**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**
Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.
Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.
Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 naga yang tidak mengerikan
Keesokan harinya, setelah sarapan yang tergesa karena Veronica terlalu bersemangat, mereka berangkat bersama Count Regurd yang bersedia menjadi pemandu. Kereta kuda melaju pelan menyusuri jalan tanah yang diapit pepohonan rindang, hingga akhirnya tampaklah sebuah pedesaan yang begitu tenang, dengan asap tipis mengepul dari cerobong rumah-rumah kayu dan suara ayam bersahutan dari kejauhan. Udara pagi yang sejuk membawa aroma tanah basah dan rumput segar, dan untuk sesaat Veronica memejamkan mata menikmatinya sebelum kereta berhenti sepenuhnya. Begitu Veronica turun dari kuda dengan bantuan Emma, beberapa warga yang sedang berkumpul di tepi jalan langsung membungkuk memberi hormat. Namun ketika mata mereka bertemu dengan mata ular Veronica yang berkilat keemasan, tubuh mereka mendadak gemetar, ada yang menunduk dalam-dalam, ada pula yang mundur selangkah sambil menggenggam ujung bajunya.
"Apa-apaan sikap kalian ini?" tegur Count Regurd dengan suara rendah namun tajam, keningnya berkerut dalam. "Nyonya Duchess Vanguard datang dengan hormat, dan kalian menyambutnya seperti melihat hantu. Itu sama sekali tidak sopan."
"Tidak apa-apa, Count," sela Veronica sambil mengangkat tangannya dengan tenang, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis. "Mereka pasti takut pada naga. Itu wajar, bukan?"
Seorang pria bertubuh kurus dengan topi jerami lusuh melangkah maju dengan ragu, lalu menunduk sambil meremas topinya. "Maafkan kami, Nyonya. Dulu desa ini pernah dibuat porak-poranda oleh naga. Rumah-rumah terbakar, ladang hangus, dan banyak yang kehilangan keluarga. Rasa takut itu masih tertinggal sampai sekarang, bahkan anak-anak pun tumbuh dengan cerita itu."
Veronica terdiam sejenak, sorot matanya melembut ketika memandangi wajah-wajah pucat di hadapannya. Ia teringat ucapan Erin semalam dan menarik napas panjang sebelum menjawab. "Aku mengerti dan aku tidak akan memaksa kalian untuk tidak takut. Tapi dengarkan aku baik-baik. Jika suatu hari monster menyerang desa ini, aku sendiri yang akan melindungi kalian, bahkan jika yang datang adalah naga sekalipun."
Para warga saling melirik, keraguan jelas terpancar di wajah mereka dan beberapa masih menggigit bibir. Seorang ibu menarik anaknya lebih dekat ke sisi roknya, sementara pria bertopi jerami tadi hanya mengangguk kaku tanpa berani menatap mata Veronica lagi. Namun mereka tahu bahwa wanita di depan mereka adalah istri penguasa wilayah, dan mereka tak punya pilihan selain mempercayainya, setidaknya untuk saat ini.
Rombongan kemudian berjalan menyusuri jalan setapak menuju hamparan ladang gandum yang begitu luas hingga seolah tak berujung, bulir-bulir keemasan bergoyang lembut tertiup angin siang. Erin berhenti di tepi ladang sambil meraba salah satu tangkai gandum, wajahnya tampak puas melihat tanaman yang tumbuh subur dan siap dipanen. "Tahun ini cuacanya bersahabat," ujar Erin pada Count Regurd dengan nada puas. "Pekerjaan kalian patut dipuji." Count Regurd menunduk hormat sambil tersenyum lega. Di sampingnya, Veronica membungkuk dan memperhatikan bulir-bulir itu dengan mata berbinar, jemarinya menghitung seberapa penuh biji pada setiap tangkai.
"Bijinya banyak sekali," gumam Veronica sambil tersenyum lebar. "Panennya pasti melimpah. Itu artinya aku tidak akan kelaparan lagi, kan?"
"Veronica," bisik Erin sambil menyentuh lengan menantunya dengan lembut, matanya melirik para pengikut Count yang mengamati dari kejauhan. "Tenanglah dan jaga sikapmu. Mereka sedang menilai kelayakanmu sebagai istri putraku. Jangan sampai mereka mengira Duchess mereka hanya memikirkan perut."
Veronica segera menegakkan punggungnya dan mengangguk patuh, pipinya sedikit memerah karena malu. "Maafkan aku, Ibu. Aku hanya terlalu senang."
Count Regurd berdeham, lalu tersenyum seolah ingin mencairkan suasana sambil menunjuk ke arah pegunungan yang menjulang di kejauhan. "Wilayah Skypia berada tepat di kaki gunung, Nyonya. Tanahnya subur karena aliran air dari atas sana. Jika kita naik ke perbukitan, di sana ada kebun buah yang jauh lebih beragam. Hampir semua jenis buah tumbuh di daerah itu."
Mereka pun kembali ke kereta kuda dan melanjutkan perjalanan mendaki ke wilayah perkebunan. Begitu tiba, aroma manis buah-buahan yang matang langsung menyambut mereka dari setiap sudut. Pohon-pohon berjajar rapi dengan dahan yang melengkung karena beratnya buah, semuanya sudah siap dipanen. "Wangi sekali," bisik Veronica sambil menghirup dalam-dalam, perutnya nyaris berbunyi. Mata Veronica langsung tertuju pada sebuah apel merah mengilap yang menggantung rendah di dahan tak jauh dari mereka.
"Ibu, apakah Ibu mau kuambilkan apel yang kelihatan menggiurkan itu?" tanyanya dengan nada polos sambil menunjuk ke atas, kakinya sudah setengah bergerak maju.
"Tidak akan kubiarkan kau melompat ke pohon hanya untuk sebutir apel," sahut Erin cepat sambil menahan lengan Veronica, sementara Emma di belakang mereka menutup mulut menahan tawa. Erin kemudian menoleh pada Count Regurd dan bertanya, "Di mana hasil panen ini dikumpulkan, Count?"
"Mari saya antar ke gudang, Nyonya Erin," jawab Count Regurd sambil membungkuk dan memimpin jalan.
Di dalam gudang yang luas dan sejuk, tumpukan peti berisi buah tersusun hingga ke langit-langit. Seorang wanita paruh baya yang sedang menyortir buah menghampiri mereka sambil membawa sekeranjang kecil, lalu menawarkannya pada Veronica dengan malu-malu. Veronica menerimanya dengan kedua tangan, senyum hangat, dan ucapan terima kasih yang diucapkan dengan anggun, lalu menggigit buah itu perlahan tanpa tergesa. Wanita itu tampak terheran-heran, matanya tak lepas dari gerak-gerik Veronica. "Maaf bila saya lancang, Nyonya," bisiknya pada Emma yang berdiri di dekatnya, "tapi Nyonya Duchess ini benar-benar naga? Cara makannya saja lebih santun daripada putri-putri bangsawan yang pernah singgah ke sini." Emma hanya tersenyum bangga sambil merapikan lipatan gaun majikannya tanpa menjawab. Wanita itu tak habis pikir benarkah wanita di hadapannya seekor naga, sementara sikapnya begitu halus layaknya seorang bangsawan.
"Count, semua ini akan diapakan setelah dikumpulkan?" tanya Veronica sambil mengunyah, matanya menyapu tumpukan peti di sekelilingnya.
"Semuanya akan dikirim ke ibu kota Uddine, Nyonya," jawab Count Regurd dengan bangga. "Para pedagang selalu datang untuk membeli hasil panen dan membawanya ke sana. Dari sanalah sebagian besar pendapatan wilayah ini berasal, dan kami selalu berusaha menjaga mutunya agar Kaisar tidak kecewa."
"Seperti apa ibu kota Uddine itu?" Veronica menoleh pada Erin dengan mata membulat penuh rasa ingin tahu, tubuhnya condong ke depan seperti anak kecil yang menunggu dongeng.
"Ramai, jauh lebih ramai dari kota Brune, dan banyak hal yang belum pernah kau lihat di sana," jawab Erin sambil tersenyum. "Tapi kau harus bersabar menunggu Altres kembali dari perbatasan. Dia harus melapor pada Kaisar tentang festival panen, dan saat itulah kita bisa ikut ke sana. Sebaiknya kau juga bersiap mulai berlatih dansa, karena aku yakin kalian berdua akan diundang ke pesta di istana kekaisaran."
Bahu Veronica langsung merosot dan bibirnya mengerucut, wajahnya yang tadi berseri kini tampak murung. "Aku harus belajar lagi? Rasanya aku akan terus belajar berbagai hal tanpa henti. Berjalan, makan, bicara, sekarang menari pula. Manusia benar-benar merepotkan." Ia menghela napas panjang, lalu menambahkan dengan suara pelan, "Dan yang paling menyebalkan, aku harus pergi bersama Altres. Dia itu tidak menyenangkan sama sekali, ya kan, Ibu? Emma?"
Emma buru-buru menunduk pura-pura merapikan lipatan gaunnya, sedangkan Erin tertawa kecil sambil menggeleng pelan. "Putraku memang orang yang dingin, Veronica. Dia sudah begitu sejak kecil. Tapi percayalah, dia pasti akan bersikap baik pada istrinya sendiri."
"Kita istirahat dulu," ujar Erin sambil menepuk tangan Veronica dengan lembut. "Besok kau pasti akan melihat lebih banyak lagi, jadi simpanlah tenagamu."
Menjelang sore, mereka akhirnya kembali ke kediaman Count Regurd untuk beristirahat. Setelah berkeliling sejak pagi, semua orang tampak kelelahan, Erin menyandarkan punggung di kursi sambil memijat pelipisnya dan Emma berjalan agak terseok di belakang. Hanya Veronica yang masih melangkah ringan tanpa merasakan apa pun, sebab tubuh naganya memang tak mengenal lelah hanya karena berjalan seharian. Satu-satunya hal yang membuatnya letih adalah belajar tentang kebiasaan manusia, yang menurutnya jauh lebih rumit daripada menghadapi seratus monster sekaligus.