32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.
Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.
Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Vivi langsung terdiam. Karena sejak datang ke rumah ini, ia belum genap beberapa jam menjadi ibu tiri. Ia bahkan baru bertemu anak-anak itu malam ini. Tetapi kini ia ditanya seolah kegagalan itu sepenuhnya kesalahannya.
Sementara Sean dan saudara-saudaranya diam. Mengamati. Menunggu. Dan untuk pertama kalinya, Vivi menyadari sesuatu yang lebih menakutkan daripada penolakan anak-anak. Baskara tampaknya menganggap semua ini adalah tugasnya seorang diri. Padahal ia sendiri belum pernah mengajarinya bagaimana menghadapi lima anak yang sudah sepakat untuk tidak menerima dirinya.
Vivi menahan semua perasaannya. Ia tidak ingin berdebat di depan anak-anak. Karena sebagai guru, ia tahu satu hal anak-anak selalu memperhatikan bagaimana orang dewasa saling memperlakukan. Jika malam ini ia dan Baskara beradu argumen, maka Sean dan saudara-saudaranya akan langsung tahu di mana titik lemahnya.
Vivi tersenyum tipis. "Aku coba sekali lagi."
Baskara tidak menjawab. Ia hanya menyilangkan tangan di dada. Mungkin menunggu. Mungkin menguji. Sementara lima anak itu tampak puas. Terutama Sean. Seolah mereka baru saja memenangkan ronde pertama.
Vivi lalu berjalan ke tengah ruang keluarga. Bukannya memaksa. Bukannya mengancam. Ia justru duduk di karpet. Tepat di depan mereka. Tindakan itu membuat Sean mengernyit. Yuan menurunkan bukunya. Bahkan Saka berhenti memainkan mainannya. "Aku mau tanya sesuatu."
Tidak ada yang menjawab. Tetapi mereka mendengarkan.
"Kalau besok pagi kalian terlambat bangun, siapa yang rugi?"
"Aku nggak pernah telat," jawab Sean.
"Bagus." Vivi mengangguk. "Kalau mengantuk saat jam pelajaran?"
"Saya tetap bisa belajar."
"Itu juga bagus."
Sean mulai curiga. Pembicaraan ini terlalu tenang. Terlalu mudah.
Vivi lalu menoleh ke Yuan. "Kalau nilai ulangan turun karena kurang tidur?"
"Nggak bakal turun."
"Hebat." Kemudian ia menoleh ke Saka. "Kalau besok ngantuk pas jadwal jalan-jalan?"
Saka membuka mulut. Lalu menutupnya lagi. Karena ia tidak tahu harus menjawab apa.
Vivi tersenyum. Lalu berdiri. "Baiklah." Anak-anak saling berpandangan. Mereka menunggu kelanjutannya. Dan saat itulah Vivi mengeluarkan jurus yang tidak mereka duga. "Mulai besok aku akan bangun jam lima pagi."
Sean mengangkat alis. "Lalu?"
"Aku akan menyiapkan sarapan sendiri." Tidak ada yang mengerti arah pembicaraannya. "Kalian boleh ikut." Masih tidak ada reaksi. "Tapi cuma yang bangun sebelum jam enam."
Saka mulai memperhatikan. "Kalau bangunnya lewat?"
"Ya sudah." Vivi mengangkat bahu. "Berarti nggak ikut."
Sean menyipitkan mata. "Apa istimewanya? Aku belum tahu."
"Karena yang ikut boleh memilih menunya."
Kini bahkan Yuan terlihat tertarik. Sebagai anak-anak, mereka langsung membayangkan kemungkinan yang menyenangkan. Pancake? Mie? Nugget? Roti bakar?
Sementara Vivi melanjutkan dengan nada santai. "Tapi yang pasti, yang bangun kesiangan nggak boleh protes. Hanya sarapan susu dan pisang."
Saka langsung protes. "Itu curang."
"Nggak." Vivi tersenyum manis. "Itu konsekuensi."
Sean mulai menyadari sesuatu. Wanita ini tidak sedang memerintah. Ia sedang memindahkan permainan ke wilayah yang ia kuasai.
Vivi lalu melihat jam dinding. "Sudah hampir jam sepuluh. Ia melipat tangan. "Kalau kalian mau bangun pagi dan memilih menu sarapan, silakan tidur."
"Lalu kalau nggak mau?" Sean menantang.
Vivi tersenyum lebih lebar. "Ya nggak apa-apa. Aku nggak akan rugi karena aku akan masak menu kesukaanku saja. Hmmm, mungkin aku akan masak yang agak pedas karena aku suka pedas."
Anak-anak terdiam. "Tapi jangan marah kalau besok yang lain makan sesuatu yang mereka pilih."
Saka langsung menoleh ke Sean. Yuan ikut berpikir. Ella mulai bimbang. Bahkan Lili yang setengah mengantuk menggumam, "Aku mau pancake..."
Sean menghela napas panjang. Ia tahu persis apa yang baru saja terjadi. Tidak ada ancaman. Tidak ada bentakan. Tidak ada hukuman. Tetapi kalau mereka tetap bertahan di ruang keluarga, mereka sendiri yang rugi. Dan lebih parah lagi Kalau adik-adiknya masuk kamar, ia akan sendirian.
"Yuk tidur," kata Ella tiba-tiba. "Aku mau pancake."
"Aku juga," sahut Saka.
Yuan menutup bukunya. "Kalau begitu kita tidur."
Sean menatap satu per satu saudara-saudaranya yang berkhianat dengan sangat cepat. Lalu menatap Vivi.
Vivi hanya tersenyum. Tidak menang. Tidak mengejek. Hanya tersenyum. Dan itulah yang paling menyebalkan. Karena Sean sadar ia baru saja kalah. Tanpa dimarahi. Tanpa dipaksa. Tanpa bisa membantah.
Beberapa menit kemudian, kelima anak itu benar-benar berjalan menuju kamar. Ruang keluarga akhirnya kosong.
Baskara yang sejak tadi mengamati dari jauh tampak terkejut. "Kok bisa?"
Vivi menatapnya. Lalu menjawab santai, "Aku guru. Guru yang diberkahi." Vivi memberi isyarat hormat dengan tangannya. Setelah itu ia ikut berjalan menuju lantai atas. Meninggalkan Baskara yang masih berdiri memandangi tangga.
Sementara di dalam kamar, Sean menatap langit-langit dengan kesal. Karena untuk pertama kalinya sejak sekian lama ada orang dewasa selain nenek mereka yang berhasil membuat mereka patuh. Dan orang itu bahkan tidak perlu meninggikan suara. Skor sementara: Vivi 1 - 0 Anak-anak Baskara.
***
Baskara masih berdiri di dekat ruang kerjanya ketika langkah kaki terdengar dari arah tangga. Ia menoleh. Vivi muncul dengan ekspresi lelah. Tetapi juga sedikit puas. Bagaimanapun, ia baru saja berhasil membawa lima anak keras kepala ke kamar tanpa keributan. "Anak-anak sudah tidur."
Baskara mengangguk. "Bagus."
Beberapa detik berlalu sebelum Vivi kembali membuka suara. "Nah, sekarang bisa tunjukkan kamarku di mana? Aku tidak mau bangun terlambat dan akhirnya tidak bisa memilih harus sarapan apa." Vivi nyengir, Baskara pun sama.
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Sangat wajar. Karena sejak datang ke rumah itu, ia bahkan belum sempat melihat kamar yang akan ditempatinya. Baskara terlihat berpikir sesaat. Kemudian ia mengangkat tangan dan menunjuk ke arah koridor sebelah kanan. "Ada kamar tamu di ujung sana."
Vivi mengikuti arah telunjuknya. Lalu menoleh kembali. "Kamar tamu?"
"Iya, kamu bisa tidur di sana dulu malam ini."
Vivi berkedip sekali. Dua kali. Berusaha memastikan ia tidak salah dengar. "Malam ini?"
"Iya." Jawaban Baskara begitu datar. Seolah sedang membicarakan pengaturan kamar biasa. Bukan malam pertama pernikahan mereka.
Vivi menatapnya beberapa detik. Lalu tertawa kecil. Tawa yang lebih mirip ketidakpercayaan. "Tunggu."
Baskara mengangkat alis.
"Pengantin baru..." Vivi menunjuk dirinya sendiri. "disuruh tidur di kamar tamu?"
Baskara tampak tidak mengerti kenapa itu menjadi masalah. "Untuk sementara."
"Untuk sementara berapa lama?"
"Aku belum memikirkannya."
Jawaban itu hampir membuat Vivi kehilangan kata-kata. Ia memandang lelaki di depannya. Suaminya. Pria yang beberapa jam lalu mengucapkan akad nikah dengannya. Pria yang sekarang berbicara seolah mereka adalah dua orang yang kebetulan tinggal serumah.
Vivi menghela napas panjang. "Baskara. Aku tahu pernikahan ini mungkin tidak ideal buat kita berdua. Aku juga tahu kamu belum sepenuhnya siap." Masih diam. "Tapi setidaknya aku berharap statusku sedikit lebih tinggi daripada tamu."
demi keluarga mantan mertua dia malah mengkhianati amanah ibu sendiri,,
bloon banget
baskara sebagai suami tidak menjalankan amanah dgn baik