Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.
Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.
Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Pagi itu udara pegunungan masih terasa dingin ketika Rama dan Tina berjalan melewati hamparan kebun teh menuju rumah besar milik Juragan Darmawan. Keduanya mengenakan pakaian terbaik yang mereka miliki. Wajah Tina berkali-kali menoleh ke arah bangunan megah di atas bukit dengan sorot mata penuh harap.
"Kalau sampai berhasil, hidup kita benar-benar berubah," bisik Tina sambil menahan senyum.
Rama mengangguk pelan. Jantungnya sendiri berdegup lebih cepat. Seumur hidup, ia belum pernah menginjakkan kaki ke rumah sebesar itu.
Beberapa menit kemudian, mereka dipersilakan masuk ke ruang tamu yang luas. Lantai marmer mengilap, perabotan kayu jati berukir, dan aroma teh hangat memenuhi ruangan.
Tak lama kemudian, Juragan Darmawan datang ditemani seorang pria paruh baya yang merupakan sekretaris kepercayaannya, Asep. Pria tua itu berjalan dengan tongkat kayu di tangannya. Meski rambutnya telah memutih seluruhnya, sorot matanya masih tajam dan berwibawa.
"Kalian keluarga Dara?" tanya Juragan Darmawan tanpa basa-basi.
Rama segera berdiri. "Benar, Juragan."
"Kudengar gadis itu rajin bekerja." Juragan Darmawan menatap penuh selidik kepada Rama dan Tina.
"Dara anak yang baik, penurut, dan tidak pernah membantah," balas Rama dengan sopan dan Tina mengangguk penuh semangat membenarkan ucapan suaminya.
Juragan Darmawan terdiam beberapa saat. "Aku tidak mencari perempuan yang cantik. Aku hanya ingin perempuan yang bisa menjaga cucuku dengan tulus."
Rama menundukkan kepala jenak. Lalu, mengangkat kepala dan tersenyum manis. "Itu yang akan Dara lakukan, Juragan."
Suasana kembali sunyi. Juragan Darmawan lalu meletakkan cangkir tehnya.
"Sekarang katakan apa syarat dari pihak kalian."
Kalimat itu membuat napas Rama tercekat. Ia sempat melirik Tina. Wanita itu mengangguk pelan seolah memberi keberanian.
Rama menggenggam kedua tangannya erat-erat.
"Kalau benar Juragan memang serius ingin meminang keponakan saya," Ia berhenti sesaat. "Saya meminta mahar satu miliar rupiah."
Ruangan mendadak hening. Sekretaris Juragan Darmawan sampai mengangkat kepalanya, menatap Rama dengan wajah terkejut. Nominal itu tidak kecil. Bahkan sangat besar untuk ukuran keluarga sederhana seperti mereka.
Tina menelan ludah. Ia sempat khawatir permintaan itu akan membuat Juragan Darmawan marah, lalu mengusir mereka.
Namun, yang terjadi justru di luar dugaan. Juragan Darmawan tetap tenang. Tanpa perubahan ekspresi sedikit pun, ia hanya mengangguk pelan.
"Baik."
Satu kata itu membuat Rama dan Tina saling memandang. Mereka bahkan sempat mengira salah dengar.
"Ju-Juragan ... setuju?" tanya Rama memastikan.
"Satu miliar bukan masalah bagiku," jawab pria tua itu.
Juragan Darmawan menatap mereka bergantian. "Asalkan Dara benar-benar menikah dengan Gavin dan menjaga cucuku dengan baik."
Rama buru-buru mengangguk. "Tentu saja, Juragan."
Juragan Darmawan berdiri. "Kalau begitu, kita anggap pembicaraan ini selesai."
Rama dan Tina keluar dari rumah megah itu dengan langkah nyaris melayang. Begitu cukup jauh dari halaman, Tina tak lagi mampu menyembunyikan kegembiraannya.
"Satu miliar!" pekik wanita paruh baya itu pelan sambil mencengkeram lengan suaminya. "Benar-benar satu miliar!"
Rama tertawa kecil. "Akhirnya kita tidak perlu pusing lagi memikirkan uang."
"Kita enggak lagi pusing memikirkan biaya kuliah Kiara. Kita juga bisa memperbaiki rumah. Bahkan beli mobil," lanjut Tina dengan bahagia.
Mereka terus membicarakan berbagai impian tanpa sekali pun menyebut nama Dara. Seolah gadis itu hanyalah jalan menuju kekayaan yang selama ini mereka impikan.
Sore harinya. Dara baru saja selesai menjemur pakaian ketika Tina memanggilnya.
"Dara! Masuk!"
"Iya, Bi."
Dara menyeka keringat di dahinya sebelum berjalan menghampiri. Melihat wajah bibinya yang begitu cerah, ia justru merasa semakin cemas.
"Ada apa, Bi?"
Tina duduk dengan santai sambil menyilangkan kaki. "Juragan Darmawan sudah setuju."
Dara terdiam. "Setuju apa?"
"Pernikahanmu," balas Tina dengan enteng.
Jantung Dara kembali berdegup keras. Ia bahkan belum sempat menerima atau menolak. Semuanya terasa berjalan begitu cepat.
"Lalu, bagaimana soal biaya pernikahan dan maharnya?" tanya Dara.
Senyum Tina semakin lebar. "Kamu tidak perlu khawatir. Mereka semua yang akan urus. Dan maharnya sebesar satu miliar."
Dara membelalakkan mata. "Sa-satu ... miliar?"
"Iya." Tina tertawa puas. "Dan uang itu nanti menjadi milik kami."
Dara mengernyit. "Maksud Bibi?"
"Itu bayaran karena kami sudah merawatmu sejak kecil," jelas Tina dengan tatapan sinis.
Kalimat itu membuat wajah Dara perlahan berubah. Ia memandang Rama yang duduk tak jauh dari sana. Namun, pamannya hanya diam. Seolah membenarkan semua ucapan istrinya.
"Tapi, Bi, bukankah mahar itu hak pengantin perempuan?" Suara Dara terdengar pelan.
Tina langsung mendengus dan ekspresi wajahnya berubah marah. "Maksudnya hakmu?"
"Iya."
"Apa yang sudah kamu lakukan sampai merasa berhak?" Tina semakin marah.
Dara menarik napas panjang. Ia berusaha tetap berbicara dengan tenang. "Bibi, aku bersyukur dibesarkan di rumah ini."
"Itu kamu tahu," ucap Tina sinis.
"Tapi, jangan jadikan aku sebagai cara untuk mendapatkan uang."
Kalimat itu membuat wajah Tina langsung berubah masam.
Dara menatap bibinya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Sejak kecil aku memang tinggal di sini. Tapi biaya sekolahku gratis karena aku mendapat beasiswa dari pemerintah. Seragam sekolahku juga bekas pemberian orang lain."
Rama mulai mengalihkan pandangan. Memang dia tak pernah mengeluarkan uang untuk biaya pendidikan keponakannya.
"Setiap pulang sekolah aku membantu Pak RT, membantu tetangga mencuci, menyapu, atau mengupas sayuran. Semua upahnya selalu kuberikan kepada Bibi. Itu karena Bibi bilang kebutuhan rumah mahal. Aku tidak pernah menolak." Suara Dara semakin bergetar.
Tina mengepalkan tangan. Harga dirinya merasa tertampar.
"Aku juga bekerja di kebun teh. Pulang masih memasak, mencuci, membersihkan rumah. Aku tidak pernah menghitung semuanya. Aku melakukannya karena menganggap Paman dan Bibi keluargaku." Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Dara.
Ruangan menjadi sunyi. Dara menatap keduanya bergantian. Ia mengusap air mata yang jatuh.
"Aku hanya berharap Paman dan Bibi jangan memanfaatkan orang lain demi mendapatkan uang."
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dara. Tubuh gadis itu sampai terdorong ke samping dan hampir rebah di lantai kayu. Pipinya langsung memerah.
Tina berdiri dengan napas memburu. "Kurang ajar sekali kamu, Dara! Berani sekali kamu mengajari kami!"
Rama ikut bangkit. "Dara! Apa begini balasanmu setelah kami merawatmu bertahun-tahun?"
Dara memegang pipinya yang terasa panas. Air matanya jatuh semakin deras. "Aku tidak bermaksud durhaka, Paman."
"Lalu apa maksudmu?"
"Aku hanya–"
"Cukup!" Bentakan Rama menggema memenuhi rumah. "Kamu memang tidak tahu terima kasih."
"Kalau bukan karena kami, kamu sudah menjadi gelandangan! Tidak punya siapa-siapa!" lanjut Tina dengan nada tidak kalah tinggi.
Dara menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia ingin menjelaskan. Ingin mengatakan bahwa ia sama sekali tidak pernah melupakan kebaikan mereka. Namun, ia juga tidak sanggup membenarkan keserakahan itu. Baginya, uang satu miliar bukan alasan untuk menjual harga diri seseorang.
Tina menunjuk wajah Dara dengan mata penuh amarah. "Pokoknya pernikahan ini tetap dilaksanakan! Kamu tidak punya hak menolak!"
Tangis Dara pecah. Ia hanya mampu menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa dirinya benar-benar tidak dianggap sebagai manusia, melainkan barang yang bisa ditukar dengan uang.
Keesokan paginya, ketika suasana rumah masih dipenuhi keheningan, terdengar suara kendaraan berhenti di depan halaman. Seorang pria berpakaian rapi turun dari mobil. Ia mengetuk pintu rumah.
"Permisi."
Rama segera keluar. "Ya. Siapa?"
Pria itu membungkukkan badan dengan sopan. "Saya Rafli utusan Juragan Darmawan."
Rama langsung tersenyum. "Ada pesan apa?"
"Juragan meminta Bapak Rama dan Nona Dara datang ke rumah beliau siang ini. Beliau ingin membicarakan langsung rencana pernikahan dengan Den Gavin."
Dara yang sejak tadi berdiri di balik pintu mendengar setiap kata itu. Jantungnya kembali berdegup tidak karuan. Ia menggenggam ujung bajunya erat. Entah mengapa perasaannya mengatakan bahwa pertemuan hari ini akan mengubah seluruh jalan hidupnya.