Sinopsis
Zain Arvendra Atmaja, seorang remaja yang seakan tak pernah lelah terlibat masalah di sekolahnya. Setelah berbagai kejadian yang menumpuk, ayahnya akhirnya mengambil keputusan Zain harus pindah ke sebuah SMA berbasis asrama yang dikenal mampu membimbing anak-anak yang sedang kehilangan arah.
Awalnya Zain menolak keras. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan mulai menerima kenyataan itu. Di asrama inilah ia bertemu dengan Vanya, seorang gadis ceroboh yang dengan polosnya kerap menyeret Zain ke dalam berbagai situasi baru yang tak terduga.
Cerita terasa semakin rumit ketika Keira Cattleya Wiratama, kekasihnya yang selama ini jauh dari sana, tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke asrama yang sama pula.
Tiga orang, satu atap, dan hati-hati yang mulai saling bersilang. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ? Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 PINTU YANG TERBUKA UNTUK DUNIA BARU
Keesokan paginya, koper besar sudah siap berdiri di ruang tamu dan perjalanan tidak memakan waktu lama. Jalan-jalan yang ia lewati masih sangat ia kenal, hingga akhirnya, gerbang asrama itu mulai terlihat di kejauhan, berdiri di antara pepohonan yang rindang. Zain menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu melangkah keluar dari mobil menuju pintu gerbang yang akan membawanya ke kehidupan yang baru.
Zain berdiri di depan gerbang asrama yang kokoh itu, menatap papan nama bertuliskan SMA Harapan Bangsa yang terlihat bersih dan rapi. Ayah membuka bagasi mobil, mengangkat koper besar Zain ke tanah.
"Masuklah, Zain. Semuanya akan baik-baik saja di sini" Ucap Danuel sambil menepuk pelan bahu anaknya.
Zain mengangguk pelan, namun hatinya terasa berat sekali. Ia memeluk ayah sebentar, lalu mengambil alih gagang kopernya. Saat mobil ayah perlahan menjauh, Zain berdiri sendirian di sana, menatap mobil yang menghilang di tikungan jalan. Rasanya seperti satu-satunya tautan dengan dunia lamanya baru saja pergi meninggalkannya.
Dengan langkah ragu, Zain melangkah masuk melewati gerbang itu. Halaman asrama luas dan tertata rapi. Beberapa siswa berjalan berkelompok, ada yang tertawa, ada yang membawa buku menuju gedung utama dan semua terasa asing. Zain berjalan sendirian, menarik kopernya di sepanjang jalan setapak yang berbatu, menatap ke kiri dan ke kanan seakan takut salah melangkah.
Sesampainya di ruang administrasi, seorang petugas menyambutnya dengan ramah.
"Selamat datang, Zain Arvendra Atmaja. Kamar kamu sudah siap dan kamu menempati kamar 203, di lantai dua. Ini kuncinya, di sana ada tiga teman sekamarmu yang lain dan semuanya sudah datang sejak kemarin" Jelas Petugas
Zain menerima kunci itu dengan canggung.
"Terima kasih" Ucap Zain
Zain berjalan menuju gedung asrama, lorong lantai dua terasa hening. Saat ia berdiri di depan pintu bernomor 203, jantungnya berdebar tak menentu. Ia menarik napas dalam, lalu mengetuk pintu pelan.
"Masuk saja, pintunya tidak terkunci" Suara seseorang terdengar dari dalam.
Zain membuka pintu perlahan, 3 pasang mata langsung beralih ke arahnya. Ruangan itu bersih dan terang, dengan empat tempat tidur yang tertata rapi.
"Hai, kamu penghuni baru ya ?" Tanya seorang anak laki-laki berbadan tegap sambil tersenyum ramah.
"Namaku Rian, selamat datang" Tambahnya
"Aku Bima," Ucap Anak laki-laki yang sedang merapikan bukunya di meja, suaranya lembut dan tenang.
"Saya Dimas" Ucap anak ketiga yang duduk di tepi jendela, menatap Zain dengan senyum tipis namun tulus.
Zain berdiri di ambang pintu, merasa canggung sekali.
"Saya Zain" Ujar Zain sambil tersenyum
"Taruh barangmu di sana, tempat tidur di dekat jendela itu kosong buat kamu" Tunjuk Rian.
"Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri ya" Ucap Dimas
Zain mengangguk pelan, lalu meletakkan kopernya di samping tempat tidur yang baru saja ditunjuk itu. Ia merasa asing di antara mereka tapi mereka terasa begitu dekat satu sama lain, sementara ia masih merasa seperti orang asing yang baru saja masuk ke dalam kehidupan mereka.
*****
Sore itu berlalu dengan canggung, Zain lebih banyak dia mendengarkan cerita mereka yang saling mengenal sejak awal masuk asrama. Ia merasa seperti orang yang tidak diundang, namun di saat yang sama, ada sesuatu yang aneh tidak ada satu pun dari mereka yang bertanya ‘Kenapa kamu dikirim ke asrama? atau ‘Kamu bermasalah ya di sekolah sebelumnya?’
Malam harinya, saat lampu mulai diredupkan, Zain berbaring menatap langit-langit kamar. Dari jendela, ia bisa melihat sebagian langit kota yang masih ia kenal. Ia belum jauh dari rumah, tapi rasanya dunianya sudah berbeda. Tiba-tiba suara Dimas terdengar pelan dari arah tempat tidurnya.
"Zain, tidur nyenyak ya. Besok akan terasa lebih mudah, percayalah" Celetuk Dimas
Zain tertegun sejenak, lalu menjawab pelan
"Terima kasih" Jawab Zain
Kata-kata sederhana itu terasa seperti jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam kesepian malam pertamanya di tempat yang baru.
😏 jdi jalanin seadanya aja, gk usah milih
hehe pis ya mas Zain...