengarkan orang yang lebih berpengalaman itu masuk akal. Tetapi keputusan tetap memiliki konsekuensi yang harus kita jalani sendiri. Jadi, menurutku, kita perlu memahami alasan mereka sebelum menentukan apakah saran itu cocok untuk kita."

"Bagaimana kalau kita takut membuat keputusan yang salah?"

Arthur terdiam sejenak.

Dalam kehidupan pertamanya, ia menghabiskan puluhan tahun untuk menghindari satu jenis kesalahan, sampai akhirnya melakukan kesalahan yang lebih besar: membiarkan ketakutan menentukan seluruh hidupnya.

"Aku rasa kita tidak bisa menjamin bahwa pilihan kita selalu benar," jawabnya. "Yang bisa kita lakukan adalah mencari informasi sebanyak mungkin, memikirkan konsekuensinya, lalu memutuskan berdasarkan apa yang benar-benar kita yakini. Kalau ternyata salah, setidaknya kita tahu bahwa kita tidak menyerahkan hidup kita begitu saja kepada orang lain."

Clara menunduk, memikirkan perkataannya.

"Kadang-kadang, aku berharap semuanya sesederhana itu."

"Mungkin memang tidak sederhana."

Arthur berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

"Tapi kau tidak harus menyelesaikan semuanya malam ini."

Clara memandangnya. Kali ini, senyumnya terlihat sedikit lebih tulus.

"Kau selalu punya jawaban yang terdengar masuk akal."

Arthur tertawa kecil.

"Percayalah, aku juga punya banyak pertanyaan yang belum bisa kujawab."

"Seperti apa?"

"Misalnya, bagaimana caranya meyakinkan Daniel bahwa memperbaiki ukuran huruf bukanlah hal terpenting dalam sebuah situs web."

Clara tertawa. Suaranya ringan, berbeda dari ketegangan yang baru saja menyelimuti dirinya.

"Aku tidak yakin kau akan pernah berhasil."

"Aku mulai menerima kenyataan itu."

Mereka melanjutkan perjalanan menuju halte bus. Percakapan beralih pada tugas kuliah, rencana akhir pekan, dan sebuah buku yang sedang dibaca Clara. Tidak ada pengakuan cinta atau janji yang terlalu besar. Hanya dua orang yang mulai merasa lebih nyaman berbagi waktu.

Ketika bus Clara tiba, ia berdiri di dekat pintu dan berbalik.

"Arthur?"

"Ya?"

"Terima kasih karena tidak terus bertanya."

Arthur menatapnya dengan tenang.

"Kau boleh bercerita kalau kau sudah siap. Kalau belum, itu juga tidak apa-apa."

Clara mengangguk, kemudian naik ke bus.

Arthur menunggu sampai kendaraan itu meninggalkan halte sebelum berjalan menuju tempat pemberhentian berikutnya.

Ia ingin melindungi Clara. Keinginan itu sudah tertanam jauh sebelum ia mendapatkan kesempatan kedua ini.

Namun, ia mulai memahami bahwa melindungi seseorang tidak selalu berarti berdiri di depan setiap masalah yang dihadapinya.

Terkadang, perlindungan terbaik adalah memastikan bahwa seseorang masih memiliki ruang untuk memilih jalannya sendiri.

Malam itu, Arthur duduk di meja belajarnya dan membuka catatan keuangan.

Keuntungan dari Aurelia telah memberinya ruang bernapas, tetapi ia tidak berniat mengubahnya menjadi alasan untuk meningkatkan gaya hidup. Ia menyisihkan uang untuk kebutuhan hidup, mempertahankan dana darurat, dan membatasi jumlah yang dapat digunakan untuk mengembangkan usaha kecilnya bersama Daniel.

Ia juga menuliskan satu keputusan tambahan.

Untuk sementara, tidak ada investasi spekulatif baru.

Ia ingin melihat bagaimana pasar bereaksi setelah pengumuman Aurelia, menyelesaikan pembicaraan dengan Richard, dan memastikan bahwa uang yang telah diperolehnya benar-benar memperbaiki posisi keuangannya.

Kemudian ia membuka surel.

Ada pesan baru dari Richard Coleman yang mengonfirmasi pertemuan pada Senin sore. Richard menambahkan bahwa mereka akan membahas satu hal lain: bagaimana Arthur akan membedakan kemampuan analisis yang dapat diulang dari hasil yang mungkin sebagian berasal dari keberuntungan.

Arthur membaca kalimat itu sambil tersenyum kecil.

Pertanyaan tersebut semakin sulit dihindari.

Ia memiliki ingatan dari masa depan. Ia tahu bahwa beberapa peristiwa besar akan terjadi, dan pengetahuan itu memberinya keuntungan yang tidak dimiliki orang lain.

Namun, ia tidak bisa membangun kerajaan bisnis yang bertahan selama puluhan tahun hanya dengan mengandalkan ingatan.

Ia membutuhkan sistem.

Ia membutuhkan orang-orang yang dapat dipercaya.

Ia membutuhkan kemampuan untuk menerima ketika ia salah.

Dan, yang paling sulit, ia harus belajar menjalani kehidupan keduanya tanpa memperlakukan setiap orang seolah-olah mereka hanyalah bagian dari rencana yang sudah ia susun.

Arthur menutup laptop dan mematikan lampu meja.

Di luar jendela, Queens perlahan tenggelam dalam malam. Suara kendaraan masih terdengar dari jalan, sementara lampu-lampu apartemen di seberang menyala satu demi satu.

Dulu, ia mengira kekayaan dapat memberinya kebebasan mutlak.

Sekarang, ia mulai menyadari bahwa kebebasan yang sebenarnya jauh lebih rumit. Uang dapat memberinya pilihan, tetapi tidak bisa menentukan pilihan mana yang layak diambil. Pengetahuan dapat membantunya melihat masa depan, tetapi tidak memberinya hak untuk mengendalikan kehidupan orang lain.

Ia telah mendapatkan kesempatan kedua.

Kali ini, ia tidak ingin hanya menjadi orang terkaya di dunia.

Ia ingin menjadi seseorang yang, ketika waktunya kembali habis, tidak perlu menatap masa lalunya dengan penyesalan yang sama.

Namun, sebelum itu, masih ada banyak hal yang harus ia bangun.

Sebuah usaha kecil di Queens.

Persahabatan yang ingin ia pertahankan.

Kepercayaan seorang perempuan yang belum sepenuhnya mengenalnya.

Dan sebuah masa depan yang, meskipun pernah ia jalani, ternyata tidak sesederhana yang ia ingat.

Arthur memejamkan mata.

Besok, ia akan kembali bekerja.

Bukan untuk mengejar seluruh dunia sekaligus, melainkan untuk memastikan bahwa langkah kecil berikutnya benar-benar membawanya ke arah yang ia pilih sendiri.

1
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
mantap
Fauziah Daud
trusemangattt
saras
keren siiib ceritanya👍👍👍
saras
👍
saras
semangaaaaaat💪💪💪💪💪👍
saras
ssemangat tor
saras
🙏🙏💪
saras
👍
saras
👍💪
saras
👍
saras
novel yang bagus. lanjutkan tor semangat bikin cerita yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!