Dewi Anjani yang baru saja dipecat dan nyaris bangkrut, tiba-tiba dipeluk erat oleh bocah tiga tahun bernama Elvan yang menangis dan memanggilnya "Mama" di pinggir jalan. Belum hilang rasa kagetnya, ayah anak itu—Raka Mahardika, sang CEO Grup Lentera yang terkenal sedingin es—muncul dan menyodorinya sebuah kontrak gila untuk menjadi ibu bayaran. Keadaan menjadi semakin tak masuk akal ketika sebuah suara mekanis mendadak berbunyi di kepala Dewi: "Ding! Sistem Ibu Super Hebat diaktifkan!" Kini, berbekal misi-misi ajaib dari sistem dan tingkah menggemaskan Elvan, Dewi tidak hanya perlahan mencairkan hati beku sang CEO, tapi juga bersiap memberikan tamparan paling telak pada mantan istri Raka yang gila harta saat wanita itu berani kembali untuk mengacaukan keluarga barunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
"Maafkan kami Dewi, tapi perusahaan terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja kepadamu."
Kalimat sialan itu terus berputar bagai kaset rusak di dalam kepala Dewi Anjani sejak pagi tadi.
Satu amplop cokelat kusam tergenggam sangat erat di tangan kanannya yang gemetar dingin.
Isinya hanya uang tunai satu juta rupiah.
Itu adalah sisa gaji terakhir dan pesangon seadanya dari pabrik sepatu tempatnya mengabdi selama tiga tahun terakhir.
Brak!
Dewi membanting meja lipat kayunya di pinggir trotoar jalan ibu kota yang panas dan berdebu.
Keringat sebesar biji jagung mengalir dari dahi hingga membasahi kerah kausnya yang sudah pudar.
Dia harus bertahan hidup hari ini, bagaimanapun caranya.
"Kue sus manis, bolu kukus lembut, silakan mampir!"
Dewi berteriak menawarkan barang dagangannya kepada lautan manusia yang lalu lalang.
Tapi tidak ada satu pun yang sudi menoleh.
Semua orang sibuk dengan ponsel dan urusan mereka masing-masing.
Wush.
Angin panas meniup debu jalanan langsung ke arah wajahnya.
"Ah sial, mataku kelilipan," keluh Dewi pelan sambil mengucek matanya yang mendadak perih dan berair.
"Nasib anak yatim piatu yang miskin memang begini amat ya," batin Dewi dengan senyum getir.
"Tuhan, kalau kau memang sedang mengujiku, tolong istirahat sebentar dong, aku lelah sekali."
"Uang sewa kamar kos sudah menunggak dua bulan penuh."
"Kalau hari ini kue-kue ini tidak laku, aku benar-benar akan tidur beralaskan kardus di kolong jembatan malam ini."
"Ayo Dewi, semangat, menangis tidak akan menghasilkan uang!"
Dewi menepuk kedua pipinya sendiri dengan cukup keras untuk membuang rasa putus asanya.
Grep.
Tiba-tiba ada sebuah tarikan kecil namun kuat di ujung kaus lusuhnya.
Dewi menunduk ke bawah dan matanya langsung membulat sempurna karena kaget.
Seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar tiga tahun sedang berdiri di samping kakinya.
Wajah anak itu seputih susu dan pipinya gembil memerah seperti bakpao yang baru matang.
Tapi air mata membanjiri wajah mungil yang sangat menggemaskan itu.
"Mama..." ucap anak itu dengan suara serak dan bergetar.
Dewi menoleh ke kiri dan ke kanan dengan panik mencari sosok orang tua anak ini.
"Eh, adik kecil yang tampan, kamu ini siapa?"
"Di mana ayah dan ibumu, sayang?" tanya Dewi sambil berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka.
Anak itu tidak menjawab sama sekali dan malah langsung menubruk dada Dewi dengan kencang.
Grep!
Pelukannya sangat erat sampai Dewi nyaris terjengkang jatuh ke belakang.
"Huwaaa, Mama! Mama jangan pergi tinggalkan Elvan lagi!" jerit anak itu sambil menangis sejadi-jadinya di pelukan Dewi.
Air mata hangat anak itu seketika menembus kaus tipis yang dipakai Dewi.
"Eh, astaga, tunggu dulu sayang, aku bukan ibumu!" balas Dewi dengan nada panik yang tidak dibuat-buat.
Dewi berusaha melepaskan pelukan anak itu dengan lembut, tapi tenaga bocah ini di luar dugaan sangat kuat.
"Tidak mau! Mama bohong! Ini Mama Elvan!"
Tangisan anak itu semakin kencang dan melengking tinggi, menembus kebisingan suara kendaraan di jalan raya.
Beberapa pejalan kaki kini mulai menghentikan langkah mereka dan berkerumun.
"Ibu macam apa itu, membiarkan anaknya menangis histeris di pinggir jalan," bisik seorang ibu-ibu berdandan menor di dekat tiang listrik.
"Jangan-jangan dia penculik anak!" timpal seorang pria paruh baya yang langsung menatap Dewi dengan tatapan penuh selidik.
"Sumpah Pak, Bu, ini bukan anak saya!" teriak Dewi mencoba membela diri.
"Mana ada penculik yang mau mengaku di depan umum," sindir ibu-ibu menor itu lagi dengan sinis.
"Astaga naga, mati aku hari ini," rutuk Dewi dalam hati sambil terus mengelus punggung anak itu agar tangisannya mereda.
"Cup cup cup sayang, iya iya ini Mama, tapi Elvan jangan menangis kencang begini ya?" bujuk Dewi akhirnya karena sudah kehabisan akal.
Ajaibnya, anak itu langsung berhenti menangis walau masih sesenggukan.
Anak itu mendongak menatap Dewi dengan mata bulatnya yang basah.
"Mama janji tidak akan pergi lagi?" tanya anak itu dengan suara yang sangat polos.
Hati Dewi yang sedingin es karena kerasnya hidup mendadak mencair melihat tatapan penuh harap itu.
"Iya, aku janji," jawab Dewi pelan, tanpa sadar mengusap air mata di pipi gembil anak itu.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah sepatu kulit yang beradu keras dengan aspal tiba-tiba membelah kerumunan warga.
Suhu udara di sekitar trotoar itu entah kenapa terasa turun drastis menjadi sangat dingin.
Dewi mendongak dan melihat seorang pria bertubuh tinggi tegap berjalan lurus ke arahnya.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam pekat yang harganya mungkin bisa untuk membeli pabrik sepatu tempat Dewi bekerja dulu.
Wajah pria itu luar biasa tampan, rahangnya tegas, namun tatapan matanya setajam pisau belati.
"Lepaskan tangan kotor dan miskinmu dari anakku, sekarang juga."
Suara pria itu berat, rendah, dan sangat mendominasi hingga membuat nyali Dewi menciut seukuran semut.
"Elvan, kemari pada Papa."
Pria itu mengulurkan tangannya yang dihiasi jam tangan mewah ke arah anak yang masih menempel di dada Dewi.
cuma sekedar tandatangan kayak nya
mampir thor, saking asik nya baca lupa interaksi🤭