Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.
Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.
Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.
Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.
Arka bukan sekadar mahasiswa.
Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.
Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.
Karena mencintai seseorang ternyata mudah.
Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Udara Segar Bernama Arka — Part 2
Ia melangkah mendekati bangku panjang itu untuk duduk. Namun, tepat sebelum ia sampai, langkahnya terhenti.
Ada seseorang yang sudah duduk lebih dulu di ujung bangku sana.
Seorang pria sedang duduk dengan kaki menyilang santai, memangku sebuah laptop. Tas ransel hitam tergeletak di samping kakinya. Segelas kopi es bertengger manis di sebelahnya.
Alya terdiam kaku.
Pria itu belum menyadari kehadirannya, ia sedang sibuk mengerutkan dahi menatap layar.
Namun, seolah menyadari ada yang memperhatikannya, pria itu perlahan mengangkat wajahnya.
Mata mereka bertubrukan.
Arka.
Keduanya terdiam mematung.
Arka mengerjapkan mata melihat Alya yang berdiri di ujung taman. Alya membalas tatapannya dengan alis terangkat.
Lima detik hening berlalu diiringi suara angin.
Akhirnya, Arka memecah kecanggungan itu. "Jangan bilang kalau kita kebetulan ketemu lagi."
Alya tidak bisa menahannya. Ia tertawa lepas. "Tahu nggak, justru kalimat itu yang barusan mau saya bilang ke kamu."
Arka tersenyum kecil, lalu menutup perlahan layar laptopnya. "Kamu beneran lagi syuting di kampus saya?"
Alya melangkah maju dan duduk di ujung bangku yang kosong, menjaga jarak namun tetap dalam radius mengobrol. "Iya. Kenapa? Keganggu ya?"
"Enggak juga. Tadi pagi pas baru datang saya sempat lihat keramaian truk produksi kalian di depan."
"Terus kamu nggak penasaran datang buat lihat syutingnya?"
Arka menggeleng. "Enggak."
"Kenapa?"
Arka menunjuk laptopnya yang tertutup dengan dagunya. "Masa depan saya bergantung pada skripsi sialan ini. Nggak ada waktu buat lihat syuting."
Alya menatap wajah Arka lekat-lekat. "Kamu selalu sibuk tiap kali kita ketemu."
"Namanya juga nasib mahasiswa tingkat akhir, Mbak Alya."
"Lebih capek mana, ngerjain tugas akhir atau kerja?" pancing Alya.
Arka menoleh. "Lumayan bikin rambut rontok. Kalau kamu mau tukar posisi pekerjaan, saya bisa pertimbangkan dengan tangan terbuka."
Alya kembali tertawa renyah. "Nggak mau."
"Kenapa?"
"Menurutku, berhadapan sama dosen pembimbing itu jauh lebih menakutkan daripada sutradara galak."
Arka mendengus geli. "Sangat valid."
Alya bersandar ke punggung bangku. Angin kampus berhembus lembut, menerbangkan beberapa helai rambutnya yang sedikit berantakan.
Untuk beberapa menit, tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Anehnya, suasana diam itu tidak terasa canggung. Alya justru menemukan kedamaian dalam keheningan tersebut.
Biasanya, setiap kali ia berada di ruang publik atau bertemu orang baru, suasana selalu diwarnai oleh ekspektasi. Ada tatapan memuja. Ada orang yang sibuk memotretnya diam-diam. Ada yang memberondongnya dengan pertanyaan sok akrab tentang proyek terbarunya.
Tapi mahasiswa cuek di sebelahnya ini?
Arka hanya memandangi pohon di depan mereka sejenak, lalu kembali membuka laptopnya, tenggelam lagi dalam dunianya sendiri. Keberadaan seorang bintang papan atas di sebelahnya benar-benar dianggap bukan sesuatu yang spektakuler.
Alya akhirnya membuka suara lagi, suaranya sedikit lebih pelan.
"Arka, kamu beneran nggak penasaran soal dunia syuting?"
Arka berhenti mengetik dan menoleh. "Maksudnya?"
"Syuting itu gimana, cara kerjanya gimana..."
"Oh, itu." Arka mengangkat bahu. "Sebenarnya penasaran sih, dikit."
Alya terlihat sedikit terkejut. "Oh ya? Terus kenapa dari pagi kamu nggak nyoba mendekat ke lokasi?"
Arka menunjuk kepalanya sendiri. "Karena saya tahu, kalau mahasiswa kayak saya tiba-tiba nongol di set orang profesional yang lagi kerja, kemungkinan besar malah bikin rusuh atau ngeganggu."
Alya tersenyum.
"Jawaban kamu unik."
"Uniknya di mana?"
"Biasanya, orang yang penasaran itu bakal maksa ngintip atau bergerombol nyari celah walau dilarang kru."
"Rasa penasaran saya masih bisa dikalahkan sama rasa sungkan, dan rasa takut direvisi." Arka menyeringai tipis.
Alya tertawa kecil. Matanya lalu beralih menatap gelas plastik kopi di samping tas Arka.
"Masih suka kopi hitam?"
Arka melirik kopinya, lalu mengangguk. "Kamu ingat?"
"Tentu." Alya tersenyum miring. "Waktu di kedai kopi kemaren, aku lihat pesanan kamu."
Arka membalas tatapannya dengan sorot mata tenang. "Kamu mengamati."
Alya terdiam sebentar, merasa sedikit tertangkap basah. "Entah kenapa, saya kebetulan ingat aja."
Arka tidak menanggapi lebih jauh dan kembali fokus pada layarnya.
Namun, Alya justru tidak bisa mengalihkan pandangannya dari profil wajah Arka.
Ada sesuatu yang sangat berbeda dari pria muda ini. Ia tidak berusaha melontarkan kalimat manis untuk membuat Alya terkesan. Ia tidak curi-curi pandang untuk mengambil foto. Bahkan di saat penampilan Alya mungkin tidak sesempurna seperti di depan kamera karena stres, Arka tetap memperlakukannya dengan level yang sama.
Bukan sebagai objek tontonan. Tapi murni sebagai seseorang yang kelelahan dan sedang duduk di satu bangku panjang dengannya.
Alya membuang napas pelan.
"Arka."
"Hm?" Arka menjawab tanpa menoleh.
"Kalau kamu lagi ngelihat ada orang yang kerjanya di dunia sepertiku... dan orang itu lagi kelihatan capek banget, biasanya kamu bakal ngomong apa ke dia?"
Ketukan jari Arka di keyboard terhenti. Ia menutup laptopnya perlahan, menoleh penuh, dan menatap lurus ke dalam mata Alya yang terlihat kelelahan.
"Saya cuma bakal suruh dia istirahat."
Alya tersenyum getir. "Sesederhana itu?"
"Iya."
"Enggak ada kalimat motivasi kayak, 'Anda harus tetap semangat', atau 'Tunjukkan profesionalisme Anda'?"
Arka menggeleng pelan dengan ekspresi serius. "Kalau orangnya udah capek secara fisik dan mental, dikasih kalimat motivasi kayak gitu ya percuma. Malah jadi beban tambahan."
Alya tertegun kaku.
Jawaban Arka yang terlampau polos dan apa adanya itu, entah kenapa justru menghantam pertahanannya. Ribuan pujian yang ia terima setiap hari mendadak terasa tak ada harganya dibandingkan satu kalimat sederhana yang memanusiakannya barusan.
Beberapa detik keheningan mengudara, sebelum akhirnya Alya berbisik pelan.
"Terima kasih."
Arka mengerutkan dahi bingung. "Untuk?"
"Nggak tahu. Makasih aja." Alya menunduk sambil tersenyum tulus.
Arka mendengus geli. "Aneh."
Alya ikut tertawa kecil. "Mungkin."
Tiba-tiba, dari kejauhan suara teriakan memecah kedamaian mereka.
"Mbak Alya! Mbak Alya!"
Alya dan Arka serempak menoleh. Asistennya terlihat berlari-lari kecil ke arah taman sambil melambaikan tangan.
"Mbak Alya, maaf ganggu. Kita udah ready buat take adegan berikutnya."
Alya menarik napas panjang dan berdiri perlahan. Kepribadian profesionalnya kembali dihidupkan. "Oke, saya ke sana sekarang."
Asisten itu mengangguk dan berjalan mendahului.
Alya merapikan lipatan bajunya, lalu menatap Arka yang masih duduk di bangku. "Saya harus kembali kerja."
Arka membalas tatapannya, mengangguk kecil. "Semoga sisa syutingnya lancar hari ini."
"Doakan saja."
"Pasti."
Alya tersenyum hangat, lalu mulai memutar langkah berjalan pergi.
Namun baru sekitar tiga meter melangkah, Alya berhenti. Ia membalikkan badannya menghadap Arka.
"Arka."
Pria itu mendongak dari laptopnya. "Ya?"
"Filmku yang kemarin..." Alya sengaja menggantung kalimatnya sambil tersenyum usil. "Jangan lupa ditonton."
Arka tertawa kecil, suara baritonnya terdengar hangat. "Oke. Nggak akan lupa."
Alya akhirnya benar-benar berjalan pergi.
Arka masih diam di tempat, menatap punggung ramping wanita itu yang semakin menjauh selama beberapa detik. Setelah sosoknya hilang tertutup belokan gedung, Arka kembali fokus ke laptopnya.
Entah kenapa, ada perasaan aneh yang sedikit berbeda dari pertemuan singkat kali ini. Bukan perasaan bangga karena bisa duduk berdua dengan artis kelas A. Melainkan karena untuk sepuluh menit barusan... mereka hanyalah dua manusia normal yang sama-sama ingin melarikan diri dari pusingnya pekerjaan masing-masing.
Sementara itu, Alya telah kembali memasuki zona tempur di lokasi syuting.
Begitu ia tiba di depan kamera, sutradara langsung menghampirinya dengan ekspresi cemas.
"Al, udah lebih mendingan?"
Alya menarik napas dalam, merilekskan bahunya. Sebuah senyum percaya diri terbit di wajahnya. "Sudah, Mas."
"Siap take yang tadi ya?"
"Siap."
Lampu kembali menyorot terang. Suara aba-aba diucapkan.
"Roll! Action!"
Alya masuk ke dalam adegannya. Namun kali ini, penampilannya terasa sangat berbeda. Emosinya lebih mengalir, ekspresinya lebih hidup, dan artikulasinya terdengar lebih tenang. Rasa penat yang tadi membebaninya seolah menguap.
Tanpa ada yang tahu, di tengah aktingnya, pikiran Alya terus meresapi satu kalimat sederhana dari obrolannya di taman tadi.
Kalau orangnya udah capek, dikasih motivasi juga percuma.
Begitu adegan panjang itu berakhir, sang sutradara bersorak dari balik monitor.
"Perfect! Bagus banget, Al! Wrap untuk scene ini!"
Kru bertepuk tangan lega. Alya hanya menanggapi dengan senyuman dan anggukan ringan.
Namun ketika ia berjalan menuju tenda artis untuk berganti kostum, pandangannya tanpa sadar terlempar ke arah jalan setapak menuju taman tadi.
Pikirannya kembali pada sebuah bangku kayu, kopi dingin, angin kampus, dan seorang mahasiswa apatis yang memperlakukannya layaknya manusia sungguhan.
Tentu saja, dari sudut pandangnya ini Arka sudah tidak terlihat. Yang tersisa hanyalah pertanyaan-pertanyaan yang mulai mengganggu kewarasannya.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir kariernya... Alya Renata merasa terobsesi pada rasa penasaran.
Bukan penasaran pada reaksi media terhadap film terbarunya. Bukan penasaran pada angka box office.
Tapi penasaran pada satu pertanyaan personal yang mulai berakar di kepalanya.
Sebenarnya... siapa pria bernama Arka Pratama itu?
Bersambung...
Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.
Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!
Semangat kak, ditunggu update-nya!
Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"
AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭
Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya
Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!