Selama hampir empat tahun, Puspita Kusumah dikurung di panti perawatan setelah keluarganya merekayasa tuduhan terhadapnya. Dengan bantuan kuasa hukum independen, ia meminta pengadilan membatalkan penetapan yang membatasi kewenangannya mengurus kepentingan perdata dan memperoleh putusan yang memulihkan haknya. Setelah dokter menyatakan rawat inap tak lagi diperlukan, ia dipulangkan secara resmi dan dapat mengurus warisan suaminya, Arya, termasuk saham Keluarga Mahesa. Namun, ada sebuah rahasia. Suaminya yang dikabarkan tewas dalam kecelakaan pesawat ternyata masih hidup dan menyamar sebagai dosen hukum yang dingin di kampus. Kini keluarga Kusumah dan Mahesa berusaha merebut hartanya, sementara orang yang paling ia rindukan berdiri di hadapannya tanpa sudi mengakuinya. Mengapa Arya memalsukan kematian, dan sampai kapan Puspita harus berpura-pura tidak mengenal suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7 - Dahi yang Menyentuh Genangan
Genangan air di lantai parkir bawah tanah Kediaman Kusumah memantulkan dua bayangan yang saling berhadapan. Satu tegak di sisi sedan, satu merosot di antara garis parkir yang pudar. Lampu sorot dari mobil yang baru saja berhenti masih menyala, dan cahaya itu membuat air di lantai beton berkilau seperti kaca murahan.
Hujan badai di luar menutup mulut selokan sampai airnya meluap masuk ke lorong parkir, mengubah lantai yang biasanya kering menjadi kolam dangkal setinggi mata kaki. Tidak ada pelayan yang sempat mengepel tempat ini. Yang terdengar hanya suara air jatuh dari langit-langit beton dan napas Galuh yang memotong udara dingin.
Puspita memang diundang Wibisono untuk membahas kelanjutan kerja sama antara Hotel Grup Waskara dan Grup Sedaya, dan ia datang membawa Yusuf dengan map berkas yang sudah disiapkan sejak sore. Tetapi yang menunggunya di parkir bukan ayahnya.
"Galuh!" Suara Puspita keluar datar dari balik kaca jendela yang baru diturunkan.
Sosok di depan lampu sorot itu melangkah maju dari balik pilar, lalu berlutut tepat di genangan yang paling kotor.
"Aku memohon maaf, Puspita. Aku memohon maaf."
Puspita tidak langsung turun. Ia menatap kepala yang kini menunduk itu, rambut basah yang menempel di pelipis, dan air yang menetes dari ujung hidungnya, lalu perasaan yang muncul bukan lega melainkan sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih dingin.
Pemandangan itu mengingatkannya pada malam empat tahun lalu.
\=\=\=\=
Ketika itu hujan juga turun setelah tengah hari, deras dan tanpa jeda, mengubah halaman belakang Kediaman Kusumah menjadi lumpur tipis. Damar terbaring di kamar sayap barat dengan kakinya yang tidak bisa ia gerakkan sedikit pun, sementara Puspita berdiri di halaman memohon pada dua orang yang baru turun dari mobil.
"Tolong, Ayah. Bawa dia ke rumah sakit. Kakinya tidak bisa dibiarkan begini." Suaranya sudah serak sejak setengah jam sebelumnya.
Wibisono berdiri di bawah payung dengan raut yang tersamar. Di sebelahnya, Galuh menaiki anak tangga menuju balkon lantai tiga Kediaman Kusumah, dan dari sana ia memberitahu ayahnya, suaranya tenang serta jelas sekali.
"Kalau Damar dibawa ke rumah sakit, Ayah, aku akan melompat dari sini."
Puspita menangis dan memohon. Ia memohon pada ayahnya untuk membawa kakaknya berobat, memohon pada Galuh untuk turun lebih dulu, memohon pada siapa pun yang mau mendengar. Air hujan membasahi pakaiannya sampai ke tulang, dan ia tidak bergerak dari halaman itu.
Galuh hanya menjawab dari balkon dengan kalimat yang terdengar seperti perjanjian.
"Kau tidak punya ketulusan sama sekali. Kalau kau berlutut dan mohon padaku, aku tidak akan melompat, dan kubiarkan Ayah membawa Damar ke rumah sakit."
Puspita berlutut. Ia berlutut di halaman berlumpur itu selama lima jam penuh, sampai lututnya kebas dan hujan meresap ke seluruh tubuhnya, sementara Damar terbaring diam di kamar sayap barat di belakangnya.
Galuh tetap di balkon. Dan Wibisono tetap berdiri di tempatnya. Anak laki-laki yang bisu itu sudah lama dianggapnya sebagai aib keluarga, dan kaki yang patah itu hanya menutup kemungkinan terakhir bagi anaknya untuk berguna di matanya. Karena itu ia justru berpihak pada Galuh, dan membenci anak laki-laki itu.
Pada akhirnya tidak seorang pun yang membawa Damar ke rumah sakit malam itu.
\=\=\=\=
"Apa yang kau pikirkan?" Galuh mendongak dari genangan, matanya kosong menatap Puspita.
"Begini cukup? Mau kau pijak lagi dahiku sampai kau puas?"
Puspita merasa selama ini ia terlalu tinggi memandang belas kasihnya sendiri. Ia tersenyum, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya.
"Silakan, kalau memang mau."
Galuh tidak menduga jawaban itu. Ia membeku sesaat, tetapi karena lututnya sudah lebih dulu menekan ubin, ia akhirnya menundukkan kepala yang selama ini selalu terangkat itu, lalu menyentuhkan dahinya ke genangan air di depan kaki Puspita.
Air dingin menyentuh alisnya. Rambutnya terurai ke genangan, dan untuk sesaat tidak ada suara apa pun di parkir itu selain hujan yang menabrak mulut lorong.
"Lanjutkan kerja sama Hotel Grup Waskara dengan Grup Sedaya." Perintah Puspita terdengar tanpa perubahan nada sedikit pun. Ia berbalik menuju tangga yang menuju lobi.
"Oh iya." Ia berhenti dan menoleh setengah pada Yusuf yang berdiri di belakangnya dengan map di tangan.
"Berikan dia payung. Jangan sampai ada yang bilang aku menghardik kakak sendiri."
Ujung mulut Yusuf berkedut tidak bisa ia kendalikan. Kau menyuruh orang berlutut dan menyentuh tanah dengan dahi, lalu masih sanggup berpura-pura dermawan hanya karena memberi payung.
Tetapi asisten itu hanya mengangguk sekali, lalu membuka map di tangannya.
"Sebelum itu, Wakil Presiden Galuh perlu menandatangani nota kelanjutan kerja sama ini. Begitu Nona memerintah, tim kami lanjut besok."
Galuh menatap berkas itu dengan wajah yang tidak bergerak. Ia mengambil pena dari tangan Yusuf dengan jari yang gemetar, lalu menandatangani lembar itu di atas kap mesin sedan. Tandatangannya miring karena tangannya basah, tetapi tetap terbaca jelas.
Setelah pena itu dikembalikan, Yusuf membentangkan payung di atas kepalanya.
Yusuf mengantar Galuh keluar dari parkir dengan payung terbuka, dan baru di bawah naungan payung itu ia menyadari sesuatu yang membuat langkahnya sedikit melambat. Di luar gerbang, cahaya lampu kamera wartawan berkedip-kedip di antara pagar besi. Bukan sedikit jumlahnya.
Puspita meminta payung bukan semata-mata karena iba. Payung itu diberikan supaya tidak ada satu pun foto Galuh yang keluar dari kediaman dalam keadaan basah kuyup tanpa alasan yang bisa dijelaskan keluarga.
"Wakil Presiden Galuh." Yusuf menurunkan suaranya ketika mereka mendekati gerbang, dan ia berhenti tepat di luar jangkauan lensa.
"Nona kita orang besar hati. Ibu tidak perlu menampar diri sendiri demi sebuah permintaan maaf. Nona sudah memerintahkan aku melanjutkan kerja sama Hotel Grup Waskara dengan Grup Sedaya."
Galuh mendongak mendadak, dan matanya yang tadi kosong kini dipenuhi kebingungan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Yusuf tersenyum dengan wajah paling ramah yang bisa ia keluarkan.
"Keluarga itu keluarga. Tidak ada perselisihan yang tidak bisa diselesaikan."
\=\=\=\=
Beberapa hari kemudian, pemberitaan keuangan menutup kasus itu dengan kalimat yang rapi. Wakil Presiden Galuh datang menemui adik tirinya dan menampar dirinya sendiri demi permintaan maaf, sedangkan Puspita yang tidak tahan melihat penderitaan saudaranya akhirnya meluluh dengan murah hati dan memerintahkan kerja sama dengan Grup Sedaya dilanjutkan.
Puspita membaca laporan itu dari layar ponselnya, lalu tersenyum puas.
"Memang didikan Arya Mahesa."
Orang yang pernah melatih asistennya itu memang tipe yang berpenampilan berbeda dari luarnya, tetapi sanggup melahap orang sampai tidak menyisakan tulang. Dan kali ini, yang paling tidak berdaya di meja permainan itu adalah kakak tirinya sendiri.
"Nona." Yusuf masuk ke ruang kerja dengan wajah yang berusaha tenang.
"Laporannya sudah kuteruskan ke semua pihak yang perlu. Malam ini Nona masih menonton siaran langsung?"
"Ya." Puspita berdiri dan berjalan melewatinya, meninggalkan ruang kerja dengan langkah yang tidak terburu-buru.
Siaran langsung kampus itu sudah berubah sejak beberapa hari pertama. Dulu ruang obrolannya nyaris kosong dan hanya berisi angin. Kini ratusan penonton duduk di hadapan layar mereka setiap malam, dan sebagian besar datang demi satu wajah saja.
Di siaran yang sama, Profesor Bagus pernah menjelaskan dengan bangga bahwa universitas sedang mencoba media baru untuk mengajarkan hukum pada anak muda, dan kepala kampus memilih Profesor Guntara karena wajahnya tampan serta mampu menarik perhatian generasi muda.
Kini terbukti. Kuliah hukum Profesor Guntara memang membosankan dan membuat orang mengantuk, tetapi demi paras serta penampilannya, para mahasiswi rela duduk lama dan berpura-pura mencatat dengan serius.