"Gue capek jadi badut. Mulai hari ini, lo bebas dari gue."
Selama tiga tahun di SMA Nusantara, semua orang tahu kalau Elsa Nur Cahyani adalah cegil (cewek gila) garis keras yang bucin mati-matian ke Muhammad Firdaus, Ketua OSIS sempurna yang sedingin es. Elsa rela dipermalukan, jadi seksi sibuk OSIS tanpa dibayar, sampai dihukum lari keliling lapangan demi cari perhatian Firdaus. Hasilnya? Nol besar. Firdaus tetap menganggap Elsa gangguan yang tidak punya harga diri.
Titik balik itu datang di hari ulang tahun Firdaus. Setelah kuenya dihancurkan dan cintanya ditolak mentah-mentah di depan satu sekolah, Elsa sadar: dia sudah selesai. Elsa memutuskan pensiun jadi budak cinta. Dia berubah total—menjadi cuek, fokus pada ujian, dan benar-benar menganggap Firdaus tidak ada.
Tapi anehnya, saat Elsa melangkah pergi, justru Firdaus yang mulai kehilangan arah. Cowok yang tadinya antipati itu mendadak sadar kalau dunia tanpa gangguan Elsa ternyata terasa sangat sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Kehancuran 01.
Matahari sore di SMA Nusantara biasanya romantis, tapi tidak hari ini. Langit di atas koridor kelas dua belas mendadak berubah abu-abu pekat, lalu menumpahkan hujan deras tanpa permisi. Sama persis seperti suasana hati Elsa Nur Cahyani.
Di tangannya, ada kotak mika bening berisi kue ulang tahun buatan sendiri yang bentuknya sudah hancur total. Krim vanilanya meleleh, buah stroberinya bergeser tak beraturan akibat tersenggol tas anak-anak yang berlarian pulang.
Namun, yang lebih hancur dari kue itu adalah harga diri Elsa.
Tepat dua meter di depannya, Muhammad Firdaus berdiri tegak. Ketua OSIS dambaan satu sekolah itu kelihatan rapi luar biasa dengan almamater biru tua yang tidak lecek sedikit pun. Wajahnya tampan, tapi matanya sedingin es di kutub.
"Gue bilang, jangan pernah bawa sampah kayak gini ke depan muka gue, Elsa."
Suara Firdaus terdengar tenang, namun tajamnya melebihi pisau daging. Cukup keras untuk membuat beberapa pasang mata yang berteduh di koridor menoleh, berbisik-bisik, lalu menertawakan Elsa. lagi.
Selama tiga tahun di SMA Nusantara, semua orang tahu Elsa adalah cegil—cewek gila—garis keras. Dia bucin setengah mati pada Firdaus. Elsa rela jadi seksi sibuk OSIS tanpa dibayar, rela dihukum lari keliling lapangan karena memalsukan tanda tangan demi bisa sekelompok dengan cowok itu, bahkan rela dicap "tidak punya harga diri" oleh satu angkatan. Elsa selalu berpikir, batu yang keras pun bisa terkikis kalau ditetesi air terus-menerus.
Tapi hari ini Elsa sadar, Firdaus bukan batu. Dia ruang hampa. Tidak punya perasaan.
"Ini bukan sampah, Daus," suara Elsa bergetar, berusaha menahan tangis yang sudah mendesak di ujung mata. "Gue bangun jam empat pagi buat bikin ini. Hari ini ulang tahun lo, kan?"
Firdaus melirik kotak kue itu dengan tatapan jijik yang sama sekali tidak ditutupi. "Gue nggak peduli. Mau lo bangun jam satu malam atau nggak tidur sekalian, itu urusan lo. Berhenti bertingkah murahan kayak gini. Lo bikin gue risi. Sangat risi."
Deg.
Kata "murahan" itu telak menghantam dada Elsa. Rasanya sesak, sampai-sampai pasokan oksigen di sekitarnya seolah menguap. Elsa menatap cowok di depannya. Cowok yang fotonya selalu dia jadikan wallpaper HP, cowok yang namanya selalu dia sebut dalam doa, dan cowok yang tiga tahun ini jadi pusat semestanya.
Di mata Firdaus, Elsa tidak melihat ada sedikit pun rasa kasihan atau bersalah. Hanya ada kejengkelan yang mendalam.
"Gue cuma mau ngasih ini..." bisik Elsa, setetes air mata akhirnya lolos membasahi pipinya.
"Dan gue nggak mau menerima apa pun dari cewek yang nggak tahu cara menghargai dirinya sendiri," potong Firdaus telak. Cowok itu membetulkan posisi tali tas ranselnya, lalu melangkah maju, berniat melewati Elsa begitu saja tanpa beban.
Langkah kaki Firdaus terdengar berdenyit di atas lantai koridor yang basah.
Pada detik itu, sesuatu di dalam diri Elsa mendadak patah. Sesuatu yang selama tiga tahun ini dia jaga rapat-rapat bernama harapan, runtuh menjadi serpihan tak berbentuk. Ini adalah titik nadirnya. Rasa lelah yang teramat sangat mendadak menjalar ke seluruh tubuhnya. Elsa menangis, tapi kali ini bukan karena marah, melainkan karena dia akhirnya menyerah.
"Daus," panggil Elsa. Suaranya tidak lagi melengking heboh seperti biasanya. Suaranya datar. Kosong.
Firdaus menghentikan langkahnya, sekitar dua langkah di samping Elsa, tanpa menoleh. "Apa lagi?"
Elsa tidak menjawab dengan kata-kata. Dengan gerakan pelan, dia meletakkan kotak mika kue yang hancur itu di atas lantai koridor. Kemudian, jemari tangannya yang gemetar bergerak ke pergelangan tangan kirinya. Di sana, melingkar sebuah gelang rajutan benang berwarna biru tua dan hitam.
Gelang itu dibuat Elsa selama dua bulan penuh. Jarinya sampai kapalan dan beberapa kali tertusuk jarum karena dia tidak mahir merajut. Di bagian tengah gelang, ada inisial kecil berbentuk huruf 'F' yang dibuat dari manik-manik kayu. Elsa berencana memberikan gelang itu bersamaan dengan kuenya.
Firdaus melirik dari sudut matanya, mengira Elsa akan menyodorkan barang murahan lainnya.
Namun, dugaan Firdaus salah total.
Elsa menarik napas dalam-dalam, menatap gelang itu untuk terakhir kalinya, lalu dengan satu sentakan, dia melepas gelang tersebut. Tanpa ragu, Elsa melangkah satu kali ke arah tempat sampah abu-abu besar yang berada di sudut koridor—tepat di samping posisi Firdaus berdiri.
Plung.
Dengan gerakan santai, Elsa melempar gelang rajutan penuh cinta itu langsung ke dalam tumpukan sampah basah, tepat di depan mata Firdaus.
Mata Firdaus yang tadinya datar, seketika melebar. Ada kilatan keterkejutan yang janggal di sana. Dia tidak menyangka Elsa akan melakukan itu.
Elsa berbalik, menghadap Firdaus sepenuhnya. Air matanya sudah berhenti mengalir, digantikan oleh tatapan mata yang luar biasa dingin—tatapan yang belum pernah Firdaus lihat dari seorang Elsa Nur Cahyani selama tiga tahun ini. Elsa tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat begitu asing dan melelahkan.
"Selamat ulang tahun, Muhammad Firdaus," ucap Elsa, suaranya terdengar sangat tenang di tengah gemuruh suara hujan. "Mulai besok, lo nggak perlu khawatir lagi. Cewek murahan ini... nggak akan pernah muncul lagi di depan muka lo."
Elsa memutar tubuhnya, lalu melangkah lebar-lebar menerobos derasnya hujan sore itu tanpa payung, meninggalkan kue yang hancur, gelang di tempat sampah, dan seorang Ketua OSIS yang mendadak terpaku di tempatnya berdiri.
......................
...****************...
Tbc,