NovelToon NovelToon
After The Last Goodbye

After The Last Goodbye

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fhatt Trah

Di balik gemerlap kariernya sebagai aktor papan atas, Ethan Voss menyimpan rahasia besar: pernikahan tanpa cinta bersama Mia Taylor. Pernikahan yang lahir dari utang budi itu terikat perjanjian ketat—dirahasiakan dari publik, tanpa keterikatan emosional, dan wajib berakhir dalam empat tahun.

Selama empat tahun, Mia bertahan hidup bagai bayangan. Ia menelan dinginnya sikap Ethan dan rasa sakit saat melihat pria itu memamerkan kemesraan bersama kekasihnya di media. Saat masa perjanjian usai, Mia pergi dengan tenang, meninggalkan Ethan yang mengira dirinya telah bebas.

Namun, kepergian Mia justru menyisakan kehampaan mendalam. Setelah menemukan rahasia pengorbanan tulus sang mantan istri, Ethan sadar ia telah membuang cinta sejatinya.

Situasi makin rumit dengan hadirnya Liam, investor besar yang selalu ada untuk Mia setelah perceraian. Dengan ketulusannya, Liam siap melindungi Mia dan menjadi saingan berat Ethan yang ingin merebut kembali hati sang mantan istri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Hanya Sekadar Pembeli

Suasana di dalam toko perhiasan mendadak hening seketika. Mark yang berniat menyambut sang aktor ternama itu  kini tertahan di tempatnya, menyadari atmosfer aneh yang mengepul di antara ketiga orang di dekat etalase utama.

Ethan melangkah perlahan menghampiri etalase dengan pandangan terkunci rapat pada Mia. Wanita itu berdiri tenang, seolah  tak terusik dengan kedatangan Ethan.

“Mia,” gumam Ethan.

Dadanya seketika bergemuruh. Ada kerinduan luar biasa yang menghantamnya. Membuat dadanya terasa sesak serta menuntut untuk diutarakan, namun lidahnya mendadak kelu.

Tak ada sepatah kata pun yang sanggup keluar dari tenggorokannya. Ia hanya berdiri terpaku menatap wanita yang dulu mengisi hari-harinya.

“Ethan? Kamu akhirnya datang juga!” seru Jane dengan senyum merekah memecah keheningan.

Jane menyambutnya, meraih lengan Ethan dan memamerkan cincin di jarinya.

“Lihat, kan? Aku tahu kamu pasti penasaran setelah melihatnya di telepon tadi.”

Ethan sama sekali tidak menoleh ke arah Jane atau cincin berlian yang dipamerkan wanita itu. Matanya tetap tertuju pada Mia, meneliti setiap lekuk wajah yang kini memancarkan ketenangan tanpa sedikit pun terbebani masa lalu.

Menyadari tatapan intensif dari pria di hadapannya, Mia tidak menunjukkan riak emosi apa pun. Ia mempertahankan sikap tenangnya meski di hadapannya berdiri mantan suami dan kekasihnya yang baru.

Ia mengukir senyum profesional terbaiknya. Senyuman yang biasa ia berikan kepada setiap pelanggan VIP yang datang ke toko tersebut.

“Selamat datang di toko kami, Tuan Ethan,” sapa Mia halus. Suaranya terdengar begitu jernih dan terkontrol.

“Ada yang bisa saya bantu untuk melengkapi pilihan perhiasan Anda dan Nona Jane hari ini?” imbuhnya bertanya dengan sikap formal.

Anehnya kata-kata formal itu justru bagaikan sembilu yang menyayat hati Ethan. Wanita yang dulu selalu menyambutnya dengan kehangatan di rumah mereka itu kini menyapanya sebagai seorang asing yang kebetulan berkunjung.

Ethan mengepalkan tangannya di samping tubuh, mencoba menetralkan degup jantungnya yang berantakan.

“Emm ... aku ...” Aktor papan atas yang biasa tampil percaya diri di depan ribuan kamera itu mendadak kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Berhadapan langsung dengan Mia dalam jarak sedekat ini membuat tenggorokannya terasa semakin kering. Ada kegugupan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, sebuah rasa canggung yang teramat sangat hingga untuk sekadar membalas sapaan formal wanita itu saja ia harus bersusah payah.

“Mia, aku...” kalimat Ethan terputus, suaranya tertahan di tenggorokan.

Mia tidak memberikan ruang bagi keraguan Ethan untuk berkembang. Tanpa menunjukkan riak canggung sedikit pun, ia berbalik dengan gerakan anggun menuju lemari penyimpanan beriklim khusus di belakangnya.

Ia kemudian mengambil sebuah baki beludru hitam yang memuat deretan koleksi perhiasan edisi terbatas dengan potongan eksklusif yang hanya dikeluarkan untuk pelanggan tertentu saja.

“Untuk melengkapi pilihan Nona Jane, kami memiliki koleksi Royal Collection terbaru,” tutur Mia dengan nada tenang, meletakkan baki tersebut di atas meja kaca di antara mereka. Jarinya yang lentik menunjuk sebuah kalung berlian bertatahkan batu safir biru di bagian tengah.

“Potongan safir ini dirancang khusus untuk memancarkan keanggunan saat disandingkan dengan cincin berlian yang sudah dipilih tunangan Anda sebelumnya,” tambah Mia.

Jane mengamati perhiasan itu dengan mata berbinar, sementara Ethan justru tak menyentuh atau meliriknya sama sekali. Pandangan pria itu sepenuhnya terkunci pada Mia.

Ia memperhatikan setiap detail kecil yang dulu begitu familier. Nada suara halus yang terkontrol, jemari yang bergerak cekatan namun tenang, hingga tatapan mata jernih Mia yang tak lagi menyimpannya sebagai bagian dari dunianya.

“Ethan aku suka kalung yang ini. Kelihatannya cocok disandingkan dengan cincin ini. Memakai ini di hari pernikahan kita nanti, aku pasti akan menjadi penganting yang paling cantik,” oceh Jane.

Ethan malah mengabaikan ocehan antusias Jane di sisinya. Fokusnya terkunci total pada gestur Mia yang begitu profesional namun terasa dingin membeku. Kehadirannya benar-benar tidak lagi berpengaruh pada Mia, dan kenyataan itu membuat kegugupan Ethan berubah menjadi rasa sesak yang kian menghimpit.

“Ethan ...” panggil Jane. Tetapi Ethan tidak mendengar. Perhatiannya masih tertuju pada Mia.

Senyum di wajah Jane pun perlahan memudar saat menyadari pandangan Ethan sama sekali tak tertuju pada kalung di atas baki beludru itu, melainkan terus terpaku pada Mia.

Rasa panas mendadak membakar dada Jane. Ia melepaskan cengkeramannya pada lengan Ethan dengan sedikit sentakan.

“Ethan! Apa kamu mendengarkanku?” desis Jane, berusaha menahan nada suaranya agar tidak menggema di toko yang hening itu.

“Aku sedang membicarakan perhiasan untuk pernikahan kita nanti, Ethan, tapi matamu malah tertuju ke pelayan toko ini terus dari tadi! Ada apa sebenarnya?”

Ethan tersentak kecil, namun matanya tidak langsung beralih. Ada jeda ragu sebelum akhirnya ia menoleh singkat pada Jane, berusaha keras menguasai ekspresi wajahnya yang berantakan.

“Tidak ada apa-apa. Aku dengar semua yang kamu katakan.”

“Tidak ada apa-apa bagimana?” potong Jane dengan bisikan tajam penuh cemburu. Tatapannya menyapu Mia dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan sinis.

“Dari awal kamu datang, kamu hanya memperhatikan dia. Dia ini hanya pelayan yang menawarkan barang, Ethan. Kenapa kamu malah memperhatikan dia seperti itu? Apa kamu mengenalnya? Katakan, Ethan.” Jane tersulut amarah.

Mia yang berdiri di seberang meja kaca hanya mempertahankan senyum profesionalnya. Ia merapikan letak baki beludru tanpa menunjukkan ketidaknyamanan. Seolah pertengkaran kecil yang terjadi di hadapannya itu hanyalah angin lalu.

Ia sama sekali tidak ambil pusing dengan tatapan tajam Jane maupun respons canggung Ethan. Baginya, kedua orang di depannya kini tak lebih dari sekadar pembeli yang sedang bertransaksi.

“Jane, cukup. Ini tempat umum,” bisik Ethan tegas. Suaranya serak dan menyiratkan kelelahan yang mendalam. Rasa sesak di dadanya semakin tak tertahankan jika harus berlama-lama berada di dekat Mia dalam situasi seperti ini.

Ethan mengalihkan pandangannya kembali pada Mia, menatap wanita itu sebentar sebelum akhirnya mengambil keputusan cepat.

“Kita ambil semua yang dia rekomendasikan,” ujar Ethan pada Jane tanpa membedah opsi lain. Ia lalu menatap Mia, mencoba menekan seluruh gejolak emosi di dadanya.

“Cincin pilihan Jane, ditambah kalung safir ini. Kami ambil semuanya,” sambung Ethan sampai membuat Jane tertegun.

Amarah Jane sedikit tertahan oleh keputusan impulsif Ethan yang langsung menyetujui barang mahal tersebut tanpa protes.

“Tolong proses semuanya sekarang,” lanjut Ethan halus pada Mia, lalu menoleh pada Jane dengan tatapan dingin. “Setelah ini kita langsung pulang.”

Jane tersenyum puas. Mia pun mengukir senyuman yang sama. Dalam pikiran Mia hanya ada bonus yang akan ia terima berkat pelanggan VIP hari ini.

Tetapi tidak degan Ethan. Rasa sesak di dadanya kian menghimpit. Membuat ia bergegas mengambil langkah pergi seusai membayar tagihannya.

–tbc–

1
sunaryati jarum
Thank Thoor happy endingnya
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): sama²😊😊 thank you udah membersamai perjalanan cinta Liam dan Mia👌🏻😊
total 1 replies
sunaryati jarum
Nikmati kesombongan kamu Jane
sunaryati jarum
Tandingan di publik
sunaryati jarum
Benarkan Jane salah memilih lawan
Tiara Bella
otw thor hehehhe....
Tiara Bella
wow Liam aku padamu banget ini.....
Tiara Bella
penyesalan mu tak ada artinya lg Ethan.....
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): udah telat ya😊
total 1 replies
Tiara Bella
apakah mw mendekati tamat
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): seperti itu😊
total 1 replies
Tiara Bella
aneh si Jane ini kenapa ngerang Mia pdhal ada Liam ada dibelakang Mia....
Tiara Bella
bagus aku suka ceritanya....
Tiara Bella: sama² thor😍/Kiss/
total 2 replies
Tiara Bella
nh gitu cewek klu lg ngambek disun jg Bakalan lumer dia.......Pepet trs liam
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): 🤭🤭🤭 langsung melting
total 1 replies
Tiara Bella
wow Mia aku padamu...😍/Kiss/
Tiara Bella
aku Herman sm Jane Ethan yg salah kenapa yg diserang malah Mia ya.....
sunaryati jarum
Kamu yang akan hancur,Jane.Kau menyerang Mia, berarti menantang Liam.Kau terlalu sombong dan merasa lebih kuat Jane.Mia sekarang lebih kuat,dia juga banyak bukti apalagi dibantu Liam kamu sendiri yang gali lubang untuk kuburmu,ingat Mia itu korban ,selama empat tahun.Dii selama empat tahun mengalah, menerima,dan pasrah tanpa dendam,tapi kamu malah memojokkan Jane, saat ini kemenangan harus milik Mia
sunaryati jarum
Lawan pemberitaan yang dibuat Jane,itu hanya akan menghancurkanh karier Ethan Voss
sunaryati jarum
Jangan goyah , tetep keluarkan pernyataan sesuk realita dengan kemampuan intelektual kamu ,Mia.Beliau hanya menguji nyalimu
sunaryati jarum
Penampilan tenang dan jawaban jujur.Sepertinya penilaian pertemuan pertama oleh Tuan dan Ny Vance positif
sunaryati jarum
Akhirnya keraguan Mia lenyap dan menerima lamaran ,Liam.Semoga acara pernikahan berjalan lancar
sunaryati jarum
Nah ,begitu Mia.Kena provokasi Jame bikin dia makin merasa di atas.Besok berjalan berdua dengan Liam,di depan Jane, untuk membungkam mulutnya yang julid.Mia, korban dari Ethan, yang perlu kau peringatkan itu , Ethan agar jangan mengganggu kehidupan Mia
sunaryati jarum
Jika kamu pergi Jane akan betepuk tangan kemenangan, dengarkan dulu penjelasan Liam,jangan merasa insecure karena provokasi Jane.Bicara dari hati ke hati Mia, orang tua Liam sudah member restu beliau tidak memandang status sosial kamu.Dinginkan kepalamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!