NovelToon NovelToon
Aku Sayang Kakak Iparku

Aku Sayang Kakak Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: B.E.P

Rara terpaksa tinggal dirumah kakaknya untuk sementara waktu. Ia terpaksa karena ada masalah financial yang menimpanya.

Ia adalah wanita yang manis, menarik dan menggoda. Tak ada satu pun pria yang bisa memalingkan wajah saat melihatnya.

Sejak Rara melihat malam yang penuh gairah dikamar kakaknya. Ia perlahan mulai ada ketertarikan dengan suami dari kakaknya. lambat laun perasaan yang seharusnya tak ia selami terlalu dalam, berubah menjadi keinginan untuk memikat pria yang atletis itu.

Lalu gimana dengan perjalanan rumah tangga kakaknya ?. Ikuti kisahnya disini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 3

Hari sudah malam. Di rumah tipe 45 ini, rasanya sepi. Seperti itulah suasana saat ibunya masih hidup dan tinggal sendiri dirumah ini. Makan dan tidur tak ada yang menemani. Bahkan tak ada teman yang bisa diajak bertukar pendapat.

Ibunya memaklumi kalau Nadia harus hidup berpisah, karena ia sudah memiliki kehidupan keluarga sendiri. Menurut Rio juga tak elok numpang tinggal dirumah mertua. Akhirnya Nadia dan suami memutuskan tinggal dikomplek perumahan yang berjarak 25 kilometer dari rumah ini, dengan rumah tipe yang sama dan 2 lantai.

Selepas konflik antara ibunya dan Rara, ibunya merasa bersalah. Ia tidak menyangka kalau Rara memilih pergi dan tinggal di apartemen. Beberapa hari kemudian ia berusaha memperbaiki hubungannya dengan anaknya. Namun, tak ada panggilan atau pesan satu pun yang direspon oleh putri bungsunya.

Kira-kira 1 minggu lamanya Rara memutus komunikasi dengan ibunya. Setelah itu, ia dan ibunya kembali menjalin berkomunikasi dengan baik. Namun, Rara tetap kukuh pada pendiriannya untuk tetap tinggal di apartemen.

Dengan terpaksa, ibunya meluluhkan hatinya dan menerima keputusan Rara. Ia juga tetap menganggap Rara anak yang baik dan ia ikhlas untuk tinggal sendiri.

Pukul 6 petang lebih 10 menit, Nadia dan tantenya sedang menyiapkan hidangan untuk makan malam. Begitu semua siap, mereka langsung sajikan ke meja makan.

"ayo makan, makan malam udah siap," ajak tantenya sambil meletakkan piring kosong ke atas meja.

Tak lama kemudian semua orang yang masih ada dirumah ini, berkumpul ke meja makan. Lalu mengisi piring kosong yang ada dihadapan mereka dengan nasi dan lauk. Tanpa basa-basi mereka langsung menikmatinya.

"kalian berdua ada yang berencana tinggal dirumah ini ?" tanya paman Nadia dan Rara. Pria itu adalah adik dari ibunya. "rumah ini kan sekarang nggak ada penghuninya, sayang kalau ditinggalin begitu aja. Rumah ini kan masih bagus," kata pamannya dengan menatap Nadia dan Rara bergantian.

Nadia menatap suaminya yang tepat duduk disampingnya. Suaminya memberikan gelengan kepala.

"aku sama mas Rio belum ada rencana pindah," ucap Nadia.

"kalau kamu Ra ?" tanya tante mereka berdua. Ia adalah anak paling bungsu dikeluarga ibunya. Disamping kirinya ada Tania dan cucunya yang berusia 6 tahun. Bisa dikatakan tantenya ini menikah lebih dulu daripada ibunya.

"daripada tinggal di apartemen, mending pindah kesini aja," tambah tantenya sambil menatap Rara.

"aku belum kepikiran pindah tante. Aku masih mau tinggal di apartemen," jawab Rara.

"disini paman sama tante tidak memaksa kalian untuk tinggal disini," semua orang ditempat itu berhenti makan dan menyimak penjelasan Paman Eddi.

"paman dan tante sepakat, jika tidak ada salah satu dari kalian yang akan tinggal dirumah ini, mending rumah ini dijual. Tapi keputusan, paman serahkan ke kalian berdua. Walaupun paman adik ibumu tapi paman dan tante tidak punya hak atas rumah ini. Rumah ini hak kalian berdua, karena rumah ini yang beli ayah dan ibumu, jadi rumah ini harta peninggalan orang tua kalian."

Suasana hening seketika. Nadia dan Rara saling menatap setelah mendengar penjelasan pamannya.

Dalam hati Nadia, ia sebenarnya belum rela rumah yang menjadi saksi bisu dirinya dibesarkan untuk dijual. Tapi, ia juga tidak ada rencana untuk tinggal dirumah ini. Bahkan hampir mustahil ia kepikiran untuk pindah, karena rumahnya yang sekarang sudah hak miliknya dan suaminya.

Disisi lain, Rara juga belum kepikiran untuk tinggal dirumah ini. Ia lebih nyaman tinggal sendiri di apartemen untuk sekarang. Jika ia pindah kerumah ini, sudah pasti tidak bisa bebas seperti saat tinggal disana.

Keduanya seakan membisu tidak ada yang mampu memberikan keputusan. Suasana dimeja makan pun sunyi, semuanya berhenti makan.

"nanti aku bicarain dulu sama Rara. Kita berdua belum bisa memberikan keputusan sekarang," Jawab Nadia.

"OK. Sekarang kita lanjutin aja makan malamnya," kata pamannya. Ia menyendok nasi dan lauk lalu ia masukkan ke mulut. Semuanya pun ikut melanjutkan menikmati makan malam.

"habis makan. Nanti paman sama tante pulang ya Nadia...Rara," ucap tantenya dengan menatap Nadia lalu ke Rara.

"iya, tante. Makasih sudah kesini, makasih juga udah bantu-bantu tadi pas kepulangan mama," ungkap Nadia tulus.

"ya sama-sama," jawab tantenya dengan senyuman.

Semua orang menikmati makan malam bersama. Perlahan makanan disetiap piring habis. Paman dan tantenya lalu pamit pulang.

Nadia berdiri diteras dengan didampingi suaminya. Sementara Rara, ikut mendekat ke mobil tantenya karena cucu tantenya ingin Rara ikut main kerumahnya. Alhasil suasana didepan rumah seketika berubah menjadi gelak tawa.

Semua mesin mobil sudah menyala, perlahan melaju meninggalkan rumah. Kini didepan rumah, tinggal ada 2 mobil yaitu mobil Pajero hitam milik Nadia dan Rio, serta mobil Honda JAZZ abu-abu milik Rara.

Setelah mobil melaju cukup jauh. Rara masuk kedalam rumah. Kemudian disusul Nadia dan Rio.

"sayang, ada yang mau aku bicarakan," kata Rio, seketika langkah Nadia terhenti didepan pintu.

"apa ?," jawab Nadia.

"maaf ya, besok pagi-pagi banget aku harus ke Surabaya. Tapi aku juga nggak bisa langsung pulang,"

"kenapa, mas ?" sela Nadia.

"soalnya aku harus gantiin Dokter Chandra yang harus mendapat perawatan intensif diluar negeri. Jadi sementara aku selama kira-kira 30 hari, harus gantiin tugas Dokter Chandra. Nggak apa-apa ya sayang, kamu aku tinggal sendiri ?" Rio mencoba meminta pengertian dari Nadia. Kedua tangannya memegang pundak istrinya lalu memutarnya hingga menghadap ke dirinya.

"aku janji setelah 30 hari aku diluar kota, kita langsung jalan-jalan," kata Rio dengan menunjukkan senyuman.

"ya mas nggak apa-apa," jawab Nadia dengan penuh ikhlas dan pengertian.

"terima kasih ya," Rio langsung memeluk tubuh istrinya.

Setelah puas merasakan kehangatan pelukan. Nadia dan Rio lalu masuk ke dalam.

1
Rumah Pena
lanjutt thorrr..
Pena Biru
jangan lupa like yaa...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!