NovelToon NovelToon
Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

​“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”

Maizara​ merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.

​Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Pertemuan Tak Diundang

Memindahkan diri ke unit apartemen di kawasan Kuningan menjadi pilihan terbaik untuk menjaga kewarasan hatiku. Di tempat yang sunyi dan berjarak ini, aku tidak perlu lagi berpura-pura baik-baik saja di depan Mami atau menahan sesak tiap kali bertatap muka dengan Dimas di rumahnya.

Kehidupan baruku di Jakarta berpusat penuh pada satu hal, pekerjaan.

Sebagai pemimpin tim kreatif pemasaran, aku menumpahkan seluruh energi, ide, dan waktu istirahatku untuk mematangkan peluncuran K-Sambal Fusion. Proyek ini bukan sekadar tugas agensi dari Jogja, melainkan pembuktian harga diri dan profesionalitasku bahwa aku berdiri di posisi ini murni karena kapasitas diriku sendiri.

Setiap hari, aku tiba di kantor pusat Arjowibowo Group paling awal dan pulang paling akhir. Sonya, Juno, dan Rudi sampai menggeleng-gelengkan kepala melihat kegigihanku meneliti draf desain kemasan, strategi kampanye digital, hingga alokasi anggaran promosi untuk pasar Seoul.

Namun, di balik hiruk-pikuk aktivitas kerja itu, perang dingin antara aku dan Dimas masih berlangsung sengit.

Kami bertemu hampir setiap hari di ruang rapat, tapi hubungan kami benar-benar berubah menjadi murni profesional. Tidak ada lagi sapaan manis, tidak ada lagi usapan lembut di jemariku, dan tidak ada lagi pandangan hangat yang biasanya ia berikan. Jika terpaksa bicara, aku hanya menggunakan kalimat-kalimat formal yang terukur rapi. Dimas pun menanggapi dengan raut kaku dan suara berat yang membeku.

Aura tegang di antara CEO dan pimpinan tim kreatif itu tentu dirasakan oleh seluruh anggota Tim Garuda.

Sore itu, diskusi draf akhir materi promosi untuk media sosial sedang berlangsung di ruang rapat lantai atas.

"Mbak Mei," panggil Sonya sambil menyerahkan tablet grafis padaku. "Ini draf visual untuk kampanye #RasaDuaDunia di TikTok dan Instagram Reels. Rudi sudah sesuaikan tone warnanya supaya terkesan etnik tapi tetap modern sesuai arahan Mbak Mei kemarin."

Aku menerima tablet itu, mengamati dengan teliti setiap detail komposisi warna dan penempatan logo. "Bagus sekali, Rudi. Kontras warna saus merahnya sangat menggugah selera. Tapi tolong tambahkan teks garis besar resep di detik ketiga, supaya audiens langsung paham ini bukan cuma saus kemasan biasa."

"Siap, Mbak Mei! Langsung saya perbaiki," sahut Rudi tangkas.

Dimas yang duduk di ujung meja rapat dengan kemeja putih bergulung lengan menatap layar proyektor. Pria itu menyandarkan punggungnya, memandangi berkas di depannya dengan raut wajah yang tak terbaca.

"Bagaimana dengan jadwal eksekusi micro-influencer seeding di Seoul, Mei?" tanya Dimas dengan suara berat dan kaku, memecah kesunyian di antara kami.

Aku menegakkan posisi dudukku, menatapnya lurus dengan pandangan profesional tanpa celah.

"Semua sudah terencana sesuai jadwal, Mas Dimas," jawabku formal. "Agensi mitra kita di Seoul sudah mengamankan lima belas nama food creator lokal. Paket kotak kayu berisi sampel produk dan e-booklet resep akan dikirim bersamaan dua minggu sebelum grand launching."

Dimas memandangi mataku cukup lama. Pendar kerinduan dan rasa frustrasi melintas cepat di manik mata hitamnya, namun aku dengan cepat mengalihkan pandanganku pada berkas di tangan.

Vino yang berada di sebelah Dimas berdeham pelan, mencoba memecah suasana canggung yang menyelimuti ruangan. "Ehem... luar biasa memang kerja Tim Garuda di bawah pimpinan Mei. Semua terstruktur rapi. Kalau begitu, draf ini bisa langsung disetujui kan, Dim?"

Dimas menarik napas panjang yang berat. "Ya. Lanjutkan sesuai rencana."

Pria jangkung itu berdiri dari kursinya, merapikan jasnya, lalu melangkah keluar dari ruang rapat tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Langkah kakinya yang bergema dingin meninggalkan keheningan yang menyesakkan dada.

Sonya menyenggol armadaku pelan saat ruangan mulai sepi. "Mbak Mei... maaf ya kalau aku lancang. Mbak Mei sama Pak Dimas lagi berantem hebat ya? Suasana rapat dari kemarin rasanya dingin banget, kayak lagi di dalam kulkas."

Aku tersenyum tipis, merapikan kertas-kertas kerjaku. "Kami cuma fokus menyelesaikan proyek ini sesuai target, Sonya. Tidak ada apa-apa kok."

Sonya menghela napas pasrah, tahu betul bahwa aku bukan tipe orang yang suka mengumbar masalah pribadi di tempat kerja.

Usai menyelesaikan revisi draf hingga pukul delapan malam, aku melangkah keluar dari gedung kantor. Udara malam Jakarta menyambutku dengan hembusan angin yang lumayan dingin. Karena jarak apartemenku di Kuningan sangat dekat, aku memilih berjalan kaki santai menyusuri trotoar yang cukup terang untuk menenangkan pikiran.

Di sudut jalan dekat kompleks apartemen, terdapat sebuah minimarket (convenience store) 24 jam. Aku memutuskan singgah sebentar untuk membeli beberapa persediaan makanan ringan, susu UHT, dan beberapa cangkir mi instan untuk stok di kamar.

Suasana minimarket malam itu tampak sepi. Hanya ada petugas kasir yang sibuk merapikan barang di balik meja.

Aku melangkah menyusuri lorong rak minuman dingin, mengambil dua kotak susu dan beberapa camilan. Namun, saat aku berbalik menuju lorong produk makanan cepat saji, langkah kakiku mendadak terhenti kaku.

Sesosok pria berpakaian kemeja kasual sedang berdiri di lorong yang sama, memegang sebuah minuman kaleng.

Juan.

Darahku seketika berdesir dingin. Rasa muak dan jengkel yang luar biasa membuncah di dalam dadaku. Bagaimana mungkin di kota seluas Jakarta ini, aku harus beberapa kali berpapasan dengan pria yang telah menorehkan luka dan penghinaan di masa laluku?

Aku memutuskan untuk acuh, memutar tubuhku hendak berjalan menuju lorong lain untuk menghindari perjumpaan yang tidak penting. Namun, suara Juan yang cukup keras memanggil namaku memecah kesunyian minimarket.

"Mei?"

Aku tidak berhenti, mempercepat langkahku menuju meja kasir. Niatku hanya satu: membayar belanjaan dan segera keluar dari tempat ini.

Tapi Juan bergerak cepat. Pria itu menyusul langkahku dan berdiri memotong jalanku tepat di depan rak camilan.

"Mei, tunggu sebentar!" panggil Juan dengan raut wajah yang dipaksakan ramah bercampur cemas.

Aku menghentikan langkahku, berdiri tegap dengan dagu terangkat. Mataku menatapnya dingin dan tajam.

"Mau apa lagi kamu, Juan?" tegasku dengan suara rendah namun menekan. "Bukannya kamu sudah diperingatkan oleh tim keamanan dan Mas Dimas di acara kemarin?"

Mendengar nama Dimas disebut, raut wajah Juan seketika berubah agak masam dan menyebalkan. Pria itu tertawa kecil, sebuah tawa sinis yang memperlihatkan egonya yang terluka.

"Halah, Mei... kamu tidak perlu bawa-bawa nama bos besar itu di sini," cibir Juan, melangkah satu tapak lebih dekat. "Aku perhatikan dari kemarin, kamu jalan sendirian terus malam-malam begini. Kamu tinggal di apartemen depan ini, kan? Di mana tunangan kaya rayamu itu? Kok calon istrinya dibiarkan keluyuran sendirian malam-malam tanpa pengawalan?"

Ucapannya yang bernada menyindir dan memojokkan seketika membakar amarahku. Pria ini rupanya sengaja mengawasi keberadaanku di sekitar apartemen!

"Itu sama sekali bukan urusanmu, Juan!" gertakku tegas, mataku membelalak marah. "Jangan berani-berani ikut campur dalam hidupku lagi. Minggir, aku mau bayar belanjaanku!"

"Mei, dengar dulu!" Juan menahan lenganku pelan, namun aku langsung menghempaskan tangannya dengan kasar.

"Jangan sentuh aku!" pekikku pelan namun tajam, membuat petugas kasir di ujung ruangan menoleh curiga.

Juan menghela napas frustrasi, memasang raut penyesalan yang sangat palsu di mataku.

"Mei, aku cuma mau bicara baik-baik," bujuk Juan dengan nada memohon. "Aku tahu kamu marah soal kejadian kemarin. Tapi jujur, aku khawatir sama kamu. Pria seperti Dimas Arjowibowo itu orang berkuasa, Mei. Pria kaya seperti dia tidak akan benar-benar tulus sama wanita dari daerah seperti kamu! Paling kamu cuma dijadiin mainan sementara waktu proyek ini jalan. Nanti kalau sudah bosan, kamu dibuang!"

Tuduhan murahan dan asumsi sok tahunya membuat dadaku bergemuruh oleh rasa marah. Dia mencoba meracuni pikiranku dan merendahkan hubunganku hanya untuk memuaskan rasa penyesalannya sendiri!

"Jaga mulutmu, Juan!" tegasku dengan suara menajam, menunjuk dadanya dengan jari telunjukku. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang Mas Dimas, dan kamu tidak punya hak sedikit pun untuk menilai hubunganku! Kalau ada pria di dunia ini yang benar-benar memperlakukan wanita seperti sampah dan cuma mementingkan nafsu serta egonya... pria itu adalah kamu!"

Wajah Juan seketika berubah pucat pasi, egonya tercabik hebat mendengar kata-kataku yang menohok tepat di sasaran.

"Mei, kamu."

"Setidaknya Mas Dimas menghormatiku sebagai wanita, tidak seperti kamu yang mencampakkanku cuma karena aku menjaga kesucianku!" potongku penuh penekanan, menatapnya lurus tanpa rasa gentar sedikit pun. "Sekali lagi kamu muncul di depanku atau mengangguku di sekitar apartemen ini... aku sendiri yang akan melaporkanmu ke polisi atas tuduhan pelecehan dan penguntitan!"

Sikap tegas, nada suara dingin, dan ancaman hukum yang kuucapkan dengan sangat mantap membuat Juan terbungkam kaku. Pria itu melangkah mundur satu tapak, menyadari bahwa Maizara yang ada di hadapannya saat ini bukan lagi wanita polos dan lemah yang bisa diintimidasi atau dimanipulasi dengan kata-kata manismu.

Tanpa membuang waktu lagi, aku berjalan melewatinya dengan langkah tegap menuju kasir, meletakkan belanjaanku, dan membayarnya dengan cepat.

Begitu keluar dari minimarket, aku berjalan terburu-buru menuju pintu gerbang utama kompleks apartemen. Langkah kakiku berderak pelan di atas trotoar yang sunyi.

Meskipun aku berhasil menghadapi Juan dengan sangat tegas dan menjaga kehormatanku, tak bisa dipungkiri ada rasa sesak dan lelah yang amat sangat menghantam dadaku. Kata-kata sindiran Juan tentang diriku yang "sendirian malam-malam tanpa perlindungan" mendadak terngiang-ngiang kembali di dalam kepalaku.

Aku berjalan menyusuri selasar lantai delapan apartemen, menempelkan kartu akses, dan melangkah masuk ke dalam unitku yang sunyi.

Aku meletakkan kantong belanjaan di atas meja dapur, lalu merosot pelan di sofa ruang tengah. Keheningan unit apartemen yang luas ini terasa makin mencekam.

Di dalam kesunyian itu, air mata pertamaku malam ini akhirnya menetes jatuh membasahi pipiku.

Aku rindu pada kehangatan. Aku rindu pada sosok Dimas yang biasa menggenggam tanganku dengan erat di saat-saat seperti ini. Pria yang biasanya pasang badan dan melindungiku dari segala bentuk ancaman luar.

Namun, rasa kecewa atas perlakuannya di Seoul dan benteng gengsi yang sama-sama kami bangun membuat jarak di antara kami terasa kian membentang jauh.

Ponsel di dalam tas jinjingku mendadak bergetar pelan.

Aku merogohnya dengan jemari yang gemetar, menyapu air mata di pipiku. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang sangat kukenal.

Mei, kamu sudah sampai di apartemen dengan aman? Tolong beri kabar.

Pesan dari Dimas. Pria itu rupanya tetap memantau jam kepulanganku dari kantor lewat tim keamanan atau pos depan apartemen.

Aku menatap layar ponsel itu cukup lama. Ada rasa hangat yang sempat menyelinap halus di dadaku melihat perhatiannya yang tak pernah benar-benar padam, namun rasa gengsi dan luka yang belum sembuh menahanku untuk membalasnya dengan kata-kata manis.

Dengan jemari yang pelan, aku mengetik balasan singkat dan formal.

Sudah sampai, Mas Dimas. Terima kasih.

Aku menekan tombol kirim, lalu meletakkan ponsel itu telungkup di atas meja. Aku menyandarkan kepalaku di sandaran sofa, memandangi kerlap-kerlip lampu kota Jakarta dari balik jendela kaca yang besar.

Perang dingin ini mungkin masih berlanjut, dan ujian kehidupan di kota besar ini terasa makin berat. Tapi di dalam sunyi malam Kuningan, aku tahu satu hal: aku tidak akan pernah menyerah pada rasa takut, dan aku akan terus berdiri tegap menjaga kehormatan serta impianku hingga waktu yang menjawab semuanya.

1
Mia Camelia
lanjut thor😁
Adira🍓
Sedang menyalakan kembang api Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Belum apa^ mo jadi benalu si Kar ini 🤮🤮🤮
Adira🍓
Kartika bukan mantannya Dimas kan 🤔
NinLugas: mantan ena2😄
total 1 replies
Adira🍓
Tapi x ini aq tak setuju dengan keputusan kau Dim 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Pelajaran apa Romo??? menggugurkan janin???🤪🤪 nambah dosa iy 🤣🤣🤣
Adira🍓
Tapi janin itu tak punya dosa apa^ 😔 apa salahnya lahirkan sja nanti biar Mei dan keluarganya yg besarkan... dan Alya bisa fokus dengan masa depannya lagi 🤪🤪🤪
NinLugas: kita lihat aja nnti kk
total 1 replies
falea sezi
🤣🤣 adam lugu dpet alya pemain🤣 s kayaknya sering gugurin bayi si alya ini😒
NinLugas: hmm by pertama kak 😄✌️
total 1 replies
Adira🍓
Bisa y Adam yg diperkosa Alya yg hamil 🤣🤣🤣🤣🤣 cek dulu Dam, x aja itu bukan anakmu,,, Alya kan dah lihai, psti dah sering celap-celup 🤪🤪
NinLugas: 🤭🤭🤭 kasihan Adam
total 1 replies
Adira🍓
Es batunya udah meleleh Mi,,, udah dikasih jatah soalnya 🤣🤣🤣🤣
NinLugas: 😄😄😄😄 hahah ssttt
total 3 replies
Adira🍓
Sekarang kapanpun dimanapun bisa cap cip cup y Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Tumben bab ini agak rancu Thor tulisannya,,,, bagian atasnya banyak yg disekat^ gtu...
NinLugas: iy eh lupa KLO dari word bnyak Sekat KLO SDH d publish dsni
total 1 replies
Adira🍓
Masih formal aja si Dimas 😜
Adira🍓
Jebollah keperawanan anak orang 🤣🤣 btw sudah berapa wanita yang Dimas jebol perawannya 🤔
NinLugas: 😄😄😄 rahasia
total 1 replies
Adira🍓
Pada akhirnya Dimas yg pegang kendali 🤪🤪
falea sezi
😒kecewa ternyataa dimas cm ngincar perawan🤣🤣🤣 pasti abis ne di tinggalin🤭
NinLugas: hmm...gmn ya 😄✌️✌️
total 1 replies
falea sezi
tunangan uda minta ngeweee... 🤣🤣 yg bner ada dimass elu uda sering nyelup pcr pcr elu jd ketagihan lah si calon istri mu ini perawan darah keraton perawan itu barang di jaga sakral😓
NinLugas: ✌️✌️✌️ sabar2 kak🤭
total 1 replies
falea sezi
curiga pasti alya wanita jalang
NinLugas: bisa jadi kak🤣
total 1 replies
falea sezi
dimas melepas perjaka ma mbk psk apa pacar ya🤭
NinLugas: nnti ketahuan wkwk
total 1 replies
falea sezi
ya gk perjaka denggg🤣 nasib Mei dpet bekas
NinLugas: apes dia wkwk 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!