Tiga tahun Alyssa Kirana Sastro duduk di meja makan keluarga Narendra, dan tiga tahun pula ia dituduh jadi penyebab lumpuhnya Nadine. Suaminya, Devan, tak pernah mau mendengarnya.
Malam ini Alyssa meletakkan surat gugatan cerai dan cincin nikahnya di meja kerja Devan, lalu pergi tanpa membawa apa pun. Dua jam kemudian, mobilnya ditemukan hancur di dasar jurang. Jasadnya tidak ada.
Devan masih ingin percaya itu hanya drama. Namun di rumahnya tertinggal selembar catatan.
Ke mana Alyssa pergi, dan apa yang akan Devan lakukan saat sadar apa yang sudah ia buang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zikri Cahyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Pelindung
Layar ponsel di tangan Aris masih menampilkan foto selembar kertas bernoda gelap. Di ruang konferensi hotel yang hening, tulisan merah itu terasa seperti sesuatu yang tidak sedang dilihat, melainkan sedang melihat balik.
Devan berdiri di dekat meja oval. Kelelahan yang tadi menekan bahunya hilang seketika. Yang tersisa hanya kewaspadaan.
"Batalkan penyerahan diriku besok pagi," katanya.
Alyssa menoleh cepat. "Devan, ini bukan lagi urusanmu. Polisi dan tim penyidik khusus sudah menangani Siska."
"Ibu sedang membakar sisa hidupnya untuk melenyapkanmu." Devan melangkah dekat ke meja. "Dia tidak lagi berpikir pakai logika bisnis atau hukum. Selama dia belum tertangkap, aku tidak akan masuk sel mana pun."
Aris merapikan letak kacamatanya. "Tuan Devan benar, Nona. Dua polisi dan dua orang kita diracun dengan senyawa yang hanya bisa didapat lewat jaringan gelap. Ini bukan pelarian pasien biasa."
Alyssa mengepal tangan di samping blazernya. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya menolak.
"Saya punya pengawal profesional. Mahendra Tower punya sistem keamanan paling ketat di Sudirman. Kamu tidak perlu menempatkan diri sebagai pelindung saya."
"Pengawalmu tidak mengenal cara berpikir ibuku." Devan menatapnya lurus. "Aku hidup dua puluh delapan tahun di sampingnya. Aku tahu siapa yang dia hubungi saat terdesak."
Ia menekan nomor Vito sambil bicara. "Kumpulkan tim di ruang darurat lantai lima. Siska kabur."
***
Lima belas menit kemudian, ruang pertemuan lantai lima.
Layar dinding delapan puluh inci menampilkan rekaman CCTV koridor Rumah Sakit Medika Utama dari server kepolisian. Pukul tiga lewat sepuluh dini hari. Seorang wanita berseragam perawat mendorong troli antiseptik, wajahnya tertutup masker biru dan topi yang ditarik rendah.
Vito menunjuk layar dengan penunjuk laser. "Dia masuk lewat pintu servis memakai kartu staf kebersihan yang dicuri. Postur dan cara jalannya cocok dengan satu nama."
"Siapa?"
"Sarah. Mantan sekretaris pribadi Wira Vanya. Menghilang tiga hari sebelum penggerebekan Vanya Logistics."
"Artinya Siska bersekutu dengan sisa komplotan Vanya," kata Alyssa dari kursinya.
"Bukan hanya itu." Devan menyipit pada rekaman berikutnya.
Layar berganti. Kamera jalan memperlihatkan ambulans tanpa pelat meninggalkan pelataran belakang rumah sakit dan membelok ke arah selatan. Vito memperbesar gambar di gerbang tol.
"Terakhir terekam menuju Puncak," lanjut Vito. "Km 45. Tim saya sudah diberangkatkan."
Aris melipat tangan. "Henry sempat mengaktifkan rekening darurat lima ratus ribu dolar di Singapura sepuluh menit sebelum ditangkap. Cukup untuk membayar orang yang membawa Siska keluar."
Devan tidak bergerak. Matanya masih pada layar.
"Terlalu mudah," katanya pelan.
Alyssa menoleh. "Apa maksudmu?"
"Ambulans itu hanya terekam di satu jalur, dan jalurnya paling gampang dilacak. Ibu tidak pernah memamerkan langkahnya." Rahangnya mengeras. "Kecuali dia memang ingin kita memandang ke sana."
Hening sebentar.
"Kalau begitu," kata Alyssa, "biarkan mereka datang. Saya tidak bersembunyi."
"Kamu tidak perlu bersembunyi." Suara Devan merendah. "Cukup biarkan kami menutup celahnya."
***
Pukul sebelas malam, basement Mahendra Tower.
Tiga SUV hitam anti-peluru memasuki lantai P4 tanpa sirene. Devan duduk di kursi depan mobil utama, matanya menyisir setiap sudut parkiran lewat kaca spion. Enam pengawal berjas hitam turun lebih dulu dan membentuk perimeter sebelum pintu belakang dibuka.
Alyssa turun bersama Aris. Blazer putih gadingnya tampak bersih di bawah lampu neon.
Lift khusus meluncur tanpa berhenti ke lantai empat puluh sembilan, tepat di bawah ruang kerjanya. Pintu terbuka langsung ke lobi pribadi penthouse: ruang tiga ratus meter persegi dengan dinding kaca empat meter yang memperlihatkan lampu kota.
Aris menekan kode di panel keamanan utama. "Kaca luar berlapis material anti-tembus kelas empat. Sistem bio-matriks pintu masuk diisolasi penuh. Katup ventilasi otomatis memutus sirkulasi udara luar dalam dua detik kalau sensor mendeteksi gas."
Devan berjalan menyusuri koridor sambil memeriksa langit-langit dan sambungan dinding. Ia berhenti di bawah saluran pendingin.
"Bagaimana dengan jalur servisnya?"
"Dikunci dari dalam. Kartu akses hanya ada pada saya dan dua kepala pengawal."
Alyssa meletakkan tas kulitnya di meja marmer dan berbalik.
"Sistem ini cukup untuk menahan satu kompi, Devan. Kamu bisa pulang."
Devan menatapnya. Di bawah lampu kristal, kelelahan samar terlihat di sekitar mata Alyssa. Seharian di panggung dan ruang konsulat jelas menguras tenaganya.
"Aku di ruang kendali bersama Vito. Aku tidak masuk ke area pribadimu."
"Kehadiranmu di sini hanya membuat suasana tegang. Kita sudah tidak punya ikatan apa pun."
"Aku tahu." Suaranya serak. "Aku tidak berdiri di sini untuk mengemis kesempatan kedua. Aku yang membawa monster itu ke dalam hidupmu. Menjaga nyawamu malam ini satu-satunya cara aku membayar sisanya."
Alyssa memandangnya. Ia mencari sisa kesombongan laki-laki yang dulu meremehkannya, tapi yang ia temukan hanya kesiapan yang sunyi.
Tanpa menjawab, ia berbalik ke kamar utamanya dan menutup pintu kayu tebal itu.
***
Pukul satu dini hari, ruang kendali keamanan lantai dasar.
Dua puluh layar menampilkan setiap sudut kamera gedung: basement, helipad, koridor penthouse. Devan duduk di samping Vito. Kopi hitam di sebelah papan ketiknya sudah dingin, tak tersentuh.
Di layar lantai empat puluh sembilan, dua pengawal berdiri tegap di depan pintu kamar Alyssa.
"Semua jalur keluar-masuk dikunci dari dalam," kata Vito. "Tiga mobil patroli di pelataran luar."
"Ibu tidak akan lewat pelataran." Devan memijat pelipisnya. "Dia selalu memakai orang dalam. Membeli siapa pun yang dekat dengan targetnya, dengan uang atau ancaman."
Salah satu layar di sudut kiri berkedip. Grafik tegangan listrik bergetar tidak stabil.
Vito menegakkan punggung. "Lonjakan beban di catu daya cadangan lantai empat puluh delapan."
"Lantai server dan gardu eksekutif. Tepat di bawah penthouse." Devan sudah berdiri.
"Serat optik pemindai keamanan di sub-panel tiga diputus!"
"Tampilkan koridornya."
Layar berpindah. Dua orang berseragam teknisi gedung berdiri di depan pintu panel listrik. Salah satunya memegang perangkat pengacak sinyal yang disambungkan ke slot pembaca kartu.
"Cek identitas kartu yang membuka pintu itu."
Vito menjalankan program log. Deretan kode berputar, lalu berhenti di satu nama.
Pemilik kartu: Aris Setiawan – Kuasa Hukum Utama A-K Capital.
Darah Devan seperti berhenti.
"Aris?"
"Kartunya dipakai sepuluh detik lalu." Vito menelan ludah. "Tapi kartu fisiknya tercatat di lobi lantai dasar sejak dua puluh menit lalu. Berarti yang dipakai salinannya."
"Dia di mana?"
Vito mencoba menghubunginya. Nada sambung berdering, lalu terputus. "Tidak diangkat."
Sebelum Devan sempat bicara, seluruh layar yang menampilkan penthouse lantai empat puluh sembilan padam. Hanya garis-garis statis abu-abu yang tersisa. Sirene darurat mendengung rendah di ruangan, dan lampu merah berputar di dinding semen.
"Kamera lantai empat puluh sembilan dikunci dari dalam!" Vito mengetik cepat. "Pasokan listrik penthouse dimatikan!"
"Hubungi pengawal di depan kamar Alyssa!"
"Sinyal radio di atas diblokir pemancar frekuensi tinggi!"
Devan sudah berlari.
***
Ia menembus koridor lantai dasar, sepatunya menghantam marmer dengan dentuman yang bergema. Di depan lift eksekutif, ia menempelkan kartu daruratnya dan menekan angka empat puluh sembilan berkali-kali dengan telapak yang gemetar.
Kabin meluncur naik. Di saku dalam jasnya, jemarinya mengepal pada pisau lipat kecil yang sudah bertahun-tahun ia bawa tanpa pernah dipakai.
Alyssa, bertahanlah.
Lampu indikator melewati empat puluh lima. Empat puluh enam. Empat puluh tujuh.
Pada angka empat puluh delapan, kabin berguncang. Logam bergesekan menjerit sebelum rem darurat mengunci. Lampu mati, hanya lampu merah di sudut atas yang menyala.
Kabin berhenti di antara lantai empat puluh delapan dan empat puluh sembilan.
"Sialan." Devan menghantam dinding baja dengan kepalan tangan.
Ia memanjat meraih celah pintu, menekan kedua telapak ke pinggirannya, dan menarik dengan seluruh tenaga yang ia punya. Besi itu berderit, terbuka setengah meter.
Ia memanjat keluar lewat celah itu dan mendarat di marmer gelap koridor lantai empat puluh sembilan.
***
Lobi penthouse gelap dan senyap. Lampu kristal padam. Hanya cahaya bulan yang jatuh pucat dari dinding kaca. Bau antiseptik bercampur bau kabel gosong menyengat hidung.
Devan menyusuri koridor berkarpet tebal dengan pisau di tangan kanan. Dua langkah dari pintu kamar utama, ia berhenti.
Dua pengawal A-K Capital tergeletak di lantai. Tidak ada darah. Busa tipis keluar dari sudut bibir mereka, gejala yang sama dengan polisi di rumah sakit.
"Alyssa!"
Ia menendang pintu ganda itu hingga terhempas.
Di dalam kamar seluas seratus meter persegi, cahaya bulan jatuh pada pemandangan yang membuat napasnya membeku.
Alyssa berdiri di dekat ujung ranjang dengan kedua tangan terikat tali nilon di belakang punggung. Di belakangnya, Sarah memegang pisau bedah ramping yang menempel di kulit lehernya. Sebuah alat kecil menyumbat satu telinga Sarah, kabel tipisnya menghilang ke balik kerah.
Dan di dekat jendela, Siska Narendra berdiri di atas kursi berukir.
Pakaian perawat yang longgar menempel di tubuhnya yang kurus. Wajahnya kuyu, bayangan kelabu menggantung di bawah matanya. Di tangan kanannya tergenggam botol aerosol kecil berisi cairan bening.
"Selamat datang, Devan," kata Siska. Suaranya parau, tinggi, dan retak.
Devan melangkah dua langkah masuk. Matanya tidak lepas dari pisau di leher Alyssa.
"Lepaskan dia, Bu. Urusan Ibu denganku."
"Urusanku dengan perempuan yang merampas semuanya dariku." Siska terkekeh, sepotong tawa tanpa isi. "Kamu anakku, tapi kamu bertekuk lutut di depan anak musuh kita. Kamu mengkhianati ibumu demi perempuan panti ini!"
"Ibu yang mengkhianatiku!" Tenggorokan Devan tercekat. "Ibu yang merusak hidupku, merampok perusahaan, dan membuatku jadi penjahat tiga tahun!"
Siska turun dari kursi dan melangkah mendekat. Napasnya patah-patah.
"Kalau aku tidak bisa memilikinya, tidak ada yang boleh menikmatinya!"
Ia mengarahkan botol itu ke wajah Alyssa.
"Racun saraf ini melumpuhkan paru-paru dalam sepuluh detik. Lihat dia mati pelan-pelan di depanmu, Devan."
Di sisi lain, Sarah menekankan telinganya dengan satu jari, seperti menerima perintah. Pisau bedahnya bergerak setengah senti.
"Jangan!"
Devan melempar pisau lipatnya ke lengan Sarah. Pisau itu menancap di bawah siku, dan Sarah terpekik, pisau bedahnya jatuh berdenting. Dalam satu tarikan napas, Devan sudah melompat ke depan Alyssa dan menangkap pergelangan tangan ibunya.
Czzz.
Semprotan bertekanan tinggi menyembur dari botol itu, tepat ke wajah dan dada Devan. Ia mencengkeram tangan Siska, meremas botol itu sampai pecah di telapaknya.
Lalu kakinya melemas. Tubuhnya terhempas ke marmer dingin di depan kaki Alyssa.
"Devan!" Jerit Alyssa pecah, suara yang belum pernah ia dengar darinya.
Devan terbaring telentang. Cairan itu membakar kulit dadanya dan merenggut udara dari paru-parunya dalam hitungan detik. Warna-warna di sekitarnya memudar menjadi gelap.
Di antara penglihatannya yang mengabur, ia melihat wajah Alyssa menunduk di atasnya. Air mata jatuh dari matanya, menetes ke pipi Devan.
Devan tersenyum. Senyum kecil, tenang, seperti orang yang baru meletakkan sesuatu yang berat.
Aku sudah memenuhi janjiku, Alyssa. Kegelapan merayap menutup pikirannya. Sekarang kamu aman.
.....
.....
Bersambung.