NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Dewi

Sistem Penakluk Dewi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:282
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERCAKAPAN SINGKAT DI PARKIRAN

Sore harinya, riuh rendah suara ratusan peserta seminar di aula utama gedung konvensi perlahan-lahan menyurut. Pintu-pintu kaca besar dibuka lebar, mengalirkan tumpukan manusia yang mulai melangkah keluar menuju pelataran parkir. Lampu-lampu sorot panggung dipadamkan satu per satu, menyisakan pendar lampu penerangan lorong yang hangat dan redup.

Enzo mengusap keringat tipis di pelipisnya seraya mendorong troli kebersihan menyusuri lorong belakang panggung. Shift kerjanya sebagai tenaga kebersihan lepas resmi berakhir tepat pukul lima sore. Dengan upah harian sembilan puluh ribu rupiah yang sudah mengantong aman di dalam saku celana jinsnya, dada pemuda itu terasa jauh lebih lapang. Meski bahunya terasa agak sengal akibat memanggul semen kemarin dan mengurus aula seharian, Enzo merasa puas karena seluruh kewajibannya hari ini telah tuntas tanpa cela.

Usai mengembalikan seragam biru tuanya dan mengenakan kembali kaus polos lamanya yang agak kusam, Enzo melangkah keluar melewati pintu samping menuju area parkir bawah tanah. Bau asap knalpot dan deru mesin mobil yang mengantre keluar memenuhi udara ruangan beratap beton tersebut. Enzo berjalan di trotoar pejalan kaki parkiran, berniat menuju gerbang luar untuk mencari angkutan umum jurusan pemukiman kontrakannya.

Namun, saat ia berbelok di persimpangan pilar beton nomor empat, pandangan mata Enzo menangkap sosok yang tak asing berdiri di dekat sebuah mobil SUV hitam yang mengilap.

Tante Elvira berdiri di samping bagasi mobilnya yang terbuka. Wanita anggun itu telah melepas jas abu-abu gelapnya, menyisakan kemeja sutra putih berlengan panjang yang bagian ujungnya sedikit digulung hingga ke siku. Sepatu hak tingginya menapak canggung di atas lantai beton parkiran yang agak licin. Di kedua tangannya, Elvira berusaha mengangkat sebuah kardus tebal berukuran besar yang penuh berisi jilid berkas seminar, plakat pameran, serta sampel produk sponsor yang cukup berat.

Di sampingnya, sekretaris pribadinya juga sedang kerepotan memegang tiga tas jinjing besar dan beberapa gulungan banner pameran yang berukuran panjang.

"Biar saya bawa kardus ini ke dalam bagasi dulu, Bu," cicit sekretarisnya dengan wajah agak pucat, kewalahan membagi tumpuan beban di tangannya.

"Tidak usah, kamu pegang saja banner itu biar tidak jatuh," balas Tante Elvira dengan suara alto yang napasnya sedikit terengah. "Kardus ini bisa saya angkat sendiri."

Elvira mencoba mengerahkan tenaganya untuk mengangkat kardus berat itu menuju bibir bagasi. Namun, sudut siku kardus yang tajam serta bobotnya yang berlebih membuat pegangan jemari lentiknya yang terbiasa memegang pulpen mendadak tergelincir. Kardus besar itu nyaris merosot menghantam lantai beton.

"Biar saya bantu, Bu," potong sebuah suara rendah yang tenang dari arah samping.

Sebelum kardus berat itu sempat membentur tanah, dua lengan tegap berlapis kaus polos kusam menyelinap cepat di bawah dasar kardus. Enzo menyangga beban berat itu dengan mudah, mengandalkan kekuatan otot lengan dan punggungnya yang sudah terbiasa memanggul beras dan semen di pasar induk.

Tante Elvira tersentak kaget, dengan cepat melepaskan cengkeramannya lalu mendongak. Sepasang mata tajam di balik kacamatanya membelalak tipis begitu mengenali pemuda yang berdiri di hadapannya.

"Enzo?" tegur Tante Elvira terkejut seraya merapikan rambut cokelat gelapnya yang sedikit berantakan.

"Iya, Bu," sahut Enzo tenang seraya mengangkat kardus tebal itu tanpa kesulitan berarti.

"Kamu belum pulang?" tanya Tante Elvira seraya memperhatikan kaus kusam yang dikenakan Enzo.

"Baru saja selesai rapikan alat kebersihan di ruang belakang, Bu," jawab Enzo ramah seraya menunjuk ke arah koridor panggung. "Kardus ini mau ditaruh di sebelah mana bagasinya?"

"Di... di sudut sebelah kiri saja, rapatkan ke sandaran jok," jawab Tante Elvira seraya menunjuk ke dalam bagasi mobilnya yang lapang.

Enzo melangkah satu tapak, menyusupkan kardus besar itu dengan perlahan ke dalam bagasi SUV tanpa membentur dinding mobil atau merusak tumpukan barang lain di dalamnya. Setelah memastikan posisinya stabil dan tidak akan bergeser saat mobil melaju, Enzo berbalik lalu menyambar gulungan banner berdiri yang hampir merosot dari pelukan sekretaris Elvira.

"Banner-nya biar ditaruh di samping kardus saja ya, Bu," kata Enzo seraya menyusun gulungan-gulungan itu dengan rapi di celah kosong bagasi.

Sekretaris Elvira menghembuskan napas lega yang amat panjang. "Terima kasih banyak ya, Mas Enzo..." bisiknya tulus seraya mengusap peluh tipis di dahinya.

"Sama-sama," balas Enzo ramah seraya menyunggingkan senyum tipis.

Enzo menutup pintu bagasi SUV tersebut hingga terkunci rapat dengan bunyi *klek* yang halus. Ia merapikan kaus kusamnya yang sedikit berdebu, lalu berbalik hendak pamit meninggalkan area parkir bawah tanah.

"Tunggu sebentar, Enzo," tahan Tante Elvira seraya melangkah dua tapak mendekat.

Wanita anggun itu menatap Enzo dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia memperhatikan bagaimana pemuda kebersihan ini tidak menunjukkan ekspresi kelelahan yang berlebihan meski baru saja mengangkat beban puluhan kilogram. Sikapnya tetap tenang, tegak, dan membumi.

Tante Elvira merogoh tas tangan kulit mewahnya, menarik keluar sebuah dompet tipis eksklusif, lalu mengambil selembar uang kertas bernilai seratus ribu rupiah yang masih baru dan renyah.

"Ini untuk kamu," kata Tante Elvira seraya menyodorkan lembaran uang merah itu ke arah Enzo. "Terima kasih sudah bantu merapikan bagasi saya."

Enzo melirik selembar uang seratus ribu rupiah di tangan Elvira. Bagi seorang pemuda pekerja lepas yang baru saja menyelesaikan shift berat demi upah sembilan puluh ribu rupiah, selembar uang itu tentu memiliki nilai yang sangat lumayan. Namun, Enzo tidak menggerakkan tangannya sedikit pun untuk meraih uang tersebut.

Enzo menatap mata Tante Elvira dengan pandangan jernih dan jujur.

"Tidak usah, Bu," tolak Enzo halus seraya menggelengkan kepalanya pelan.

"Kenapa?" tanya Tante Elvira seraya mengerutkan keningnya tipis, alisnya terangkat di balik kacamata keemasan.

"Saya bantu cuma karena kebetulan lewat dan melihat Ibu kerepotan," lanjut Enzo jujur tanpa ada rasa ragu.

"Ini bukan imbalan besar, Enzo. Cuma sekadar uang lelah atas bantuan kamu," paksanya pelan dengan nada suara yang biasa ia gunakan untuk mengatur orang lain di kantornya.

"Ibu sudah bayar upah kerja harian saya lewat panitia gedung," jawab Enzo lugas dan mantap tanpa ada nada tinggi. "Mengangkat kardus tadi cuma bantuan sesama manusia. Kalau saya ambil uang ini, rasa bantuannya jadi beda."

Jawaban Enzo yang sederhana namun sangat berprinsip itu membuat Tante Elvira tertegun seketika. Jemarinya yang memegang lembaran uang merah membeku di udara.

Sebagai seorang wanita pengusaha yang terbiasa bergerak di lingkungan bisnis korporasi yang keras, Elvira sangat paham bahwa hampir semua orang yang mendekatinya selalu memiliki pamrih. Kebanyakan pria atau pekerja yang berada di sekitarnya selalu mencari kesempatan untuk menarik perhatian, meminta imbalan materi, atau mengharapkan kemudahan karier dari posisinya yang tinggi.

Namun, pemuda di hadapannya ini menolak uang tunai di depan matanya tanpa ragu sedikit pun—bukan karena bersikap sombong atau pura-pura jual mahal, melainkan murni karena ia menghargai bantuan tulus sebagai bagian dari nilai kemanusiaannya sendiri.

Tante Elvira perlahan menarik kembali uangnya, memasukkannya kembali ke dalam dompet dengan gerakan pelan. Binar ketertarikan dan rasa hormat di sepasang matanya kini makin menyala terang.

"Kamu pemuda yang sangat langka, Enzo," ucap Tante Elvira pelan, nada suaranya berubah hangat dan tulus.

"Saya cuma pemuda biasa yang berusaha jujur sama diri sendiri, Bu," sahut Enzo seraya menyunggingkan senyum tipis yang ramah.

"Kalau begitu, saya pamit dulu. Permisi, Bu," pamit Enzo seraya menganggukkan kepalanya sopan ke arah Tante Elvira dan sekretarisnya.

Enzo berbalik melangkah tenang menyusuri lorong parkir menuju pintu keluar gedung.

Tante Elvira berdiri mematung di samping mobil SUV-nya, memperhatikan punggung Enzo yang tegap melangkah menjauh hingga sosok pemuda itu menghilang di balik tikungan pilar beton.

"Bu Elvira... anak muda itu beneran beda ya dari yang lain," bisik sekretarisnya seraya menatap ke arah kepergian Enzo.

"Iya," bisik Tante Elvira pelan seraya membetulkan letak kacamatanya.

"Dia punya sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang," sambung Elvira seraya menyunggingkan senyum tipis yang amat jarang terlihat.

Saat Enzo melangkah keluar dari pelataran parkir bawah tanah menyongsong hembusan angin sore yang sejuk di tepi jalan raya, ponsel tua di saku celana jinsnya bergetar halus dua kali secara berurutan.

Enzo merogoh benda itu, membuka layar retaknya yang menyala di bawah naungan pohon peneduh jalan.

[Pembaruan Data Target: Tante Elvira (41 Tahun)]

[Analisis Tindakan: Penolakan Imbalan Materi atas Bantuan Tulus.]

[Evaluasi Psikologis Target: Target mengagumi keteguhan prinsip, kejujuran tanpa pamrih, serta kedewasaan sikap Anda. Penghargaan Target terhadap nilai pribadi Anda meningkat drastis.]

[Keterikatan Tante Elvira Meningkat: 15% -> 22%]

[Catatan Tambahan: Kehadiran Anda dalam tim logistik pameran UMKM minggu depan telah dikonfirmasi secara pribadi oleh Target.]

Enzo menyunggingkan senyum tipis yang membumi, mematikan layar ponsel tuanya, lalu menyusupkannya kembali ke dalam saku. Dengan langkah kaki yang mantap dan hati yang lapang, pemuda itu berjalan menyusuri trotoar menuju halte angkutan umum, siap untuk pulang dan menyongsong hari esok.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!