NovelToon NovelToon
Alencio

Alencio

Status: tamat
Genre:Bad Boy / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ikesweetdevil

Bagi Amanda, Farel adalah sahabat sekaligus cinta pertamanya. Meskipun lelaki itu tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman, namun Amanda tidak pernah memiliki rasa lelah terlebih lagi menyerah. Ia akan selalu berusaha membuat Farel melihat ketulusan cintanya, meskipun Amanda sendiri tidak bisa mengungkapkannya secara langsung.

Namun sebuah rasa itu seolah menghilang secara perlahan saat Amanda bertemu dengan lelaki bernama Cio, lelaki aneh yang selalu menggodanya dengan sikap konyolnya. Seperti pada lelaki lainnya, Amanda selalu bersikap tak peduli, namun seiring berjalannya waktu, hatinya justru tersentuh dengan kisah kehidupannya dan perasaan tulusnya.

Di balik tawa konyolnya, Cio memiliki kisah rapuh yang tidak ingin lelaki itu ingat. Meski pada akhirnya air matanya jatuh juga kala mengingat masa kelamnya, dan semua itu hanya Cio tunjukkan di hadapan Amanda, gadis cantik yang disukainya.

Saat semua berubah sedikit demi sedikit termasuk hati Amanda, Cio justru pergi den

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 18

Part 18

Amanda dan Cio saat ini tengah berjalan di area perumahan setelah mereka turun dari bis yang baru mereka tumpangi. Keduanya berjalan begitu tenang dengan sesekali membahas hal yang tak penting, dan berakhir dengan Cio yang lagi-lagi menggoda Amanda. Mereka terlihat begitu akrab, seolah apa yang sudah terjadi di rumah sakit tadi benar-benar mereka lupakan.

"Itu rumahku," ujar Amanda sembari menunjuk ke arah rumah kecil yang bersanding dengan rumah mewah, yang Cio yakini rumah itu milik orang tua Farel.

"Orang tuaku bekerja di rumah itu, rumahnya Farel. Itu lah kenapa aku dengan Farel begitu dekat dulu, tapi sekarang malah seperti ini." Amanda menyunggingkan senyum mirisnya yang hanya ditanggapi kediaman dan anggukan oleh Cio. Lelaki itu masih tak mengerti, kenapa Amanda masih begitu memikirkan Farel padahal sudah banyak hal buruk yang terjadi menimpanya karena lelaki itu. Entahlah, Cio hanya merasa itu semua tidak adil untuk Amanda sendiri.

"Amanda," panggil seorang wanita yang baru saja keluar dari halaman rumah.

"Iya, Bunda." Amanda seketika menghampiri wanita itu diikuti Cio di belakangnya.

"Kamu kok sudah pulang?" tanyanya penuh kesabaran sembari membelai punggung putrinya itu dengan memasang senyum hangatnya.

"Iya, Bunda. Aku sudah tidak ada kelas lagi, makanya pulang." Amanda menjawab bohong, namun wanita itu hanya tersenyum lalu tatapannya teralih ke arah Cio yang berada di belakang putrinya.

"Dia siapa?" tanyanya sembari menunjuk ke arah Cio yang baru tersadar dari tatapannya ke arah Amanda dan bundanya yang penuh kasih sayang, yang diam-diam Cio irii.

"Dia Cio, Bunda. Temanku di kampus." Amanda menarik tangan Cio ke arah bundanya, yang ditanggapi senyum ramah dan anggukan oleh lelaki itu.

"Saya Cio, Tante," sapanya sembari menyalami bundanya Amanda yang lagi-lagi tersenyum hangat, mengingatkannya akan sosok mamanya yang pernah memberinya senyum yang sama.

"Dari kecil, Amanda tidak pernah membawa temannya ke rumah. Cuma kamu yang Amanda ajak pulang, Tante pikir temannya Amanda itu cuma Farel." Wanita itu tertawa kecil yang lagi-lagi membuat Cio terpesona akan sosok bundanya Amanda yang begitu ramah seperti mamanya dulu.

"Eh, mungkin karena Amanda tidak mau memperkenalkan orang lain selain calon masa depannya, Tante." Cio menjawab aneh seperti biasa, seolah sikap kekonyolan yang tadi sempat menghilang kini kembali datang di waktu yang tidak tepat.

"Calon masa depan?" tanya wanita itu tak mengerti, namun Amanda justru terdiam dengan memejamkan matanya, berusaha untuk menahan emosinya mengingat ada bundanya di sisinya.

"Cio cuma bercanda, Bunda." Amanda menyahut lelah yang hanya diangguki mengerti oleh bundanya.

"Nak Cio mau mampir ke rumah? Kebetulan Tante akan menyiapkan makan siang, Nak Cio mau kan makan siang di sini?" tawar wanita itu yang seketika ingin diangguki oleh Cio.

"Tidak usah, Bunda. Cio juga mau pulang kok." Amanda menjawab cepat yang seketika ditanggapi cemberut oleh Cio di sampingnya.

"Sekali ini saja, Nak Cio. Mau ya?" tawar wanita itu lagi yang langsung diangguki oleh Cio tanpa mau memperdulikan bagaimana Amanda mendelikkan mata ke arahnya.

"Mau kok, Tante. Cio kan juga mau kenal calon ayah mertua," jawabnya yang kian membuat Amanda geram, namun berbeda dengan bundanya yang terlihat tidak mengerti dengan apa yang Cio katakan.

"Cio memang suka bercanda orangnya, Bunda." Amanda menjawab kaku sembari tersenyum paksa di depan bundanya, namun saat menatap ke arah Cio, ekspresi geramnya terlihat seolah ingin menyantap Cio hidup-hidup, namun justru tidak dipedulikan oleh lelaki itu.

"Kalau begitu, ayo masuk Nak Cio! Tunggu Tante masak dengan menonton TV bersama Amanda ya?" Wanita itu menyunggingkan senyum ramahnya yang langsung diangguki oleh Cio lalu berjalan masuk mengikuti bundanya Amanda, tanpa memperdulikan bagaimana Amanda ingin mencekik lehernya dari belakang.

Sesampainya di dalam, yang Cio lakukan hanya terdiam dengan sesekali menatap sekelilingnya dengan tatapan rindu, yang entah kenapa Cio merasa mendapatkan kehangatan di rumah Amanda. Mungkin karena di rumah itu tidak kosong, tidak seperti rumah mamanya yang sunyi tanpa orang lain selain dirinya yang tinggal di sana.

"Kenapa? Rumahku jelek ya?" tebak Amanda setelah menyadari tatapan Cio yang seperti tidak biasa itu.

"Tidak kok, rumahmu bagus. Malah lebih bagus dari rumahku," jawab Cio sembari menyunggingkan senyum hangatnya.

"Bohong." Amanda menjawab tak acuh sembari menatap Cio dengan picingan matanya.

"Benar kok. Kapan-kapan aku akan mengajakmu ke rumahku, akan buktikan bila rumahku tidak sebagus rumahmu."

"Aku tidak mau." Amanda menekankan penolakannya meski dengan masih menggunakan nada rendah.

"Kenapa?"

"Tidak ada yang penting di rumahmu, kenapa juga aku harus ke sana?" Amanda menjawab tak habis pikir, meski terasa aneh karena dirinya mau-maunya meladeni ucapan Cio yang sering berbicara ngawur dan konyol itu.

"Ada kok yang penting di sana."

"Memangnya apa?"

"Calon suamimu tinggal di sana, seharusnya kamu mau melihatnya sesekali, mungkin saja suatu saat nanti rumah itu akan menjadi rumah masa depan kita." Cio menjawab berapi-api, berbeda dengan Amanda yang terdiam tak percaya sembari menatap sebal ke arah Cio yang benar-benar ingin dicekiknya.

"Aku bahkan ingin mencekikmu sekarang, dasar Babi. Tidak bisa kah kamu berbicara waras, selalu saja berbicara ngawur." Amanda menjawab geram dan bahkan kedua tangannya terulur ke arah leher Cio kali ini.

"Ekhem ...," deheman lelaki kini terdengar, membuat Cio maupun Amanda menoleh ke asal suara, di mana ada lelaki paru baya dengan pakaian lusuhnya tersenyum penuh arti ke arah mereka.

"Ayah," panggil Amanda tak percaya, karena ayahnya itu bisa berada di ambang pintu tanpa sepengetahuannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!