Selama 365 hari, Arga hanya memiliki satu tujuan: menceraikan Nisa.
Terjebak dalam perjodohan keluarga yang tak diinginkannya, Arga secara sepihak menganggap pernikahan mereka tak lebih dari sekadar "kontrak". Baginya, Nisa hanyalah penghalang yang merampas kebebasannya untuk bersama Adelia—satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai. Segala sikap dingin, pengabaian, hingga wacana perpisahan Arga lemparkan demi membuat Nisa menyerah.
Dan malam itu, doa Arga terkabul.
Sadar bahwa memperebutkan hati pria yang jelas-jelas dimiliki wanita lain adalah sebuah kesia-siaan, Nisa akhirnya berhenti berjuang. Tanpa air mata, tanpa perdebatan, dan tanpa drama, ia menandatangani surat cerai itu dan melangkah pergi membawa sisa harga dirinya.
Anehnya, saat keinginannya benar-benar terkabul, Arga justru menyadari satu hal. Dia tak bisa hidup tanpa Nisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Satu minggu berlalu sejak bunyi roda koper Nisa terakhir kali terdengar di rumah mewah Arga.
Di dalam sebuah butik berdesain minimalis elegan yang terletak di salah satu pusat perbelanjaan bergengsi di ibu kota, Nisa berdiri di depan meja cutting berukuran besar. Tangannya yang lentik memegang sebatang kapur jahit, dengan telaten membuat pola di atas selembar kain satin sutra berwarna champagne.
Rambut panjangnya diikat tinggi, wajahnya tak lagi sepucat minggu lalu, dan ada secercah ketenangan yang mulai menetap di sepasang mata cokelatnya. Ini adalah hari kelimanya bekerja sebagai kepala desainer di butik milik Inayah.
"Nah, ini dia! Desainer andalanku sudah kembali beraksi!"
Suara ceria Inayah memecah konsentrasi Nisa. Sahabat sekaligus bosnya itu melangkah masuk ke ruang kerja private dengan menenteng dua gelas es kopi susu. Inayah meletakkan salah satunya di meja Nisa.
Nisa meletakkan kapur jahitnya, tersenyum hangat, lalu meraih gelas kopi tersebut. "Terima kasih, Bos. Pola untuk gaun pesanan Nyonya Siska hampir selesai. Sore ini sudah bisa masuk proses potong."
Inayah bersedekap, menatap Nisa dengan binar bangga yang tak ditutup-tutupi. "Kamu tahu? Sejak kamu ambil alih desain di sini, klien-klien VIP-ku yang tadinya cerewet minta ampun, sekarang mendadak nurut semua sama saran kamu. Taste kamu emang nggak ada duanya, Nis."
"Kamu terlalu lebay, Nay," Nisa tertawa kecil, sebuah tawa lepas yang sudah sangat lama tak keluar dari bibirnya. "Aku cuma berusaha melakukan yang terbaik. Lagipula, aku sangat butuh kesibukan ini supaya kepalaku nggak terus-terusan memikirkan hal-hal yang nggak berguna."
Mendengar itu, ekspresi Inayah melembut. Ia berjalan mendekat dan menepuk bahu sahabatnya.
"Gitu dong! Fokus sama kebahagiaanmu sendiri, Nis," ucap Inayah menyemangati. "Lupakan masa lalu kamu itu. Lupakan si brengsek Arga. Kamu nggak boleh nyerah sama hidup, apalagi nyerah sama cinta. Kamu itu cantik, baik, berbakat. Nanti, kalau masa iddah-mu sudah lewat dan semuanya beres, kamu pasti dapat jodoh yang jauh, jauh lebih baik, lebih waras, dan lebih mapan dari Arga!"
Nisa menghela napas panjang, tersenyum tipis. "Amin, Nay."
Meski di bibirnya ia mengaminkan, dalam relung hatinya yang paling dalam, Nisa merasa sangat ketakutan. Memulai kembali? Jatuh cinta lagi? Setelah pengkhianatan dan kehancuran mental yang ia terima dari Arga, dinding hatinya sudah terlampau tinggi dan dipenuhi kawat berduri.
"Ya sudah, kamu lanjut kerja. Aku mau ke depan dulu, ngecek display gaun baru—"
Ucapan Inayah terpotong oleh suara bel berdenting nyaring dari arah pintu masuk utama butik. Dari ruang kerjanya yang berdinding kaca buram, Nisa bisa melihat bayangan dua sosok wanita melangkah masuk.
"Selamat siang, Kak Inayah! Ya ampun, gaun yang di-display di depan itu koleksi baru ya? Bagus banget!"
Suara melengking manja yang sangat familier itu membuat gerakan tangan Nisa yang hendak meraih kapur jahit mendadak terhenti di udara. Jantung Nisa mencelos. Darahnya seolah berhenti mengalir sepersekian detik.
Itu suara Adelia.
Inayah yang belum menyadari perubahan raut wajah Nisa, langsung memasang senyum profesionalnya dan berjalan keluar dari ruang kerja menuju area display utama. Nisa mengintip dari celah pintu kaca yang sedikit terbuka.
Benar saja. Di sana berdiri Adelia, mengenakan dress ketat berwarna merah menyala yang memamerkan lekuk tubuhnya, tas branded keluaran terbaru bertengger di lipatan sikunya, dan sebuah kalung berliontin angsa bertahtakan berlian tampak melingkar sombong di lehernya. Adelia tidak sendiri, ia datang bersama seorang temannya yang juga berpenampilan tak kalah mencolok.
"Eh, Mbak Adelia," sapa Inayah ramah, meski senyumnya terlihat sedikit dipaksakan. "Iya, itu koleksi terbaru bulan ini. Ada yang bisa dibantu? Mau cari gaun untuk acara apa?"
Adelia mengibaskan rambutnya yang di-roll sempurna, menatap sekeliling butik dengan pandangan menilai yang merendahkan.
"Aku ada gala dinner sama koleganya pacarku akhir pekan ini," ucap Adelia dengan nada pongah yang dibuat-buat, sengaja mengeraskan suaranya agar seluruh pegawai butik mendengarnya. "Pacarku kan direktur utama, ya. Jadi penampilanku harus perfect. Nggak boleh malu-maluin dia. Aku butuh gaun yang paling mahal dan paling eksklusif di butik ini. Tolong layani aku dengan baik."
Teman Adelia yang berdiri di sebelahnya ikut menimpali sambil mengipasi wajahnya dengan tangan. "Iya, Mbak Inayah. Adelia ini kan pacarnya sultan. Jangan kasih gaun yang pasaran ya."
Inayah tersenyum tipis menahan jengkel. "Tentu, Mbak. Semua koleksi haute couture kami dijamin eksklusif dan tidak diproduksi massal. Silakan duduk dulu di sofa VIP, nanti saya suruh pegawai saya membawakan catalog dan beberapa sampelnya."
Inayah memutar tubuhnya, berniat memanggil salah satu asisten sales. Namun, baru saja Inayah melangkah, Adelia tiba-tiba berseru dengan nada memerintah.
"Eh, tunggu dulu!"
Adelia melangkah maju, matanya menyipit tajam menatap ke arah pintu ruang kerja private yang sedikit terbuka. "Siapa perempuan di dalam sana? Aku mau dia yang melayaniku."
Inayah mengernyitkan dahi. Ia menoleh ke arah ruang kerja, dan matanya langsung membelalak kaget saat melihat Nisa melangkah keluar dari sana dengan tenang.
Nisa mengenakan pakaian kasual yang rapi: kemeja katun broken white, celana kulot abu-abu, dengan meteran jahit yang masih melingkar di lehernya. Wajahnya sangat tenang, sama sekali tidak memancarkan kepanikan.
Adelia tertegun sejenak melihat kemunculan Nisa. Namun sedetik kemudian, senyum sinis yang sangat angkuh mengembang di bibir bergincu merah itu. Adelia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Nisa dari atas ke bawah seolah menatap barang rongsokan.
"Oh, jadi ini beneran kamu? Aku pikir, cuma salah liat doang tadi," Adelia tertawa meremehkan. "Mantan nyonya besar yang bangkrut sekarang banting setir jadi pelayan toko baju, ya? Kasihan sekali hidupmu, Nisa. Dibuang suami, ditinggal mati orang tua, harta disita bank... dan sekarang malah jadi babu."
"Jaga mulut Anda, Mbak Adelia!" Inayah langsung maju selangkah, wajahnya merah padam menahan amarah. "Nisa bukan pelayan di sini! Dia—"
"Nggak apa-apa, Inayah," potong Nisa cepat, menyentuh lengan sahabatnya dengan lembut.
Nisa menatap Inayah dengan seulas senyum tipis yang meyakinkan, lalu mengalihkan pandangannya pada Adelia. Tatapan Nisa sangat datar, sedingin es, tidak terpengaruh sedikit pun oleh provokasi murahan wanita di hadapannya.
"Selamat siang, Mbak Adelia," sapa Nisa dengan nada teramat sopan dan profesional, persis seperti menyapa pelanggan acak di pinggir jalan. "Ada yang bisa saya bantu? Mbak butuh gaun seperti apa?"
Melihat Nisa yang tidak marah atau terpancing emosi, ego Adelia justru semakin meronta minta diakui. Wanita itu mendengus kasar.
"Aku mau kamu yang mengambilkan semua gaun terbaik di sini untuk kucoba!" perintah Adelia, dagunya terangkat tinggi. "Bawakan semua model yang ada di ruang VIP. Aku mau kamu yang memasangkan gaunnya ke tubuhku. Kalau aku tidak suka, kamu harus bolak-balik mencarikannya sampai aku puas. Mengerti?!"
"Mbak Adelia, maaf," Inayah kembali menyela, giginya gemeretak menahan kesal. "Nisa ini Kepala Desainer butik saya. Tugasnya bukan melayani fitting pelanggan. Kalau Mbak butuh bantuan mencoba gaun, ada Silia dan Rani yang bisa—"
"Kenapa? Kamu keberatan?!" sela Adelia dengan suara melengking tajam, menatap Inayah dengan angkuh. "Aku ini pelanggan VIP di sini! Uang pacarku bisa membeli seluruh isi butik kamu ini kalau aku mau! Kalau perempuan ini tidak mau melayaniku, aku akan cancel semua pesananku dan menyuruh teman-temanku untuk berhenti belanja di sini!"
Inayah mengepalkan tangannya kuat-kuat, bersiap untuk mengusir Adelia detik itu juga. Persetan dengan uang dan pelanggan VIP, ia tidak akan membiarkan sahabatnya diinjak-injak oleh pelakor murahan ini.
Namun, sebelum Inayah sempat membuka mulut, Nisa sudah melangkah maju.
"Tidak perlu mengancam, Mbak Adelia," ucap Nisa tenang, tersenyum simpul yang justru membuat bulu kuduk Adelia sedikit meremang tanpa alasan. "Seperti yang saya bilang, siapa pun pelanggannya harus dilayani dengan baik di butik ini. Sekalipun pelanggannya adalah wanita yang gaunnya dibayari menggunakan uang dari suami saya."
Adelia melotot. Wajahnya seketika memerah karena malu, apalagi temannya yang berdiri di sebelahnya langsung menoleh dengan tatapan penuh tanya.
"Jaga bicaramu!" desis Adelia panik. "Arga itu—"
"Silakan menuju ruang fitting VIP di sebelah kanan," sela Nisa santai, memotong ucapan Adelia dengan gerakan tangan mempersilakan. "Saya akan membawakan semua koleksi terbaik kami untuk Anda coba. Jangan khawatir, saya akan melayani Anda dengan sangat baik hari ini."
Nisa menatap Adelia tepat di matanya, dan di balik kesopanannya itu, Adelia bisa melihat sebuah ketegasan yang tak bisa ia tembus dengan harta maupun arogansi.
biar kedua orang tuanya thu kelakuannya selama mnjdi suami km nis😡
aku suka karya2 mu thoorrr
semangat berkarya terus ya thorrrr
asyik....
hajar Bu, Pak anakmu perlu dikasih pelajaran klu perlu usir dr rumah , sita semua aset si Arga