Renzo, mantan prajurit elite nomer satu indonesia dengan julukan beruang baja, dipenjara di Nusakambangan setelah membantai geng yang membunuh tunangannya. Ia berniat hidup tenang, sampai kabar adiknya dianiaya anak pejabat tertinggi dan keluarganya di sembunyikan membangkitkan amarahnya. Diliputi amarah, Renzo mengumpulkan para tahanan paling berbahaya—algojo kartel, yakuza, psikopat, ahli kungfu, hingga perancang bom—membentuk geng kriminal paling berbahaya dalam sejarah untuk kabur dari penjara, membalas dendam, dan menumbangkan penjahat manipulatif yang bahkan dilindungi pasukan militer!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kabutmalam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMIMPIN BLACK DRAGON
Suasana hening, sangat hening..
Pria botak itu tampak gemetar hebat hingga tak sadar pipis di celananya, matanya bolak-balik menatap mayat Jordi lalu ke arah Renzo yang masih berbaring santai seakan tak terjadi apa-apa. Otaknya masih belum sanggup mencerna adegan mengerikan yang baru saja berlalu di hadapannya. Namun saat pandangannya jatuh pada luka terbuka di tubuh Jordi, rasa ngilu seketika menjalar sekujur tulang punggungnya hingga ia berteriak refleks.
"Aaaargghhh...!!!" Teriaknya memecah kesunyian.
Belum sempat suaranya habis bergema, Renzo bangkit seketika bagai arus badai. Ia menerjang maju tanpa peringatan, satu tendangan keras mendarat tepat di wajah pria botak itu hingga tubuhnya terlempar melayang ke belakang, jeritannya terputus seketika. Belum sempat punggungnya menyentuh lantai, Renzo kembali bergerak secepat kilat — tangannya mencengkeram kepala pria itu erat bagaikan cakar beruang raksasa yang tak akan pernah melepaskan mangsanya.
DUGGG... KRAAAKK..!!!
Lututnya terangkat tinggi lalu menghantam wajah pria botak itu sekuat tenaga. Tulang pipi, hidung, dan rahangnya seketika hancur berantakan dihantam benturan keras. Darah segar menyembur membasahi wajah dan lantai batu di bawahnya — wajah itu kini tak lagi berbentuk manusia, persis seperti baru saja dihantam palu godam berulang kali.
Kesembilan tahanan yang tersisa hanya terpaku mematung, napas tertahan di kerongkongan. Tak lama berselang, satu per satu tubuh mereka ambruk jatuh pingsan ke lantai sebelum sempat merasa mual atau muntah, begitu besar ketakutan yang mencengkeram jiwa mereka.
Belum usai deretan maut itu, pintu sel terbuka paksa. Para sipir yang mendengar kegaduhan menyerbu masuk, namun langkah mereka terhenti mendadak di ambang pintu. Seluruh tubuh kaku terpaku melihat pemandangan di lantai — dua mayat tergeletak berlumuran darah, nyaris tak tersisa ruang bersih di lantai batu itu.
Di tengah genangan darah itu, Renzo berdiri diam tegak bagai menara batu. Tak bernapas berat, tak berkeringat, tak menampakkan sedikit pun gelagat emosi. Ia berdiri tenang di sana bagaikan dewa maut yang baru turun ke bumi untuk memanen nyawa dan kini sedang menunggu perintah selanjutnya.
"Jatuhkan dia!" Suara tegas salah satu sipir menggema memecah kebekuan itu.
Enam orang sipir bergegas mendekat dan menjatuhkan Renzo ke tanah, namun Renzo tak melawan sedikit pun. Tangan dan kakinya segera diborgol rapat, rantai besi berdenting dingin mengikat tubuhnya kuat-kuat. Ia membiarkan semuanya dilakukan tanpa perlawanan, tatapannya tetap datar menatap lantai.
Tak lama kemudian masuklah seorang sipir berpangkat tinggi, langkahnya cepat penuh amarah. Saat melihat keadaan di dalam sel itu, wajahnya seketika membiru menahan murka.
"Sudah aku duga sejak awal! Menempatkan monster ini bersama Jordi bukanlah ide yang bijak! Namun Kepala Lembaga Pemasyarakatan tetap bersikeras menyetujuinya!" Bentaknya keras. "Orang ini seharusnya langsung dimasukkan ke sel isolasi lantai dua atau tiga! Kenapa malah dikirim ke sel biasa?"
Petugas yang dimaksud menunduk canggung, senyumnya kaku tak menentu, "Kepala Lapas menduga Renzo hanya bertindak sesaat karena didorong emosi, Pak. Beliau dahulu adalah prajurit yang jujur dan terpuji.. sehingga Kepala Lapas ingin memberinya kesempatan kedua. Lagipula penghuni lantai dua dan tiga semuanya penjahat kelas berat yang sangat brutal dan terbiasa berlumuran darah.."
Sipir berpangkat tinggi itu mendengus tajam dingin, matanya melotot tak percaya, "Brutal? Kau menyebut apa yang dilakukannya barusan TIDAK BRUTAL?! Masihkah kau percaya ia sekadar pemuda polos? Ia bukan lagi prajurit jujur yang kau kenal dulu! Ia kini binatang buas yang akan membunuh siapa pun ketika ia merasa sedikit saja terganggu!"
Ia menatap Renzo yang sedang diseret melewati lorong dengan pandangan tajam menilai bahaya, namun wajah Renzo tetap datar tanpa ekspresi, tak peduli ke mana kakinya melangkah.
"Renzo jauh lebih berbahaya daripada seluruh penghuni lantai atas," gumamnya pelan namun mantap. "Kau tak tahu masa lalunya. Ia adalah mesin pembunuh buatan militer yang paling mematikan. Bukan sekadar impulsif — ia bagai kawanan serigala yang telah lama dikurung dalam belenggu, begitu ia merasa muak dan memutus rantainya, tak ada satu pun yang mampu menahannya kembali."
Pegawai di sampingnya menelan ludah perlahan mengangguk paham, bulu kuduknya merinding seketika.
"Baik," Sipir berpangkat tinggi menatap catatan di tangannya, "ke mana lagi kita bisa mengurungnya?"
"Seluruh ruang di lantai lima sudah penuh, Pak. Hanya satu sel tersisa — nomor 502."
Mata sipir itu menyipit tajam, sejenak terdiam mempertimbangkan.
"Hmm... 502. Baiklah. Masukkan dia ke sana. Biarkan ia merenung di sana dulu, setidaknya dua hari sebelum aku putuskan langkah selanjutnya."
Renzo diseret melewati lorong panjang menuju tangga ke lantai lima. Tujuh gerbang besi berat dibuka satu per satu di hadapannya, berdentang beriringan kedengkian seakan memberi hormat pada sosok maut yang lewat. Semakin naik semakin sunyi, semakin dingin udara menusuk tulang.
Berbeda dengan sel padat di lantai bawah, lantai lima justru sepi dan lengang. Tak ada ruangan besar berisi belasan tahanan. Hanya dua sel besar yang saling berhadapan di ujung lorong panjang, masing-masing berisi satu penghuni — benar-benar terpisah dari dunia luar.
Sesampainya di sel 502, pintu besi berat terbuka berdecit nyaring. Renzo didorong masuk ke dalam, lalu pintu ditutup rapat kembali di belakang punggungnya. Tanpa sepatah kata pun para sipir berbalik pergi, langkah kaki mereka menjauh cepat seakan tak sabar menjauhi tempat itu.
Kini benar-benar sepi. Hening mencekam menyelimuti ruangan batu dingin itu. Renzo perlahan memandangi sudut demi sudut sel barunya. Sempit, lembap, gelap, dan sejuk menusuk hingga ke tulang. Namun perlahan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang dingin.
"Lumayan," gumamnya pelan berbisik pada diri sendiri, "dua nyawa ganti kamar sendirian. Tidak buruk sama sekali."
Ia menjilat sisa darah yang menempel di kuku jarinya, lidahnya merasakan rasa manis darah itu tanpa mengubah ekspresi sedikit pun. Ia masih belum paham mengapa justru dijatuhi hukuman mati yang ditangguhkan, bukan langsung dieksekusi di tempat seperti seharusnya. Namun itu bukan urusannya sekarang. Ia tahu satu hal pasti — hidup... ternyata jauh lebih menyakitkan daripada mati. Dan memang pantas ia menanggung semuanya.
Pandangannya perlahan beralih ke seberang sel. Di sana, bersandar tenang di dinding batu dingin, berdiri sesosok pria kekar berbadan lebar penuh otot menonjol. Di wajahnya melingkar tato naga hitam besar dari pelipis turun melintasi pipi hingga rahang, seakan naga itu sedang merayap hidup di bawah kulitnya. Pria itu tersenyum lebar penuh arogan menatap Renzo, matanya menyala tajam dan penuh intimidasi.
Renzo diam saja menatap balik tajam, tak berkedip sedikit pun.
"Sel 502 untuk si 'Beruang Baja'? Sungguh kelakar luar biasa," ucap pria kekar itu suaranya berat bergema di ruangan sempit, "mantan pahlawan perang kini mendekam di sel paling dalam penjara negara. Beginikah caranya negara membalas bakti setiamu, Renzo?"
Renzo tak menjawab sepatah kata pun, namun di dalam benaknya namanya langsung muncul jelas tanpa diundang.
"Ivan Dragos... Pemimpin tunggal Geng Black Dragon. Orang paling gila bertarung yang pernah kutemui. Bahkan saat dikepung pasukan militer lengkap, ia tetap membunuh lima puluh prajurit bersenjata hanya dengan tangan kosong sebelum akhirnya tumbang." Batin Renzo yang mengenali pria itu.