Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.
Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.
Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.
Dunia mengira ia kehilangan segalanya.
Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Sirene ambulans terdengar lebih dulu dari jalan tanah, disusul tiga mobil polisi yang berhenti di pelataran dengan lampu merah biru berputar. Pak Agus turun dari mobil paling depan dengan jaket tugas yang dikancing separuh, dan matanya menyapu lapangan itu satu kali sebelum berhenti pada sosok yang berdiri di dekat mulut terowongan.
Ia menghampiri Elang dengan langkah panjang.
"Kita bertemu lagi, Nak," katanya sambil menggeleng pelan. "Aku mendapat laporan dari warga yang menelepon dari desa di bawah. Katanya ada ledakan dan orang terjebak."
"Empat puluh satu orang, Pak. Semua sudah keluar." Elang menunjuk ke arah pekerja yang duduk berselimut di pinggir lapangan sementara petugas medis memeriksa mereka. "Dua orang butuh dirawat, yang lainnya hanya luka ringan."
Pak Agus mengikuti arah tunjukannya, lalu menatap wajah-wajah itu satu per satu. Ia tidak bertanya bagaimana semuanya bisa selamat. Ia hanya mengangguk dengan rahang yang sedikit mengeras. "Siapa yang menyalakan ledakan?"
"Orang itu." Elang menoleh ke arah Bram, yang berdiri patuh di sampingnya dengan wajah kosong. "Dia mau menyerahkan diri dan bicara soal peledakan dan upah yang tidak dibayar. Biar dia sendiri yang menjelaskan."
Bram melangkah maju sebelum Pak Agus sempat bertanya.
"Saya yang memerintahkan peledakan, Pak," katanya datar. "Tambang ini tidak berizin dan gaji pekerja tidak dibayar selama tiga bulan. Saya siap memberi keterangan."
Pak Agus menatap Bram lama sekali. Ia menyipitkan mata ke arah Elang, lalu kembali ke Bram. "Kalian bicara dulu sebelum aku datang?"
"Sedikit," jawab Elang dengan tenang.
Dua petugas membawa Bram ke mobil polisi, dan pria itu mengikuti tanpa melawan. Pak Agus memandangi punggungnya yang menjauh, kemudian menarik napas dan menepuk bahu Elang dua kali. "Aku tidak akan bertanya lebih jauh malam ini. Tapi kalau kau menemukan sesuatu yang berguna untuk kasus ini, datanglah ke kantorku."
"Kalau ada, aku datang," kata Elang.
Pak Agus tersenyum kecil dan berbalik mengurus anak buahnya. Di balik punggungnya, Elang meraih dua kotak karton dari tanah dan membawanya masuk ke mobilnya sendiri tanpa ada seorang pun yang menghentikannya.
...------...
Malam sudah turun ketika mobilnya berhenti di halaman mansion. Elang mengabaikan sapaan pelayan, naik ke lantai dua, dan menutup pintu kamar. Dua kotak berkas itu ia letakkan di meja panjang dekat jendela. Sarung tangannya terasa hangat, dan sebuah panel biru terbuka sebelum ia sempat menyentuhnya.
[Misi: Selamatkan pekerja yang terjebak di Blok 7.]
[Status: Selesai.]
[Hadiah: Satu Hak Permintaan Benda.]
[Silakan mengakses Ruang Sistem.]
Elang duduk di tepi ranjang dan membaca panel itu dengan tenang. Ia sudah menduga bagaimana semuanya akan berakhir, tetapi tetap saja ada rasa puas yang halus menghangatkan dadanya.
"Masuk," katanya.
Putih menggulung lagi di sekelilingnya, dan lorong cahaya itu kembali terbentang. Elang berjalan melewati benda-benda yang kini sudah ia kenal, cincin hitam, botol cairan jernih, buku tanpa judul, tanpa memperlambat langkah. Kali ini ia tidak mencari sesuatu untuk bertahan hidup. Ia mencari sesuatu yang bisa membuatnya mengerti apa yang baru saja ia temukan.
Ia berhenti di depan sebuah benda yang tidak ada di lorong itu saat ia datang pertama kali. Sebuah kotak hitam tipis seukuran buku, permukaannya mengilap seperti kaca gelap, dan di tengahnya sebuah titik cahaya biru berkedip pelan.
[Komputer Kuantum Misterius: memiliki kemampuan pemrosesan yang tidak tersedia dalam teknologi dunia nyata.]
"Ini." Elang mengulurkan tangannya. "Aku mau yang ini."
[Permintaan dikabulkan.]
Kotak itu mendarat ringan di telapak tangannya, dan titik cahaya di tengahnya berkedip lebih cepat. Ia merasakan sedikit getaran, seperti napas pelan dari dalam benda itu.
[Host dipindahkan kembali ke dunia.]
Kamarnya muncul lagi di sekelilingnya, dan kotak hitam itu masih di tangannya. Elang menaruhnya di meja di samping kotak karton, membuka map teratas, dan meletakkan halaman pertama di atas permukaan kaca itu.
Titik cahaya berkedip dua kali. Layar di atasnya menyala, dan baris-baris angka serta nama bergulir dengan cepat sampai sulit diikuti mata. Dokumen kedua, ketiga, keempat, semuanya dibaca tanpa Elang perlu membalik satu pun halaman. Dalam sepuluh detik komputer itu berhenti, dan hanya satu baris yang tertinggal di layar.
Total aliran dana Karang Dasa Mineral ke proyek Nugroho Corp dan Wijaya Group: Rp 740.000.000.000.
Elang membaca angka itu perlahan. Ia tidak bergerak, dan wajahnya tidak menunjukkan apa pun. Tetapi ibu jarinya mengetuk tepi meja satu kali, lalu berhenti.
"Tujuh ratus empat puluh miliar," katanya pelan. "Ayah, Ray. Kalian benar-benar menyembunyikan banyak hal."