Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16 Nasib Derita Istri Kuli bangunan
Pagi itu, embun masih menggelayut lembut di dedaunan pisang di belakang rumah. Namun, suasana di sekitar sumur umum desa sudah menghangat oleh perbincangan para ibu yang sedang mencuci pakaian.
Anisa berjalan pelan membawa ember plastik berisi pakaian kotor. Dadanya bergemuruh pelan; ia tahu persis apa yang biasa terjadi jika dirinya melangkah ke area itu.
"Eh, Anisa baru kelihatan," tegur Bu Salmah, matanya melirik tajam ke arah kain katun kusam dalam ember Anisa. "Tadi Bu RT cerita, suaminya yang PNS baru saja belikan motor baru buat anaknya. Mewah betul ya, hidup jadi istri PNS. Gaji tetap, jaminan pensiun ada, tiap bulan tak perlu pusing mikir beras."
Anisa tersenyum tipis, mencoba tetap tenang sembari menimba air. "Alhamdulillah, Bu. Rezeki masing-masing memang sudah ada porsinya."
"Ya tapi kan beda, Nis," timpal Bu Sumi yang sedang menggilas baju. "Mbak Yanti itu, suaminya pengusaha sembako, kemarin baru ganti emas di pergelangan tangannya. Beda sama kita-kita ini, apalagi kamu. Burhan itu kerjanya serabutan kan? Mesti sabar betul punya suami kayak begitu. Kalau tidak pintar-pintar tahan hati, ya bisa mengelus dada terus."
"Mas Burhan kerja keras kok, Bu," sahut Anisa pelan namun tegas, menahan getir di tenggorokannya. "Berapa pun hasil hari ini, kami syukuri."
"Bukan soal syukurnya, Nis," potong Bu Salmah lagi sambil tertawa kecil. "Tapi zaman sekarang apa-apa mahal. Kamu ini masih muda, masa mau begini terus? Dulu teman seangkatanmu yang dinikahi pegawai dinas hidupnya sudah enak semua. Kamu tidak iri melihat mereka tiap akhir pekan belanja di kota?"
"Iri tidak akan mengubah keadaan, Bu Salmah. Bagi saya, yang penting Mas Burhan mencari nafkah dengan cara yang halal dan bertanggung jawab," kata Anisa berusaha mempertahankan martabat suaminya.
"Halal sih halal, Nis. Tapi ya namanya tetangga, kadang kasihan melihatmu," celoteh Bu Sumi tanpa beban. "Kadang orang-orang bilang kamu kurang beruntung dapat Burhan."
Anisa menarik napas panjang, menimbas air terakhir ke embernya lalu memeras baju dengan jemari yang gemetar.
Ia memilih untuk tidak memperpanjang perdebatan. Setiap kata bernada simpatik dari tetangganya justru terasa seperti sembilu yang mengiris hati.
Anisa harus memelihara hatinya dari cibiran tetangga yang selalu membandingkan nasibnya dengan istri-istri pengusaha atau PNS begitu pun Burhan harus tahan dengan gosib kalau istrinya itu pemalas.
Saat Anisa berjalan pulang membawa beban ember dan luka di hatinya, Burhan sedang berdiri di warung kopi dekat persimpangan jalan. Ia baru saja selesai mengangkut kayu dan berniat membeli secangkir kopi hangat. Namun, suara gelak tawa dari dalam warung membuatnya tertahan di luar pintu.
"Si Burhan itu kasihan juga ya," ujar Pak Karno sambil menyulut rokok. "Tiap hari banting tulang dari pagi sampai malam, tapi rumahnya ya begitu-begitu saja. Orang-orang bilang istrinya di rumah cuma selonjoran, tidak bantu cari tambahan."
"Ah, masa si Anisa pemalas?" sahut Pak RT yang duduk di sebelahnya.
"Lha iya, coba lihat istri orang lain. Ada yang jualan kue, ada yang buka warung kelontong. Anisa itu dari dulu cuma diam di rumah. Kalau Burhan dapat istri yang rajin bantu usaha, mungkin nasib mereka tidak seberat ini," tambah Pak Karno dengan nada menggurui.
Burhan meremas jemarinya. Dadanya terasa sesak membayangkan betapa tidak adilnya tetangga menilai istrinya.
Mereka tidak tahu betapa Anisa merawat rumah dengan cermat, menghemat setiap rupiah hasil keringatnya, dan selalu menyambutnya dengan senyum hangat meski dalam keterbatasan.