Yoselin berharap jika Edward akan mencintainya setelah pernikahan mereka berjalan selama dua tahun, tetapi sore itu Yoselin sadar sesuatu jika sampai kapanpun Edward tidak akan pernah meliriknya sedikitpun.
Sebuah pemandangan menyakitkan tertangkap mata Yoselin, Yoselin melihat Edward dan mantan kekasihnya Angela tengah berciuman diparkiran restoran, sejak saat itu juga hati Yoselin hancur, rasa percaya dirinya runtuh, saat itu juga Yoselin melepaskan Edward. Yoselin menyerah, disaat Yoselin mulai sibuk dengan dunianya, Edward merasa kehilangan, Edward mencoba memperbaiki tetapi dia sudah telat.
Di lain sisi seorang CEO bernama Javier Vernand Romero sangat tertarik dengan Yoselin, dia mengagumi Yoselin dari setiap sisi, Javier bertekad dalam hati jika dia akan memiliki Yoselin seutuhnya, tidak peduli Yoselin sudah menikah atau tidak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran Yoselin dan Edward
Pesta perayaan ulang tahun V. Corp terus berlangsung dengan megah. Alunan musik instrumental yang anggun memenuhi ballroom berornamen emas tersebut. Tiba saatnya Javier harus naik ke atas podium sendirian untuk memberikan pidato sambutan, menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh karyawan yang telah memajukan perusahaan, serta menyapa para relasi bisnis yang sudi hadir malam itu.
Yoselin berdiri sedikit jauh dari kerumunan, memegang gelas minuman dingin tanpa berminat menyimaknya. Sejujurnya, pikiran Yoselin melayang ke beberapa menit lalu saat matanya menangkap pemandangan Edward yang dipeluk dengan begitu manja oleh Angela di sudut ruangan.
"Jika dibilang masih ada rasa cinta... tentu saja tidak," batin Yoselin pahit.
Yang tersisa di dalam dadanya kini hanyalah rasa muak dan gumpalan kekecewaan yang telah membeku. Jadi, ini alasan sebenarnya mengapa Edward meneleponnya dan berkata tidak bisa pulang ke rumah karena sibuk bekerja? Sibuk menghabiskan waktu bersama Angela, cinta matinya.
Yoselin menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak yang hinggap di tenggorokannya. Ia memutar tubuhnya dan mundur perlahan dari kerumunan untuk pergi ke toilet, ingin merapikan penampilannya sekaligus menyendiri sejenak.
Namun, baru saja Yoselin berbelok menuju koridor sepi yang mengarah ke toilet VIP, sebuah cengkeraman kuat dan kasar tiba-tiba menarik pergelangan tangannya.
"Ikut aku!"
Yoselin tersentak, tubuhnya terdorong ke sudut koridor yang remang. Begitu menengadah, ia mendapati wajah Edward yang mengeras dengan tatapan mata yang berkilat tajam oleh amarah.
Yoselin tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Ia hanya menatap Edward dengan pandangan datar, acuh tak acuh, dan begitu dingin, sebuah respons yang sukses membuat Edward tertegun kaget di tempatnya. Biasanya, Yoselin akan langsung panik atau menyapa lembut jika dipandang seperti itu.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Yoselin?!" cecar Edward dengan nada menuntut, suaranya ditahan agar tidak memancing perhatian luar.
"Kenapa kamu bisa bersama Javier Vernand?! Mengapa kamu tidak di rumah saja seperti biasanya?!"
Yoselin tetap diam, menatap suaminya tanpa emosi.
"Jawab aku!" bentak Edward semakin tersulut amarah.
"Sejak kapan kamu kenal dengan pria itu? Apa selama dua hari tidak pulang ke rumah, kamu diam-diam berselingkuh di belakangku?!"
Kata berselingkuh yang keluar dari mulut Edward rasanya begitu memuakkan di telinga Yoselin. Dengan sekali sentakan kasar, Yoselin menghempaskan tangan Edward dari pergelangan tangannya. Wanita yang biasanya lembut itu kini berdiri tegak, menatap tajam persis ke dalam manik mata Edward yang dipenuhi egoismenya sendiri.
Yoselin tertawa kecil, sebuah tawa samar yang terasa sangat dingin dan penuh kepahitan.
"Selingkuh?" bisik Yoselin tajam.
"Lalu bagaimana denganmu, Edward? Mengapa kamu ada di sini malam ini? Bukankah tadi pagi kamu bilang pelayan kalau kamu sangat sibuk bekerja?"
Edward terdiam seketika, bibirnya tertutup rapat mendapati serangan balik yang tak terduga dari istrinya.
Yoselin memiringkan kepalanya sedikit, tersenyum sinis. "Apakah berduaan, bergandengan tangan, dan dipeluk manja oleh Angela adalah bentuk pekerjaan penting yang kamu maksud?"
Wajah Edward menegang. "Yoselin, ini tidak seperti—"
"Aku datang ke pesta ini sebagai mitra kerja profesional Pak Vernand," potong Yoselin cepat tanpa memberikan celah.
"Bukan sebagai pasangan kencan. Sangat berbeda denganmu yang memilih Angela mantan kekasihmu itu sebagai pasangan kencanmu malam ini."
"Yoselin!" panggil Edward, suaranya tertahan di tenggorokan.
"Kamu tidak perlu peduli dengan apa yang aku lakukan atau dengan siapa aku pergi," tekan Yoselin dengan nada bicara yang amat tenang namun menghujam.
"Kamu hanya perlu bersikap seperti biasanya, Edward. Bukankah selama dua tahun ini kamu selalu menganggapku tidak ada? Lakukan saja hal itu seperti biasa."
Melihat perubahan drastis pada wanita di hadapannya, dada Edward bergemuruh hebat. Rasa panik, bingung, dan amarah bercampur menjadi satu. Saat Yoselin berbalik dan beranjak pergi, refleks Edward kembali bekerja. Ia mencengkeram bahu Yoselin dan mendorong tubuh mungil itu hingga tersudut rapat ke dinding koridor.
"Jangan berani-berani berjalan menjauh dariku saat aku sedang bicara!" gertak Edward, napasnya memburu di atas wajah Yoselin.
"Aku punya hak penuh untuk marah padamu! Aku ini suamimu, Yoselin! Jangan lupa statusmu di rumah tangga ini!"
Mendengar kata suami dan rumah tangga meluncur dari bibir pria dingin di hadapannya, Yoselin menyunggingkan senyuman sinis. Sebuah senyuman yang menyandarkan betapa hancurnya rasa hormat Yoselin pada pria itu.
"Suami?" ulang Yoselin lirih namun menusuk.
"Lucu sekali mendengar kata itu keluar dari mulutmu, Edward. Selama dua tahun ini, hanya aku yang bodoh karena berpikir kalau kita adalah sepasang suami istri. Sedangkan kamu? Kamu tidak pernah sekali pun menganggapku sebagai istri."
Edward terpaku. Cengkeramannya di bahu Yoselin perlahan melonggar.
"Untuk sekarang dan seterusnya, kita hanya perlu fokus dengan kehidupan kita masing-masing," lanjut Yoselin seraya menatap lurus mata hitam Edward yang mulai goyah.
"Aku berjanji tidak akan pernah campur tangan atau mengganggu kehidupan asmaramu lagi bersama Angela."
Yoselin menarik napas dalam-dalam, mengutarakan kalimat yang selama ini membebani jiwanya.
"Mau kalian berduaan, mau kalian berciuman mesra di parkiran restoran seperti malam itu, atau bahkan jika kalian berhubungan badan sekali pun... aku tidak akan peduli lagi, Edward."
Deg.
Bagai tersambar petir di siang bolong, Edward membeku total. Kata-kata menohok itu menghantam kesadarannya hingga berantakan. Tatapan mata Edward berubah aneh, bercampur antara terkejut, tidak percaya, dan rasa bersalah yang mendadak menyeruak.
"Kamu..." suara Edward bergetar, tenggorokannya mendadak sangat kering.
"Kamu... melihatnya di parkiran malam itu?"
Yoselin tidak membalas pertanyaan itu dengan kata-kata. Ia tidak lagi merasa perlu memberikan penjelasan atau tumpahan air mata di depan pria yang telah menghancurkan hatinya.
Dengan sekuat tenaga yang tersisa, Yoselin mengangkat kedua tangannya dan mendorong dada bidang Edward hingga pria itu terdorong beberapa langkah ke belakang.
Tanpa menoleh lagi, Yoselin membetulkan letak gaun rose gold-nya dengan anggun, lalu melangkah lebar meninggalkan koridor sepi itu. Ia meninggalkan Edward yang berdiri terpaku di tempatnya, menatap kosong lantai koridor dengan jantung yang berdegup kencang dan penyesalan asing yang mulai menggerogoti dadanya.
Bersambung...