Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayo Ikut Aku Sekarang!
Perkataan Bagas bagaikan bensin yang disiramkan ke dalam kobaran api. Wajah Agnia seketika memerah padam, rasa panas dan tidak terima membuncah hebat di dalam dadanya.
Agnia tidak terima jika perjuangannya membawa Reyna ke Dieng justru dimanfaatkan oleh Anton, Agnia juga semakin gemas dengan sikap sok cuek dan dingin dari Dikta yang malah melepaskan Reyna begitu saja.
"Gak bisa dibiarkan! Dikta itu emang gengsiannya kelewatan, tapi si Anton juga gak boleh seenaknya gitu dong! Reyna itu lagi rapuh, nanti kalau kena rayuan mautnya Anton yang buaya itu gimana!" cerocos Agnia penuh kekesalan.
Tanpa membuang waktu lagi, Agnia melangkah lebar-lebar menyeberangi area puncak bukit dan mengabaikan panggilan suaminya, langkah kakinya yang menghentak tegas langsung membelah kerumunan kecil pengunjung hingga ia tiba di antara Anton dan Reyna.
Sret!
Dengan gerakan cepat dan tak terduga, Agnia menyelinap masuk ke tengah-tengah mereka, merangkul lengan Reyna erat-erat dan membelakangi Anton secara terang-terangan.
"Reyna! Ya ampun, aku cariin dari tadi!" seru Agnia dengan suara yang sengaja dikencangkan.
"Ayo ikut aku! Amel sama Faris mau foto rombongan di sebelah sana, kurang kamu doang nih!" lanjut Agnia.
Anton yang tiba-tiba dipotong pembicaraannya tersentak kaget, ia mengelus dadanya sambil meringis mendapati tatapan maut yang dilayangkan Agnia kepadanya.
"Aduh, Agnia... Santai dong. Gue kan cuma lagi ngobrol sebentar sama Reyna, gak usah langsung diseret gitu juga kali," ucap Anton.
Agnia memutar tubuhnya setengah putaran, menatap Anton dengan pandangan menantang dan bersedekap dada. "Ngobrolnya nanti lagi! Golden sunrise-nya keburu hilang! Lagian Reyna itu ke sini mau jalan-jalan sama aku, bukan mau diganggu sama kamu ya, Ton!" semprot Agnia pedas tanpa kompromi.
Reyna yang berada di tengah-tengah perdebatan itu hanya bisa melongo kebingungan, pipinya kembali merona canggung melihat reaksi sahabatnya yang kelewat protektif.
"Nia... tadi Anton cuma...,"
"Udah, Rey! Gak usah ngebela dia!" potong Agnia cepat seraya menarik tangan Reyna menjauh dari Anton.
"Ayo ikut aku sekarang!" ajak Agnia.
Anton hanya bisa berdiri mematung sambil menggeleng-gelengkan kepala pasrah, "Galak banget buset... Benar-benar benteng kokoh si Agnia mah," gumam Anton mengelus tengkuknya yang terasa dingin.
Agnia menuntun Reyna menuju spot foto tempat Bagas, Dikta, Aldo, Amel dan Faris berkumpul. Di sepanjang langkahnya, napas Agnia masih terdengar memburu meluapkan kekesalan. Begitu sampai di depan rombongan, matanya langsung menyambar sosok Dikta yang berdiri tenang di samping Bagas.
Dikta menatap Agnia dan Reyna yang baru tiba dengan pandangan datar nan teduh seperti biasa dan seolah tidak terjadi drama apa pun beberapa detik lalu, sikap tenang Dikta itu justru makin membuat Agnia gemas setengah mati.
"Nih, Mas Bagas! Reyna udah aku bawa!" ucap Agnia agak ketus seraya melirik tajam ke arah Dikta, sengaja menunjukkan kekesalannya.
Bagas yang mengerti isi kepala istrinya hanya bisa menahan tawa, sementara Dikta yang menyadari lirikan tajam Agnia hanya menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Kalian kenapa sih? Kok kayak yang abis perang gitu?" tanya Amel terkekeh melihat wajah Agnia yang cemberut dan raut canggung di wajah Reyna.
"Gak apa-apa! Cuma ada orang yang kurang gerak cepat, padahal kesempatan udah ada di depan mata!" sindir Agnia keras-keras, kalimat yang jelas-jelas ditujukan langsung untuk menembus telinga Dikta.
Dikta yang mendengar sindiran menohok itu perlahan mengalihkan pandangannya menuju wajah Reyna, ia melihat bagaimana gadis itu tampak serba salah, jemarinya meremas selimut syal abu-abu yang melilit lehernya.
Bukannya marah atau terdesak oleh provokasi Agnia, sebuah sudut bibir Dikta justru terangkat sangat tipis.
Kehangatan sinar matahari pagi yang kian meninggi perlahan-lahan menyapu habis lautan awan di Puncak Sikunir, menggantikan kilau keemasan dengan pemandangan Telaga Cebong yang terhampar anggun jauh di bawah sana. Setelah puas berfoto dan menikmati detik-detik terbitnya sang surya, rombongan tersebut sepakat untuk mengakhiri momen di puncak bukit dan mulai melangkah turun.
Jalur penurunan terasa sedikit lebih licin akibat embun pagi yang menetes dari dedaunan dan batu-batu semen yang membasah. Seperti sebelumnya, Dikta berjalan di samping Reyna. Tangannya sesekali merentang di belakang punggung Reyna tanpa menyentuh langsung, namun cukup siaga untuk menahan jika saja gadis itu tergelincir.
Setiap kali hembusan angin dingin menusuk kulit, Reyna menenggelamkan sebagian wajahnya di balik syal abu-abu milik Dikta, menghirup aroma kayu manis yang entah bagaimana memberinya rasa aman yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Begitu menginjakkan kaki di pelataran bawah, terpaan udara dingin rupanya berhasil menguras energi dan mengundang rasa lapar yang melilit perut mereka. Bau asap kayu bakar serta aroma rempah gurih dari barisan kedai kayu sederhana di pinggir pelataran seolah memanggil-manggil.
"Mampir situ dulu yuk! Laper banget gilak, usus gue rasa mau putus kedinginan," seru Anton seraya menunjuk sebuah warung kayu berukuran cukup luas yang mengepulkan uap hangat dari celah ventilasinya.
"Setuju! Butuh yang hangat-hangat nih sebelum jari-jari gue mati rasa," timpal Amel penuh semangat.
Seluruh rombongan akhirnya membelokkan langkah memasuki warung tersebut, suasana di dalam terasa amat hangat dan bersahabat. Bau gorengan tepung yang sedang diceburkan ke dalam minyak panas bersanding dengan aroma seduhan kopi hitam dan teh jahe, mereka memilih duduk melingkar di bangku kayu panjang yang mengelilingi meja lebar di sudut warung.
Ibu pemilik warung bercelemek merah dengan ramah menghampiri mereka. Pilihan menu pun dijatuhkan pada tempe kemul, gorengan khas Dieng yang renyah dan gurih bercampur daun bawang, serta kentang goreng lokal bertabur bumbu hangat, ditemani cangkir-cangkir tebal berisi teh purwaceng dan teh manis panas.
"Aduh, nikmat mana lagi yang kau dustakan...," gumam Anton seraya mengunyah tempe kemul yang masih mengepul panas dengan wajah terpejam penuh penghayatan.
"Alay banget lu, Ton," cemooh Faris yang sibuk mengelap lensa kameranya, memancing gelak tawa kecil dari Bagas dan Aldo.
Agnia duduk di samping Reyna, sibuk menyeruput teh manis hangatnya. Matanya sempat melirik tajam ke arah Anton yang duduk di seberang mereka dan memastikan pria itu tidak lagi bertindak gercep seperti di puncak tadi. Namun, Anton sepertinya sudah cukup kapok disemprot oleh benteng kokoh Reyna itu dan memilih fokus menghabiskan piring gorengannya.
Di tengah suasana santai dan kehangatan warung yang hangat tersebut, Bagas mengetuk-ngetukkan jarinya di meja kayu dan mengalihkan perhatian semua orang.
"Oke, habis ini kita langsung balik ke vila. Kita bersih-bersih diri dulu, mandi air hangat, terus rebahan sebentar buat balikin stamina," ucap Bagas.
"Habis itu gimana?" tanya Amel seraya membetulkan ikatan rambutnya.
"Nah, setelah dari vila dan badan udah segar, kita bakal lanjut jalan-jalan lagi. Rencananya kita mau keliling ke Telaga Warna, Kawah Sikidang, sama Kompleks Candi Arjuna mumpung cuacanya lagi cerah begini. Biar liburan kita di Dieng ini maksimal dan nggak ada tempat ikonik yang terlewat!" terang Bagas dengan senyum lebar.
"Sip! Setuju banget! Gue mau ambil foto yang banyak di Kawah Sikidang," sahut Faris antusias.
.
.
.
Bersambung.....
smoga berjodoh..
😎
Reyna jg sudah dewasa tdk perlu berlebihan jd ilfil
lanjut thor