**Isteri Sah di Balik Bayangan**
Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.
Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.
Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Perjodohan
"Tiga puluh tahun yang lalu, ayahku juga ada di sana." Ucap Sekar dengan mata tampak berkaca-kaca
Kalimat Sekar jatuh di tengah ruang tamu seperti batu yang dilempar ke dalam kolam. Semua orang terdiam. Hanya terdengar detak jam dinding dan napas Arsya yang tertidur di pangkuan Aina.
Sekar masih memegang kertas itu. Tangannya gemetar hebat. Matanya terus membaca nama di bagian bawah, seolah berharap huruf-huruf itu akan berubah jika ia menatapnya cukup lama.
"Ibu," ucapnya kepada Lale Rukmini. Suaranya serak. "Ibu tahu tentang ini?"
Lale Rukmini menatap kertas itu, lalu menggeleng perlahan. "Aku tahu ayahmu teman dekat suamiku. Aku tahu dia yang membantu mengurus akta kelahiran Raka yang baru. Tapi aku tidak tahu dia ada di sana ketika bayi itu diambil." Lale Rukmini tampak memejamkan matanya. "Waktu itu aku menunggu di Mataram. Mertuaku yang mengatur semuanya. Aku hanya menerima bayi yang sudah dibungkus kain songket."
"Lalu siapa yang menulis catatan ini?" tanya Hamdan. "Tulisannya berbeda dengan tulisan di bagian depan."
Lale Rukmini mengambil kertas itu dari tangan Sekar dan memperhatikan tulisan tangan di bagian belakang. Lale Rukmini terdiam dalam waktu yang lama.
"Ini tulisan Bidan Rohani," katanya akhirnya. "Bidan desa di Kawo waktu itu. Dia yang menolong Sumiati melahirkan. Aku ingat, dia pernah datang ke rumah ini beberapa bulan setelah Raka lahir. Dia memohon agar aku mengembalikan bayi itu. Mertuaku mengusirnya."
"Bidan itu masih hidup?" tanya Aina.
"Aku tidak tahu. Kalau masih hidup, umurnya pasti sudah lebih dari tujuh puluh tahun."
Hamdan mencatat nama itu di buku kecilnya. "Kalau dia masih hidup, dia saksi yang sangat penting."
Raka bangkit dari sisi kursi ibunya. Wajahnya berubah. Aina mengenali raut itu. Raut seseorang yang mulai menyusun potongan-potongan kenyataan yang menyakitkan.
"Ibu," katanya pelan. "Sejak kapan aku dijodohkan dengan Sekar?"
Lale Rukmini menunduk. Pertanyaan itu jelas sudah lama ia takutkan.
"Sejak kamu masih bayi," jawabnya. "Sejak bulan-bulan pertama kamu tinggal di rumah ini. Mustiadi datang menemui mertuaku. Istrinya baru saja melahirkan anak perempuan." Ia menatap Sekar dengan sedih. "Dia meminta agar kelak bayi perempuannya dinikahkan dengan cucu keluarga Wiradana. Mertuaku langsung setuju."
Sekar menutup mulutnya dengan tangan.
"Dulu aku mengira itu hanya perjodohan biasa," lanjut Lale Rukmini. "Dua keluarga menak yang ingin semakin dekat. Tapi sekarang aku mengerti. Itu bukan perjodohan. Itu sebuah harga yang harus dibayar."
"Harga untuk apa?" Celetuk Ibu Aina pelan.
"Harga tutup mulut," jawab Hamdan. Ia meletakkan pulpennya. "Mustiadi membantu memalsukan akta kelahiran dan menyaksikan pengambilan bayi secara paksa. Sebagai imbalan, keluarganya mendapat tempat di keluarga Wiradana. Selama Raka menikah dengan putrinya, rahasia itu aman. Tidak ada yang akan membongkarnya, karena membongkarnya berarti menghancurkan keluarga mereka sendiri."
Aina menatap Raka. Lelaki itu berdiri kaku di tengah ruangan. Ia tidak menangis tetapi sorot matanya tampak kosong.
"Itu sebabnya Mamik Mustiadi membantuku memalsukan status di KUA sepuluh tahun lalu," ucap Raka perlahan. "Itu sebabnya dia memaksaku berjanji tidak akan menceraikan Sekar. Bukan karena dia peduli pada nama baik Sekar sebagai janda. Tapi karena kalau aku bercerai, dia kehilangan jaminan."
Sekar terisak. Ia membungkukkan badan dan menangis tanpa suara. Aina memindahkan Arsya ke pelukan Ibu-nya, lalu bergeser dan merangkul bahu Sekar.
Malam pun semakin larut. Lale Rukmini meminta mereka semua menginap di rumahnya. Rumah itu besar dan memiliki banyak kamar kosong. Lagi pula, Aina tidak boleh terlalu lelah. Perjalanan pulang ke Sengkol malam itu tidak baik untuk kandungannya.
Hamdan menyimpan surat keterangan lahir itu di dalam tas kerjanya. Ia berjanji akan menjaganya semalaman. Besok pagi, ia akan menemani Lale Rukmini ke kantor polisi untuk menyerahkannya dan memberi keterangan.
Aina tidak bisa tidur. Ia duduk di beranda belakang rumah, memandangi langit malam yang penuh bintang. Dari kejauhan terdengar debur ombak Pantai Kuta.
Sekar datang dan duduk di sampingnya. Ia membawa dua gelas teh hangat.
"Arsya sudah tidur?" tanya Aina.
"Sudah. Bersama ibumu." Sekar tersenyum tipis. "Dia bilang ibumu mirip neneknya di Kuta. Sama-sama suka mengusap rambut sebelum tidur."
Mereka minum teh dalam diam. Angin malam berembus pelan.
"Aina," ucap Sekar akhirnya. "Aku sudah memutuskan sesuatu."
Aina pun menoleh.
"Setelah semua ini selesai, aku akan mengajukan gugatan cerai." Sekar menatap langit. Suaranya tenang, tetapi matanya basah. "Pernikahanku dengan Abang dimulai dari kesepakatan dua keluarga yang menukar seorang bayi dengan rahasia. Aku tidak mau melanjutkan pernikahan yang dibangun di atas penderitaan Ibu Sumi."
"Sekar…"
"Aku tidak membenci Abang. Mungkin dulu aku mencintainya. Mungkin sampai sekarang pun masih ada sedikit." Sekar tersenyum getir. "Tapi aku tidak mau Arsya tumbuh di rumah yang sama dengan kebohongan itu. Aku ingin dia punya ayah yang jujur, walaupun ayah dan ibunya tidak tinggal bersama lagi."
Aina tidak tahu harus berkata apa. Ia meraih tangan Sekar dan menggenggamnya.
"Abang sudah tahu?"
"Aku sudah memberitahunya tadi, sebelum dia tidur." Sekar menunduk. "Dia tidak marah. Dia hanya diam, lalu bilang dia mengerti. Dia bilang dia akan tetap menjadi ayah untuk Arsya, apa pun yang terjadi."
Mereka terdiam lagi. Aina memikirkan pernikahannya sendiri. Pernikahan yang secara hukum mungkin akan dibatalkan. Pernikahan yang dibangun di atas surat palsu. Ia belum tahu apa yang akan ia pilih. Ia belum tahu apakah ia masih mencintai Raka, atau hanya mencintai kenangan tentang Raka yang dulu ia kenal.
Yang ia tahu hanya satu. Anak di dalam kandungannya akan lahir ke dunia yang jauh lebih jujur daripada dunia tempat ayahnya dilahirkan.
Keesokan harinya, mereka berangkat ke kantor polisi di Praya.
Lale Rukmini duduk di jok depan bersama Hamdan. Ia mengenakan kebaya hitam dan memegang map berisi surat keterangan lahir di pangkuannya. Raka, Aina, dan Sekar duduk di belakang. Arsya dan Ibu Aina tetap di rumah Kuta.
Di kantor polisi, seorang petugas menerima mereka dengan ramah. Lale Rukmini dibawa ke ruang pemeriksaan untuk memberi keterangan. Hamdan ikut mendampinginya. Raka, Aina, dan Sekar menunggu di ruang tunggu.
Setengah jam berlalu. Lalu seorang petugas lain datang menghampiri mereka. Wajahnya serius.
"Ibu Aina?"
Aina mengangguk. "Saya."
"Saudara Lalu Mustiadi yang sedang kami periksa meminta bertemu dengan Ibu."
Sekar langsung berdiri. "Dengan saya? Saya putrinya."
Petugas itu menggeleng. "Tidak, Bu. Beliau secara khusus meminta bertemu dengan Ibu Aina. Hanya dengan Ibu Aina."
Aina, Raka, dan Sekar saling berpandangan.
"Untuk apa?" tanya Raka curiga.
Petugas itu ragu sejenak, lalu menjawab pelan.
"Beliau bilang ada sesuatu tentang Sumiati yang tidak diketahui oleh Lale Rukmini. Beliau hanya mau mengatakannya kepada Ibu Aina."