Bima Arka Pradipta , anak dari keluarga sederhana di pinggiran Manado. Keras kepala, tidak banyak bicara di luar lapangan tapi meledak-ledak di dalam lapangan. Hamstring putus , pensiun umur 34 tahun. Dikenal karena tendangan bebas melengkungnya dan loyalitasnya sama tim. Dari anak kampung yang main bola pakai kaki ayam -> ditolak akademi karena dianggap terlalu emosional -> bangkit setelah cedera parah di musim hujan -> jadi kapten yang mengangkat tim degradasi jadi juara.
"Bukan tentang seberapa keras kau terjatuh, tapi seberapa lama kau tetap berdiri di tengah hujan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SelToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 Debut Elite Pro - Lawan Mantan Tim dan Tendangan Bebas 30 Meter
3 bulan setelah dikontrak. Bima sekarang berumur 17 tahun.
Latihan di Sawangan sudah berbeda. Dia bukan lagi anak trial. Dia pemain inti Persija U-18. Nomor punggung 8. Bukan 10. Karena no 10 masih milik senior.
Farrel yang dulu pernah menyindirnya , sekarang jadi sahabatnya. Karena mereka sekamar. Farrel ajari Bima bahasa Jakarta , Bima ajari Farrel cara makan tinutuan pakai tangan.
Yudi dari Manado kirim wa "Aku so jadi kernet tetap. Gaji 1,5 juta. Aku nonton kau di tv nanti."
Jadwal Elite Pro sudah keluar. Match pertama : Persija U-18 vs Bhayangkara FC U-18. Match kedua : Persija U-18 vs Manado United U-18.
Ya. Manado United , tim lamanya Bima. Timnya Joshua , timnya Yudi yang sudah tidak main lagi.
Di mess , waktu dia melihat jadwal itu , Bima terdiam cukup lama.
Coach Sudirman panggil Bima ke ruangannya.
"Bima , match lawan Manado , kamu mau main atau tidak ? Kami bisa simpan kamu. Tidak enak kan melawan mantan tim."
Bima pakai kemeja kancing 2 itu lagi di dalam mess. Sudah dicuci Ibu lewat video call tutorial , tapi baunya masih ada laut sedikit.
"Main , Coach" kata Bima. "Saya harus main."
Hari match. Di stadion PTIK , Jakarta. Bukan GBK , tapi tetap ada 1.000 orang yang menonton. Banyak The Jak Mania kecil - kecil yang datang karena karcisnya gratis.
Di tim lawan , Manado United U-18. Bima melihat dari arah lorong.
Joshua ada. Pakai ban kapten. Nomor 10. Dia lebih tinggi sekarang. 174 cm. Rambutnya sudah tidak gondrong.
Joshua melihat Bima yang pakai jersey Persija. Mereka tidak berpelukan. Dia cuma mengangguk singkat. Sama seperti waktu di Tikala kalau habis berantem.
Pertandingan dimulai.
Babak pertama : Bima bermain jelek. Jelek sekali. Passing salah terus. Karena setiap kali dia dapat bola , dia melihat Joshua. Dia tidak tega.
Coach Sudirman marah - marah di pinggir lapangan : "BIMA! MAIN SEPERTI NELAYAN , BUKAN SEPERTI MANTAN PACAR!"
Skor 0-0 di babak pertama.
Di ruang ganti , Farrel siram kepala Bima pakai air botol.
"Eh nelayan , lu kenapa ? Ini bukan pertandingan reuni."
Bima melap kepalanya dengan handuk kecil. Dia ingat kata Bapaknya "Tendang seperti angin."
Angin tidak pilih - pilih mau menabrak siapa.
Babak kedua di menit ke 60 : Joshua mencetak gol untuk Manado United. Dari tendangan bebas juga. 0-1. Joshua tidak selebrasi. Dia cuma mengangkat tangan seperti meminta maaf ke arah Persija.
Di menit ke 78 : Persija mendapatkan tendangan bebas. Jarak 30 meter. Lebih jauh dari trial di Sawangan yang jaraknya hanya 28 meter. Ini yang terjauh seumur hidup Bima.
Posisi agak ke kiri. Angin stadion PTIK bertiup kencang. Bendera corner berkibar.
Semua pemain Persija sudah capek. Farrel yang jadi eksekutor , sudah keluar karena kram kakinya.
Bola di situ. Tidak ada yang ambil.
Coach Sudirman berteriak: "BIMA! KAU!"
Bima berjalan kearah bola. Di depan dia , ada pagar betis Manado United. Di situ juga ada Joshua yang menjadi pagar. Joshua melihat Bima. Mata mereka bertemu.
Joshua tahu Bima mau melakukan tendangan Pisang Raja. Karena mereka sudah pernah latihan bersama selama 4 tahun.
Bima mundur. Kali ini 5 langkah. Paling jauh yang pernah dia lakukan.
Wasit tiup peluit.
Bima berlari. Dia tidak melihat kearah gawang. Dia hanya melihat arah angin. Bendera corner bergerak ke kanan. Berarti angin ke kiri. Dia harus lawan arah angin.
Dia hantam. Bukan usap. HANTAM.
Bola naik. Tinggi sekali. Sampai lampu stadion kalah tingginya.
Kiper Manado United maju satu langkah , karena kira bola akan out jauh di atas gawang.
Lalu bola jatuh. Berbelok ke kanan. Lawan arah angin. Mustahil secara fisika. Tapi jatuh.
Pisang raja jatuh versi 30 meter.
GOL. Skor 1-1.
Stadion PTIK yang cuma 1.000 orang itu , suaranya sudah seperti 20.000 orang. Karena The Jak kecil - kecil itu berteriak "Nelayan! Nelayan!"
Bima tidak buka baju. Dia lari ke tengah lapangan. Dia angkat tangan. Bukan selebrasi. Dia mencari Joshua.
Joshua berjalan mendekat.
Mereka berdua berdiri di tengah lapangan. Skor 1-1. Waktu masih berjalan.
Joshua berkata "Anjing kau. 30 meter. Kapan kau belajar itu ?"
Bima menjawab "Waktu kau jadi kapten , kita belajar jadi no 10."
Mereka berpelukan sebentar.
Wasit suruh lanjut.
Di menit ke 89 : Bima assist. Persija menang dengan skor 2-1.
Setelah peluit terakhir , Bima tukar jersey sama Joshua. Jersey Persija No 8 ditukar sama jersey Manado United No 10.
Joshua pakai jersey Persija , Bima pakai jersey Manado United.
Di foto Manado Post besoknya , judulnya "2 Anak Tikala Tukar Nasib Di Jakarta."
Malam itu , Bima telepon Bapak.
"Pak , aku cetak gol 30 meter melawan Manado. Melawan Joshua."
Bapak di Tuminting yang lagi di atas Sinar Mira yang sekarang sudah jadi museum kecil , tidak dipakai melaut lagi , menjawab
"Bima , 30 meter itu jarak dari rumah kita ke bagang pertama. Berarti tendanganmu sudah sampai bagang. Bagus."
Bima lihat jersey Manado United No 10 yang ada di tangannya. Masih bau keringat Joshua. Bau Tikala.
Dia gantung di lemari mess , di sebelah kemeja kancing 2.
#####################################
Cukup sampai di sini dulu ya , besok lanjut lagi. Semoga suka , jangan lupa berikan saran , like dan hadiahnya
Happy reading