Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Saputangan Putih dan Senyum yang Tertinggal
Reihan menyadari bahwa dirinya terus memikirkan perempuan di sebelahnya. Ia pernah bertemu banyak orang sepanjang kariernya. Ia pernah melihat warga yang kehilangan rumah akibat bencana, anak-anak yang tumbuh dalam keterbatasan, dan keluarga-keluarga yang harus berjuang menghadapi kerasnya kehidupan perbatasan.
Ia berkorban materi dan tenaga untuk membantu tanpa banyak bicara, memberikan dukungan tanpa menjanjikan sesuatu yang tidak bisa dipenuhinya, serta menghormati batasan orang lain. Namun, menghadapi kesedihan Mita terasa berbeda.
Ada dorongan dalam dirinya untuk mengetahui siapa yang telah membuat perempuan itu menangis. Ada keinginan untuk memastikan bahwa Mita tidak terus-menerus terluka oleh orang yang sama.
Tetapi Reihan juga memahami bahwa ia belum memiliki tempat istimewa dalam kehidupan perempuan itu. Ia hanyalah seorang abdi negara yang kebetulan berada di dekatnya ketika kesedihan kembali datang.
Maka, ia menahan diri.
Ia tidak bertanya siapa laki-laki yang telah menyakitinya. Ia tidak menawarkan diri untuk menjadi pengganti seseorang yang bahkan belum ia kenal. Ia hanya ingin Mita tahu bahwa tidak semua orang akan memaksanya menyembunyikan air mata.
Dari sudut matanya, Reihan melihat Mita melipat saputangan itu dengan hati-hati sebelum menyimpannya di dalam tas.
"Besok masih banyak kegiatan, bukan?" tanya Reihan berusaha menepis kesunyian yang melingkupi keduanya diantara orang-orang yang masih asyik bercengkrama.
Mita mengangguk, "Masih, Om. Kami harus menyelesaikan jadwal perlombaan dan mempersiapkan final Putra dan Putri."
"Kalau begitu, jangan lupa beristirahat."
Mita tertawa kecil, kali ini terdengar lebih alami, “Saya akan berusaha."
"Jangan hanya berusaha. Lakukan."
Nada tegas Reihan membuat Mita menoleh dengan ekspresi geli.
"Om selalu memberikan perintah seperti itu?"
"Kalau diperlukan."
"Termasuk kepada panitia desa?"
"Terutama kepada orang yang terlalu sibuk sampai lupa memperhatikan dirinya sendiri."
Mita terdiam sesaat, lalu tertawa pelan.
Tawa itu tidak keras, tetapi cukup untuk membuat Reihan merasakan sebuncah kelegaan bahkan kebahagiaan yang tiba-tiba menyelusup di dalam dadanya. Setidaknya, ia berhasil membuat dan melihat perempuan itu tersenyum lagi.
Tidak lama kemudian, Ratih menoleh ke arah mereka.
"Bu Mita, Mas Rei, makanannya masih ada. Silakan dihabiskan sebelum pulang."
Mita segera bangkit dari kursi menyadari seluruh pandangan mereka mengarah pada keduanya yang duduk berdampingan di kursi belakang. Ia tidak ingin membuat orang-orang salah paham dengan kedekatan yang terjadi.
"Baik, Bu Ratih," ujar Mita sambil mengangguk. Tatapannya beralih pada Reihan yang masih duduk santai dengan kedua tangan bersedekap di dada.
Reihan mengangguk sopan memandang Ratih, "Terima kasih, Bu."
Senyum terbit di wajah Ratih mendengar ucapan Reihan. Ia menyadari bahwa ada kedekatan yang terjalin diantara kedua manusia dewasa di hadapannya. Tetapi ia tak terlalu khawatir. Karena ia pun tau, bahwa perempuan yang berprofesi guru tersebut bukanlah saingannya untuk mendapatkan perhatian dari sang kapten muda. Karena yang pernah ia dengar, bahwa guru PJOK tersebut akan mengakhiri masa lajangnya di akhir tahun.
“Terima kasih Om,” ujar Mita tulus.
Tatapan keduanya bertemu dengan perasaan yang berbeda di benak masing-masing.
“Untuk apa?” Reihan menjawab dengan tatapan lekat yang mengarah pada wajah manis yang berdiri di hadapannya.
Mita tersenyum tipis, dan itu benar-benar membuat dunia Reihan seolah-olah berhenti berputar. Senyum itu telah mengalihkan dunianya.
“Untuk semua yang Om katakan,” senyum Mita semakin sempurna saat mengatakannya.
Reihan menikmati pemandangan indah di depannya. Percakapan mereka pun berakhir ketika Mita pamit dan berjalan meninggalkannya.
Namun, sesuatu telah berubah malam itu.
Bagi Mita, saputangan putih tersebut menjadi pengingat bahwa ketika seseorang sedang terluka, kebaikan kecil bisa memberikan ketenangan yang tidak terduga.
Bagi Reihan, saputangan yang berpindah ke tangan Mita menjadi awal dari keinginan yang semakin sulit ia abaikan. Ia semakin ingin mengenal perempuan itu lebih jauh.Bukan untuk menyelamatkannya seolah Mita tidak mampu berdiri sendiri, melainkan untuk memahami siapa dirinya di balik segala ketegaran yang ditunjukkannya.
Ia ingin mengetahui apa yang membuat Mita tertawa, apa yang membuatnya begitu bersemangat ketika berada di lapangan, dan mengapa seorang perempuan yang mampu menguatkan begitu banyak orang justru harus menghapus air matanya diam-diam.
Malam semakin larut. Satu per satu panitia meninggalkan kantor desa setelah menyelesaikan berbagai persiapan untuk kegiatan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Beberapa orang masih sibuk membereskan kursi dan perlengkapan rapat, sementara yang lain berpamitan sebelum pulang ke rumah masing-masing.
Mita baru saja menyelesaikan pembicaraan dengan Ratih ketika ia memasukkan buku catatan ke dalam tasnya. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian berkutat dengan berbagai urusan kepanitiaan. Namun, ada sesuatu yang membuat malam itu terasa sedikit berbeda.
Saputangan putih milik Kapten Reihan tersimpan rapi di dalam tasnya.
Perempuan itu sempat memandang benda tersebut sebelum menutup ritsleting tas. Ia masih mengingat bagaimana saputangan itu berpindah ke tangannya beberapa waktu lalu, ketika air matanya tidak lagi bisa dibendung.
Lelaki itu tidak banyak bertanya, ia pun tidak memaksanya menjelaskan alasan kesedihannya. Ia hanya menyodorkan saputangan, membiarkan Mita menenangkan diri, kemudian berbicara dengan nada yang tenang. Sikap sederhana itu justru meninggalkan kesan mendalam.
Sudah cukup lama Mita belajar menyembunyikan luka di balik senyum. Ia terbiasa menjawab bahwa dirinya baik-baik saja, bahkan ketika hatinya terasa berantakan. Ia tidak ingin orang lain mengetahui betapa sulitnya dirinya berdamai dengan kenangan masa lalu. Namun, malam itu, seseorang telah melihat air matanya tanpa membuatnya merasa lemah.
Mita menghela napas perlahan. Saputangan itu harus dikembalikan setelah dicuci. Ia tidak ingin barang milik seorang perwira terus berada di tangannya, apalagi jika benda tersebut memiliki arti pribadi bagi pemiliknya.
Akan tetapi, ketika memikirkan pertemuan mereka berikutnya, entah mengapa ada perasaan aneh yang menyelinap ke dalam hatinya. Bukan kegembiraan yang berlebihan. Bukan pula sesuatu yang berani ia sebut sebagai ketertarikan. Hanya perasaan hangat karena seseorang telah memperlakukannya dengan baik ketika ia sedang berada dalam keadaan paling rapuh.
"Mbak Mita, sudah mau pulang?" suara Yani membuyarkan lamunannya.
Mita mengangkat wajah, “Iya, Bu. Sepertinya semua sudah selesai, kan?"
Yani mengangguk sambil merapikan beberapa lembar kertas di atas meja., “Untuk malam ini, sudah. Besok kita masih harus mengecek daftar hadiah dan nama-nama pemenang perlombaan anak-anak yang sudah kelar. Jangan lupa, mbak Mita istirahat yang cukup. Sejak tadi kelihatan capek."
Mita tersenyum, "Terima kasih atas perhatiannya, Bu Yani. Besok saya datang lebih pagi."
"Jangan terlalu pagi juga. Ini kegiatan tujuh belasan, bukan lomba siapa paling rajin datang ke kantor desa."
Keduanya tertawa kecil. Mita kemudian berpamitan dan berjalan menuju pintu keluar sambil membawa tas serta buku catatannya.
Di luar kantor desa, udara malam terasa semakin dingin. Lampu-lampu kendaraan menerangi halaman yang mulai lengang. Beberapa anggota TNI yang bertugas mengawal wilayah perbatasan yang kebeteulan hadir malam ini masih berjaga di sekitar kendaraan operasional.
Reihan berdiri di dekat pintu bersama Yanto dan dua anggota lainnya.
Sejak Mita keluar dari ruangan, perhatian sang kapten tanpa sadar tertuju kepadanya. Perempuan itu berjalan dengan langkah tenang. Sesekali ia menyapa orang-orang yang masih berada di halaman, memberikan senyum sopan sebelum melanjutkan langkah menuju tempat parkir.
Reihan tidak berniat mengawasinya. Setidaknya, itulah yang berusaha ia katakan kepada dirinya sendiri. Namun, semakin ia berusaha mengalihkan pandangan, semakin mudah matanya menemukan sosok Mita di antara orang-orang yang berlalu-lalang.
Yanto yang berdiri di sebelahnya menangkap perubahan itu. Ia mengikuti arah pandangan sang kapten, lalu mendapati Mita sedang berjalan menuju kendaraan yang diparkir tidak jauh dari gerbang.
Senyum tipis muncul di wajah Yanto, "Kapten."
Reihan tidak menoleh, "Ya?"
"Sepertinya malam ini ada yang berhasil membuat Bu Mita tersenyum lagi."
Reihan akhirnya meliriknya, "Jangan mulai, Yanto."
"Siap, Kapten." Yanto mengangkat kedua tangan, menyerah sebelum mendapatkan hukuman push-up seperti Budi. Namun, senyum jahilnya tidak sepenuhnya menghilang.
Ia sudah cukup lama mengenal Reihan untuk mengetahui bahwa sang kapten sedang menyembunyikan sesuatu. Mungkin Reihan belum ingin mengakuinya, tetapi perhatian yang diberikan kepada Mita tidak sepenuhnya sama dengan perhatian yang biasa ia berikan kepada orang lain.
Sebagai sahabat yang pernah melewati masa pendidikan militer di Magelang bersamanya, Yanto tahu betul bahwa Reihan bukan laki-laki yang mudah menunjukkan perasaan. Ia bisa bersikap hangat dalam pertemanan, tetapi ketika menyangkut urusan hati, ia cenderung menyimpan semuanya rapat-rapat.
"Kalau boleh tahu, Kapten," Yanto kembali membuka suara dengan hati-hati, "Saputangan itu memang sengaja diberikan kepada Bu Guru ya?"
Reihan menghela napas, "To, kamu sedang bertugas atau sedang menginterogasi atasan?"
"Keduanya bisa berjalan bersamaan, Kapten."
Reihan menatapnya tajam.
Yanto segera berdiri tegak, "Siap! Saya kembali bertugas."
Reihan menggeleng kecil, menahan senyum yang hampir muncul di wajahnya, "Dasar."
Yanto berbalik sambil tersenyum puas. Setidaknya, ia berhasil membuat sang kapten bereaksi meskipun hanya sedikit.
Sementara itu, di area parkir, Mita telah sampai di dekat kendaraannya. Ia memasukkan tas dalam jok, menekannya agar terkunci. Kemudian memeriksa kembali buku catatan yang dibawanya.
Sebelum menstarter motor, sebuah suara menyapanya dari samping, “Bu Guru, sudah mau pulang?"
Mita menoleh.
Budi berdiri beberapa langkah darinya dengan wajah ramah. Anggota yang terlihat ramah itu rupanya sedang memeriksa kendaraan operasional sebelum kembali ke pos.
"Oh, iya, Om. Kegiatannya sudah selesai." Mita berkata sopan, tidak ingin membeda-bedakan panggailannya pada Abdi negara yang bertugas menjaga wilayah perbatasan itu.
Budi tersenyum, "Syukurlah. Sepertinya kegiatan tujuh belasan tahun ini cukup menyita waktu, ya?"
Mita tersenyum membalas keramahan di hadapannya, “Saya akui memang lebih ramai dari tahun kemaren. Bu Ratih memang berhasil memajukan desa, walaupun kepemimpinannya baru enam bulan. Beliau visioner yang tangguh.”
Budi manggut-manggut mendengar ucapan perempuan di hadapannya yang mulai membuatnya berpikir tentang masa depan. Orangnya menarik, bahasanya santun, dan sedap dipandang mata.
“Astaga, pikiran apa ini…” batinnya dalam hati.
Mita ikut tertawa. Untuk beberapa saat, percakapan mereka berlangsung santai, membicarakan kegiatan perlombaan, antusiasme warga, serta persiapan final voly dewasa putra dan putri..
Budi merasa senang bisa berkomunikasi dengan Mita, orangnya supel dan mudah diajak berbicara. Ia memperlakukannya sebagaimana seorang anggota TNI yang ramah kepada siapa pun.
Mita menghargai sikap tersebut. "Terima kasih atas atensinya Om."
"Sama-sama, Bu Guru. Kalau ada yang masih kurang, silakan sampaikan. Kami siap membantu selama tidak mengganggu tugas utama."
Mita tidak menjawab, ia hanya mengangguk sopan.
Malam pun semakin merayap. Hawa dingin mulai menyentuh ke dalam kulit, disertai angin yang berhembus di kegelapan.
Budi melirik ke arah gerbang, saat Mita mulai menstrarter motor.
"Hati-hati di jalan, Bu Guru. Malam sudah cukup larut."
"Ya. Om juga hati-hati kalau nanti kembali ke pos."
Setelah berpamitan, Mita memasang helm dan menjalankan motornya, lalu melambaikan tangan kepada Budi sebelum perlahan meninggalkan halaman kantor desa.
Dari kejauhan, Reihan menyaksikan komunikasi yang terjadi antara bawahannya dan perempuan yang mulai menyita pikirannya belakangan ini. Ia melihat bagaimana Mita tertawa mendengar candaan Budi. Wajah perempuan itu tampak lebih cerah dibandingkan ketika ia menangis beberapa waktu sebelumnya.
Seharusnya, pemandangan itu membuatnya lega. Dan memang, sebagian dirinya merasa senang karena Mita bisa kembali tersenyum. Namun, ada pula perasaan lain yang sulit ia jelaskan ketika melihat perempuan itu berbincang santai dengan laki-laki lain.
Reihan segera menegur dirinya sendiri.
Budi adalah anggotanya. Ia hanya berbicara dengan ramah kepada seorang panitia yang telah bekerja keras membantu kegiatan desa. Tidak ada alasan bagi dirinya untuk merasa terusik. Terlebih, ia bukan siapa-siapa bagi Mita.
Belum. Kata itu terlintas begitu saja di dalam pikirannya.
Reihan menatap kendaraan Mita yang semakin jauh, sampai akhirnya menghilang di balik jalan yang gelap. Ia menghela napas panjang.